21/07/11

Iman Sebuah Eksposisi Dan Kontemplasi




Iman Sebuah Eksposisi Dan Kontemplasi[1]

Pendahuluan
Jika kepada kita diajukan pertanyaan, apakah kita orang beriman atau tidak, maka jawabannya pastilah ya, kita adalah orang beriman. Semua orang beragama adalah orang beriman. Tetapi jika pertanyaan itu dilanjutkan lagi,  apa beda iman kita dengan iman Agama lain, Muslim, Budha, Hindu, dll; maka kita harus melihat isi dari iman itu sendiri. Jika kita melihat isi dari iman, maka kita akan menjumpai, isinya berbeda-beda. Mungkin akan mengejutkan bagi kita jika dikatakan bahwa sekalipun Agama kita sama, bahkan gereja kita sama, bisa saja iman kita berbeda. Mengapa? Karena iman itu masalah hubungan pribadi dengan Allah Sang Pencipta Yang Maha Kasih. Kandungan iman kita bisa berbeda, sekalipun gereja kita sama.
Untuk penjelasan lebih lanjut tentang iman ini, maka kita akan mengajukan beberapa pertanyaan tentang iman. Melalui jawaban atas pertanyaan itu, kita akan melihat apakah iman itu sebenarnya, dan mengapa iman itu adalah masalah pribadi kita dengan Allah. Harus diakui ruang yang tersedia bagi kita tidaklah cukup untuk membicarakan iman secara panjang lebar. Namun cukup bermakna jika kita membahas iman itu dalam ruang yang sempit ini. Pertanyaan itu adalah :

