20/11/12

Seksualitas


SEKSUALITAS

Ada dua pandangan yang saling bertentangan satu sama lain dalam hal sex. Kubu pertama ialah: kaum puritan. Bagi orang yang ada di dalam kubu ini, sex adalah sesuatu yang tertutup bagi orang lain. Di sisi lain, ada kubu yang kedua, yakni kaum liberal. Bagi kaum liberal, sex adalah masalah pribadi. Mereka membicarakan sex secara terbuka dan tidak perlu ditutup-tutupi. Sekarang, kita melihat sex diumbar di segala aspek kehidupan. Bahkan kadang kala diekspose sangat vulgar. Saya sendiri tidak berada di dalam dua kubu yang sudah diungkapkan di atas.

Marilah kita melihat apa pandangan sex di dalam Alkitab. Dengan sangat indah, Alkitab menyaksikan kepada kita bahwa sex dipakai Allah di dalam rangka menjelaskan kepada kita relasi-Nya dengan umat pilihan-Nya. Kita membaca dalam kitab Hosea, Allah digambarkan sebagai ‘suami,’ sementara Israel adalah ‘isteri’nya Allah. Kitab PB pun menggambarkan hal yang sama. Sejarah dunia ini akan ditutup dengan pesta perkawinan Anak Domba Allah dengan pengantin-Nya, yakni Gereja.

Sejarah umat manusia di muka bumi ini menurut Alkitab dimulai dengan pernikahan Adam dan Hawa di Taman Eden. Akhir dari segala sesuatu di muka bumi ini adalah pernikahan Anak Domba Allah dengan pengantin-Nya, yakni Gereja. jadi, pernikahan adalah sesuatu yang kudus dalam pandangan Alkitab. Dalam konteks sexualitas, ada sebuah buku yang berbicara tentang hal ini, ditulis oleh seorang feminist, yakni: Dorothee Soelle dan Shirley A. Cloyes dalam buku mereka berjudul To Work And To Love. Salah satu bagian dalam buku itu berbicara tentang sexualitas yang menjadi bahan renungan pribadi bagi saya dan dituliskan di sini.

Aku memulai dengan firman Tuhan Yesus yang berkata: “Demikianlah mereka  bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak dapat diceraikan manusia” Mat 19:6. Seksualitas dimulai dengan sebuah integrasi. Dua menjadi satu. Karena manusia itu pada dasarnya adalah mahluk rohani, maka pada hakekatnya integritas itu dimulai dari sisi rohani. Namun masyarakat modern sekarang langsung masuk ke dalam integritas fisik melalui sexual intercause. Sebuah kenikmatan fisik senantiasa bersifat sementara. Betapa nikmat pun kenikmatan fisik itu, kita merasakannya hanya sekejab, lalu sirna tanpa bekas. Itulah sebabnya kita akan mencari lagi kenikmatan itu dan bahkan mencoba menemukan varian yang lain. Hal itu terlihat dalam kenikmatan makanan. Kita senantiasa mencari bentuk yang lain. Hal seperti itu sekarang diterapkan juga dalam hubungan seks.

Soelle mengutarakan, tatkala kita jatuh cinta kepada seseorang, itu berarti kita mengalami wholeness. Keutuhan itu menurut saya dimulai dalam sisi kerohanian kita. Keluarga adalah sarana kita untuk menyaksikan kasih Allah di dunia ini. Oleh karena itu, mereka yang mau menikah seharusnya mulai mengalami integrasi kerohanian. Keduanya diintegrasikan dalam hal-hal rohani. Sungguh tidak membangun kehidupan iman, jika salah satu dari pasangan itu berbeda dalam pandangan iman, sekalipun mereka berasal dari satu Gereja.

Aku menikmati persahabatan secara rohani dan secara intelektual dengan kekasihku yang telah mendahului aku pergi ke negeri baka. Hal ini membuat kami senantiasa berada dalam jalan yang sama dalam hal iman harap dan kasih kepada Tuhan dan kepada sesama, selama kami masih dipersatukan dalam ikatan nikah yang kudus. Integrasi rohani sangat diperlukan di dalam membagun rumah tangga yang berbahagia dan langgeng di dunia ini.

Integrasi seperti itu juga menumbuhkan dimensi trust dalam seksualitas kita. Integrasi dan trust berkembang secara simultan dalam relasi tersebut. Sisi trust membuat kita merasa at home dalam relasi tersebut. Tatkala sisi trust muncul, dengan sendirinya sisi Ecstasy  pun muncul juga secara simultan dengan kedua sisi yang sudah kita bicarakan di atas. Sisi ecstasy membuat kita mulai merasa kehilangan akan diri sendiri. Hal ini adalah akibat logis dari integrasi dan trust tadi. Bukan hanya itu yang terjadi. Masih ada sisi lain menurut Soelle, sisi itu diberi nama Solidarity. Produk dari solidaritas menurut Soelle ialah: pengenalan. Soelle memakai istilah Alkitab untuk kata kenal yang punya makna lain dari pada arti kosa kata itu dalam bahasa modern sekarang. Kata kenal dalam bahasa Ibrani juga punya makna sexual intercourse. Pengenalan yang bersifat batiniah.

