30/04/17

Penjunan




Penjunan

Sungguh, seperti tanah liat di tangan tukang periuk, demikianlah kamu di tangan-Ku, hai kaum Israel!
Yeremia 18:6b

Penjunan adalah tukang tembikar yang membuat tanah liat menjadi tembikar, atau periuk. Nabi Yeremia diutus Tuhan untuk melihat cara kerja dari tukang tembikar itu, membuat tembikar dari tanah liat. Yeremia memperhatikan bahwa tukang tembikar itu, tidak pernah membuang tanah liat. Jika pun satu tanah liat dirancang untuk dibentuk menjadi  benda tertentu, tetapi tidak berhasil, tukang tembikar itu tidak membuang tanah liatnya, tetapi ia membentuk bejana lain dari tanah liat yang gagal dibentuk sebagaimana dirancang tukang tembikar pada mulanya.

Pelajaran itu menjadi sebuah analogi bagi Nabi Yeremia. Allah adalah Allah yang berkuasa dan berdaulat atas tanah liat yang ada di tangannya. Dalam hal lini tanah liat itu adalah bangsa Israel. Allah membentuk bangsa itu seturut kehendak-Nya. Ia tidak pernah gagal dalam membentuk satu bangsa menjadi bangsa yang seturut kehendak-Nya. Hal itu dapat terlihat dari tuntunan Allah bagi bangsa Israel keluar dari Mesir dan akan dibawa masuk ke Tanah Kanaan. Israel memberontak terhadap Allah. Mereka menolak masuk ke Tanah Kanaan. Namun Allah tidak pernah gagal untuk membawa bangsa itu masuk ke Tanah Kanaan. Walaupun rencana harus berubah. Bangsa itu harus berkelana 40 tahun lebih dahulu di padang gurun, barulah mereka boleh masuk ke Tanah Kanaan.

Allah tidak pernah gagal di dalam mewujudkan rencana-Nya, sama seperti tukang periuk tidak pernah gagal di dalam mewujudkan rencananya membentuk obyeknya seturut kehendak-Nya. Hal yang sama pun terjadi dengan diri kita sendiri. Ia telah mendisain kita dari sejak semula menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya Yesus Kristus Tuhan kita. Dari sejak semula sudah ditetapkan kita untuk membentuk pribadi kita menjadi sama seperti pribadi Yesus Kristus. Ia akan melihat diri kita, sebagaimana Ia memandang Anak-Nya Yesus Kristus. Allah mengasihi Anak-Nya dengan kasih yang kekal. Oleh karena itu pula, kita pun akan dikasihi Allah Bapa dengan kasih yang kekal.

Dosa merusak gambar Anak-Nya itu di dalam diri kita. Tanah liat itu telah pecah dan tidak dapat dibentuk menjadi serupa dengan gambaran semula. Allah tidak membuang tanah liat itu. Ia membentuk wujud baru dari bahan yang sudah terkontaminasi dengan dosa tersebut. Ia dapat membentuk kita untuk kembali serupa dengan gambaran yang dirancang-Nya dari sejak semula. Dalam peta Allah kita diciptakan, namun karena dosa kita rusak. Tetapi Allah mengembalikan citra Allah itu di dalam diri kita melalui karya Yesus Kristus. Terlintas di dalam hati syair lagu rohani dalam bahasa Inggris: Dear wonderful Jesus, saviour devine, You are the branches we are the wine. You brought us salvation and meke them sunshine, dear wonderful Jesus marvelious friend I am glad You are mine.

Kristus adalah milik kita dengan segala yang ada pada-Nya. Itulah kabar baik bagi kita. Apa yang ada di dalam diri Kristus Yesus adalah milik kita. Bapa surgawi telah mendisain kita untuk menjadi serupa dengan Kristus. Ia tidak pernah gagal di dalam mewujudkan rencana-Nya itu. Hidup kita, dengan keberdosaan kita, siapa pun tidak dapat memisahkan kita dari kasih Allah yang ada di dalam Kristus Yesus. Bersukacitalah oleh karena Injil ini.

29/04/17

Emmaus


Nas Bacaan: Lukas 24:13 - 35

Emmaus

Kebangkitan adalah sesuatu yang sangat sukar dapat diterima akal sehat. Demikianlah dialami para murid Tuhan Yesus. Mereka tidak percaya akan kebangkitan Tuhan Yesus, yang diberitakan para perempuan dari antara mereka. Lagi pula tradisi Yahudi yang mewarnai pemahaman mereka. Tradisi Yahudi tidak mempercayai kesaksian dari seorang perempuan. Keputusasaan menjadi faktor pendorong dari dua orang murid Tuhan Yesus, meninggalkan Yerusalem dan mengarahkan diri ke Emmaus.

Tuhan yang bangkit tidak membiarkan para murid  berada di dalam keraguraguan. Ia berjalan bersama dengan para murid itu, lalu mengajak mereka untuk bercakap-cakap di sepanjang perjalanan. Kleopas salah satu dari dua orang itu, dengan muka muram menegur ketidaktahuan orang yang bersama dengan mereka itu, akan masalah yang ada beberapa hari ini di Yerusalem. Pada hal peristiwa itu sungguh menggemparkan seluruh penduduk kota Yerusalem.

Yesus menegur kebodohan para murid itu. Mereka bodoh karena lamban mengantisipasi apa yang disuarakan para nabi, dan sebagai produknya, mereka tidak percaya akan pesan dari para nabi tersebut. Menarik untuk disimak, Yesus tidak langsung menampakkan diri kepada para murid itu. Yesus menekankan betapa perlunya para murid itu belajar akan firman Allah yang disampaikan para nabi. Seharusnya mereka dapat menjadi orang percaya melalui firman yang diberitakan kepada mereka. Tak salah jika Paulus mengatakan bahwa iman timbul dari pendengaran, pendengaran firman Tuhan Yesus.

Setelah Yesus mengungkapkan diri siapa Dia, maka murid murid itu ingat, hati mereka berkobar kobar, tatkala Yesus mengajar mereka tentang firman Allah di sepanjang jalan yang mereka tempuh. Jika Roh Kudus mengajar kita tentulah kita pun akan merasakan pengalaman dari para murid ini. Jika mata hati kita dibukakan, maka akan ada sukacita mewarnai kehidupan yang kita jalani.

Sisi lain yang perlu kita renungakan ialah: para murid itu merelakan Yesus yang memimpin acara makan malam. Bukankah mereka sedang dalam perjalanan? Tentulah mereka makan di rumah seorang tuan rumah. Koq bukan Tuhan rumah yang memimpin acara makan malam itu? Justru Tuhan Yesus yang membagi bagikan roti, pada hal itu adalah tugas dari seorang tuan rumah. Hal ini menandakan bahwa Yesus memang senang makan bersama dengan para murid itu, jika demikian, maka ialah yang menjadi tuan rumah, sebab Ia adalah kepala keluarga.

Kita jadi teringat akan perkataan Tuhan Yesus, tatkala Ia mengadakan perjamuan paskah dengan para murid. Yesus berkata bahwa Ia tidak lagi minum anggur sampai tiba saatnya di kerajaan yang akan datang. Melalui tindakan memecahkan roti itu, mata hati dari para murid itu pun dibukakan dan mengenali bahwa Dia yang menyertai mereka di perjalanan adalah guru dan Tuhan mereka, Yesus Kristus.

Sebuah pertanyaan yang perlu diajukan pada kita: apakah saudara telah berjumpa dengan Kristus yang bangkit itu? Adakah mata hati saudara telah dicelikkan untuk melihat Dia yang hidup itu?