Apakah iman itu?
Iman berdasarkan etimologi. Kata iman itu diserap bahasa Indonesia dari bahasa Arab. Padanan kata itu dalam bahasa Indonesia adalah percaya. Jadi beriman tak lain artinya adalah percaya. Menarik untuk disimak, kata iman berpadanan dengan kata ‘aman’ dalam bahasa Ibrani. Kita tahu bahasa Ibrani satu rumpun dengan bahasa Arab. Akar kata ‘aman’ dalam bahasa Ibrani adalah ‘amen’. Kata ini familiar dengan kita. Kata itu kita tahu sebagai kata penutup doa. Arti kata amen ialah :ya. Kita bisa lihat itu dalam kitab Bilangan 5:14-22, dimana dikatakan seorang suami cemburu kepada isterinya yang mungkin berbuat serong, tetapi tidak ada seorang pun yang tahu. Suami itu harus pergi kepada imam dan membuat upacara tertentu. Imam mengutuki isteri yang dicemburui suami tadi, dan isteri itu harus mengatakan : “amin, amin”. (ayat 22 : “sebab air yang mendatangkan kutuk ini akan masuk ke dalam tubuhmu untuk mengembungkan perutmu dan mengempiskan pahamu. Dan haruslah perempuan itu berkata: Amin, amin”
Jelas dari ayat ini kata amin artinya ialah ya, atau demikianlah sesungguhnya. Kata itu mengandung arti pembenaran akan sesuatu yang dikatakan orang kepadanya. Orang Batak sering mengucapkan hal yang sama di dalam upacara adat, yakni : “Ima tutu” arti kata ini persis sama dengan amin dalam bahasa Ibrani. Saya tidak tahu apakah begitu artinya dalam bahasa Arab. Tetapi karena mereka berasal dari kultur yang sama, tentunya maknanya sama juga.
Kita telah berbicara tentang makna kata iman dari sudut etimologi. Sekarang  kita berbicara tentang apa isi iman itu sebenarnya. Penulis surat Ibrani mengatakan : Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” (Ibr. 11:1)  iman itu senantiasa berhubungan dengan sesuatu yang diharapkan. Apa yang saya harapkan tatkala saya beriman kepada Yesus Kristus? Apa yang saya harapkan itu , pada hakekatnya itulah kandungan dari iman saya.
Pengharapan orang Kristen di dalam beriman kepada Yesus Kristus ialah: ‘serupa dengan Yesus Kristus’. Hal itu adalah ketetapan Allah. Paulus mengatakannya di dalam Rom. 8:29. Jika saya serupa dengan Yesus Kristus, maka sama seperti Yesus mati, maka saya pun akan mati. Tetapi Yesus tidak hanya mati, Dia juga bangkit dari antara orang mati. Maka sepasti Dia bangkit dari antara orang mati, maka saya pun akan bangkit juga dari antara orang mati. Yesus juga tidak hanya bangkit, tetapi Dia juga naik ke surga. Maka sepasti Yesus naik ke surga, maka saya pun akan naik ke surga. Yesus diterima Allah di surga dan menempati tempat yang tehormat (Ia duduk di sebelah kanan) maka saya pun akan menempati tempat terhormat di sana. Semuanya karena Yesus Kristus.
 Rasa-rasanya apa yang saya harapkan itu adalah sebuah impian atau sebuah angan-angan yang tanpa dasar! Apakah demikian? Apakah dasarnya saya memiliki pengharapan seperti itu? Penulis surat Ibrani yang sudah kita kutip ayatnya di atas mengatakan bahwa dasarnya ialah iman itu sendiri.
Karena iman itu sendiri adalah dasar dari pengharapan saya, maka untuk itu, kita harus memahami apa arti dari kata iman itu dalam bahasa yang dipakai Alkitab. Kata itu dalam bahasa Yunani adalah ‘pistis’. Kata kerja untuk kata itu adalah ‘pisteuo’  menunjuk kepada: satu keyakinan yang kokoh bagi produk dari pengenalan akan wahyu Allah cf. II Tes.2:11-12, satu penyerahan diri kepada Dia, (Yoh.1:12),  satu perilaku karena penyerahan diri kepada Dia (II Kor.5:7); juga mengandung sebuah jaminan (Kis. 16:31).[2] Dari pengertian berdasarkan kamus di atas, kita dapat yakin bahwa apa yang kita katakan tentang pengharapan kita itu bukan sesuatu fantasi, sesuatu isapan jempol, suatu impian. Iman adalah sebuah jaminan, sebuah dasar dari yang kita harapkan.
Karena iman itu adalah sebuah keyakinan yang kokoh terhadap satu hal yang kita lihat dan kenal, sesuatu yang diwahyukan kepada kita oleh Roh Kudus. Iman itu merubah perilaku kita, sehingga kita menyerahkan diri kepada Dia yang kita imani, yaitu Yesus Kristus. Di sini bisa saja orang berbeda di dalam penerapan akan iman itu di dalam kehidupan, sekalipun gereja kita sama. Ada orang yang saya tahu dia adalah seorang pekerja yang baik di gereja, tetapi dia tidak memiliki jaminan tentang keselamatannya. Kami sama-sama Protestan, satu atap gerejanya tapi kandungan iman kami berbeda. Saya yakin tentang keselamatan, sementara dia tidak punya jaminan akan keselamatan.
Pertanyaan sekarang, mengapa kita bisa berharap seperti itu? Hal itu muncul karena apa yang dikerjakan Kristus di kayu salib. Maka kita akan menyoroti apa yang  dikerjakan Kristus bagi kita. Rasul Paulus mengatakan dalam II Kor.5:21 “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.”  Tatkala Yesus mati di kayu salib, Allah mengangkut dosa seluruh dunia ini – termasuk di dalamnya dosa saya – dan menimpakannya di pundak Yesus. Karena Dia telah berubah menjadi dosa – tetapi tetap tidak berdosa – maka Dia harus mati. Latar  belakang dari ide yang diutarakan Paulus di sini ialah ibadah korban di PL.
Tatkala  korban dipersembahkan di mezbah korban bakaran, maka orang Israel memahami bahwa ada transferensi terjadi di sana. Keberdosaan orang yang mempersembahkan korban itu ditransfer kepada korban, sementara ketidakbercacat-celaan korban di transfer kepada orang yang mempersembahkan korban itu. Korban jadi dosa. Upah dosa ialah maut. Karena itu korban itu harus disembelih. Korban jadi mati, tetapi orang yang meperembahkan korban hidup. Yesus menggenapi apa yang ditunjuk oleh ibadah itu di kayu salib. Keberdosaan kita ditransfer kepada Yesus, sementara ketidakberdosaan Kristus di transfer kepada kita. Jadi kematian Yesus di kayu salib itu adalah dalam rangka menanggung dosa seluruh manusia yang pernah ada dan yang akan ada di dunia ini, selama dunia ini masih ada, seberapa pun jumlah penduduknya.
