14/09/17

Tersanddung



Tersandung

Masakan salju putih akan beralih dari gunung batu Siryon? Masakan air gunung akan habis; air yang sejuk dan mengalir? Tetapi umat-Ku telah melupakan Aku, mereka telah membakar korban kepada dewa kesia-siaan; mereka telah tersandung jatuh di jalan-jalan mereka, yakni jalan-jalan dari dahulu kala, dan telah mengambil jalan simpangan, yakni jalan yang tidak diratakan.

Yeremia 18:14-15

Nas kita dimulai dengan sebuah pertanyaan yang tidak perlu jawaban. Sebab jawabannya semua orang sudah tahu, tidak mungkin salju beralih dari puncak gunung yang tinggi. Tidak mungkin juga air gunung akan habis. Demikian juga tidak mungkin Allah Israel sebagai Allah semensta alam kehabisan sumber daya bagi umat-Nya Israel.

Namun satu hal yang terjadi ialah: orang Israel telah me lupakan Allahnya. Mereka berpaling kepada ilah sembahan orang Kanaan, yang tidak dikenal oleh nenek moyang mereka. Mengapa hal itu terjadi? Jawabannya tentulah oleh karena mereka ingin sama dengan dunia ini. Rupa-rupanya ibadah orang Kanaan lebih menarik dari pada ibadah kepada Allah Israel Yang Mahakudus. Ibadah orang Kanaan bergelimang dengan dosa di mata Allah Israel, namun memuaskan keinginan dosa dari umat manusia.

Orang Israel tidak suka berjalan di jalan yang telah dirintis Allah untuk mereka jalani. Oleh karena itu mereka mengambil jalan simpangan, sekali pun jalan itu tidak rata adanya. Hal yang sama pun terjadi dengan orang modern sekarang ini. Kita ingin serupa dengan dunia ini, sekalipun firman Allah telah memerintahkan kita untuk tidak serupa dengan dunia ini.

Paulus mengatakan: “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Roma 12:2. Orang yang sudah dipenuhi dengan nafsu duniawi akan sangat tertarik akan jalan dunia ini. Itulah sebabnya mereka berpaling dari jalan yang benar.

Berbicara tentang jalan yang harus ditempuh, Yesus mengatakan bahwa jalan menuju kebinasaan adalah lebar, sementara jalan menuju kekekalan adalah sempit. Orang tertarik untuk berjalan dijalan yang lebar, sebab mereka merasa jalan itu aman adanya. Jalan yang ditujukkan Allah itulah jalan yang aman, sebab Ia sudah tahu apa yang ada diujungnya. Dunia ini tidak pernah dapat memprediksi apa akhir dari jalan yang tersedia di dalamnya. Oleh karena itu berjalanlah di jalan yang telah disediakan Tuhan. Jalan itu berakhir di surga yang kekal.

Jalan itu adalah Tuhan Yesus sendiri. Ia telah mengatakan bahwa Ia adalah jalan kebenaran dan hidup, tidak ada seorang pun yang sampai kepada Bapa kecuali melalui Aku. Cf Yoh 14:6. Dengan demikian kita tahu bersama jalan dunia ini tidak berakhir di surga, hanya Yesus sajalah yang akhirnya di surga. Sudah terbukti.


Hotman Siahaan


hotman.siahaan@gmail.com

08/09/17

Doa Syafaat



Doa Syafaat

Pandanglah dari sorga dan lihatlah dari kediaman-Mu yang kudus dan agung! Di manakah kecemburuan-Mu dan keperkasaan-Mu, hati-Mu yang tergerak dan kasih sayang-Mu? Janganlah kiranya Engkau menahan diri!
 Yesaya 63:15

Nas kita merupakan bagian dari doa syafaat Nabi Yesaya untuk bangsa Israel yang sudah berdosa. Satu hal yang sangat menarik bagi kita ialah: Nabi Yesaya mengidentifikasi dirinya dengan bangsa Israel. Sebagai bagian dari bangsa itu Yesaya berkata: “Demikianlah kami sekalian seperti seorang najis dan segala kesalehan kami seperti kain kotor; kami sekalian menjadi layu seperti daun dan kami lenyap oleh kejahatan kami seperti daun dilenyapkan oleh angin.” Yes 64:6.