28/04/17

Permohonan




Permohonan

Berdoa jugalah untuk kami, supaya Allah membuka pintu untuk pemberitaan kami, sehingga kami dapat berbicara tentang rahasia Kristus, yang karenanya aku dipenjarakan.
Kolose 4:3

Paulus adalah seorang rasul besar. Ia telah diangkat ke surga dan mendengar perkataan yang tidak dapat diucapkan manusia. Tetapi rasul besar ini masih memohon agar ia didoakan Jemaat yang dilayaninya. Ia tahu benar apa makna dari doa. Sementara di satu sisi, berdasarkan pengalaman melayani Tuhan, belum pernah kudengar seorang hamba Tuhan memohon agar ia didoakan anggota Jemaat yang dilayaninya. Ia memang berdoa untuk Jemaat yang dilayaninya. Apakah ia tidak membutuhkan doa dari Jemaat, sebagaimana Paulus memohonakannya dari Jemaat di Kolose.

Sang Reformator Martin Luther pun mengenal manfaat dari doa, sehingga ia pernah mengatakan bahwa doa menghasilkan separuh dari apa yang kita kerjakan. Dituturkan orang, Martin Luther menghabiskan waktu tiga jam berturut turut untuk berdoa. George Muller seorang hamba Tuhan dari Bristol Inggris diberitakan ia meninggal pada waktu ia sedang menaikkan doa. Ia terkenal dengan sebutan man of prayer.

Paulus adalah rasul – duta besar yang berkuasa penuh – dari Allah Bapa surgawi. Ia diutus untuk memberitakan Injil Allah ke dalam dunia ini, tetapi pemberitaan itu pun perlu didoakan. Sebab dunia pada umumnya menolak Injil Allah. Manusia sangat memuja prestasi, sementara Injil mengesampingkan prestasi manusia. Itulah sebabnya Injil ditolak oleh manusia. Untuk  itu, perlu doa dinaikkan agar Allah membukakan pintu bagi  pemberitaan Injil.

Di sisi lain, perlu juga didoakan agar mereka yang memberitakan Injil itu diberikan kemampuan untuk berbicara tentang rahasia Kristus. Dituturkan ada seorang pengkhotbah besar mengadakan sebuah KKR di satu Gereja. Ia pada akhir khotbah mengadakan altar call. Sejumlah orang maju ke depan dan mengakui dosanya. Si pendeta itu melayani seorang bapa yang maju ke depan. Tetapi ia tidak mau menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan  juruselamatnya. Pada akhirnya sang pengkhotbah itu harus melapaskan bapa itu dengan doa.

Sementara bapa itu berjalan keluar ruangan, ada seorang ibu menyapa dia. Mereka lalu bercakap cakap. Pendek ceritera si bapa itu bertelut untuk menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya pribadi. Pendeta itu melihat kejadian tersebut. Lalu ia bertanya kepada ibu itu, apa yang dikatakannya sehingga bapa tadi mau bertobat dan mengaku dosanya. Ternyata apa yang disampaikan ibu itu adalah sesuatu yang sangat sederhana. Kepadanya diberikan hikmat untuk mengatakan sesuatu yang mengungkapkan rahasia Kristus. Itulah sebabnya kita harus berdoa agar Tuhan membuka mulut kita untuk mengungkapkan rahasia Kristus kepada orang lain.

Sang rasul tahu persis, apa pun yang dihadapinya, semuanya itu adalah karena penugasannya sebagai rasul. Ia dipenjara karena Injil. Jika Paulus sadar untuk apa ia hadir di dunia ini, serharusnya kita pun tahu persis untuk apa kita hadir di dunia ini. Sebagai pengikut Kristus, kita diutus Kristus ke dalam dunia ini, untuk melakukan apa yang sudah dilakukan Yesus di dunia ini. Dietrich Boenhoffer, seorang martir dari Jerman, pernah berkata: Yesus Kristus adalah seorang yang memperuntukkan diri-Nya bagi orang lain. Jika demikian, maka kita pun hadir di dunia ini, untuk orang lain, agar mereka menikmati karunia surgawi.

Satu pertanyaan perlu diajukan kepada kita: sudah berapakah orang yang dimenangkan bagi Kristus oleh karena pelayanan saudara?

27/04/17

Setia




Setia

Berkatalah Nebukadnezar: "Terpujilah Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego! Ia telah mengutus malaikat-Nya dan melepaskan hamba-hamba-Nya, yang telah menaruh percaya kepada-Nya, dan melanggar titah raja, dan yang menyerahkan tubuh mereka, karena mereka tidak mau memuja dan menyembah allah mana pun kecuali Allah mereka.
Daniel 3:28

Kisah Sadrakh Mesakh dan Abednego yang dibakar hidup hidup dalam perapian yang membara, adalah sesuatu yang familiair bagi kita. Mereka dibakar hidup hidup oleh karena menolak menyembah patung yang telah didirikan Raja Nebukadnezar. Mereka mengatakan dengan gagah berani, jika Allah kami sanggup melepaskan api itu, maka Ia akan menyelamatkan kami; tetapi sekali pun tidak, kami tetap tidak akan menyembah patung tersebut.

Kisah itu berakhir dengan kemuliaan bagi Allah Sadrakh Mesakh dan Abednego. Ternyata mereka hidup dan tidak terbakar oleh api tersebut. Oleh karena itu, Nebukadnezar sebagai raja di raja pada zaman itu, mengakui dan mengakui keberadaan Allah Sadrakh Mesakh dan Abednego. Ada sebuah pelajaran berharga bagi kita dari nas pada pagi hari ini. Ada orang yang menentang dekrit dari penguasa dan dihukum mati, tetapi pada akhirnya dipuji dan diagungkan oleh penguasa oleh karena penolakan mereka untuk tunduk kepada dekrit penguasa tersebut. Bukankah hal ini sesuatu yang sangat menarik?

Sejajar dengan pengalaman ketiga pemuda Yahudi yang saleh ini, Petrus Yakobus dan Yohanes pun pernah diperhadapkan kepada petinggi agama Yahudi. Mereka dilarang menyebarkan nama Tuhan Yesus kepada masyarakat. Namun Petrus mengatakan: “Silakan kamu putuskan sendiri manakah yang benar di hadapan Allah taat kepada kamu atau taat kepada Allah. Sebab kami tidak mungkin  bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan yang telah kamai dengar.” Mereka menolak perintah penguasa demi ketaatan kepada Allah yang mereka puja dan mereka sembah.

Hal lain yang perlu kita garis bawahi dari nas kita ialah: Allah disangkutpautkan dengan nama dari ketiga pemuda Yahudi yang saleh ini. Allah Israel dikenal Raja Nebukadnezar sebagai Allahnya Sadrakh Mesakh dan Abednego. Nama dari ketiga orang itu dilekatkan kepada Allah. Nebukadnezar mengenal Allah Israel melalui ketaatan ketiga pemuda ini dalam kehidupan sehari hari mereka. Hal yang sama pun seharusnya terjadi dengan diri kita. Yesus mengatakan hal tersebut di dalam Injil Yohanes. Yesus mengatakan: “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi." Yoh 13:34-35.

Sebuah pertanyaan diajukan pada diri kita masing masing: adakah orang yang mengenal Yesus oleh karena ketaatan saudara terhadap firman Allah? Adakah orang berkata: kenalilah Allahnya si Anu. Tidakkah luar biasa nama saudara dan saya disandingkan dengan Allah. Ia dikenal orang lain karena iman kita kepada-Nya.