Dengan matinya Yesus di kayu di salib dan di kayu salib itu Dia berkata ‘sudah genap’, maka genaplah keberadaan Kristus yang tidak ada cacat celanya itu ditrasnfer kepada kita yang percaya. Selanjutnya Paulus mengatakan bahwa kita dibenarkan Allah, sebagai akibat dari kematian Kristus itu. Kata dibenarkan di dalam bahasa Yunani maksudnya ialah dilihat Allah sebagai orang benar. Sebagai orang yang tidak berdosa. Itulah yang kita aminkan di dalam iman kita kepada Allah di dalam Yesus Kristus. Allah mengatakan kita sebagai orang benar, kita mengatakan ‘ya’ untuk pernyataan Allah itu. Alkitab dalam bh Inggris ( KJ ) menerjemahkan kalimat terakhir itu agak berbeda dengan Alkitab. KJ menerjemahkan ayat itu sbb :  For he hath made him to be sin for us, who knew no sin; that we might be made the righteousness of God in him”. (garis tebal dari saya). Jika Alkitab mengatakan ‘kita dibenarkan Allah di dalam Dia’, KJV mengatakan kita menjadi kebenaran Allah di dalam Dia. Bibel juga mengatakan hal yang sama. “Ai on do dipatupa Debata: Humongkop hita gabe dosa Ibana, na so tumanda dosa, asa gabe hatigoran ni Debata hita di bagasan Ibana.(garis tebal dari saya). Kedua anak kalimat yang digaris bawahi sama artinya. Ada perbedaan yang tajam antara apa yang diutarakan Alkitab dan apa yang dikatakan Bibel dan KJV. Jika yang kedua kita amati, Allah bukan hanya membenarkan kita, sebagaimana diutarakan Alkitab, tetapi Allah membuat kita menjadi kebenaran-Nya. Dengan melihat kita orang beriman, maka orang lain akan mengatakan Allah itu benar. Bukti dari kebenaran Allah adalah orang-orang yang beriman kepada-Nya. Luar biasa, Allah membuat kita menjadi bukti dari kebenaran Dia menyelamatkan manusia. Ajaib. Sungguh luar biasa.
Kristus mati untuk kita, tetapi Dia bukan hanya mati bagi kita, Dia juga bangkit bagi kita. Dengan kebangkitan-Nya itu Yesus membuktikan kepada dunia, bahwa alam maut tidak dapat menahan dia di dalam maut itu. Dengan jalan demikian, kita pun tidak dapat di tahan alam maut agar tetap di dalam dia, jika kita mati satu hari kelak. Sepasti Yesus mati, satu hari kelak kita pun akan mati. Tetapi tidak berhenti sampai di sana, sepasti Yesus bangkit dari antar orang mati, sepasti itu pula kita akan bangkit dari antara orang mati. Itulah isi dari iman kita.
Kebangkitan Yesus dari antara orang mati menandakan kepada kita, bahwa ada satu kehidupan lain yang dapat dialami manusia. Seperti yang kita tahu bersama, Yesus adalah manusia seratus persen dan Allah seratus persen. Tatkala Ia bangkit, berarti manusia dapat menjalani kehidupan yang lain dari pada kehidupan yang dikenal manusia sekarang ini. Kita satu hari kelak akan tinggal di surga, sama seperti Kristus tinggal di Surga sekarang ini.
Melalui kebangkitan-Nya itu Yesus membentuk satu keluarga baru bagi kemanusiaan. Hal itu diutarakan Paulus di dalam I Kor.15:45-49 “Seperti ada tertulis: "Manusia pertama, Adam menjadi makhluk yang hidup", tetapi Adam yang akhir menjadi roh yang menghidupkan. Tetapi yang mula-mula datang bukanlah yang rohaniah, tetapi yang alamiah; kemudian barulah datang yang rohaniah. Manusia pertama berasal dari debu tanah dan bersifat jasmani, manusia kedua berasal dari sorga.”  
Adam adalah kepala keluarga pertama di dunia ini. Kita semua adalah keturunannya. Yesus pun secara manusia termasuk ke dalam keturunan Adam. Tetapi dengan kebangkitan-Nya dari antara orang mati, Dia tidak lagi masuk ke dalam keluarga Adam. Dia menjadi kepala keluarga yang baru. Paulus mengatkan Yesus dengan sebutan Adam yang terakhir dalam ayat 45, tetapi dalam ayat 47 Paulus menyebut Dia Manusia ke dua. Itu berarti Ia menjadi kepala keluarga kemanusiaan yang baru. Anggota keluarga yang baru itu adalah kita. Di tempat lain, Paulus menyebut Yesus sebagai ‘yang sulung’ (Rom.8:29). Jika ada yang sulung itu berarti ada yang berikutnya. Anak-anak yang datang berikutnya ialah orang-orang beriman. Semua itu dilakukan Yesus bagi kita. Itulah kandungan iman kita.
Melalui kebangkitan-Nya itu, Yesus dapat hidup di dalam kita orang yang beriman melalui Roh Kudus. Yesus mengatakan bahwa adalah lebih berguna bagi kamu jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku  tidak pergi, Penghibur itu  tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu. (Yoh.16:7). Kedatangan Roh Kudus di dalam kehidupan kita adalah perwujudan dari kedatangan Kristus di dalam hidup kita. Ia hidup di dalam kita. Di tempat lain Paulus mengatakan : “ namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku”. Itulah kandungan iman kita.
Kristus juga naik ke surga untuk menyediakan tempat bagi kita. Dan dari Ia sana akan datang kelak untuk menjemput kita, supaya di mana Dia ada, di sana pun kita ada. Itulah firman Yesus bagi kita. Kita meng’amin’kannya. Mengatakan bahwa yang dikerjakan Kristus itu ya bagi kita. Itulah yang kita percayai. Kita seharusnya menggarisbawahi apa yang dikatakan Tuhan Yesus dalam ayat itu, yakni “supaya di mana Aku ada, di situ pun kamu ada”. Kristus melakukan semuanya itu untuk kita.
Di samping itu kita juga mendapatkan manfaat iman itu di dalam hidup ini. Hasil dari iman sangat indah digambarkan Paulus di dalam Rom 5:1-5 “Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus.  Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah. Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita. kita berdamai dengan Allah.” 
Hasil dari iman kita Paulus utarakan di sini, yang pertama ialah  berdamai dengan Allah. Berdamai dengan Allah itu berarti kita tidak lagi punya masalah dengan Allah. Banyak orang yang punya masalah dengan Allah, dosa belum selesai juga tidak dapat menerima diri sendiri. Jika orang telah berdamai dengan Allah, itu berarti dia berdamai dengan diri sendiri, berdamai dengan orang lain. Pada hakekatnya yang dibutuhkan orang dewasa ini ialah perdamaian dengan Allah.
Hal lain yang diungkapkan Rasul Paulus, orang beriman itu memiliki jalan masuk ke dalam kasih karunia Allah. Kasih karunia Allah, dalam bahasa Ibrani adalah ‘rekhem’. Padanan kata itu di dalam bahasa Arab ialah rakhim. Cf. “bismillahi rohmani rohim” yang artinya dalam nama Allah yang pemurah dan penyayang. Dalam budaya Timur Tengah zaman dahulu,  tempat yang paling aman dan yang menyenangkan di seluruh dunia ialah rahim. Allah punya ‘rahim’ (kasih karunia), lalu kita punya akses masuk ke dalam kasih karunia. Akses itu adalah iman kita.
Di dalam rahim Allah itu kita berdiri untuk menerima kemuliaan Allah. Dunia menawarkan kemuliaan yang sementara, namun kita, karena iman, menerima kemuliaan yang tak terbayangkan (Rom.8:18). Jika kemuliaan seperti itu yang akan kita terima dari Allah, maka jalan untuk menerimanya hanyalah iman.
Produk dari iman bukan hanya itu, kesengsaraan pun adalah bagian dari iman Kristen. Tuhan Yesus mengatakan dalam Yoh.16:33 :” … Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.”  Orang Kristen akan bermegah di dalam penderitaan itu, karena penderitaan itu akan membawa ketekunan, ketekunan membawa tahan uji, dan tahan uji akan menimbulkan pengharapan. Sementara pengharapan Kristen tidak mengecewakan. Itu adalah hasil dari iman yang kita punya di dalam Yesus Kristus.