Ia seorang nabi yang sudah dikuduskan Allah, namun dalam doa syafaatnya ia mengindentikisasi diri dengan bangsa itu. Ia juga najis dan segala kesalehan mereka ibarat sebuah kain kotor belaka di hadapan Allah. Yesaya tidak mengandalkan kesalehan mereka di dalam doa syafaatnya. Yesaya hanya bersandar kepada siapakah Allah itu bagi umat Israel. Yesaya memohon agar Allah memandang dari sorga Bait Allah yang sudah runtuh dan tidak lagi dapat dipakai untuk melaksanakan ibadah di hadapan Allah. Pada hal Allah sudah berjanji bahwa Ia akan membuat namanya tinggal di sana.

Memang Bait Allah itu dirobohkan oleh karena keberdosaan Israel, tetapi Yesaya menagis kecemburuan Allah dan keperkasaan Allah, juga kasih Allah yang tergerak oleh kasih sayang yang sangat besar. Oleh karena itu ia memohon agar Allah jangan  menahan diri dari bertindak untuk memulihkan mereka kembali. Sangat menarik membahas doa syafaat Nabi Yesaya ini dan membuatya sebagai patron bagi kita untuk berdoa syafaat di hadapan Allah.

Yesaya mengingatkan bahwa Allah itu adalah Bapa bagi bangsa Israel. Yesaya tidak lagi mengkaitkan Israel dengan Abraham. Ia menekankan bahwa Allah Israel adalah Bapa bagi Israel dan Ia juga adalah penebus Israel. Inilah untuk pertama kalinya Israel menyebut Allah mereka itu adalah Bapa bagi mereka. Relasi sudah menjadi kekeluargaan, karena Allah itu adalah penebus mereka.

Kita pun dapat berdoa syafaat dengan pola yang diterapkan Nabi Yesaya. Terlihat dengan jelas bahwa Allah menjawab doa syafaat dari Nabi Yesaya ini. Hal itu terlihat di dalam Yesaya 65:1 “Aku telah berkenan memberi petunjuk kepada orang yang tidak menanyakan Aku; Aku telah berkenan ditemukan oleh orang yang tidak mencari Aku. Aku telah berkata: "Ini Aku, ini Aku!" kepada bangsa yang tidak memanggil nama-Ku.” Itulah jawaban pertama Allah untuk doa syafaat Yesaya. Doa syafaat kita pun akan dijawab Allah, sebab kita adalah anak-anak-Nya. Dimanakah ada Bapa yang tidak mendengar seruan anaknya yang berseru siang dan malam kepadanya.

Namun kita harus menggaris bawahi sikap hati Yesaya yang tidak bersandar kepada sesuatu yang ada di dalam bangsa itu. Ia hanya mengandalkan keberadaan Allah dalam relasinya dengan bangsa Israel. Itu pula argumen kita untuk berdoa di hadapan Allah. Yesaya menang di dalam doa syafaatnya, Mus apun menang di dalam doa syafaatnya, demikian juga dengan Nehemia dan tokoh tokoh lainnya. Dengan mengandalkan pola yang mereka terapkan, kita pun akan didengar Allah jika kita berdoa syafaat bagi saudara dan kekasih kita.