26/04/17

Kerajaan Surga




Kerajaan Surga

Ia seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di kebunnya; biji itu tumbuh dan menjadi pohon dan burung-burung di udara bersarang pada cabang-cabangnya."
Lukas 13:19

Allah memulai penyelamatan umat manusia dengan suatu tindakan yang dapat dikatakan kecil. Ia mulai dengan memanggil seorang dari kegelapan, dan dipindahkan ke dalam terang. Orang itu adalah Abraham. Melalui Abraham, Allah menghadirkan satu bangsa di muka bumi ini, yakni bangsa Israel. Dari Israel pun Allah memulai dengan yang kecil. Ia menghadirkan Anak-Nya Yang Tunggal di dunia ini, dibesarkan di satu kota yang kecil, yakni Nazaret. Yesus pun memilih para murid dari kalangan yang kecil, yakni para nelayan. Itulah sebabnya Tuhan Yesus dalam perumpamaan-Nya menggambarkan bahwa kerajaan Allah dimulai dari sebuah biji sesawi. Biji sesawi adalah satu benih yang sangat kecil. Jika benih itu di taruh di daun tangan kita, lalu mulut didekatkan ke daun tangan tersebut, serta bernafas secara normal, biji sesawi itu pun akan diterbangkan nafas kita.

Namun satu hal yang pasti ialah: benih itu punya daya hidup yang membuat dia dapat menjadi tumbuhan yang besar. Burung pun dapat bersarang di pohon sesawi yang tumbuh itu. Ini satu  pelajaran bagi kita. Jangan pernah meremehkan diri sendiri sebagai sesuatu yang kecil. Kita memang adalah sesuatu yang kecil. Namun kita punya daya hidup yang didepositkan Allah Bapa untuk menampakkan kerajaan-Nya.

Sebagai kilas balik kita dapat melihat keberadaan dari Gereja mula mula. Para murid itu adalah nelayan bodoh dari Galilea. Bagaimana mereka dapat mengalahkan kekaisaran yang sangat perkasa itu. Simbol dari kekaisaran Romawi adalah Burung elang dimana di kakinya memegang kapak dan anak panah. Sebuah simbol yang mengungkapkan keperkasaan. Di sisi lain kekristenan yang dibawa para rasul adalah salib. Salib pada masa itu berbicara tentang aib. Bagaimana mungkin salib dapat mengalahkan burung elang dengan kapak dan anak panahnya?

Namun kenyataannya kekaisaran Romawi tunduk pada Tuhan Yesus. Salah satu kaisarnya yang namanya Julian pada akhir hidupnya berkata: “Engkau telah mengalahkanku wahai orang Galilea. Maksudnya orang Galilea adalah Tuhan Yesus. Galilea daerah yang miskin dan terbelakang, mengalahkan Roma yang kaya dan jumawa. Itulah produk dari kerajaan Allah di dunia ini. Allah ternyata memilih sesuatu yang kecil dan membuatnya menjadi sesuatu yang besar. Dapatkan saudara banyankan seorang nelayan dari Galilea pada akhirnya memerintah dalam salah satu dari galaksi yang milyardan jumlahnya ini?

Jika kerajaan Allah membuat orang kecil menjadi sesuatu yang besar, maka saudara dan saya pun punya kesempatan untuk menjadi besar di dalam alam semesta yang maha luas ini. Oleh karena itu pastikan saudara dan saya turut ambil bagian di dalam kewargaan dari kerajaan surga. Hal itu dapat kita miliki dengan jalan menyerahkan hidup ini secara total menjadi milik Yesus Kristus.

25/04/17

Mazmur Orangtua




Mazmur Orangtua

Engkau yang telah membuat aku mengalami banyak kesusahan dan malapetaka, Engkau akan menghidupkan aku kembali, dan dari samudera raya bumi Engkau akan menaikkan aku kembali.
Mazmur 71:20

Mazmur 71 ini sering disebut orang sebagai Mazmur orangtua. Berdasarkan pengalaman dari pemazmur, maka kita dapat menimba pelajaran berharga bagi kita, untuk dipakai di masa tua kita kelak. Ada tiga hal yang dapat kita timba dari pengalaman si pemazmur ini. Pertama: kita harus belajar mengenal secara mendalam, siapa Tuhan itu. Pemazmur telah belajar dari Tuhan dari sejak kecil. Hal itu diungkapkannya di dalam ayat 17. Pemazmur kenal Tuhan sebagai tempat perlindungan ayat 1. Ia juga kenal Tuhan sebagai Juruselamatnya, ayat 2. Ia juga  menyebut Tuhan itu sebagai gunung batu, ayat 3, sebagai pengharapannya dan kepercayaannya, ayat 5.

Pemazmur juga berbicara tentang keperkasaan, ayat 16; kuasa dan keperkasaan Tuhan, ayat 18, perbuatan-Nya yang besar, ayat 19. Lalu dalam nas kita pemazmur mengatakan bahwa Allah sendirilah yang membawa ia ke dalam banyak kesusahan, tetapi yang membawa dia keluar dari semuanya itu. Allah adalah sumber penghiburan di dalam pergumulan hidupnya, ayat 21. Hal hal inilah yang didapat pemazmur dalam pengenalannya akan Tuhan. Pemazmur ini mengenal siapa Allahnya. Sebuah pertanyaan diajukan kepada kita sekalian: apakah saudara dan saya mengenal Allah seperti yang dikenal oleh pemazmur?

Hal kedua yang harus kita pelajari ialah: belajar mengembangkan kebiasaan mempercayai Tuhan dalam segala aspek kehidupan kita sehari hari. Kebiasaan dikembangkan secara berulang-ulang dalam kehidupan. Kebiasaan yang kita kembangkan dari sejak masa muda, pada umumnya akan menjadi penuntun kita di masa tua kelak. Pemazmur membiasakan diri mempercayai Tuhan dan memuji Dia dan berharap kepada-Nya. Adakah pelajaran yang sama sudah kita timba di dalam hidup ini?

Hal ketiga yang harus kita pelajari ialah: pemazmur telah mengembangkan gaya hidup melayani Tuhan. Sekali pun pemazmur sudah tua, namun ia masih terus berupaya untuk menuturkan pengenalannya atas Tuhan pada generasi yang akan datang. Kisah di bawah ini menjadi sebuah contoh bagi kita. Seorang wanita tua berusia 75 tahun menghadiri sebuah kebaktian kebangunan rohani. Ia menerima tantangan untuk maju ke depan dan menerima Yesus Kristus. Pelayanan yang didapatkannya dalam KKR itu sangat mendalam di hatinya. Ia bertanya kepada hamba Tuhan itu: apakah ia dapat memperkenalkan Kristus yang diterimanya kepada para anak sekolah Minggu?

Pendeta itu merasa tidaklah mungkin ia dapat menjadi guru sekolah Minggu. Ia berkata: mari kita berdoa untuk pelayanan yang pas untuk dirinya. Di satu hari, ibu itu sedang memotong bunga yang dia tanam di kebun di depan rumah. Seorang pelajar dari Tionghoa lewat. Ibu itu menyapa pemuda itu dan mengajaknya minun the di rumahnya. Pemuda itu pun memenuhi permintaan itu. Ibu itu menuturkan kesaksiannya kepada pemuda tersebut. Pemuda itu terkesan dan bertanya bisakah ia datang lagi untuk me ndengar kisah ibu tua tersebut. Ibu itu berkata: silahkan datang dan ajak temanmu datang bersama.

