22/02/12

Paskah



Paskah


Gereja di sepanjang zaman merayakan kebangkitan Kristus dengan jalan menyebutnya sebagai perayaan Paskah. Karena hari ini adalah hari raya Paskah, maka aku merenungkan makna Paskah itu bagi saya secara pribadi. Perayaan Paskah diwarisi Gereja dari akarnya di dalam ibadah orang Israel. Sementara orang Israel merayakan Paskah untuk pertama kalinya di Mesir. Jika memperhatikan Paskah di Mesir itu, sebagaimana dituturkan Alkitab dalam kitab Keluaran, maka kita dengan yakin mengatakan bahwa Paskah itu adalah sebuah perayaan keluarga. Musa mengatakan kepada bangsa Israel, agar tiap tiap keluarga mengambil seekor kambing atau domba untuk disembelih.


Tuhan Yesus juga merayakan Paskah bersama para murid di malam tatkala Ia diserahkan ke tangan orang orang yang menghendaki agar Ia dihukum mati. Para murid makan bersama dengan Tuhan Yesus di dalam merayakan Paskah. Itu berarti para murid itu telah menjadi bagian dari keluarga Tuhan sendiri. Seperti telah disebut di atas, mereka yang menikmati daging dari domba Paskah itu adalah keluarga. Jika Gereja sampai hari ini merayakan Paskah, rasa rasanya tidak lagi terasa sisi kekeluargaan di dalam perayaan Paskah itu sendiri.


 Tatkala orang Israel merayakan paskah di Tanah Kanaan pada waktu itu, maka satu hal yang pasti ialah: di seluruh wilayah Israel, akan jelas terlihat darah ada di setiap pintu rumah. Jika pada hari perayaan Paskah itu ada pintu rumah orang yang tidak diolesi darah, maka kita tahu pasti orang itu pastilah bukan orang Israel. Ia adalah orang asing di sana. Ia tidak masuk ke dalam persekutuan bangsa itu, sekalipun ia ada di tengah tengah orang Israel. Darah domba Paskah itu menjadi tanda kewargaan setiap orang Israel pada perayaan Paskah. Ini sebuah pelajaran yang berharga menurut hemat saya secara pribadi. Kita juga dapat mengatakan darah anak domba Paskah kita yang sudah disembelih itu, menentukan kewargaan kita di dunia ini.


Satu hal yang menarik untuk disimak ialah: darah domba Paskah itu tidak diperuntukkan bagi manusia, tetapi diperuntukkan bagi Allah sendiri. Hal ini sangat jelas kita tahu dari perayaan Paskah di Mesir. Tatkala orang Israel merayakan Paskah di Mesir, malaikat maut mendatangi seluruh Mesir. Ia akan membunuh setiap anak sulung dari segala mahluk yang hidup. Malaikat itu akan mendatangi setiap rumah yang ada di Mesir. Tatkala Ia hendak masuk ke dalam sebuah rumah, maka Ia akan melihat darah di kedua tiang dan ambang pintu rumah. Jika Ia tidak menemukan darah domba Paskah, maka malaikat itu akan membunuh setiap anak sulung yang ada di rumah tersebut. Tetapi jika Ia melihat darah itu, Ia akan lewat.


Penghuni rumah tidak pernah tahu, kapan malaikat itu datang ke rumah mereka. Mereka juga tidak melihat darah itu terus menerus. Penghuni rumah ada di dalam rumah, sementara darah domba Paskah dioleskan di luar rumah. Darah itu diperlukan untuk dilihat oleh Allah. Tatkala darah itu terlihat, maka seisi rumah itu akan selamat dari penghukuman Allah. Itulah Paskah orang Israel. Demikian juga dengan Paskah kita. Darah Anak Domba Paskah kita di bawa ke hadirat Allah di surga. Darah itu menyenangkan hati Allah. Lalu Ia melewatkan Penghukuman-Nya bagi mereka yang merayakannya.


