31/03/17

Perintah





Perintah

Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat,
I Yohanes 5:3

Bagi orang yang jatuh cinta, apa pun yang dimintakan sang kekasih, sangat gampang dikabulkan orang yang jatuh cinta. Cinta kasih dapat memampukan orang melakukan hal hal yang besar. Seorang ibu yang baru pertama melahirkan diperhadapkan pada satu pilihan yang sangat berat. Dokter menyarankan agar bayi di dalam kandungan digugurkan. Alasan dokter ialah: keberadaan ibu itu membahayakan nyawa sang ibu. Ibu tahu bahwa suaminya anak tunggal dan dalam keadaan yang tidak mungkin lagi dapat melaksanakan tugas sebagai suami, karena mengalami kecelakaan. Sang ibu menolak bayi itu digugurkan. Ia mau mengurbankan dirinya, agar suaminya punya keturunan. Itu dibuatnya karena kasihnya kepada sang suami.

Nas kita mengatakan bahwa perintah perintah Allah tidak berat. Mengapa perintah itu tidak berat? Perintah itu tidak berat oleh karena ada cinta kasih di dalam lubuk hati kita kepada Allah. Firman Allah mengatakan bahwa di dalam lubuk hati kita yang paling dalam, kasih Allah telah dicurahkan oleh Roh Kudus. Cf Rom 5:5. Dengan kasih itu kita akan didorong untuk melakukan kehendak Allah.

Mengapa perintah Allah begitu berat di dilakukan sebahagian orang? Alasan yang paling mendasar ialah: ketidakadaan kasih di dalam hati orang tersebut kepada Allah. Jika kita telah melihat betapa besar kasih Allah kepada kita, sungguh tidak masuk akal, kita tidak melakukan apa yang diminta Allah untuk kita lakukan. Sudahkah saudara dan saya melihat betapa besarnya kasih Allah kepada kita, sehingga kita disebut sebagai anak Allah? Jika kita adalah anak Allah, itu  berarti kita dibuat Allah menjadi serupa dengan Yesus Kristus. Jika kita serupa dengan Yesus Kristus, atas ketetapan Allah, bukankah kita disebut sebagai bagian dari orang-orang kudus. Jika Allah sebegitu mengasihi kita, bagaimana mungkin kasih sebesar itu, tidak diberi respon yang besar pula?

Ada seorang pendeta yang ditahan di negeri komunis, karena ia memberitakan Injil kepada anggota jemaatnya. Ia ditahan selama 14 tahun di penjara dan tidak pernah berjemur di panas matahari. Di penjara itu mereka dibagi ke dalam sel grup kerja paksa. Salah seorang bersalah, maka semua anggota grup mendapatkan hukuman. Salah seorang anggota grup sakit, tetapi dipaksa untuk bekerja, lalu ia membuat kesalahan. Semua anggota dihukum pukulan sebanyak 40 kali. Sipendeta mendapat bagian. Giliran orang sakit dipukul. Baru 20 pukulan ia sudah pingsan. Tetapi algojo tidak peduli. Pendeta itu berkata kepada aljogo: sisanya taruh di pundak saya.

Setelah menerima tambahan pukulan si sakit dibawa ke sel dan diselimuti dengan selimut pendeta, ransumnya dipecah dua dan ditambahkan pada si sakit. Pendek ceritera si sakit sembuh. Ia berterima kasih pada pendeta. Pendeta berkata: berterima kasihlah pada Tuhan Yesus, sebab Ia yang melakukannya melalui saya. Apakah Yesus itu seperti pak pendeta, kata si sakit. Pendeta itu berkata: ya seperti saya. Jika Yesus itu seperti bapak, maka saya akan percaya pada dia. Ia pun dibaptis di penjara.

Pendeta itu ringan membantu si sakit karena ia mengasihi orang tersebut dengan kasih Tuhan Yesus. Melakukan perbuatan itu tidak berat bagi dia karena kasih Tuhan. Apakah menurut saudara perintah Tuhan itu berat? Apakah kasih Allah dicurahkan di dalam hati saudara dan saya? Jika ya, perintahnya tidak berat.

30/03/17

Mahakuasa




Mahakuasa

Engkaulah yang memerintah kecongkakan laut, pada waktu naik gelombang-gelombangnya, Engkau juga yang meredakannya.
Mazmur 89:10

Bahasa Ibrani miskin dalam kosa kata, tetapi kaya dalam perlambang. Laut di dalam pemahaman orang saleh dalam Perjanjian Lama menggambarkan kekuatan musuh Allah yang hendak menenggelamkan keberadaan umat Allah. Hal itu bersumber dari pengalaman bangsa itu berjalan di tengah laut teberau. Namun pemazmur melihat dalam nas kita, bahwa Allah berkuasa untuk memerintah atas laut dengan gelombang laut yang mencoba menenggelamkan segala yang ada di dalamnya.

Keberadaan Gereja Tuhan di negeri Uni Soviet dapat menjadi satu contoh yang sangat pas untuk direnungkan. Stalin memerintahkan agar semua anak yang lahir di Uni Soviet, pertamat-tama, mereka itu adalah anak negara. Orang tua dilarang untuk mengajarkan sesuatu yang bertentangan dengan filosofi negara yang komunis kepada anak anak mereka. Dengan demikian Stalin berharap, sejalan dengan berlalunya waktu, maka Gereja Tuhan pun akan sirna di Uni Soviet. Inilah kecongkakan laut pada waktu naik gelombangnya, s bagaimana diungkapkan pemazmur. Allah yang memerintah. Kenyataannya bukan Gereja Tuhan yang sirna di negeri Rusia, tetapi Uni Soviet yang sirna dari muka bumi. Hingga sekarang Gereja Tuhan tegak berdiri di sana.

Pengalaman Gereja purba pun demikian juga adanya. Gereja diburu dan disiksa oleh penguasa Roma. Orang Kristen menjadi mangsa singa-singa lapar di arena hiburan orang Roma yang haus akan hiburan itu. Namun pada akhirnya kekaisaran Roma itu jatuh ke tangan Kristus, dengan dikeluarkannya dekrit dari Kaisar Konstantianus yang mengatakan agama Kristen menjadi agama negara. Gelombang laut yang begitu menyeramkan orang Kristen pada mulanya, sekarang ditaklukkan oleh kekuatan kasih karunia Allah.