Di  Minggu kemudian, pemuda itu datang dengan mengajak seorang teman. Mereka mendengar kisah ibu tua itu. Pada akhirnya, ada 70 orang pemuda Tionghoa telah mendengar kesaksian ibu tua itu, mereka pun pada akhirnya menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat mereka secara pribadi. Jika ibu tua yang sudah berusia 75 tahun masih dapat dipakai Tuhan sebagai alat di tangan-Nya sebagai alat untuk memberitakan Injil, maka saudara dan saya pun dapat juga dipakai-Nya. Agar hal itu dapat terlaksana, maka kenalilah Allahmu, biasakan mempercayai Dia dan memuji Dia dan memberitakan Dia dalam kehidupan sehari hari.

24/04/17

Pintu




Pintu

Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput.
Yohanes 10:9

Dunia penggembalaan ternak menjadi latar belakang dari pengajaran Tuhan Yesus ini. Para domba gembalaan itu pada satu hari akan dikumpukan dalam satu kandang. Untuk masuk ke dalam kandang itu, domba harus masuk melalui pintu. Barang siapa yang masuk ke dalam kandang, maka tentulah ia adalah seorang pencuri. Gembala tentulah tidak akan membukakan pintu bagi para pencuri, itulah sebabnya ia masuk ke dalam kandang tanpa lewat pintu.

Gambaran relasi Israel dengan Allahnya yang digambarkan dengan relasi gembala dan domba, sudah sangat familiair bagi mereka. Mazmur 23 bagi familiari bagi mereka, juga bagi kita. Yesus menggambarkan diri-Nya sebagai gembala yang baik dan orang yang percaya kepada-Nya adalah domba domba-Nya. Jika kita sadar bahwa kita adalah domba dari  Tuhan Yesus, maka tentulah kita sadar bahwa kandang bagi kita pun Tuhan Yesus yang mengadakannya bagi kita. Pintu masuk ke dalam kandang itu adalah Yesus Kristus sendiri.

Dalam iman, kita dapat memandang kandang itu adalah tempat kita mendapatkan pengajaran dan menikmati persekutuan. Oleh karena itu kita dapat mengatakan bahwa kandang itu adalah Gereja dimana kita diakui sebagai anggota keluarga Allah. Jalan masuk ke dalam Gereja itu adalah Yesus Kristus sendiri. Sementara di satu sisi, kita merasa bahwa kita dapat masuk dan keluar dari persekutuan Gereja sekehendak hati kita. Ini adalah satu  pandangan yang tidak benar. Sebab dimana kita akan men dapatkan pertumbuhan iman, Tuhan yang menentukannya, jika kita sadar bahwa kita ini adalah domba gembalaan Kristus. Kita bukanlah gembala dari diri kita sendiri.

Ada satu pengakuan kaum katolik terhadap Gereja Katolik, mereka mengatakan: Gereja Katolik bunda yang mengandung kita. Sebelum pribadi itu lahir ke dunia ini, ia sudah menjadi warga dari Gereja Katolik. Jadi terlintas di dalam hati, sebenarnya warga dari Gereja tetentu pun dapat mengatakan hal yang sama. Argumennya ialah: pada waktu seorang wanita hamil berdiri di dalam satu kebaktian mengucapkan pengakuan iman rasuli; ia dalam keadaan hamil, maka jabang bayi yang ada di dalam kandungan itu pun sudah mengaku iman percaya, di dalam ibundanya.

Pemahaman Alkitab yang mengajarkan: bapa hidup di dalam anak, anak hidup di dalam bapa adalah dasar argumen kita untuk mengatakan bahwa jabang bayi itu sudah menjadi warga Gereja dari orangtuanya. Cf Ibr 7:9-10. Oleh karena itu kita dapat mengatakan bahwa Tuhanlah yang menentukan kandang bagi kita selama kita hidup di dunia ini, jika kita benar benar adalah domba gembalaan Tuhan Yesus. Dengan segenap hati saya dapat berkata: bahwa Tuhanlah yang menetapkan saya menjadi warga dari Gereja HKBP.

Ada orang mengatakan saya pindah ke Gereja lain, karena saya tidak mendapatkan apa pun di Gereja asal. Sudut pandang yang berbeda membuat saudara kita itu tidak dapat apa apa di Gereja awal. Jika ia adalah domba dari tu han Yesus masa sang gembala tidak memberi dia makan. Bukankah Tuhan Yesus adalah gembala yang baik/ mengapa ia tidak dapat apa apa, karena mereka bukan domba dari sang gembala. Atau gembala yang ada di kandang itu tidak memberi rumput yang hijau bagi domba domba tersebut. Namun hal itu tidak membenarkan kita untuk pindah kandang. Pintu untuk masuk kandang itu adalah Tuhan Yesus, dan jika ia  masuk karena Tuhan Yesus maka ia akan selamat. Itulah firman Tuhan Yesus bagi kita pada pagi hari ini.

23/04/17

Malu



Malu

Biarlah terdiam karena malu mereka yang mengatai aku: "Syukur, syukur!"
Mazmur 40:16

Orang percaya menikmati kekayaan pengalaman rohani bersama dengan Allahnya. Kita dapat melihat hal itu dari Mazmur yang ditulis orang saleh di zaman dahulu kala. Demikian juga dengan Mazmur pasal 40 ini. Jika kita dekat dengan Allah, bukan berarti segala masalah akan menjadi beser. Daud adalah salah satu contoh yang pas bagi kita. Ia sudah diurapi Allah melalui Samuel menjadi raja. Daud punya segudang pergumulan. Dalam nas kita ia berada di dalam lubang kebinasaan, ayat 2. Namun ia juga mengalami pengalaman ditempatkan di atas bukit batu. Jadi teringat syair dari lagu di Kidung Jemaat: “Suka dan derita bergantian, memperkuat imanku.”

Salah satu dari sekeian banyak pengalaman pahit orang beriman ialah: dihina orang banyak karena imannya. Daud pun mengalami hal seperti itu. Ia mendengar orang menyukuri keberadaannya yang dikejar kejar Raja Saul. Orang banyak itu mengatakan: “Syukur, syukur!” orang Kristen di zaman Kekaisaran Romawi. Orang Roma yang haus akan hiburan itu, bersorak sorai, melihat orang Kristen menjadi makanan singa singa lapar. Singa singa itu mencabik cabik tubuh orang Kristen yang lemah. Mereka bersorak dengan syukur syukur.

Namun pada akhirnya kekaisaran yang besar dan luas itu jatuh bertekuk lutut di kaki Tuhan kita Yesus Kristus. Kaisar Konstatine memakai salib sebagai lambang dari pasukannya. Ia memenangkan pertempuran. Lalu ia membuat dekrit yang mengatakan bahwa kekristenan adalah agama resmi dari negara kekaisaran Romawi. Kristus akhirnya menjadi pemenang. Orang yang bersyukur karena penderitaan orang percaya itu pada akhirnya dipermalukan.

Dituturkan pada masa kekristenan mulai menancapkan jejak kakinya di Tanah Batak. Ada seorang guru Jemaat berhadapan dengan sekelompok murid dari seorang dukun besar. Dalam percakapan di pasar, para murid dukun itu mengatakan bahwa guru mereka adalah orang yang paling sakti di muka bumi ini. Sang guru Jemaat yang sederhana itu mengatakan: guru saya jauh lebih sakti dari pada gurumu itu. Ia berkata demikian. Lalu mereka pun berjanji untuk ketemu di hari pasar berikutnya. Para murid dukun itu berkata: jika gurumu kalah, maka ia harus mati, jika guru kami yang kalah, maka ia pun harus mati kata mereka dengan jumawa.