Relasi semakin berkembang, maka integrasi tidak hanya mencakup hal rohani, relasi yang berkembang membuat integrasi pun mencakup bidang emosi kita. Kedua emosi dari pribadi yang saling jatuh cinta itu terintegrasi. Kedua pribadi itu semakin menyukai hal-hal yang sama. Di sisi trust muncul pula penghiburan, sebagai produk dari emosi yang mulai terintegrasi. Di sisi ekstasi, ada sukacita karena kita hidup. Bagi orang yang jatuh cinta, kehidupan itu sesuatu yang sangat indah. Di sisi solidaritas muncul rasa tidak ingin dipisahkan dari dia yang kita cintai.

Sungguh sangat indah jatuh cinta sebagaimana dirancang Allah bagi kita. Sisi integrasi terus bertumbuh. Di sisi ini muncul pula integrasi estetika. Rasa estetika mereka pun dipersatukan oleh Allah melalui cinta kasih mereka. Di sisi trust, rasa estetika itu akan membuat pasangan kita itu dapat diandalkan. Sementara di sisi ekstasi menumbuhkan mutuality. Di sisi solidaritas muncullah keinginan tidak lagi mengkotak-kotakkan yang mana pribadi dan yang mana yang umum. Semua menjadi milik bersama.

Relasi bertumbuh terus, maka di sisi integritas muncullah integrasi intelektual. Pasangan kita itu menjadi sahabat kita secara intelektual, karena intelektual kita telah terintegrasi. Di sisi trust muncul pula keinginan untuk menarik diri. Hal ini muncul karena kesadaran akan persahabatan tadi. Di sisi ekstasi muncul pula dorongan untuk melakukan hal-hal positif dalam rangka membangun persahabatan itu sendiri. Ada sukacita dalam melakukan sesuatu untuk persahabatan.

Puncak dari integrasi itu ialah integrasi fisik. Pasangan itu mengadakan hubungan secara fisik. Tatkala hubungan itu dilakukan, di sana terdapat sisi trust terhadap pasangan. Di sana ada sisi ekstasi, karena pasangan itu akan mengalami orgasme. Di sana pun ada solidaritas, secara bersama mereka menikmatinya. Tatkala hubungan fisik itu terlaksana, maka di sisi trust pun muncul hilangnya pertahanan akan diri sendiri. Sebab sudah menyatu dengan pasangan tercinta. Di sisi ekstasi orang itu mengalami self transendensi. Ia menikmati sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri. Sebab sekarang ia bukan lagi diri sendiri, melainkan diri yang baru bersama dengan pasangannya. Self transendensi dapat dinikmati manusia dalam hubungan seks sebagaimana telah kita uraikan di atas. Di sisi soladaritas, muncul dimensi kasih yang seharusnya ada di dalam kehidupan mereka.

Jika seksualitas itu begitu indah dan begitu agung, sungguh sangat menyedihkan jika masyarakat modern sekarang ini hanya menikmati bagian ekstasi sesaat yang tidak berlangsung lama dalam hunungan seks yang mereka nikmati. Seks itu adalah sesuatu yang kudus. Saya merenungkan makna relasi itu dalam konteks jatuh cinta kepada Tuhan, karena Ia lebih mengasihi daku. Allah itu adalah kasih! Oleh karena Dia adalah kasih, maka harus ada obyek yang dikasihi-Nya, yakni manusia. Salah satu dari antaranya ialah: daku. Allah pun tentunya mengasihi dengan spirit kasih pula. Hal yang sama Ia tanamkan di dalam hati setiap orang yang dikasihi-Nya. Karena spirit kasih itulah kita mengasihi Dia.

Jika kita jatuh cinta kepada Tuhan. Itu berarti kita akan mengalami integrasi dengan Tuhan. Integrasi yang puncaknya kita menyatu dengan Dia dalam dimensi yang tidak pernah dapat dibayangkan manusia. Kita tidak percaya akan pemahaman orang yang mengatakan bahwa manusia manunggal dengan Tuhan. Tetapi dalam diri Tuhan Yesus kita melihat adanya persekutuan yang ilahi dan insani. Rasul Yohanes mengatakan: “Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia: I Yoh 3:2.

Integrasi dengan Tuhan itu menimbulkan trust yang luar biasa di dalam diri kita. Cinta itu juga menimbulkan ekstasi sebagaimana telah kita gambarkan di atas. Tuhan Yesus pernah menampakkan ekstasi seperti itu dalam Injil: "Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu” Luk 10:21. Kata bersyukur dalam KJV dipakai rejoice. 

Bukan hanya trust dan ekstasi, integrasi itu pun menghasilkan solidaritas Tuhan bersama kita. Cinta itu membuat kita mengenal siapa Dia yang kita sembah, membuat kita tidak lagi terkotak-kotak, melainkan utuh satu sama lain, terhubungkan satu sama lain. Alangkah indahnya. Di dunia ini kita telah mulai menikmatinya, walaupun kegenapannya akan kita nikmati di langit yang baru dan bumi yang baru.

Wahai dunia liberalisme. Tinggalkanlah pandanganmu tentang seks yang bebas itu. Jelajahilah dunia seks sebagaimana digambarkan Alkitab. Sebab seks yang digambarkan Alkitab mengandung misteri. Di sisi lain, seks yang dieksplore kaum liberal tidak memiliki dimensi misteri. Ia begitu terbuka sehingga tidak ada apa-apanya. Sekejab, lalu sirna tanpa bekas. Menyedihkan!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Rumah Allah

  Rumah Allah Ibrani 3:6 Tetapi Kristus setia sebagai Anak yang mengepalai rumah-Nya; dan rumah-Nya ialah kita, jika kita sampai kepada akhi...