Allah tidak hanya peduli dengan masalah besar dari Gereja-Nya. Ia juga peduli dengan urusan pribadi dari anak-anaknya yang sedang mengalami gelombang kehidupan yang hampir menenggelamkan mereka. Ada seorang janda dengan lima anak. Anak yang paling besar bertugas mencari nafkah dengan jalan supir mikrolet. Sang anak jatuh sakit berhari hari, sehingga tiba pada satu hari, mereka tidak punya apa apa lagi untuk dimakan.

Sang janda mengumpulkan anaknya yang sedang lapar dan mengajak berdoa, dan memuji Allah karena Ia baik. Anaknya yang sudah remaja protes. Ia berkata: jika Allah itu baik, mengapa Ia biarkan kakak sakit dan tidak dapatkan uang sehingga kita kelaparan. Sang janda itu merangkul anaknya dan berkata: Allah kita itu baik. Lalu ia berdoa sambil merangkul anak-anaknya. Tiba-tiba pintu rumah mereka diketuk. Sang ibu itu berkata kepada anaknya, bukalah pintu itu, malaikat Tuhan datang.

Anak tersebut  membuka pintu dan di depannya bediri seorang bapa yang berkata: Tuhan memerintahkan saya untuk memberikan amplop ini untuk keluarga ini. Ia memberikan amplop itu dan pergi. Amplop dibuka, dan di dalamnya ada uang yang cukup untuk belanja mereka untuk satu bulan. Malaikat Tuhan tidak senantiasa dalam wujud bersayap seperti yang kita pahami. Malaikat Tuhan bisa saja orang biasa yang diutus Tuhan untuk memberikan pertolongannya kepada anak anak-Nya. Sudahkah saudara pernah dipakai Tuhan jadi malaikat-Nya?

28/03/17



Bagian

"TUHAN adalah bagianku," kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya.
Ratapan 3:24

Semua orang Israel yang keluar dari Mesir dan masuk ke tanah Kanaan di bawah pimpinan Yosua, mendapat bagian sebagai warisan pusaka, yakni sebidang tanah Kanaan. Tanah itu adalah milik bangsa Kanaan pada mulanya, tetapi Allah membagikan tanah itu kepada Israel, setelah memenangkan pertempuran. Kita tahu bangsa Israel terdiri dari dua belas suku. Satu suku dari antara mereka tidak mendapat bagian berupa tanah. Suku itu ialah suku Lewi. Bagian mereka adalah perpuluhan bangsa Israel. Mereka dikuduskan untuk membantu para imam untuk melaksanakan ibadah di Bait Allah.

Sebagian kecil dari suku Lewi dikuduskan lagi dan dipisahkan dari antara orang Israel, mempersembahkan kurban bagi Allah. Mereka ini tidak memiliki tanah,  juga tidak boleh melakukan pekerjaan seperti orang Israel pada umumnya. Bagian mereka ialah: Tuhan sendiri. Apa yang dipersembahkan orang Israel bagi Tuhan, semuanya itu diserahkan kepada para imam, sebagai milik pusaka mereka. Orang Lewi mewarisi Tuhan sebagai bagian mereka, sebagai milik pusaka.

Nabi Yeremia adalah keturunan imam. Pada waktu Yerusalem diruntuhkan, dan orang Israel kehilangan milik pusaka mereka dalam bentuk tanah, Yeremia yang menyanyikan ratapan ini, tahu persis, ia tidak pernah kehilangan apa yang menjadi milik pusakanya, sebab milik pusaka itu adalah Tuhan sendiri. Hal inilah yang menghiburkan hatinya, tatkala ia berhadapan dengan kehancuran bangsa Israel disebabkan kerajaan Babel.

Jika Yeremia sebagai imam dapat mengatakan bahwa Tuhan adalah bagiannya, maka kita pun dapat mengatakan hal yang sama. Tuhan adalah bagian kita. Sebab karya Yesus telah membuat kita menjadi imamat yang rajani. “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib.” I Pet 2:9.

Karena kita adalah seorang imam, maka kita adalah orang yang dikuduskan Allah untuk dapat mempersembahkan sesuatu kepada Tuhan untuk kepentingan umat manusia. Kita pun diperkenankan mendekat kepada Dia Yang Mahakudus. Karena Tuhan adalah bagian kita, maka tidak ada yang dapat memisahkan kita dari Allah yang adalah bagian kita di dalam kehidupan ini. Tidak juga pergumulan hidup, seperti yang dialami Yeremia dengan kehancuran kota Yerusalem. Ia tetap memiliki milik pusaka, karena Tuhan tidak dapat dikalahkan oleh siapa pun juga. Penderitaan dan kesusahan, serta penyakit, entahkah itu pemerintah yang jahat, sekarang dan yang akan datang, tidak akan dapat membatalkan Tuhan sebagai bagian dari orang percaya.

Sebuah pertanyaan yang perlu diajukan kepada kita ialah: apakah yang menjadi  bagian saudara di dalam hidup ini? Hartakah, jabatankah, nama baikkah, atau Tuhan sendiri yang menjadi bagiannya. Berbahagialah mereka yang memiliki Tuhan sebagai bagiannya. Bagian itu tidak dapat hilang oleh karena apa pun juga.

27/03/17

Perilaku




Perilaku

Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.
Kolose 3:17

Perubahan besar terjadi di dalam diri orang yang menerima Yesus sebagai Tuhan dan juruselamatnya secara pribadi. Pada mulanya ia berjalan menurut kehendaknya sendiri. Tetapi setelah ia menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan, maka terjadilah pergantian penguasa kehidupan di dalam dirinya. Tuhan Yesus mengambil alih roda pemerintahan di dalam dirinya. Sekarang Kristus yang mengatur kehidupannya. Ia tidak lagi mengandalkan diri sendiri, tetapi mengandalkan Tuhan Yesus. Apa pun yang dilakukannya, semuanya itu adalah untuk Tuhan yang telah mati dan bangkit serta naik ke surga, untuk dia.