Sang Guru Jemaat mengatakan: jangalah harus mati, kita sepakati saja, barang siapa yang kalah, maka ia akan jatuh sakit. Mereka pun sepakat. Perlu kita garisbawahi guru Jemaat itu hanya sendirian, sementara murid dukun tersebut cukup banyak. Hari yang ditentukan pun tiba. Guru Jemaat sudah hadir di tempat yang ditentukan, tetapi para murid dukun itu belum nampak. Akhirnya seorang dari para murid itu datang dan memberitahukan bahwa guru mereka sedang sakit dan tidak bisa bangun. Lalu ia bertanya: dimana gurumu? Guru Jemaat mengatakan Ia tidak datang karena Ia tahu bahwa gurumu sudah kalah , karena ia sudah jatuh sakit.

Pada akhirnya sang dukun bertanya kepada guru Jemaat itu tentang gurunya. Ia pun menuturkan gurunya adalah Yesus Kristus. Pendek ceritera, dukum itu pun menjadi Kristen semuanya. Mereka dibaptis beberapa bulan kemudian. Orang yang mengharapkan guru dari guru Jemaat itu akan kalah menjadi malu. Sebuah pertanyaan diajukan kepada kita: apakah saudara kaya dalam pengalaman rohani dengan Tuhan Yesus? Jika tidak, itu berarti saudara tidaklah orang yang mengikut Dia di dalam perjalanan hidup ini. Setiap orang yang mengikut Dia akan kaya dalam pengalaman rohani.

22/04/17

Penjaga



Nas Bacaan: Mazmur 16:1 – 11                                               

Penjaga

Nama Minggu kita berdasarkan kalender Gereja disebut Quasimodogeniti. Artinya: seperti bayi yang baru lahir. Minggu ini adalah Minggu sesudah paskah. Paskah melahirkan kita kembali ( I Pet1:3), setelah itu kita menjalani hidup sebagai anak Allah yang kekasih. Sebagai bayi rohani, kita membutuhkan penjaga. Memang Allah itu adalah penjaga manusia, demikian disuarakan Ayub (Ayb 7:20). Jika Allah menjadi penjaga kita, seperti yang disuarakan pemazmur ini, maka Ia menjadi harta karun kita yang sungguh sangat luar biasa.

Produk dari Allah yang menjadi penjaga kita, pemazmur menguraikannya untuk kita. Pertama Ia menjadi Pelindung dan Juruselamat bagi kita. Orang yang berada di dalam lindungan Tuhan akan merasa kehidupannya sesuatu yang sangat aman. Seorang Kristen ditangkap dan akan dihukum mati oleh penguasa dunia. Sang penguasa berkata bahwa ia dapat terhindar dari penghukuman itu, jika ia mau menyangkal Tuhannya Yesus Kristus. Orang Kristen itu tetap dalam pendiriannya, ia adalah  hamba dari Tuhan Yesus Kristus.

Penguasa berkata tidakkah kau tahu bahwa saya berkuasa untuk mencabut nyawamu? Orang Kristen itu berkata: engkau hanya dapat mencabut nyawaku, tetapi tidak dapat menghilangkan rohku, sebab itu adalah milik dari tuhanku. Kau tidak dapat mengambil hartaku karena harta itu tersimpan di surga. Orang Kristen itu merasa hidupnya sangat aman, sekali pun secara fisik ia ada di dalam bahaya.

Kedua, Yesus Kristus menjadi harta yang sangat berharga bagi kita. Sama seperti yang disuarakan Paulus dalam surat Filipi, segala sesuatu dianggap sampah oleh karena pengenalannya akan Kristus Yesus. Sukacita yang tak terkatakan ada di dalam hati kita, tatkala Kristus menjadi harta kita yang paling berharga. Terlintas di dalam hati syair dari lagu rohani ini: “Tuhan ingin kudapat memancarkan, kasih-Mu indah penuh kemurnian, budi bahasaku dihaluskan Roh-Mu hingga memancarkan keindahan-Mu.” Jika Kristus harta yang paling berharga bagi kita, maka keindahan-Nya akan terpancar dari dalam hidup kita.

Ketiga. Jika Yesus adalah harta yang paling mahal bagi kita, maka saudara dan saya akan mengalami kepuasan dalam hidup sekarang dan yang akan datang. Hal itu disuarakan pemazmur di dalam nas kita. Tuhan akan mengajari kita di dalam perjalanan hidup. Demikianlah kata pemazmur di dalam ayat 7. Kita juga akan mengalami stabilitas di dalam pergumulan hidup (ayat 8). Kita pun akan mengalami sukacita, tubuh kita pun akan diam dalam keadaan tenteram (ayat 9). Kita juga akan mengalami hadirat Tuhan senantiasa, bahkan sesudah kita menyelesaikan tugas di dunia ini, kita terus berada di hadirat Allah. (ayat 10-11).

Jika kita adalah orang percaya, itu berarti Roh Kudus telah membukakan mata kita untuk melihat Kristus adalah harta yang paling berharga bagi kita. Oleh karena itu, segala sesuatu yang berarti dari dunia ini, menjadi tak berarti lagi. Bahkan kita pun dapat mengatakan hal ini bersama dengan Paulus: semuanya itu adalah sampah. Cf Flp 3:7-8. Sudahkah Roh Kudus membukakan mata hati saudara? Sudahkah dapat melihat Yesus adalah harta yang paling berharga bagi saudara? Jika sudah demikian adanya, maka saudara akan bertekut lutut di hadapan-Nya dan mengaku bahwa Ia adalah Tuhan bagi saudara. Itulah jalan untuk menemukan sukacita yang abadi di dalam hidup ini.

21/04/17

Keadilan Tuhan



Keadilan Tuhan

Aku akan memikul kemarahan TUHAN, sebab aku telah berdosa kepada-Nya, sampai Ia memperjuangkan perkaraku dan memberi keadilan kepadaku, membawa aku ke dalam terang, sehingga aku mengalami keadilan-Nya.
Mika 7:9

Nas kita dilatarbelakangi ratapan Nabi Mika tentang kemerosotan moral dari bangsa Israel. Orang jujur telah hilang dari negeri tersebut. Tangan orang sudah cekatan dalam berbuat jahat, para hakim dan pengawal keadilan pada waktu itu sudah suka terhadap suap, pembesar pun sudah memberi keputusan sekehendaknya. Keadaan di negeri ini tidak lebih dan tidak kurang sama seperti keadaan Israel di zaman Mika. Kenyataannya orang jujur disingkirkan, suap di pengadilan meraja lela. Adakah harapan bagi bangsa ini untuk mendapatkan keadilan?

Alkisah ada seorang ibu datang kepada Kaisar Napoleon, memohon belas kasihan atas anaknya. Kaisar berkata: anakmu tidak akan mendapatkan belas kasihan, sebab ia telah melanggar aturan. Hukum tidak mengenal belas kasihan. Ia harus dihukum mati. Sang ibu itu berkata: sri paduka, aku tidak meminta hukum, tetapi belas kasihan. Napoleon berkata: anakmu tidak layak untuk mendapatkan belas kasihan. Si ibu itu menjawab kaisar: sri paduka, bukalanlah belas kasihan, jika ia layak mendapatkannya. Saya meminta belas kasihan katanya. Lalu kaisar berkata: aku punya belas kasihan katanya. Anakmu dapat belas kasihan. Ia dimerdekakan.