07/09/17

Berbahagia



Berbahagia

Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.
 Matius 5:8

Nas kita sering disebut sebagai Khotbah di Bukit. Tuhan Yesus mengambil gambar Perjanjian Lama dan menerapkannya pada pemenuhannya di kerajaan. Ini menggambarkan kemurnian batin dan kelincahan pikiran. "Hati" digunakan dalam Alkitab untuk kemauan, pilihannya. Dan untuk menjadi murni di dalam hati berarti bahwa keputusan yang dibuat seseorang, keinginan yang dimiliki seseorang, pemikiran dan niat kehendak, tidak ternoda oleh dosa, dan kehendak itu ditentukan untuk berkenan kepada Tuhan. Dari hati yang murni hanya datang hal-hal yang baik, tindakan cinta dan belas kasihan, keinginan akan kebenaran dan keadilan, keputusan yang menyenangkan Tuhan.

Gambaran tentang "hati" manusia di luar rumah iman sangat berbeda - yang terburuknya selalu bertindak egois dan menyebabkan rasa sakit (Kej. 6: 5). Yesus mengatakan bahwa itu berasal dari hati yang menajiskan orang, pikiran jahat, keinginan yang tidak murni, penghujatan dan sejenisnya (Matius 15: 18,19). Tidak ada sedikit perubahan hati yang akan membawa hati yang murni. Yesus tidak menjelaskannya di sini; Tapi bahasa kelahirannya tentu akan memulai prosesnya. Transformasi dari hati daging ke hati yang murni akan datang dengan mengikuti Kristus, tapi itu tidak akan menjadi perubahan yang mudah atau cepat. Tetapi orang-orang yang memasuki kerajaan kebenaran ini harus memiliki hati yang baru ini.

Dan janji untuk mereka adalah bahwa mereka akan melihat Tuhan. Sungguh sebuah pernyataan yang luar biasa! Alkitab mengatakan bahwa tidak ada seorangpun yang pernah melihat Allah (Kel 33: 18-23; 1 Timotius 6:16). Orang-orang telah melihat penampilan Tuhan dalam berbagai bentuk, seperti Musa di Gunung Sinai melihat ujung pakaian itu (Kel 33), atau para pemimpin Israel makan dengan Tuhan dan melihat Allah Israel dalam bentuk kehadiran yang diwahyukan ( Kel 24), atau Yesaya (Yes 6) atau Yohanes (Wahyu 1).

Salah satu aspek dari janji ini adalah di sini dan sekarang dengan iman - mereka akan melihat Tuhan dalam semua kejadian dan keadaan kehidupan. Tapi Alkitab menjanjikan lebih banyak lagi. Di bumi inilah visi Tuhan ditolak oleh kita; Tapi suatu hari ketika surga akan dibuka, dia akan terlihat oleh mata kita yang berubah-ubah. Seperti Ayub berkata, "Saya tahu bahwa Penebus saya hidup, dan pada akhirnya dia akan berdiri di atas bumi. Dan setelah kulitku hancur, namun dalam dagingku aku akan melihat Tuhan; Saya sendiri akan melihatnya dengan mata kepala sendiri - saya dan bukan orang lain. Betapa hatiku merindukan diriku "(Ayub 19: 25-27).

Bagaimana seseorang mendapatkan hati yang murni? Ini dimulai dengan pertobatan ketika Tuhan memberi kita "hati yang baru", dan hal itu berlanjut melalui pertumbuhan rohani saat kita mengikuti Kristus. Berjalan dalam terang, artinya belajar hidup dengan firman Tuhan, akan mengubah cara berpikir kita sehingga hati kita akan tumbuh lebih dan lebih murni. Tapi karena terang kata itu mengungkapkan ketidakmurnian, kita harus menghadapinya dan berubah.

06/09/17

Ayub



Ayub

Allah itu bijak dan kuat, siapakah dapat berkeras melawan Dia, dan tetap selamat?
Ayub 9:4          

Kisah penderitaan Ayub satu  pelajaran yang sangat berharga bagi kita. Kesan pertama yang kita dapatkan dari reaksi pertama dari Ayub menghadapi penderitaannya, adalah sesuatu yang sangat luar biasa. Responnya yang mengatakan: Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah Tuhan adalah suatu respon yang luar biasa. Iman yang sudah matang di hadapan Allah.