Jika selama ini ia mengandalkan diri sendiri, sekarang ia melakukan segala sesuatu di dalam nama Tuhan Yesus. Itulah perubahan total yang dialami orang Kristen yang sungguh sungguh. Ia bukan lagi tuan atas dirinya sendiri, tetapi sekarang ia adalah hamba dari Tuhan yang sesungguhnya, yakni  Yesus Kristus. Tidak ada orang yang dapat berjalan di jalan seperti itu, jikalau bukan Tuhan yang datang ke dalam dirinya dan mengadakan perubahan yang sangat radikal ini.

Manusia sangat menghargai karya sendiri. Orang bangga dengan menonjolkan namanya sendiri. Manusia bangga dengan prestasi. Sekarang ia tidak lagi me ngedepankan diri sendiri, tetapi mengedepankan Tuhan. Apa yang dikatakan dan yang dilakukan, semuanya  itu untuk Tuhan. Jadi teringat akan para abdi dalam di kesultanan Nyayogyakarta. Para abdi dalam itu hidup untuk melayani sultan. Bagi mereka, jabatan itu adalah sebuah kehormatan. Mereka tidak mempersoalkan gaji mereka yang kecil, sebab tujuan hidup mereka ialah  melayani sultan.

Bukankah Tuhan kita jauh lebih mulia dari para sultan atau raja di dunia ini? Kita sekarang sama seperti abdi dalam tadi, kita hidup untuk melayani Tuhan di dunia ini, melalui perkataan dan perbuatan kita. Ada orang yang mengatakan: mulailah segala sesuatu dengan mengucap: di dalam nama Allah Bapa, serta akhiri segala sesuatu dengan mengucap syukur kepada Allah Bapa. Itulah ibadah orang Kristen yang sesungguhnya.

Dengan ibadah yang kita jalankan di tengah kehidupan, orang pun akan tahu bahwa kita ini adalah milik Kristus. Dunia akan mengenal Kristus melalui kehidupan para abdi dalamnya yang ditempatkan di dunia ini. Untuk itulah orang Kristen hadir di dunia ini, memperkenalkan Kristus kepada orang lain. Itulah sukses terbesar yang dapat diraih manusia di dunia ini. Kristus hadir melalui kehidupan kita. Adakah orang yang berkata kepada saudara dan saya: “Saya mau mengikut  engkau supaya dengan jalan demikian aku pun akan mengikut Kristus? Para malaikat di surga akan bersorak sorai jika ada orang yang datang kepada Tuhan Yesus karena kehidupan yang saudara jalani.

26/03/17

Penjaga




Penjaga

Ia takkan membiarkan kakimu goyah, Penjagamu tidak akan terlelap.
Mazmur 121:3

Di zaman dahulu kala, di sirael kunon, kota kota senantiasa dibentengi, agar dapat terhindar dari serangan musuh. Di tiap sudut benteng ada dibuat menara jaga. Tuganya ialah mengamat-amati, entah ada musuh yang datang dari jauh. Jika ia melihat musuh datang, maka ia harus memberitahukan tanda bahaya. Agar penduduk yang ada di luar benteng, segera masuk ke dalam benteng, agar dia selamat. Jika penjaga tidur pada hal musuh sudah datang, dan tidak membunyikan bahaya, maka penduduk yang mati di luar benteng menjadi tanggung jawab dari penjaga.

Allah Yahweh adalah penjaga bagi Israel. Ia pernah tertidur, tatkala ia menjaga orang-orang peziarah yang berniat untuk  berziarah ke Yerusalem. Di tengah perjalanan mereka bisa bermalam dan menugaskan orang untuk berjaga-jaga. Tetapi mereka lebih percaya pada Allah Israel yang akan menjaga mereka dari segala mara bahaya. Para perampok di tengah jalan tidak akan menyusahkan mereka, sebab Allah bertugas untuk menjaga umat-Nya dari segala macam marabahaya.

Allah Israel tidak hanya menjaga Israel yang sedang berjalan menuju Yerusalem untuk berziarah dari serangan musuh dari luar. Ia juga menjaga orang Israel dari kelelahan secara fisik. Pemazmur mengatakan bahwa Tuhan takkan membiarkan kakimu goyah. Perjalanan panjang membutuhkan kaki yang kokoh untuk menjalani perjalanan tersebut. Tidak ada orang Israel yang jatuh di perjalanan dan tidak dapat meneruskan niatnya untuk berziarah ke Yerusalem, oleh karena kelelahan secara fisik. Hal itu mungkin karena Tuhan menjaga mereka dari kelelahan fisik tersebut.

Sekarang bagaimana dengan kita orang percaya. Rasul Paulus mengatakan: “Karena kami memiliki roh iman yang sama, seperti ada tertulis, ‘Aku percaya, sebab itu aku berkata-kata’ maka kami juga berkata-kata.” II Kor 4:13 Pemazmur berkata-kata, maka Paulus pun berkata-kata karena memiliki iman yang sama. Kita pun juga dapat berkata-kata, karena kita memiliki iman yang sama. Allah Bapa di dalam Yesus Kristus Tuhan kita, itulah penjaga kita. Ia tidak akan membiarkan kita tidak berhasil masuk ke dalam tujuan iman kita, yakni masuk ke dalam keselamatan yang kekal di dalam Tuhan  Yesus. Kita pasti sampai ke surga kelak.

Tuhan akan menjaga kita dari serangan musuh yang datang dari luar diri kita, tetapi juga serangan musuh yang datang dari dalam diri kita, dengan memakai manusia lama kita yang jatuh di dalam dosa. Itulah sebabnya Paulus dengan sungguh lantang mengatakan bahwa tidak ada yang dapat memisahkan kita dari kasih Allah yang ada di dalam Kristus Yesus. Cf Roma 8:39.

Tidak ada ajaran agama lain dari Kristen yang mengajarkan bahwa Allah yang mereka sembah adalah Allah yang menjamin bahwa umat-Nya Dia yang jaga dan memastikan bahwa mereka akan sampai ke dalam tujuan iman mereka kepada-Nya. Allah Bapa di dalam Yesus Kristus sajalah yang menjanjikan demikian. Penulis surat Iberani mengutarakan hal tersebut: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engaku dan Aku sekali–kali tidak akan meninggalkan engkau.” Berbahagilah yang percaya kepada Allah Bapa di dalam Yesus Kristus Tuhan kita.