Nabi Mika pun melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan sang ibu tadi. Ia menantikan Tuhan untuk menunjukkan belas kasihannya bagi bangsa Israel. Ia mengatakan bahwa ia siap untuk memikul kemarahan Tuhan karena keberdosaan bangsa itu. Ia menanti-nantikan keadilan Tuhan, untuk membawa bangsa itu dari kegelapan dan pindah ke dalam terangnya yang ajaib. Penantian Nabi Mika itu pun terlaksana di dalam diri Yesus yang telah bangkit dari antara orang mati.

Kebangkitan-Nya dari antara orang mati, telah melahirkan kita kembali, lalu masuk ke dalam hidup yang penuh pengharapan. Salah satu yang kita harapkan ialah: keadilan. Jika Alkitab berbicara tentang keadilan, hal tersebut menunjuk kepada sikap hati Allah yang memberikan kepada mahluknya apa yang menjadi haknya. Apakah yang menjadi hak dari orang yang berada di dalam bahaya? Tak lain dan tak bukan ialah pertolongan. Nabi Joel menyuarakan perkataan ini: “Barangsiapa yang berseru kepada Tuhan akan diselamatkan.” (Yoel 2:32) juga dikutip Paulus dalam surat Roma. (Roma 10:13).

Dengan hadirnya Gereja di dunia ini, seharusnya keadilan pun sudah menjadi sebuah kenyataan. Sama seperti yang sering disuarakan Basuki Tjahaya Purnama, dia hadir sebagai pejabat pemerintah dalam rangka mengadministrasikan keadilan sosial bagi masyarakat kota Jakarta. Kita pun hadir di lingkungan kita dalam rangka menjalankan keadilan sosial bagi masyarakat yang ada di dalam ruang lingkup kita, sebagaimana karunia yang ada pada kita.

Turutkah saudara dan saya menantikan Tuhan sama seperti Nabi Mika dan hamba Tuhan yang lain, agar Tuhan menghadirkan keadilan Tuhan bagi umat manusia ini. Secara ritus kita telah mengungkapkannya dengan doa: “Datanglah kerajaan-Mu dan jadilah kehendak-Mu di bumi ini sama seperti di surga.”

20/04/17

Harta Rohani

Jumat 21 April 2017

Harta Rohani

kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa.
II Korintus 4:9

Harta yang berharga biasanya akan disimpan di tempat yang aman. Dilemari besi dengan kunci yang ada nomor kombinasinya. Harta itu juga bisa disimpan di safety box yang disediakan bank tertentu. Allah punya harta berharga juga, namun Allah menyimpan harta yang berharga itu, justru di tanah liat, seperti tembikar yang gampang pecah. Paulus memakai tanah liat sebagai simbol dari tubuh manusia yang rapuh dan gampang pecah.

Harta yang disimpan di bejana tanah liat itu adalah kuasa atau kemampuan yang begitu luar biasa, sehingga dapat menahan derita yang begitu luar biasa. Paulus mengungkapkan pengalamannya. Ia dianiaya, tetapi ia tidak pernah ditinggalkan. Bukankah orang yang dianiaya akan ditinggalkan orang. Ada pepatah di kalangan orang Batak: situnjang na gadap jala sitogu na jongjong – ada orang yang justru menerjang orang yang sudah terjatuh, dan menarik orang yang sudah berdiri. Satu gambaran dari orang yang menolak keberadaan dari orang yang malang, tetapi justru menegakkan orang yang sudah berdiri.

Sekali pun Paulus dianiaya, orang tetap banyak yang mendukung dia. Paulus dihempaskan, namun tidak binasa. Mengapa Paulus dapat bertahan? Jawbannya ialah harta rohani yang ditaruh di bejana tanah liat, yaitu tubuh jasmani rasul besar itu. Oleh karena kita memiliki iman yang sama seperti yang ada di dalam diri Paulus, maka kepada kita pun Allah menaruh harta itu di dalam diri kita masing masing. Paulus pernah berkata kepada Jemaat di Filipi: “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” Flp 4:13.

Alkisah dituturkan ada seorang veteran tua bekerja sebagai tukang kebun di  halaman sebuah Gereja. Ia digoda tiga orang anak muda dan mempermainkan orangtua tersebut hingga ia jatuh. Orangtua itu tidak marah kepada anak muda yang menggoda dia. Ia hanya berkata: apa yang dapat saya perbuat bagi kalian. Ia semakin dipermainkan. Bahkan sampai tiap hari. Carl tidak pernah marah dan hanya mengatakan: apa yang saya dapat perbuat bagi kalian. Satu hari Carl meninggal dunia karena sudah tua. Tidak ada lagi yang dapat diganggu anak muda nakal itu.

Salah satu dari anak muda itu bertobat karena merenungkan perilaku dari Carl. Karena tidak ada lagi tukang kebun di Gereja itu, anak muda itu datang melamar pekerjaan tersebut. Si pendeta mengenal pemuda itu sebagai orang yang sering menganiaya Carl. Lalu pendeta bertanya mengapa ia menginginkan pekerjaan itu? Pemuda itu mengatakan mau melanjutkan pekerjaan Carl. Ia telah membuka mata hati saya untuk melihat Kristus di dalam dirinya. Satu hari ia memohon berhenti dari pekerjaan itu karena ia sudah dapat anak dan ingin mendapatkan pekerjaan lain. Pendeta bertanya siapa nama anakmu itu? Mantan penjat itu berkata: Carl.

Carl memiliki apa yang dimiliki Paulus sebagai harta rohani yang disimpan di dalam bejana tanah liat, yakni tubuhnya yang sudah rapuh dan sering dijatuhkan para pemuda tadi. Tetapi ia tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Hidupnya pada akhirnya membuat orang bertobat dan menjadi Kristen. Bahkan di dalam diri Carl salah satu dari penjahat itu melihat Kristus. Saudara dan saya pun seharusnya memiliki harta rohani seperti itu, sebab kita memiliki iman yang sama.

19/04/17

Beribadah




Beribadah

Lalu berkatalah Samuel kepada seluruh kaum Israel demikian: "Jika kamu berbalik kepada TUHAN dengan segenap hati, maka jauhkanlah para allah asing dan para Asytoret dari tengah-tengahmu dan tujukan hatimu kepada TUHAN dan beribadahlah hanya kepada-Nya; maka Ia akan melepaskan kamu dari tangan orang Filistin."
I Samuel 7:3

Ada pun tujuan Allah membawa orang Israel keluar dari Mesir, dan membawa mereka ke Tanah Kanaan, ialah: agar Israel beribadah kepada Allah. Yahweh menjadi Allahnya Israel dan Israel menjadi umat Yahweh. Tetapi setelah mereka tiba di Kanaan dan Yosua sang pemimpin meninggal dunia, Israel berpaling dari Yahweh dan beribadah kepada dewa dewa bangsa Kanaan yang mereka temui. Lalu Allah mengangkat Hakim Hakim bagi bangsa itu, serta memimpin bangsa itu berjalan di hadapan Allah, salah satunya ialah Samuel. Selama di bawah pimpinan Samuel, bangsa itu tetap berpaut kepada Allah.