Untuk lebih memahami makna darah itu diperuntukkan bagi Allah, maka kita akan menyoroti perayaan Hari Pendamaian – Yom Kippur – sebagaimana diuraikan di dalam kitab Imamat pasal 16. Dalam perayaan ini ada dua ekor kambing yang dipersembahkan sebagai penghapus dosa seluruh Israel. Kambing yang pertama disembelih. Darahnya dibawa imam besar ke ruang maha kudus. Tatkala darah kambing yang dipersembahkan itu dipercikkan ke Peti Perjanjian Tuhan, maka segala dosa orang Israel dihapus. Tidak ada seorang pun orang Israel yang melihat peristiwa itu selain imam besar itu sendiri. Darah itu tidak diperuntukkan bagi manusia, tetapi bagi Allah. Menurut PB, segala ibadah di dalam PL adalah bayangan dari apa yang dilakukan Tuhan Yesus. Itu berarti Tuhan sendiri yang membawa darah-Nya langsung ke tahta Allah di surga sebagai Imam Besar kita. Hal ini diuraikan dengan jelas oleh penulis surat Ibrani dalam Ibrani pasal 10.


Tatkala darah Tuhan Yesus yang tak ada cacat celanya itu dilihat Allah di surga, maka hati Allah dipuaskan oleh darah tersebut. Maka segala dosa dunia ini diampuni Allah. Kita tahu dari perayaan Yom Kippur – hari pendamaian – tidak ada seorang pun dari orang Israel yang mengaku dosanya pada waktu itu di hadapan Allah. Perayaan ini dilaksanakan demi pengampunan Allah atas segala dosa Israel. Yesus membawa darah-Nya bukan hanya untuk dosa Israel, tetapi dosa dunia. Injil Yohanes menuturkan, Yohanes Pembabtis mengatakan: “Lihatlah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia” Yoh 1:29. Yohanes mengatakan bahwa darah Anak Domba Allah itu menghapus dosa dunia, bukan dosa orang orang percaya. Hal yang sama disuarakannya dalam suratnya. I Yoh 2:2 “Dan Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia”. Bagi saya secara pribadi, Yohanes membedakan dosa orang percaya dan dosa dunia. Sama seperti kambing yang menjadi kurban di hari raya Pendamaian itu dua ekor. Dua duanya adalah korban penghapus dosa. Yesus adalah korban penghapus dosa orang beriman dan dosa dunia ini.


Secara tradisional kita melihat kedua hal ini dalam satu kesatuan. Kita tidak mau memisahkan Yesus sebagai korban untuk dosa dunia dan orang percaya. Lalu saya merenungkan makna dari pengorbanan Kristus. Mengapa Kristus harus mengorbankan diri-Nya? Karena Allah murka atas dosa manusia. Dari sudut pandang Allah, manusia itu tidak dapat memenuhi tuntututan-Nya atas hidup yang tanpa dosa. Lalu Yesus menjalani satu kehidupan tanpa dosa, serta Ia membawa darah-Nya, gambaran dari hidup-Nya sendiri yang tanpa dosa, sebagai korban penghapus dosa bagi seluruh umat manusia. Taktala ada manusia yang memahami bahwa ia tidak dapat membenarkan diri di hadapan Allah karena keberdosaannya, maka korban Kristus jadi efektif bagi orang tersebut. Yesus mati memang untuk orang orang seperti itu.


Ada satu ceritera yang disampaikan Tuhan Yesus sebagai contoh bagi saya. Seorang pemungut cukai pergi ke Bait Allah dan berdoa. Ia menepuk nepuk dadanya menyesali dosa dosanya. Yesus berkata: orang ini pulang dibenarkan Allah. Kata dibenarkan di sini maknanya ialah: ia dipandang Allah tidak berdosa lagi. Mengapa demikian? Toh dia tidak percaya kepada Tuhan Yesus Kristus. Bahkan ia tidak mengenal Yesus Kristus? Mengapa ia dibenarkan? Kisah ini kita dengar dari mulut Tuhan Yesus sendiri! Yesus sadar bahwa Dia mati sebagai kurban untuk orang orang yang tidak punya pengharapan seperti pemungut cukai ini. Sebaliknya dengan orang Farisi yang sama sama datang je Bait Allah. Ia mengandalkan kebenarannya sendiri di dalam menaati Taurat. Oleh karena itu, ia pulang tidak dibenarkan Allah.