25/03/17

Dipilih dan Diurapi Allah



Nas Bacaan: I Samuel 16:1  13                                      


Dipilih dan Diurapi Allah

Ada dua tokoh yang akan kita soroti di dalam nas kita ini, yakni Samuel dan Daud. Menarik untuk disimak, Samuel berdukacita karena Saul yang ditolak oleh Allah sebagai raja atas Israel. Pernahkah saudara dan saya berdukacita atas kegagalan seorang pemimpin memimpin bangsa dan negaranya? Samuel berdukacita karena Saul gagal memenuhi tuntutan Allah atas umat pilihan-Nya. Tidakkah hal ini menarik hati kita?

Untuk menghibur hati Samuel, dan juga untuk memenuhi kebutuhan dari bangsa itu atas hadirnya seorang raja yang akan memerintah bangsa Israel seturut kehendak Allah, maka Samuel disuruh untuk mengurapi salah seorang dari anak Isai menjadi raja. Tugas ini pun adalah sebuah tugas yang berbahanya. Sebab Samuel yang mengurapi Saul menjadi raja. Jika ketahuan kepada Saul, bahwa Samuel telah mengurapi seseorang menjadi raja, maka ada kemungkinan ia akan dibunuh. Hal ini diutarakan Samuel kepada Allah. Ternyata ada jalan keluar. Senantiasa ada jalan keluar bagi masalah orang percaya.

Sekarang marilah kita melihat pribadi dari Daud. Ia adalah anak yang paling bungsu di keluarganya. Dari sudut pandang manusia, ia tidak masuk hitungan. Hal itu terbukti dari tidak hadirnya ia di dalam rumah, pada hal ada pesta besar di rumahnya. Ia hanya ditempatkan menggembala kambing domba di padang Efrata. Tatkala abangnya yang paling besar diperhadapkan pada Samuel, ia merasa di hadapannya telah berdiri orang yang akan diurapi Allah sebagai raja. Hal itu dipikirkannya demikian karena ia  melihat postur tubuhnya yang tegap. Ternyata Allah menolak dia. Allah tidak melihat hal lahiriah, tetapi yang batiniah.

Akhirnya Daud harus dihadirkan di rumah, di hadapan Samuel. Tatkala ia hadir, Allah memberi perintah kepada Samuel, agar mengurapi Daud sebagai raja untuk bangsa Israel. Allah yang memilih Daud sebagai raja dan mengurapi Daud untuk melakukan tugasnya memimpin bangsa Israel masuk ke dalam kemuliaan. Pilihan Allah jatuh berdasarkan hak prerogatif-Nya sendiri. Pilihan manusia tidak berlaku bagi Allah. Keberadaan manusia tidak berkenan di hadapan Allah. Daud yang tidak masuk hitunganm, justru ia yang dipilih oleh Allah.

Daud yang tidak masuk hitungan itu, diangkat Allah menjadi raja atas seluruh bangsa Israel. Ia diberkati menjadi penguasa yang berjaya di tengah dunia yang dikenal pada waktu itu. Hatinya pun bertaud kepada Allah. Bahkan Allah mengikat perjanjian dengan dia, dengan menjanjikan bahwa keturunannya akan memerintah untuk selama-lamanya. Janji itu digenapi mutlak di dalam diri Yesus Kristus Tuhan kita. Sebab ia secara manusia adalah keturunan Daud.

Daud diangkat dari gembala di padang Efrata menjadi orang mulia dan menjadi raja. Penulis surat Ibrani mengatakan bahwa Allah kita itu adalah Allah yang membawa banyak orang masuk ke dalam kemuliaan. Cf Ibrani 2:10. Adakah Allah juga membawa saudara dan saya masuk ke dalam kemuliaan yang ada di dalam Kristus Yesus?

Daud tidak serta merta masuk ke dalam kemuliaan. Ia harus menunggu waktu yang lama, sehingga secara defakto ia menjadi raja atas Israel. Di sepanjang penantian itu Daud mengadapi pergumulan hidup. Bahkan sepertinya akan kehilangan nyawa. Namun ia menyerahkan diri ke dalam pemeliharaan Allah. Pada akhirnya ia tiba juga pada kemuliaan tersebut. Hal yang sama pun terjadi atas diri kita. Kemuliaan Allah telah didepositkan kepada kita. Puncaknya akan kita temukan pada hari penghakiman, tatkala kita dimahkotai dengan mahkota kemuliaan. Adakah pengharapan seperti itu di dalam diri saudara?

24/03/17




Par Excelent

yang dikerjakan-Nya di dalam Kristus dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati dan mendudukkan Dia di sebelah kanan-Nya di sorga, jauh lebih tinggi dari segala pemerintah dan penguasa dan kekuasaan dan kerajaan dan tiap-tiap nama yang dapat disebut, bukan hanya di dunia ini saja, melainkan juga di dunia yang akan datang.
Efesus 1:20 – 21

Nas kita adalah salah satu bagian dari doa Paulus untuk Jemaat yang sudah menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya. Dalam doanya itu, Paulus memohon kepada Allah, agar orang percaya dibukakan mata hatinya untuk melihat dan memahami karya Allah di dalam Yesus Kristus. Karya itu sesuatu yang sangat amat luar biasa, jauh melebihi segala sesuatu yang dapat dipikirkan oleh manusia.

Karya Allah itu dikerjakan-Nya di dalam Yesus Kristus, tatkala Ia dibangkitkan dari antara orang mati. Kebangkitan dari antara orang mati saja, adalah sesuatu yang melampaui segala akal dan pikiran manusia. Tidak ada pengalaman manusia yang dapat dijadikan dasar dari teori akan kebangkitan dari antara orang mati. Itu adalah sesuatu yang jauh di atas akal dan pikiran manusia. Pada hal karya Allah itu tidak hanya membangkitkan Yesus dari antara orang mati. Ia bahkan mendudukkan-Nya di sebelah kanan-Nya di surga. Sebelah kanan bermakna tempat paling terhormat. Yesus yang bangkit diddudukkan di tempat yang paling terhormat di surga.