Tetapi setelah kita ikuti percakapannya dengan ketiga temannya, yakni Elifas, Zopar dan Bildad, kita tahu bahwa pada hakekatnya Ayub belum begitu mengenal siapa Allah itu sebenarnya. Ayub sendiri mengaku di dalam pasal 29 ayat 4 sebagai berikut: “Seperti ketika aku mengalami masa remajaku, ketika Allah bergaul karib dengan aku di dalam kemahku.” Ayub masih di dalam masa remaja di dalam iman, tatkala ia bergaul akrab dengan Allah.

Dalam pasal sembilan kitab Ayub ini, dibicarakan kebesaran Allah atas ciptaannya. Oleh karena itu Ayub mengenal Allah sebagaimana dipahaminya. Ia mengatakan dalam pasal ini, bahwa Allah tidak dapat dilawan siapa pun di pengadilan, oleh karena Allah itu sungguh sangat kuat. Cf 9:3-14. Jika aku berseru kepada Allah, tentulah Ia tidak akan mendengar, karena Ia sedang berperkara dengan aku cf 9:15-19. Jika saya menyatakan diri sebagai orang benar, Allah akan menyatakan saya orang bersalah, sebab Allah menghukum orang benar dan juga orang tidak benar. Jika saya melupakan persoalan saya dan mengaku dosa, Allah akan memandang saya adalah orang berdosa.

Pengenalan Ayub atas Allah belumlah lengkap. Pergumulan hidupnya membuat Ayub mendapatkan pencerahan atas pengenalan Allah. Itulah sebabnya di akhir kisah Ayub, tatkala ia secara pribadi berhadapan muka dengan Allah, kita mendengar jawaban Ayub kepada Allah: “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.” Ayub 42:5

Berdasarkan pengalaman Ayub ini, betapa perlunya bagi kita untuk memahami siapakah Allah itu, sebagaimana diungkapkan firman Allah bagi kita. Allah menyatakan diri kepada kita melalui firman Allah, yang telah dituliskan bagi kita sebagai pelajaran berharga. Itu sebabnya Gereja di sepanjang zaman mengajarkan kepada kita, untuk membaca Alkitab dua kali dalam satu hari. Ada bacaan pagi, ada bacaan malam dan ada juga ayat harian yang diharapkan akan menuntun jalan hidup kita dari hari ke sehari.

Bahkan Paulus mengatakan kepada Jemaat di Kolose firman ini: “Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu.” Kolose 3:16.

Perkataan  Kristus itu yang adalah firman Allah, bukan hanya diam saja di dalam hati kita, tetapi diam dengan segala kekayaannya. Sehingga dengan segala kekayaan firman itu, kita dapat mengajar dan menegur seorang akan yang lain. Membagun kehidupan sesama dengan firman yang berkuasa untuk membangun kehidupan kita dengan baik dan benar seturut kehendak Allah. Kenalilah Allah yang saudara sembah. Jangan hanya dikenal sambil lalu, atau hanya karena orang mengatakan demikian. Kita harus menerima firman itu dari tangan pertama, yakni tangan Tuhan sendiri.


05/09/17

Bangsa Bangsa



Bangsa bangsa

Sebaliknya, kita percaya, bahwa oleh kasih karunia Tuhan Yesus Kristus kita akan beroleh keselamatan sama seperti mereka juga."
Kisah Para Rasul 15:11

Orang Yahudi membagi masyarakat ke dalam dua kelas. Pertama, orang Israel sebagai umat pilihan Tuhan, dan yang kedua bangsa-bangsa yang bukan umat pilihan Tuhan. Bangsa bangsa mereka sebuat dengan istilah Goyim. Umat pilihan Tuhan mendapatkan hak untuk diselamatkan, sementara bangsa bangsa tidak diselamatkan. Namun Injil Yesus Kristus mengatakan bahwa bangsa bangsa pun turut ambil bagian di dalam keselamatan yang dijanjikan bagi bangsa Israel.