Ketetapan Allah tentang keselamatan ialah: kasih karunia. Hal ini disuarakan Paulus dalam surat Efesus, Ef 2:8-9. Sebagaimana kita tahu bersama, kasih karunia adalah satu pemberian yang pada dasarnya kita tidak layak menerimanya. Jadi semua orang yang tidak layak menerima keselamatan itu, kepada mereka Allah mau memberikannya. Jadi pada hakekatnya keselamatan itu diperuntukkan bagi umat manusia. Paulus memang menambahkan ‘karena iman’. Iman kepada Yesus Kristus tentunya. Jika kita memahami makna iman ialah: ‘ya demikianlah adanya’, sebagaimana diartikan dalam bahasa Ibrani, maka setiap orang yang tidak lagi mendasarkan keselamatannya pada perbuatan diri sendiri, tetapi pada kasih karunia Allah, ia mengimani kematian seorang kurban demi keselamatannya. Menurut hemat saya, biarpun ia bukan Kristen, kurban Yesus efektif berlaku bagi dia.


Ada orang mengatakan: jika demikian, mengapa kita harus memberitakan Injil? Toh orang lain dapat keselamatan yang ada di dalam Kristus! Injil harus diberitakan karena itu adalah perintah Tuhan Yesus! Karya Kristus di kayu salib itu menurut hemat saya secara pribadi mempunyai dua sisi. Sisi pertama, salib menyelamatkan umat manusia. Sisi yang kedua salib menjadikan seseorang itu anak Allah, jika ia percaya pada pengorbanan tersebut. Kita memberitakan Injil, agar orang itu percaya kepada pengorbanan Kristus, ia diselamatkan dan dijadikan anggota keluarga Allah.


Kita semua tahu bahwa setiap peristiwa memiliki transendensinya sendiri. Transendensi itu adalah sebuah misteri yang kita pada umumnya telah tolak atau tak terungkap bagi kita. Demikian juga dengan Paskah. Paskah itu lebih besar dari apa yang kita pahami sekarang ini. Jelas, Paskah tidak hanya untuk orang Kristen. Paskah itu adalah untuk dunia. Paskah itu berbicara tentang Darah Anak Domba Allah yang dibawa ke hadirat Allah di surga demi keampunan dosa umat manusia. Bukan umat Kristen dan mereka yang mau percaya dan jadi Kristen. Paskah di Mesir memberi penjelasan tentang hal itu bagi kita. Musa mengatakan: “Sebab pada malam ini Aku akan menjalani tanah Mesir, dan semua anak sulung, dari anak manusia sampai anak binatang, akan Kubunuh, dan kepada semua allah di Mesir akan Kujatuhkan hukuman, Akulah, TUHAN” Kel 12:12. Huruf tebal dari saya.


Tatkala tulah kesepuluh datang, seluruh anak sulung harus mati, termasuk anak sulung binatang. Tetapi karena darah domba Paskah itu telah dioleskan ke ambang pintu, maka anak sulung yang punya rumah dan anak sulung binatang tidak binasa. Jika anak sulung manusia tidak binasa, itu karena mereka tahu bahwa ada darah dioleskan di ambang pintu rumah mereka. Tetapi anak sulung binatang tidak tahu akan hal itu. Binatang itu tidak percaya akan domba Paskah yang disembelih. Namun anak binatang itu turut menikmati keselamatan yang telah dinikmati manusia di rumah itu. Jadi domba Paskah itu darahnya berguna bagi mereka yang percaya akan firman Allah yang disuarakan Musa. Tetapi juga bagi yang tidak percaya dan tidak tahu akan adanya firman itu di dalam hidupnya. Itulah transendensi Paskah yang dilakukan orang Israel di Mesir.