Tempat terhormat itu jauh lebih tinggi dari segala pemerintah dan penguasa dan kekuasaan dan kerajaan dan tiap tiap nama yang dapat disebut, bukan hanya di dunia ini saja, melainkan juga di dunia yang akan datang. Hal yang terakhir ini semakin tidak masuk akal manusia. Jika Alkitab berbicara tentang nama, itu berarti  berbicara tentang karya, atau karakter. Tidak ada nama atau karya manusia yang lebih  besar dan tidak ada karakter manusia yang dapat disejajarkan dengan karya dan karakter Tuhan Yesus. Oleh karena itu, nama Yesus saja yang dapat menjadi tumpuan pengharapan dari setiap insan yang ada di muka bumi ini.

Oleh karena nama Yesus satu satunya nama manusia yang tiada taranya di alam semesta ini, maka nama itulah yang menjadi tolok ukur di mata Allah untuk mengukur keberadaan dari setiap insan di dunia ini. Sebab  hanya nama itu yang dapat memenuhi standard Allah yang par excelent. Nama itu yang akan diukurkan kepada setiap orang di hari penghakiman kelak.

Syukur kepada Allah, karena iman kepada Yesus Kristus, kita ditentukan menjadi serupa dengan Kristus Yesus. Ini adalah ketetapan Allah dari sejak semula. Jadi tatkala penghakiman itu datang, lalu kita diukurkan dengan Kristus Yesus, karena kita sudah serupa dengan Kristus Yesus, maka keputusan yang akan kita terima ialah: pembenaran.

Satu hal yang harus kita ingat dengan baik dan tetap berada dalam pandangan tersebut ialah: ketehuilah lebih dahulu posisimu di dalam Kristus Yesus. Jika hal itu sudah dapat dipahami dengan benar, maka datanglah sisi yang lain: bertindaklah sesuai dengan posisi saudara. Jika kita pejabat tinggi  negara, maka tidaklah wajar jika kita  melakukan hal hal yang tidak setara dengan posisi kita. Tidak layak seorang pejabat tinggi negara ngopi di pinggir jalan. Sama seperti itu juga, tidak pantas seorang kudus melakukan hal hal yang tidak kudus.

Posisi kita adalah sesuatu yang sangat tinggi sama seperti posisi Kristus, maka hiduplah sama seperti Kristus. Itulah kekristenan yang sesungguhnya.

23/03/17




Hakim
Tetapi ia akan menghakimi orang-orang lemah dengan keadilan, dan akan menjatuhkan keputusan terhadap orang-orang yang tertindas di negeri dengan kejujuran; ia akan menghajar bumi dengan perkataannya seperti dengan tongkat, dan dengan nafas mulutnya ia akan membunuh orang fasik.
Yesaya 11:4

Hakim bertugas untuk menentukan seseorang benar atau salah. Allah adalah Hakim Agung segala hakim yang ada di muka bumi ini. Seorang Hakim harus menjatuhkan keadilan bagi mereka yang berperkara. Keadilan maknanya adalah memberikan kepada orang apa yang menjadi haknya. Bagi orang yang bersalah, haknya adalah penghukuman, sementara orang tidak salah, haknya adalah dibenarkan.

Nas kita berbicara tentang Raja Damai akan menjatuhkan ketetapan kepada orang lemah dan orang tertindas. Apakah haknya orang lemah dan orang tertindas? Haknya ialah mendapatkan pertolongan. Haknya ini dijamin oleh Raja Damai yang akan memerintah kekal untuk selama-lamanya.

Dari sudut pandang keberadaan kita sekarang, maka kita dapat mengatakan bahwa pada hakekatnya kita ini adalah kelompok yang lemah. Kita pun berada dalam kelompok tertindas oleh karena keberdosaan kita. Kita tidak dapat menolak keberdosaan kita. Rasul Paulus mengatakan: yang baik itu ada pada diri saya, tetapi aku tidak melakukan apa yang baik, melainkan apa yang tidak kukehendaki, yakni yang aku lakukan. Paulus pada akhirnya ia berkata: Wai aku yang celaka, siapakah yang dapat melepaskan aku dari tubuh maut ini?.

Untuk seruan seperti itu, Raja Damai menjatuhkan keputusan-Nya. Kita dibenarkan oleh karena iman kepada Tuhan kita Yesus Kristus. Ini adalah satu keputusan yang sungguh jujur. Namun Raja Damai itu pun akan menjatuhkan penghukuman bagi orang fasik. Sebagaimana kita mengakuinya dalam pengakuan iman, yang kita ucapkan setiap Minggu. Yesus akan datang untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati.

Jika kita katakan bahwa kita adalah orang yang mengikut Yesus, maka kita pun seharusnya terpanggil untuk mengutarakan keadilan bagi orang lemah dan yang tertindas. Di  negeri ini ada banyak orang yang lemah secara ekonomi, lemah secara pengaruh, dan bahkan tertindas dalam hak azazi. Tidakkah kita melihat adanya tekanan  bagi orang beragama tertentu di negeri ini. Susahnya untuk mendirikan tempat ibadah adalah salah satu tindasan yang kita alami di negeri ini.

Kita juga melihat orang Kristen yang menindas orang lemah secara ekonomi dengan rentenir yang banyak dilakoni orang Kristen. Ada seorang mahasiswa sekolah tinggi teologia membuat penelitian di beberapa tempat secara random. Di tempat tempat dimana kemiskinan sangat kental, orang Kristen terkenal sebagai orang rentenir. Tidakkah hal itu sebuah kabar buruk bagi kekristenan? Tuhan akan menghukum orang fasik yang tidak meniru perjalanan hidup yang sudah dirintisnya lebih dahulu, yakni jalan salib. Apakah saudara berjalan di jalan salib?