Mengapa harus beriman?
Inilah pertanyaan kita yang kedua. Saya beriman, karena itu adalah  satu kebutuhan. Saya orang berdosa yang membutuhkan keselamatan dari dosa. Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah. (Rom.3:23). Juga dikatakan bahwa upah dosa ialah maut (Rom 6:23). Manusia membutuhkan keselamatan dari  dosa. Jalan keluar yang dikatakan Alkitab ialah beriman kepada Yesus Kristus. Karena itu saya harus beriman kepada Yesus Kristus, agar saya selamat.
Sisi lain mengapa saya harus beriman ialah: karena imanlah yang membuat saya berkenan kepada Allah. Hal itu dikatakan penulis surat Ibrani, dalam Ibr.11:6 “Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia”. Sangat jelas dikatakan nas di atas, bahwa imanlah yang membuat kita berkenan di hadapan Allah. Karena itu saya harus beriman, agar hidup saya berkenan kepada Allah.
Di tempat lain Rasul Paulus mengatakan bahwa segala sesuatu yang dilakukan tanpa iman adalah dosa. Jadi orang yang tidak beriman kepada Kristus adalah orang yang hidup di dalam dosa. Hal itu juga dikatakan Yesus di dalam Yoh.16:9 “…akan dosa karena mereka tetap tidak percaya kepada-Ku”. Karena itu iman adalah perkara yang dituntut Allah dari dalam kehidupan manusia. Tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Karena itu kita harus beriman kepada Allah di dalam Yesus  Kristus Tuhan kita.