Jika di Mesir Allah turut memperhitungkan binatang agar selamat, bagaimana mungkin Ia tidak memperhitungkan manusia yang diciptakan-Nya seturut gambar-Nya sendiri, tetapi tidak percaya kepada Kristus. Saya tetap percaya, tidak ada keselamatan di luar Kristus. Kristuslah kurban bagi pendamaian karena keberdosaan manusia. Hal itu sangat jelas terlihat di Taman Getsemani. Yesus meminta agar cawan dilalukan. Makna dari permohonan itu ialah: jika mungkin manusia dapat diselamatkan di luar kematian-Nya, maka biarlah Bapa di surga mengambil jalan tersebut. Tetapi ternyata surga diam. Itu berarti tidak ada jalan lain. Hanya Yesus yang dapat memungkinkan orang masuk surga melalui kurban-Nya. Pernyataan Tuhan dalam Yoh 14:6 sering kita tafsirkan dengan mengatakan: melalui percaya kepada Yesus Kristus. Tetapi Yesus di sana mengatakan: “Tidak ada seorang pun yang sampai ke Bapa kecuali melalui Aku”. Pernyataan itu tidak mengatakan: kecuali percaya kepada-Ku. Tidak!


Contoh sudah kita utarakan di atas. Pemungut cukai itu dibenarkan pada hal ia tidak kenal Yesus Kristus. Karena ia tidak kenal, maka ia tidak percaya. Tetapi ia dibenarkan. Dengan cara seperti itulah orang beriman di PL dibenarkan. Mereka semua dibenarkan karena Allah telah memberi mereka jalan keluar, yakni melalui korban penghapus dosa. Penggenapan korban penghapus dosa itu ialah: Yesus Kristus. Hal yang sama juga dapat kita katakan dengan orang orang di luar Yahudi dan Kristen. Jika ada orang yang tidak lagi dapat mempercayai dirinya sendiri dengan ibadah yang diajarkan agamanya di dalam rangka keselamatan jiwanya, maka Kristus sebagai korban jadi efektif bagi dia.


Persoalannya ialah: siapa yang membuat dia berpaling kepada Allah? Di sinilah peran dari Roh Kudus. Kita juga sering memahami, Roh Kudus hanya bekerja di kalangan orang Kristen. Pada hal Alkitab berkata bahwa Roh Kudus itu namanya juga Roh Yesus, Roh Kristus. Yesus diberi Allah untuk dunia. Jika demikian, Roh Kudus yang namanya Roh Yesus pun diberikan kepada dunia. Doktrin kita yang mengatakan bahwa mereka yang percaya kepada Kristus itulah yang selamat membuat kita membatasi karya Roh Kudus hanya bagi orang beriman. Yesus mengatakan Roh Kudus itu seperti angin. Ia tidak dapat dikontrol manusia. Ia berdaulat. Ia dapat bekerja dimana saja dan kapan saja, seturut kehendak-Nya. Kita tidak tahu bagaimana cara Roh Kudus untuk membuat orang tidak lagi bersandar pada diri sendiri dan doktrin agamanya tentang keselamatan. saya tetap yakin Roh Kudus bekerja dalam kasih karunia-Nya. Nama Roh Kudus juga disebut sebagai Roh Kasih Karunia.


Pertanyaan yang masih perlu dijawab ialah: mengapa kita memberitakan Injil? Sudah dijawab di atas tadi. Itu adalah Amanat Agung Yesus Kristus. Alkitab menuturkan bahwa orang percaya akan memerintah, bersama dengan Kristus. Ada orang yang bertanya: siapa yang akan diperintah? Memang akan menjadi sebuah pertanyaan besar jika hanya orang yang percaya yang selamat. Tetapi jika ada orang yang selamat tetapi tidak percaya dan tidak mengenal Yesus Kristus, wajar saja ada yang diperintah. Dalam ibarni 12:23 kita menemukan adanya jemaat anak anak sulung yang terdaftar di surga. Jika ada jemaat anak anak sulung, maka logikanya ada juga jemaat adik adiknya. Mereka yang percaya itulah jemaat anak anak sulung. Menurut hemat saya secara pribadi mereka yang tidak percaya ialah: anak anak selanjutnya. Darah Anak Domba Paskah yang telah disembeli telah membeli mereka oleh karya Roh Kudus yang memanggil mereka untuk tidak percaya pada diri mereka sendiri tentang keselamatannya. Roh Kudus memanggil mereka untuk percaya kepada kurban yang sudah tersedia bagi umat manusia demi keselamatan mereka.


Selamat Paskah!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Rumah Allah

  Rumah Allah Ibrani 3:6 Tetapi Kristus setia sebagai Anak yang mengepalai rumah-Nya; dan rumah-Nya ialah kita, jika kita sampai kepada akhi...