22/03/17




Penglihatan

Sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel."
Lukas 2:30-32

Tatkala Yesus dibawa ke Bait Allah pada hari kedelapan, diukur dari hari kelahirannya, seorang saleh dari kalangan Israel, bernama Simeon menjambut kehadiran anak itu. Ia hadir di sana karena diberitahukan Roh Kudus, ia akan melihat kegenapan dari keselamatan yang dijanjikan Allah bagi umat-Nya Israel. Atas dorongan Roh Kudus, Simeon mengenal bayi Yesus sebagai Mesias yang dijanjikan. Ini sungguh menarik hati. Simeon dapat mengenali bayi Yesus sebagai Mesias. Bukankah ada banyak orang yang hadir di Bait Allah itu? Namun orang rohani dapat mengenali dengan benar apa yang sedang dicarinya.

Simeon diberi kesempatan untuk melihat keselamatan yang akan dihadirkan bayi Yesus di  masa depan. Ia telah mampu melihat jauh kedepan oleh karena kesalehannya di dalam beribadah kepada Tuhan Allahnya. Sungguh sangat berbeda dengan para tua tua Israel dan imam besar pada waktu itu, mereka para petinggi agama itu, tidak  mampu melihat kehadiran Yesus sebagai wujud dari kehadiran Mesias Israel yang dijanjikan. Sementara orang tua ini, yang hidup di dalam kesalehan, mampu melihat keselamatan yang akan datang, pada hal Yesus masih bayi mungil berumur delapan hari.

Hari orang Israel disunat adalah hari kedelapan. Hari itu adalah hari pertama pada Minggu kedua. Itu berarti angka delapan adalah angka yang menunjuk pada hari kelahiran kembali. Anak itu dimasukkan ke dalam perjanjian dengan Allah Israel. Melalui upacara sunat itu, ia dihisapkan pada komunitas perjanjian dengan Allah. Pada waktu itulah Simeon mewakili bangsa Israel untuk menerima Mesias Allah.

Simeon mampu melihat bahwa keselamatan itu tidak hanya diperuntukkan bagi Israel semata-mata. Keselamatan itu diperuntukkan bagi bangsa bangsa di muka bumi ini. Namun di dalam keselamatan itu umat Allah, yakni Israel akan menjadi kemuliaan. Dialah orang Yahudi  pertama yang  menerima Yesus sebagai Mesias. Di akhir zaman, akan ada kesempatan untuk bangsa Yahudi untuk menerima Yesus sebagai Mesias mereka.

Kesalehan akan memungkinkan kita melihat apa yang disediakan Allah bagi kita. Bahkan dalam jangkauan masa depan yang jauh di depan. Sama seperti Samuel ini. Ia menemukan damai sejahtera di dalam dirinya, sehingga ia dapat mengatakan: “Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera sesuai dengan firman-Mu.” Ia tahu juga kapan ia akan pergi meninggalkan dunia ini.

Ada seorang ibu yang punya sepuluh anak. Ibu itu berada dalam keadaan sehat. Ia meminta agar seluruh anak dan cucu kumpul satu hari, sama sama pergi ke Gereja dan malamnya mereka makan bersama. Setelah acara makan selesai, sang ibu berdoa untuk anak anaknya satu persatu dari nomor satu sampai nomor sepuluh berikut cucunya. Setelah selesai berdoa untuk anak dan cucu, si ibu itu bernyanyi: It is well with my soul dalam bahasa Batak:  sonang do sonang do.  Biasanya si ibu akan menyanyikan lagu itu sampai bait yang ke empat. Tetapi ia hanya menyanyikan bait yang pertama, karena ia sudah meninggal dunia.

Kata terakhir yang keluar dari mulut ibu itu adalah doa dan nyanyian yang menggambarkan isi hatinya:  it is well with my soul, sonang do sonang do dipasonang tongtong rohangkon. Alangkah indahnya kematian seperti itu.

21/03/17




Maklumat

Betapa besarnya tanda-tanda-Nya dan betapa hebatnya mujizat-mujizat-Nya! Kerajaan-Nya adalah kerajaan yang kekal dan pemerintahan-Nya turun-temurun!
Daniel 4:3

Raja Nebukadnezar pada zamannya adalah seorang raja di raja dan tuan dari segala tuan. Ia meninggikan dirinya sebagai orang yang paling mulia di dunia ini. Namun pada gilirannya ia direndahkan dan bertindak seperti binatang. Ia berjalan dengan kedua kaki serta kedua tangannya, sama seperti yang dilakukan oleh para binatang. Untuk dia yang  meninggikan diri di atas segala yang ada, Allah Yang Mahatinggi pun menghukum dia dan kehilangan segala kemuliaan yang ada padanya.

Tuhan Allah memaklumkan bahwa akan tiba saatnya bagi Nebukdnezar akan direndahkan. Bermula di satu malam, ia melihat keindahan kota Babel yang sudah dibangunnya. Pada waktu itu kata ahli sejarah, ada taman gantung di Babel yang dirancang atas perintah Raja Nebukadnezar. Taman Gantung di Babel itu kata orang termasuk dari salah satu keajaiban dunia. Nebukadnezar berkata: “Bukankah itu Babel yang besar itu, yang dengan kekuatan kuasaku dan untuk kemuliaan kebesaranku telah kubangun menjadi kota kerajaan.” Belum habis raja mengungkapkan perkataan itu, terdegar maklumat dari surga bahwa kerajaan itu telah beralih dari dirinya. Ia menjadi gila.

Nebukadnezar mau meninggikan dirinya sendiri setara dengan Allah. Oleh karena itu ia direndahkan menjadi setara dengan hewan. Ini satu pelajaran yang sangat berharga bagi kita. Sekarang ini ada banyak orang yang meninggikan diri dengan apa yang ada pada dirinya sendiri. Orang berkata di dalam hatinya: “Oleh karena akulah maka semua ini ada, semua itu aku kerjakan untuk diriku sendiri dan demi memuliakan diri sendiri.” Ada juga orang mengatakan: “Jikalau bukan aku, maka engkau tidak akan mendapatkan kedudukan sekarang ini. Akulah yang membuat engkau sukses di dalam hidupmu.”