Bagaimana Saya Dapat  beriman
Seseorang dapat beriman bukan karena kemampuannya sendiri. Rasul Paulus mengatakan di dalam Ef 2:8-9 :” Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri”. Iman adalah kasih karunia Allah. Itu bukan karena usaha kita, tetapi karena kasih karunia Allah. Di dalam kasih karunia-Nya, Allah telah memilih orang-orang yang akan dipanggil-Nya untuk beriman kepada Yesus Kristus Anak-Nya yang Tunggal. Jadi manusia tidak akan ada yang beriman kepada Kristus, dari dalam dirinya sendiri. Tuhan Yesus mengatakan bahwa tidak ada seorang pun datang kepada-Nya, kecuali hatinya ditarik oleh Bapa yang mengutus Dia. Di tempat lain Paulus mengatakan bahwa tidak ada seorang pun dapat mengaku Yesus adalah Tuhan, kecuali Roh Kudus yang mengatakannya. Jelaslah bagi kita sekarang, seseorang dapat beriman karena Tuhan Allah yang membuatnya beriman. Nyanyian dalam KJ omor 387 : 2 mengungkapkan juga hal yang sama :”Ku heran, oleh rahmat-Nya hatiku beriman dan oleh kuasa sabda-Nya jiwaku pun tentram”.
Alangkah bahagianya kita sekarang ini, kita diberi kesempatan untuk beriman. Dari antara bermilyard-milyard manusia di dunia ini, aku dibuat Allah menjadi  orang yang beriman dan mendapat bagian dalam apa yang ditentukan-Nya menjadi bagian dari orang-orang kudus.