Banyak orang bukan Yahudi yang bersukacita karena turut ambil bagian dengan perjanjian Allah dengan Abraham, melalui Injil Yesus Kristus. Hal ini dimanfaatkan orang Yahudi dari kaum Farisi yang bertobat jadi Kristen. Mereka mengatakan bahwa orang bukan Yahudi yang turut ambil bagian dengan harta rohani Yahudi, harus menyunatkan diri dan taat terhadap hukum Taurat. Hal ini sangat jelas dilaporkan Lukas penulis Kisah Para Rasul ini di dalam pasal 15:1.

Namun ajaran ini sangat keras ditolak Paulus dan Barnabas. Tentang hal penolakan sunat dan melaksanakan hukum Taurat, Paulus mengutarakannya di dalam suratnya kepada Jemaat Roma dan surat kepada Jemaat di Galatia. Tentang sunat Paulus mengatakan bahwa bersunat atau tidak bersunat tidak penting, tetapi menaati firman Allah cf I Kor 7:19. Paulus juga menekankan bahwa tidak ada orang yang dibenarkan oleh karena hukum Taurat.

Sebaliknya, oleh karena Injil Yesus Kristus, kita dibenarkan di hadirat Allah. Itulah kasih karunia Allah bagi kita. Kasih karunia Allah itu tidak hanya untuk orang Yahudi semata-mata, tetapi juga untuk semua bangsa di muka  bumi ini. Jawaban yang pas untuk usulan orang Yahudi itu, yang menekankan orang harus tunduk kepada hukum Taurat agar mereka selamat, adalah nas kita.

Injil menjungkir balikkan pemahaman manusia untuk mendapatkan keselamatan. Menurut manusia keselamatan dapat dicapai jika seseorang berbuat sesuatu untuk mendapatkan keselamatan tersebut. Itulah sebabnya manusia berusaha untuk menumpuk amal baik, sebab dengan itu sajalah keselamatan dapat dibeli.

Berbeda dengan konsep manusia, Injil mengatakan bahwa keselamatan itu adalah kasih karunia Allah. Disebut sebagai kasih karunia, se bab di dalam keselamatan itu, tidak ada usaha manusia setitik sekali pun. Mengapa demikian aanya? Karena usaha manusia tidak pernah dapat memenuhi tunturan Allah untuk manusia itu agar tidak berdosa sama sekali. Tidak ada orang yang tidak berdosa. Allah sangat membenci dosa setitik sekali pun. Hanya Yesus Kristuslah manusia yang sempurna tanpa dosa dari dalam diri-Nya sendiri. Ia ditetapkan sebagai jalan keselamatan bagi setiap orang yang menerima Dia sebagai keselamatan itu sendiri.

Orang Yahudi diselamatkan karena kasih karunia Allah, demikian juga dengan bangsa-bangsa pun diselamatkan dalam kasih karunia yang sama. Orang Kristen diselamatkan oleh karena kasih karunia Allah, orang bukan Kristen pun akan diselamatkan melalui kasih karunia Allah. Bagaimana kasih karunia itu dapat menjangkau orang bukan Kristen kita tahu melalui Injil.

Tetapi Allah pun punya jalan sendiri untuk memberikan kasih karunia itu kepada orang yang dipilih-Nya sendiri. Kasih karunia artinya ialah pemberian yang pada dasarnya kita tidak layak menerimanya. Bangsa bangsa bukan Kristen pun punya hak untuk kasih karunia yang sama seperti yang kita terima. Itu adalah rahasia Allah untuk mewujudkannya di luar Injil.