Ada banyak orang yang bertindak sama seperti Nebukadnezar. Sama seperti yang dialami Nebukadnezar, orang itu pun akan direndahkan di hadapan Allah. Mereka disetarakan dengan binatang. Sementara binatang diciptakan untuk dibantai menjadi makanan bagi orang. Kebinasaan adalah bagian dari mereka yang meninggikan diri di hadapan Allah.

Nebukadnezar tidak sadar bahwa kerajaannya yang begitu besar, adalah pemberian Allah kepadanya. Namun ia tidak meninggikan Allah, lalu datanglah orang kudus yang menggulingkan batu ke atas kerajaannya, sehingga kerajaannya terpecah. Orang kudus itulah yang akan menggantikan Raja Nebukadnezar sebagai raja di raja yang akan memerintah untuk selama-lamanya. Orang kudus itu adalah Mesias Israel yang kita kenal di dalam diri Yesus Kristus. Yesus menyebut dirinya Anak Manusia. Kepadanya orang akan tunduk dan mengaku Dia sebagai Tuhan dan Raja.

Sebuah pertanyaan perlu diajukan kepada diri kita sendiri: adakah kita mengaku bahwa segala sesuatu yang kita miliki adalah pemberian Allah, atau kita merasa semua itu murni adalah karena usaha kita. Jika tidak ada pengakuan bahwa semuanya itu adalah kasih karunia Allah, maka pengalaman Nebukadnezar pun akan dikenakan kepada kita pada waktunya. Itu sesuatu yang pasti, karena firman Allah mengatakannya demikian. Tatkala Nebukadnezar berpaling kepada Allah, maka kerajaan itu pun dikembalikan padanya. Hal yang sama pun akan kita dapatkan juga.

19/03/17



Warisan
Tali pengukur jatuh bagiku di tempat-tempat yang permai; ya, milik pusakaku menyenangkan hatiku.
Mazmur 16:6

Sebelum nas kita, pemazmur mengatakan bahwa warisannya adalah Tuhan sendiri. Hal ini berhubungan dengan kisah yang lama, dimana orang Israel mendapat pembagian tanah Israel. Itu menjadi milik pusaka dan warisan mereka dari Allah. Satu hal yang pasti soal pembagian tanah itu, para imam tidak  mendapat bagian, sebab bagian mereka ialah Allah sendiri. Mereka hidup atas persembahan orang Israel kepada Allah.

Imam kerjanya adalah orang yang dikhususkan untuk melayani Tuhan di Bait Allah. Mereka diperkenankan mendekat kepada Allah, sementara orang Israel dilarang dan diancam akan binasa jika mendekat. Dalam kehidupan sehari hari, orang Israel dapat menjadi orang kaya oleh karena usaha mereka. Tetapi imam tidak punya kesempatan mengembangkan usaha, sebab mereka tidak diperkenankan mengerjakan apa pun selain dari melayani Tuhan di Bait  Allah.

Sekali pun keadaan seperti itu, pemazmur  berkata: “Tali pengukur jatuh bagiku di tempat-tempat yang permai; ya, milik pusakaku menyenangkan hatiku.” Ternyata pemazmur mendapatkan kelimpahan yang menyenangkan. Pengalaman orang percaya di sepanjang zaman membuktikan pengalaman rohani seperti pemazmur ini. Mazmur ini ditulis oleh Raja Daud. Ia seorang raja yang sukses dalam memimpin kerajaannya. Ia tidak bersandar pada harta benda yang ada padanya. Ia mengatakan bahwa warisannya adalah Tuhan sendiri. Karena ia membuat menjadi bagiannya, maka ia pun mendapat warisan yang permai dan menyenangkan.

Sebuah pertanyaan perlu diajukan pada diri kita masing-masing: apakah yang menjadi warisan dan milik pusaka bagi saudara dan saya. Apakah harta benda di dunia ini yang menjadi  harta warisan saudara yang paling berharga? Atau Tuhan sendiri yang menjadi harta warisan dan milik pusaka yang tidak akan pernah hilang dari kehidupan ini. Kita seharusnya kaya secara rohani, dan tidak harus secara jasmani. Dalam perumpamaan orang kaya yang bodoh, Tuhan Yesus mengatakan bahwa setiap orang harusnya kaya di hadapan Allah. Dalam Lukas 12:21 Tuhan Yesus mengatakan: “Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah."

Penulis sendiri bukanlah orang yang punya harta. Penulis dapat mengatakan bahwa diri ini adalah seorang yang berada di atas garis kemiskinan secara bendawi. Tetapi Allah yang Mahakasih memberikan tali pengukur di tempat yang permai secara rohani. Sama seperti Paulus yang berkata: ia adalah orang yang tidak punya, tetapi memperkaya banyak orang, penulis juga memperkaya orang secara rohani. Melalui pelayanan secara pribadi terhadap para pemuda dan pemudi, mereka diperkaya secara rohani, menjadi orang yang berhasil secara ilmu dan ekonomi, tetapi tetap orang yang hidup berdasarkan iman. bahkan melalui pelayanan terhadap para pemuda, beberapa di antara mereka sudah ada yang  me njadi pendeta di beberapa Gereja. Tali pengukur ditempat tempat yang permai.

16/03/17




Jalan

Tunjukkanlah kepadaku jalan-Mu, ya TUHAN, supaya aku hidup menurut kebenaran-Mu; bulatkanlah hatiku untuk takut akan nama-Mu.
Mazmur 86:11

Hidup ini adalah sebuah perjalanan. Orang  menentukan jalan mana yang harus ditempuhnya di pejalanannya. Tuhan juga punya jalan yang disediakan-Nya untuk dijalani oleh setiap orang yang percaya kepada-Nya. Sadar akan adanya jalan Tuhan, pemazmur memohon agar Tuhan menunjukkan kepada-Nya jalan Tuhan, sehingga ia akan berjalan di jalan tersebut.

Tidak semua orang berjalan di jalan Tuhan. Ada orang berjalan di jalan yang dia rintis  untuk dijalaninya di dunia ini. Dunia ini pun menawarkan jalan yang akan dijalani. Jadi kita menemukan dua jalan yang di jalani orang di dunia ini. Jalan dunia mengatakan untukku untukku. Suara itu bergema di dalam perjalanan yang ditempuh. Apa pun yang dilakukannya semuanya untukku, untukku.