Kapankah saya beriman
Sudah kita katakan di atas, kita beriman kepada Allah karena Dia yang mengaruniakan iman itu kepada kita. Jadi kapankah saya beriman kepada-Nya? Dari sudut pengalaman saya berkata, kita beriman kepada Allah tatkala Ia membukakan mata hati saya untuk melihat apa yang telah dikerjakan Yesus bagi saya. Namun perlu ditambahkan segera, bahwa bukanlah itu titik awal keberadaan saya di hadapan Allah. Ia telah memilih saya sebelum dunia dijadikan (Ef1:4).

Dimana Iman itu bisa terlihat
Iman kita dapat terlihat tatkala iman itu direalisasikan dalam perbuatan. Iman tanpa perbuatan kata Rasul Yakobus adalah mati (Yak 2:17). Kita sudah bicarakan tentang apa isi dari iman. Jika kita katakan bahwa Kristus hidup bagi kita maka Ia memang hidup di dalam kita. Jika Ia hidup di dalam kita, maka Ia pasti akan bertindak melalui kita. Iman pasti beritndak. Iman senantiasa berbuat sesuatu. Dalam Ibrani 11 kita baca daftar pahlawan iman yang berbuat sesuatu. Penulis Ibrani mengatakan :
32 ”Dan apakah lagi yang harus aku sebut? Sebab aku akan kekurangan waktu, apabila aku hendak menceriterakan tentang Gideon, Barak, Simson, Yefta, Daud dan Samuel dan para nabi, 33 yang karena iman telah menaklukkan kerajaan-kerajaan, mengamalkan kebenaran, memperoleh apa yang dijanjikan, menutup mulut singa-singa, 34 memadamkan api yang dahsyat. Mereka telah luput dari mata pedang, telah beroleh kekuatan dalam kelemahan, telah menjadi kuat dalam peperangan dan telah memukul mundur pasukan-pasukan tentara asing”. (11:32-34). Ungkapan peniulis Ibrani itu memperlihatkan kepada kita apa saja yang dapat dilakukan oleh orang beriman. Pemazmur, orang kudus dalam PL mengatakan apa yang dapat dilakukannya sebagai orang beriman, “Dengan Allah akan kita lakukan perbuatan-perbuatan gagah perkasa, sebab Ia sendiri akan menginjak-injak para lawan kita” (Mzm.60:14). Itulah perbuatan besar orang-orang beriman.
Iman pada dasarnya memiliki dua sisi, sama seperti mata uang yang punya dua sisi. Sisi yang satu adalah percaya, sementara sisi yang lainnya ialah taat. Atau dengan perkataan lain bertindak. Tidak ada iman yang benar, jika tidak disertai perbuatan atau ketaatan. Dietirch Bonhoeffer mengatakan :”hanya mereka yang percaya yang taat, dan hanya yang taat yang percaya”. ( Cost of Discipleship, SCM Press, 1956) Gambaran dari iman yang sesungguhnya
Orang yang beriman adalah orang-orang yang berkarya. Di sepanjang zaman hal itu terlihat. Namun mereka berbuat bukan sebagai alat untuk mendapatkan keselamatan, melainkan sebagai alat untuk menunjukkan syukur kepada Allah yang telah membuat mereka beriman, dan di dalam iman itu mereka mewarisi kemuliaan Allah. Segala  kemuliaan bagi Allah di tempat maha tinggi.


[1] Disampaikan dalam persekutuan karyawan PT Johnson, tgl. 7 April 2006
[2] W.E. Vine, An Expository Dictionary of New Testament Words, 1966

12/07/11

Makan



M A K A N

“Dan orang akan datang dari Timur dan Barat dan dari Utara dan Selatan dan mereka akan duduk makan di dalam Kerajaan Allah” Lukas 13:29.

Makan bagi orang Israel adalah satu acara yang sangat penting. Acara itu adalah salah satu ritus keagamaan yang sangat diperhatikan oleh orang yang memelihara kebenaran keagamaan. Dalam mempersiapkan makan, orang akan mempersoalkan apakah makanan yang disajikan itu telah melalui ritus yang harus dilakukan. Di samping itu, tentunya apakah makanan itu adalah makanan yang halal, dan tidak najis. Di zaman Tuhan Yesus, orang Farisi yang sangat kekat di dalam menerapkan Hukum Taurat, sangat memperhatikan masalah makan. Mereka tidak akan makan bersama dengan orang yang mereka tidak kenal. Hanya orang-orang yang masuk ke dalam komunitas mereka yang akan diajak makan bersama.