04/09/17

Excellent



Excellent

Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi! Keagungan-Mu yang mengatasi langit dinyanyikan.
Mazmur 8:2     

Kata mulia di dalam Alkitab bahasa Inggris memakai kata excellent. Itulah sebabnya judul renungan ini dipakai excellent dan bukan kata mulia. Allah itu sungguh melebihi kata mulia di dalam alam semesta ini. Pemazmur tidak dapat menggambarkan betapa mulianya Tuhan itu, maka ia memakai kata excellent untuk mengungkapkannya.

Seluruh ciptaan penuh dengan kemuliaan-Nya, juga bersinar dengan cahaya kuasa-Nya. Kebaikan-Nya dan hikmat-Nya terlihat diseluruh aspek kehidupan. Struktur alam semesta bergantung di tangan Allah kita. Tidak ada yang seperti Dia di dalam alam semesta ini. Pandanglah laut yang begtu luas, Allah yang menjadikannya, juga segala binatang kecil dan raksasa yang ada di dalam laut itu, Allah yang menciptakannya.

Lihatlah langit di atas langit, betapa luasnya alam semesta ini. Para ahli mengatakan bahwa alam semesta ini terdiri dari milyardan galaksi. Sementara alam yang dapat dilihat mata telanjang kita, hanyalah satu dari sekian galaksi yang milyardan itu. Tidakkah hal itu sangat luar biasa bagi kita. Ayub mengatakan: “Yang seorang diri membentangkan langit, dan melangkah di atas gelombang-gelombang laut; yang menjadikan bintang Biduk, bintang Belantik, bintang Kartika, dan gugusan-gugusan bintang Ruang Selatan” Ayub 9:8-9.

Kita juga dapat mengatakan apa yang diucapkan Nehemia tentang Allahnya, menjadi perkataan kita juga: "Hanya Engkau adalah TUHAN! Engkau telah menjadikan langit, ya langit segala langit dengan segala bala tentaranya, dan bumi dengan segala yang ada di atasnya, dan laut dengan segala yang ada di dalamnya. Engkau memberi hidup kepada semuanya itu dan bala tentara langit sujud menyembah kepada-Mu.“ Nehemia 9:6.

Nas kita ini ditujukan kepada Allah sendiri, bukan kepada manusia, sebab hanya Allah sendirilah yang dapat memahami keberadaan-Nya. Namun satu hal yang perlu kita garis bawahi di sini ialah: Allah itu disebut adalah Allah kita. Allah yang maha mulia itu memberikan diri-Nya menjadi Allah kita. Kita memiliki Dia yang tak terbayangkan kemuliaan-Nya.

Kita mengenal Allah itu sebagai Bapa dari Tuhan kita Yesus Kristus. Kristus telah diberikan kepada kita sebagai kepala dari tubuh-Nya, yakni Gereja. Dunia pada hakekatnya ingin melihat keindahan dari Kristus Yesus, sebagaimana dilihat oleh pemazmur ini. Jadi teringat syair dari sebuah lagi Gereja dalam bahasa Inggris yang mengatakan: “Let the beauty of Jesus be seen in me, all His wonderful passion and purity, Oh Thou Spirit Devine all my nature refine, till the beauty of Jesus be seen in me. – biarlah keindahan Yesus terlihat di dalam diri saya, semua keindahan dan kasih dan kemurnian-Nya, Oh  Roh Kudus nan ilahi, seluruh natur saya dibaharui, hingga keindahan Kristus terlihat di dalam diriku.

Sekalipun kemuliaan Allah tidak terungkap bagi kita secara menyeluruh, tetapi bagi orang percaya, kemuliaan Tuhan telah terungkap sebagian di dalam Kristus Yesus bagi kita. Ia mati bagi kita, Ia dikuburkan bersama dengan kita. Ia juga dibangkitkan bersama dengan kita, Ia juga diberi tempat di surga bersama dengan kita. Di surga Ia berdoa bagi keselamatan kita, Ia juga menyertai kita dengan Roh Kudus-Nya. Satu hari Ia akan datang untuk menjemput kita, supaya dimana Ia ada, di situ juga  kita ada. Sudahkah saudara melihat kemuliaan yang ini?