Nas kita dilatarbelakangi keberadaan Israel yang berada di bawah pengaruh bangsa Filistin. Samuel mengingatkan bangsa Israel akan tujuan keberadaan mereka sebagai satu bangsa. Mereka itu harus beribadah kepada Allah Yahweh. Agar mereka dapat beribadah dengan benar kepada Yahweh, maka mereka harus menjauhkan para ilah asing dari tengah-tengah mereka. Sebagai hasil dari menjauhkan para ilah tersebut, Israel pun menujukan hati kepada Allah mereka, yakni Yahweh. Hasil dari ibadah kepada hanya Allah Israel semata-mata, maka Israel akan menikmati kelepasan dari segala kesesakan yang menimpa mereka.

Hal yang sama pun terjadi dengan diri kita sebagai orang percaya. Kita dipindahkan Allah dari kegelapan ke terang Tuhan yang ajaib, dengan satu tujuan yang pasti, ialah: untuk beribadah kepada Allah Bapa. Paulus mengatakan: “Jika engkau makan, jika engkau minum, jika engkau berbuat apa saja pun, perbuatlah untuk kemuliaan Allah.” Untuk itulah kita hadir di dunia ini. Supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita, di dalam Dia yang dikasihi-Nya.

Agar kita dapat beribadah kepada Allah dengan baik dan benar, maka kita pun diwajibkan untuk menjauhkan ilah ilah asing dari dalam kehidupan kita. Paulus mengatakan dalam surat Efesus: orang serakah adalah sama dengan penyembahan berhala. Cf Ef 5:5. Sekarang ini kita melihat orang yang sangat serakah di tengah masyarakat. Korupsi yang sangat marak di negeri ini, tentulah dimotori oleh ketamakan di lubuk hati para koruptor tersebut. Bagaimana mungkin mereka dapat beribadah dengan ketamakan seperti itu.

Ilah lain yang harus dijauhkan dari dalam kehidupan masyarakat modern sekarang ini ialah hedonisme. Hidup di dalam pesta pora. Narkoba adalah salah satu sisi dari hedonisme. Kehidupan dunia gemerlap pun adalah bagian dari hedonisme. Allah tidak ditemukan di dalam hidup ketamakan dan hedonisme, konsumtivisme, juga dengan individualisme. Alkitab berpola pikir kolektif, roh corpus sangat kental. Satu untuk semua dan semua untuk satu orang, itulah roh yang menggerakkan seluruh aktifitas kehidupan manusia.

Hal yang terakhir yang perlu direnungkan ialah: kepada siapakah kita beribadah? Kepada Allah Bapa di dalam Yesus Kristuskah, atau beribadah kepada ilah ilah zaman ini? Jika saya sendiri dapat mengatakan bahwa saya beribadah kepada Allah Bapa yang aku kenal di dalam Kristus Yesus.

18/04/17

Perkara di Atas



Perkara di Atas

Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah.
Kolose 3:1

Kehadiran Yesus dengan karya-Nya di dunia ini, membuka jalan hidup baru bagi umat manusia. Sekarang kita menemukan jalan hidup yang ganda. Jalan hidup yang pertama ialah: jalan hidup yang dimulai dari Adam di Taman Eden, diteruskan ke generasi demi generasi, hingga generasi terakhir kelak, yang dilahirkan di dunia ini. Jalan ini adalah jalan dosa. Sebab Adam sudah jatuh ke dalam dosa, oleh karena itu semua orang yang dilahirkan karena Adam adalah orang dosa yang melakukan dosa. Tidak ada orang dosa yang melahirkan orang suci, sama saja dengan orang Batak hanya akan melahirkan orang Batak. Tidak mungkin akan melahirkan orang Tionghoa.

Yesus pun pada waktu Ia lahir di Betlehem, berada di jalan yang pertama ini. Sebagaimana setiap orang di jalan itu harus berhadapan dengan kematian, Kristus pun mati. Hukum yang harus berlaku atas setiap orang yang berjalan itu dilaksanakan, maka Yesus pun bangkit dari antara orang mati. Kebangkitan-Nya membuat Dia menjadi kepala keluarga baru, sama seperti Adam menjadi kepala keluarga di jalan yang pertama itu. Sekarang ada lagi jalan kehidupan yang kedua, sejajar dengan jalan kehidupan Adam.

Tatkala Yesus mati di kayu salib itu, ada manusia yang dihisabkan mati bersama dengan Dia. Paulus mengatakan bahwa ia telah disalibkan bersama dengan Kristus. Bukan hanya Paulus yang disalibkan bersama dengan Kristus, tetapi semua orang yang percaya kepada-Nya. Karena sudah dihisabkan bersama dengan Kristus yang mati di kayu salib, maka tatakala Kristus bangkit dari antara orang mati, maka orang orang yang dihisabkan dengan Kristus itu pun turut bangkit bersama dengan Kristus yang bangkit itu. Paulus mengatakannya dalam Efesus 2:6.

Karena kita sudah pindah dari jalan hidup Adam ke jalan hidup Kristus, maka kita pun memiliki pandangan hidup yang berbeda dari jalan hidup Adam. Pandangan hidup Adam ialah: melihat jati diri kita duduk di singgasana dunia ini, dimana kita menguasai ilmu harta dan kuasa. Semua itu berujung pada kebinasaan. Di sisi lain jalan hidup Kristus pun ada juga. Nas kita mengatakan kita bahwa kita mencari perkara di atas, dimana Kristus ada duduk di sebelah kanan Allah.

Jika kita mengelaborasi jalan hidup yang baru ini, maka kita dapat mengatakan bahwa wujud dari pandangan ini bisa saja tidak berbeda dengan pandangan jalan hidup Adam. Tetapi sesuatu yang pasti ialah: substansinya sangat jauh berbeda. Paulus mengatakan: jikalau engkau makan, dan minum, lakukanlah itu untuk kemuliaan Allah. Jika dulunya kita melakukan itu untuk diri kita sendiri. Sekarang kita melakukannya demi Dia yang diduduk di singgasa surga.

Segala aktifitas kita dimotori pandangan kita yang diarahkan kepada Tuhan Yesus yang telah duduk di surga. Tatkala mata kita tertuju kepada Yesus yang duduk di surga, maka betapa pun beratnya persoalan itu, kita dapat menanggungnya dengan baik. Contohnya Stefanus dilempari dengan batu hingga mati. Orang yang menderita kesakitan pastilah tidak sempat memikirkan orang lain. Namun karena damai sejahtera memelihara hati dan pikirannya, maka di detik detik terakhir kehidupannya, ia sempat memikirkan orang lain dan memohonkan pengampunan bagi orang yang melemparinya. Ia mampu untuk mengalihkan rasa sakit ke pengampunan.

Sebuah pertanyaan bagi kita ialah: di jalan manakah saudara sekarang sedang berjalan?

17/04/17

Mujur dan Malang




Mujur dan Malang

Pada hari mujur bergembiralah, tetapi pada hari malang ingatlah, bahwa hari malang ini pun dijadikan Allah seperti juga hari mujur, supaya manusia tidak dapat menemukan sesuatu mengenai masa depannya.
Pengkhotbah 7:14

Lirik salah satu layu rohani dalam Kidung Jemaat mengatakan: “Suka dan derita bergantian, memperkuat imanku.” Mujur dan malang adalah bagian dari kehidupan yang sudah pasti akan kita hadapi. Guru hikmat mengajarkan kepada kita untuk bersyukur pada hari mujur. Tetapi juga sadar bahwa hari malang pun adalah buatan Allah juga. Jika disejajarkan dengan syair kidung Jemaat di atas, maka kita dapat mengatakan bahwa semua itu dipakai Tuhan untuk memperkuat iman kita.