Pada umumnya orang berjalan di jalan yang ditempuhnya dalam dunia ini. Sebab itulah yang paling dipercayanya sebagai jalan yang pas untuk dirinya. Sementara jalan Tuhan itu sesuatu yang aneh bagi mereka. Sebab rasanya hal tersebut menyingkirkan hakekat dari diri sendiri. Jalan Tuhan menyuarakan: untuk Tuhan, untuk Tuhan. Sebab segala sesuatu dilakukan hanya untuk Tuhan.

Bagi orang yang membuat diri sendiri yang menjadi pusat kehidupan, tindakan yang mengatakan untuk Tuhan adalah sesuatu yang sangat aneh dan tidak masuk akal. Bukankah diri sendiri yang harus diutamakan? Mengapa hal itu terjadi? Karena mereka melihat dirinya sendiri bukan bagian dari Allah. Dirinya adalah sesuatu yang terpisah dari Allah. Ia mau meninggikan diri di hadapan Allah. Bahkan ia mau masuk surga didasarkan atas prestasi diri sendiri.

Lain dengan orang yang berjalan di jalan Tuhan. Mereka melihat diri mereka sebagai bagian dari eksistensi Tuhan. Paulus menggambarkannya dengan sangat indah dengan ayat ini: “Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.” Gal 2:19b-20. Kristus yang hidup di dalam hidup orang Kristen. Karena Kristus datang ke dunia ini, hanya dalam rangka memberlakukan kehendak Bapa-Nya, maka tatkala Ia hidup di dalam hidup orang percaya, maka pastilah Ia pun melakukan kehendak Allah di dalam diri orang Kristen tersebut.

Di sisi lain, pemazmur mengatakan dia akan berjalan bukan di dalam kebenaran dirinya sendiri, tetapi di dalam kebenaran Allah. Sebab jalan yang dijalaninya ialah: jalan Tuhan. Tidak ada satu pun kebenaran di dalam diri orang yang berjalan di jalannya sendiri. Sebab semua manusia telah berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah. Jalan diri sendiri adalah jalan dosa dan jalan tanpa kemuliaan Allah ada di dalamnya.

Sebuah pertanyaan perlu diajukan pada kita masing-masing: di jalan manakah saudara sekarang sedang berjalan. Jalan dunia yang mengatakan: untukku untukkukah, atau jalan Tuhan yang menyuarakan: untuk Tuhan untuk Tuhan. Marilah kita berjalan di jalan Tuhan dengan sebulat hati, sebab di sana ada kebenaran.

15/03/17




Sempurna

Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal.
I Korintus 13:12

Pada zaman Paulus masih hidup, dunia belum menemukan cermin seperti yang kita miliki sekarang ini. Jika orang bercermin, mereka memakai logam tembaga yang dipoles sehingga licin, atau bercermin di air. Oleh karena itu, rupa yang ditampakkan oleh cermin pada waktu itu, tidak sejelas cermin sekarang ini. Wajah yang nampak di cermin itu, masih samar-samar.

Keselamatan yang kita terima di dalam Kristus pun sama seperti gambar yang dimunculkan oleh cermin di zaman dahulu itu. Sekarang kita sudah tahu persis bahwa kita ini adalah anak anak Allah. Tetapi belum nyata keadaan kita kelak, akan tetapi kita tahu bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya. Cf I Yoh 3:2.

Paulus memberi jaminan kepada kita, bahwa nanti akan tiba waktunya kita akan bertemu muka dengan muka, sehingga tidak akan ada lagi yang tersembunyi bagi kita. Paulus mengatakan bahwa keberadaan kita sekarang ini di dunia ini, dilihat dari sudut pandang Allah, diibaratkan dengan keberadaan seorang anak kecil. Ada banyak  hal dalam kehidupan seorang anak yang tidak dapat dimengertinya, oleh karena keterbatasan pandangan. Cakrawala persepsinya masih sangat sempit. Namun sejalan dengan pertumbuhannya, ia semakin mengerti kehidupan yang di hadapinya. Sama seperti itulah keberadaan orang beriman di hadapan Allah.

Tatkala kita  kelak sudah sampai ke surga, kita akan sampai kepada kesempurnaan. Kita akan melihat keadaan itu sebagaimana seharusnya. Paulus mengatakan dengan ungkapan, memandang muka dengan muka. Kita akan mengenal keberadaan kita, sebagaimana Allah mengenal keberadaan kita. Kita akan dapat melihat semua masalah dalam dimensi pandangan Allah.

Manusia diciptakan Allah segambar dengan Dia. Malaikat sekali pun adalah mahluk surgawi dan kudus, tetapi ia tetap lebih rendah dari pada manusia yang diciptakan segambar dengan Allah. Jaminan akan keberadaan yang sempurna itu ialah: Yesus Kristus sendiri. Ia adalah manuisa seratus persen, manusia yang hidup seturut kehendak Allah. Ia adalah Adam kedua yang meminpin totalitas manusia yang berada dalam kehendak Allah. Kita dibuat serupa dengan Dia.

Rasul Yohanes mengatakan di dalam suratnya yang pertama: “Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.” I Yoh 2:6. Nas ini mengatakan bahwa mereka yang menyebut dirinya Kristen, maka ia wajib hidup seperti Kristus telah hidup. Agar kita dimampukan untuk hidup seperti Kristus, maka Roh Kudus diberikan kepada kita, agar kita memang sama seperti Kristus.

Jadi teringat syair nyanyian Gereja di HKBP: “Lam tu rimpasna tudos tu Ho, togu ma ahu pasolhot tu Ho, Ho disorminhon parulanki, sasada Ho ma hasiholanki. Semakin sempurna, mirip seperti engkau, tariklah aku semakin dekat dengan Diaku, engkau  dicerminkan perbuatanku, hanya engkau sajalah kerinduanku. Apakah hal itu mencerminkan kehidupan saudara dan saya. 

Rumah Allah

  Rumah Allah Ibrani 3:6 Tetapi Kristus setia sebagai Anak yang mengepalai rumah-Nya; dan rumah-Nya ialah kita, jika kita sampai kepada akhi...