03/09/17

Memberi


Memberi
Lukas 6:38

Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu."
Hukum utama di dalam Kerajaan Surga ialah: meminta. Kita mendengat Tuhan Yesus mengatakan: “Mintalah maka engkau akan mendapat, ketoklah maka pintu akan dibukakan, carilah maka engkau akan menemukan.” Setelah kita mendapatkan apa yang kita minta, pintu dibukakan bagi kita, dan kita menemukan apa yang kita cari, adalah tugas kita untuk memberikan kepada orang lain, yang meminta, orang yang berharap pintu dibukakan, dan yang mencari agar menemukan jawaban atas pergumulannya.

Pada umumnya kita memberi, kala kita dimampukan untuk memberi, maka ukuran kita senantiasa ukuran yang sudah berlaku bagi manusia. Suatu takaran yang  baik kata nas kita. Ibarat kita memberi dengan jalan menakar dengan liter beras. Kita langung meratakan beras yang akan kita berikan itu dengan alat yang tersedia untuk itu.

Namun berbeda dengan pemberian kita, sebagai balasan dari pemberian kita itu, Allah menggantikannya dengan pertama-tama beras yang kita terima itu dipadatkan lebih dahulu. Tidak hanya itu saja masih diguncang seperti lebih padat dari satu liter. Bukan hanya itu saja, sampai tumpah kelurar, itu yang ditumpahkan ke haribaan kita.

Sangat berbeda cara Allah memberi kepada kita, dibandingkan dengan cara kita memberi kepada sesama. Jika kita memberi berdasarkan standard hukum yang kita anut. Lain dari yang lain jika Allah sendiri. Allah senantiasa lebih dari yang dilakukan Allah. Ia senantiasa selangkah lebih maju, dari apa yang dilakukan Allah.

Setelah Yesus mengajarkan hal memberi dengan membandingkannya dengan apa yang diberikan Allah, selanjutnya Yesus mengatakan ukuran yang kita pakai itu pula yang diukurkan kepada kita. Jika kita ingin mendapatkan pemberian yang lebih, maka berilah juga dengan lebih. Sebab ukuran yang kita pakai bagi orang lain, itu juga akan diukurkan bagi kita.

Ini sebuah pelajaran berharga bagi kita. Ada ukuran yang kita kenakan pada diri kita. Ukuran itulah yang pas untuk diri kita sendiri. Jika perkataan yang pas untuk kita adalah sebuah sopan santun, maka kenakanlah sopan santu kepada orang lain. Jiak kita ingin dihormati, maka hormatilah orang lain. Ini setara dengan apa yang dikatakan Tuhan Yesus di dalam Khotbah di  Bukit: “Apa yang kamu kehendaki orang lain perbuat kepadamu, perbuatlah demikian dengan mereka.”

Perintah Tuhan Yesus ini disebut sebagai hukum emas di dalam etika orang Kristen. Seandianya semua orang Kristen hidup dengan ukuran yang sama bagi dirinya, juga dengan orang lain, maka orang Kristen menjadi tolok ukur kehidupan orang banyak di dunia ini. Dengan demikian semua orang akan tahu bahwa kita adalah murid Tuhan, jika kita memakai ukuran yang sama untuk diri sendiri, juga yang diukurkan kepada orang lain.

Jadilah ukuran yang dipakai orang di dalam berinteraksi dengan sesama di dunia ini.

02/09/17

Kasih



Kasih
Roma 12:9 – 21

Surat surat Paulus pada hakekatnya dapat dibagi ke dalam dua bagian. Bagian pertama berbicara tentang apa yang dikerjakan Allah bagi kita. Sementara  bagian kedua berbicara tentang respin kita terhadap apa yang dikerjakan Allah bagi kita. Surat Roma yang kita baca pada pagi hari ini adalah bagian kedua dari surat Roma, yang berisikan respon orang percaya terhadap karya Allah di dalam Kristus Yesus. Nasihatnya dimulai di dalam ayat 1 pasal 12 yang mengatakan bahwa resspon Allah atas karya Allah itu ialah: mempersembahkan tubuh sebagai kurban persembahan sejati. Hidup orang percaya adalah sebuah ibadah kurban di hadirat Allah.