Nabi Yesaya pun telah menyuarakan hal yang sama. Yesaya berkata: “Yang menjadikan terang dan menciptakan gelap, yang menjadikan nasib mujur dan menciptakan nasib malang; Akulah TUHAN yang membuat semuanya ini.” Yes 45:7. Ayub adalah tokoh Alkitab yang melihat mujur dan malang adalah sesuatu yang berasal dari Allah. Ia berkata kepada isterinya yang menganjurkan ia mengutuki dirinya sendiri dan segera mati, Ayub mengatakan: "Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?" Ayub 2:10.

Alkisah di sebuah desa tinggallah seorang kakek yang memiliki seekor kuda yang gagah dan kekar. Orang banyak yang menaksir kuda itu dan ingin membelinya. Tetapi kakek itu tidak mau menjualnya. Orang pun mencibir orangtua tersebut, pada hal orang sudah menawar kuda tersebut dengan harga yang sangat mahal. Satu ketika kuda itu pun hilang. Lalu orang mencibir lagi dengan mengatakan: rasain, sekarang kudamu sudah hilang. Coba dulu mau menjualnya. Sekarang kemalangan sudah menimpa. Si kakek hanya berkata: kalian tidak mengerti.

Satu hari, kuda itu pulang dengan mengajak banyak kuda liar bersamanya. Kembali orang banyak memberi komentar. Eh untung juga kakek tidak menjual kuda itu. Betapa beruntungnya kakek sekarang karena punya banyak kuda. Lalu di satu hari kuda bagus itu menendang cucu si kakek yang masih muda, sehingga ia cacat seumur hidup. Kembali orang banyak kasih komentar negatif. Tetapi si kakek tetap tersenyum.

Negeri itu berperang dengan negeri lain. Maka pemerintah memanggil semua anak muda di negeri untuk masuk wajib militer. Karena cucu kakek itu cacat maka ia tidak turut dipanggil untuk berperang. Para orangtua menangisi anak anak mereka yang akan mati di medan perang, sementara cucu si kakek tidak turut berperang. Alangkah beruntungnya si kakek itu. Mujur dan malang silih beranti di dalam hidup sang kakek dijalani dengan penuh keyakinan akan penyertaan Tuhan. Suka dan derita bergantian memperkuat imannya. Semua disyukuri dengan iman kepada Allah Bapa Yang Mahakasih.

Jika si kakek dapat menghadapi mujur dan malang dengan suasana hati yang teduh, bagaimana saudara dan saya. Kasih karunia Allah dapat membuat kita berada dalam damai sejahtera yang melampaui segala akal dan pikiran, menguasai hati dan pikiran kita. Dengan damai sejahtera tersebut, kita dapat menghadapi mujur dan malang sama seperti sang kakek di dalam kisah tadi.

16/04/17

Memberitakan Injil




Memberitakan Injil

Markus 16:12 – 18

Setelah kebangkitan dari antara orang mati, Yesus menampakkan diri kepada para murid untuk membuktikan bahwa Ia hidup. Menarik untuk disimak, para murid itu tidak mampu percaya akan adanya kebangkitan dari antara orang mati. Sekali pun ada di antara mereka yang bersaksi bahwa mereka sudah melihat Yesus yang bangkit. Dalam kondisi seperti itu, Yesus terus melaksanakan rencana-Nya untuk kembali ke surga. Sebelum Ia naik ke surga, Ia memberikan tugas kepada para murid, bahwa mereka harus memberitakan Injil itu kepada segala mahluk.

Alkisah, pada waktu Yesus tiba di surga, seorang malaikat mengajukan pertanyaan: tentulah Injil itu telah dipercayakan kepada sejumlah besar orang untuk melanjutkannya. Lalu Yesus mengatakan: tidak juga, saya hanya percayakan kepada 12 orang. Wah sedikit amat, bagaimana jika mereka gagal untuk melakukan pemberitaan Injil itu? Yesus pun mengatakan: berarti Aku gagal di dalam berkarya. Namun Yesus tidak mungkin gagal. Kedua belas rasul itu dapat melaksanakan tugasnya, karena mereka disertai Roh Kudus dalam melaksanakan pekabaran Injil itu.

Satu hal yang perlu digarisbawahi dari nas kita di sini ialah: pemberitaan  Injil itu akan disertai kuasa. Markus mengungkapkan di dalam nas kita, bahwa kuasa untuk mengusir setan demi nama Tuhan Yesus. Jika di zaman dahulu setan yang diusir adalah roh roh jahat yang merasuki orang, lain lagi setan di zaman modern ini. Sebuah kisah tentang pengusiran setan dari orang di zaman Injil untuk pertama kalinya di tanah Batak.

Seorang pria datang ke tuan misisonaris yang tinggal di Pearaja, dan menuturkan isterinya ngoceh terus dan tidak tidur siang dan malam. Ia mohon agar pendeta missionaris itu datang untuk mendoakan dia. Karena pendeta itu sedang sibuk dan pekerjaannya banyak, maka ia berkata kepada pria itu agar pulang, dan mengatakan kepada istrinya yang tidak pernah diam itu: kata pendeta yang di Pearaja mengatakan kpdmu, diamlah. Sekejab itu pun isterinya diam dan kemudian tertidur.

Tak berapa hari lagi, pria itu datang ke pendeta yang di Pearaja dan menuturkan bahwa isterinya sudah diam. Tetapi anehnya ia pun diam terus dan tidak mau bicara. Lalu pendeta itu kembali mengatakan: pendeta di Pearaja itu mengatakan: sekarang kamu boleh bicara. Lalu isterinya pun kembali bisa bicara normal. Itulah kuasa yang diberikan Allah kepada mereka yang memberitakan Injil di dunia ini. Kuasa yang sama pun diberikan kepada kita sekarang ini. Setan yang perlu kita usir dari diri orang sekarang ini ialah: roh individualisme, roh konsumerisme, roh hedonisme, roh materialisme. Semua roh roh dunia ini sungguh merusak kehidupan manusia sekarang ini. Kita sudah melihat kemajuan teknologi yang membuat kehidupan manusia semakin nyaman. Tetapi kemajuan teknologi tidak diikuti dengan kemajuan moralitas. Tolok ukur kemajuan sekarang ini ialah: kognitif, orang semakin pintar, dari sarjana jadi magister dan pada akhirnya jadi doktor. Kedua yang menjadi tolok ukur ialah: harta dan yang ketiga ialah: kuasa.

Di zaman ini, kita tidak pernah membuat moralitas sebagai tolok ukur kemajuan. Kita tidak pernah membuat sisi emosional dan sisi rohani sebagai tolok ukur kemajuan. Pernahkah saudara mendengar pernyataan orang: orang tersebut sudah  mengalami banyak kemajuan secara rohani. Ia semakin beriman, ia semakin rendah hati, ia semakin sabar dan lain sebagainya. Roh roh seperti diungkapkan di atas pada hakekatnya harus diusir orang percaya dari hati orang yang tinggal di tengah masyarakat. Sudahkah roh seperti itu diusir dari hati saudara dan saya? Semoga jawabannya ialah: tentu sudah!

Rumah Allah

  Rumah Allah Ibrani 3:6 Tetapi Kristus setia sebagai Anak yang mengepalai rumah-Nya; dan rumah-Nya ialah kita, jika kita sampai kepada akhi...