Sadar akan apa yang dikerjakan Allah di dalam pasal pasal sebelumnya, hidup kita diarahkan pada ibadah yang dimotivasi oleh kasih yang dibicarakan Paulus di dalam nas kita. Kasih yang sungguh sungguh tidak mungkin dilakukan dalam kepura-puraan. Sebab kasih yang kita terima dari Allah adalah kasih yang sungguh-sungguh. Di samping itu kebaikan hati Tuhan tidaklah mungkin direspon dengan kepura-puraan. Kasih yang sungguh-sungguh membuat kita saling mendahului dalam memberi hormat.

Kasih sejati pun membuat rajin berbuat baik dan kebaikannya tidak jadi kendor, malah semakin menyala-nyala dalam melayani Tuhan. Kasih yang mendorongnya di dalam melayani Tuhan, karena ia telah menikmati kasih Tuhan lebih dahulu. Orang yang dimotivasi kasih senantiasa memberkati orang dan tidak mengutuk. Untuk itulah orang Kristen dipanggil, menjadi berkat bagi dunia ini, sama seperti Tuhannya menjadi berkat bagi dunia.

Orang yang h idup di dalam kasih Kristus pun akan turut berempati dengan sesama umat manusia. Maka orang percaya pun berempati dengan orang yang bersukacita, juga menangis dengan orang yang menangis. Ia membuat dirinya menjadi semua orang yang di sekelilingnya, sehingga orang dapat melihat kasih Kristus bagi dirinya sendiri.

Orang beribadah hanyalah memikirkan apa yang berkenan kepada Tuhannya. Oleh karena itu ia tidak memikirkan perpara perkara yang tinggi, tetapi perkara yang sederhana. Jika kepada kita dipercaya perkara besar, itulah kasih karunia bagi kita. Kita tidak hidup untuk diri kita tetapi demi kemuliaan Allah semata mata. Di samping itu orang yang tinggal di kasih yang sejati, juga tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, sebab Kristus telah memberikan teladan untuk yang satu ini. Rasul Petrus mengungkapkan hal tersebut dalam suratnya yang pertama: “Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya.” I Pet 2:21.

Karena ibadah orang Kristen dimotivasi kasih Kristus, maka sebagai orang yang beribadah kepada Allah, maka orang Kristen memberikan kepada Allah apa yang menjadi hak-Nya. Pembalasan adalah haknya Allah, janganlah mengambil apa yang menjadi hak orang lain. Seoang percaya adalah orang yang adil, orang yang memberikan kepada orang lain apa yang menjadi haknya.

Reaksi orang percaya dianjurkan Tuhan Yesus adalah rekasi anugerah. Raksi ini isinya ialah memberikan kepada orang lain apa yang tidak layak menerimanya. Jika musuh kita lapar, maka yang tidak layak untuk menerima makanan dari kita. Tetapi justru itulah yang akan kita berikan kepadanya. Jika hal it diberikan kepada musuh itu, maka perbuatan itu akan menumbuhkan penyesalan terhadap tindakannya memusuhi kita. Dengan jalan demikian kita dapat memenangkan orang itu melalui ibadah yang kita lakukan. Bagaimana dengan saudara, sudahkah saudara hidup di dalam kasih dengan dimensi yang sudah kita bicarakan di atas? Semoga.

Rumah Allah

  Rumah Allah Ibrani 3:6 Tetapi Kristus setia sebagai Anak yang mengepalai rumah-Nya; dan rumah-Nya ialah kita, jika kita sampai kepada akhi...