Orang Farisi salah satu gerakan keagamaan yang hidup di zaman Tuhan Yesus, sangat memperhatikan penerapan hukum Taurat hingga hal-hal yang paling kecil, termasuk masalah makan. Sebelum mereka makan, senantiasa ada upacara pembersihan tubuh lebih dahulu. Hal itu disebabkan makanan yang akan dimakan haruslah tahir, bersih. Untuk upacara pembersihan itu mereka menyimpan air di dalam bak yang dipahat dari batu. Ada pemahaman mereka bahwa batu itu tidak membuat kotor air yang ditampungnya. Sedemikian teliti mereka memperhatikan persiapan untuk makan. Inilah yang membuat acara acara makan adalah acara yang sangat penting. Hal itu memerlukan persiapan yang sungguh-sungguh serius.

Ini juga menjadikan apa yang dipercakapkan di waktu makan adalah masalah penting. Makan bersama menjadi sangat bermakna bagi orang Yahudi. Tetapi bukan hanya mereka saja. Seluruh etnis di Timur Tengah memiliki pemahaman seperti itu. Aku pernah mendengar seorang pengkhotbah menuturkan kisah tentang makan di kalangan orang Arab nomaden di sana. Seorang ibu pada satu pagi keluar dari kemahnya menuju sumur yang ada di perkemahan mereka. Tatkala ia sampai di sumur itu, ia menemukan seorang pria tergeletak di sana dalam keadaan sekarat. Di dahinya ada serpihan mata pedang yang masih menempel.

Tergerak oleh belas kasihan, ibu tadi menolong pria tersebut. Ia menuntun pria yang sedang sekarat itu masuk ke dalam kemahnya. Ia merawat luka pria tersebut dan memberinya makan. Tak berapa lama, serombongan pria dari sukunya menggotong mayat suaminya. Kepadanya diberikan juga pedang suaminya yang sudah meninggal. Ia memperhatikan pedang suaminya yang sudah tidak utuh lagi mata pedangnya. Ia mencocokkan serpihan yang dia dapat dari dahi orang yang ditolongnya. Ternyata cocok dan pas dipadankan dengan pedang suaminya. Ia dan sesama sukunya mengambil kesimpulan: suaminya berkelahi dengan pria yang dia tolong dan pria itu yang membunuh suaminya. Hukum di Timur Tengah, juga disuarakan Hukum Musa: “mata ganti mata, gigi ganti gigi, nyawa ganti nyawa”.

Perempuan itu berhak untuk membunuh pria tersebut, karena ia telah membunuh suaminya. Namun ada masalah bagi dia. Ia telah memberi pria itu makan. Makanan yang ada di dalam perut pria itu, sama dengan makanan yang juga ada dalam perut wanita tadi, sebab mereka telah makan bersama. Pemahaman mereka, makanan itulah yang  membuat mereka hidup. Pemahaman seperti itu membuat mereka melarang untuk membunuh orang tersebut yang telah makan bersama mereka. Sebab jika orang tersebut dibunuh, itu sama saja artinya membunuh diri sendiri. Sedemikian dalam pemahaman mereka tentang makan.

Makan bersama mempunyai arti menikmati hidup yang kwalitasnya sama dengan orang yang menyediakan makanan tersebut. Pemahaman ini membuat orang di Timur Tengah tidak sembarang mau makan bersama seseorang yang mereka tidak kenal. Bagi orang Farisi yang sudah kita bicarakan di atas, mereka hanya mau makan dengan orang yang sekelas dengan mereka. Makan bersama juga menandakan orang yang diundang makan itu adalah orang yang dihormati. Itulah sebabnya orang Farisi sangat marah melihat Yesus yang dianggap sebagai rabbi, makan bersama dengan orang berdosa dan pemungut cukai. Kedua kelas masyarakat ini, menurut anggapan orang Farisi, mereka adalah masyarakat yang paling berdosa, oleh karena itu harus dihindari.

Kebalikan dari pemahaman orang Farisi tersebut, Yesus justru mau makan dengan semua orang yang disingkirkan dari pergaulan keagamaan. Pemungut cukai, pelacur dan orang berdosa lainnya diterimanya duduk bersama dengan Dia dan makan bersama. Setiap orang yang diundang makan bersama oleh seorang public figure tentunya menjadi satu kehormatan tersendiri. Hal seperti itu di zaman ini juga masih berlaku, apalagi di masa ribuan tahun yang lalu. Kesediaan Tuhan Yesus untuk makan bersama di rumah orang berdosa menjadi sesuatu yang sangat bermakna bagi mereka yang disingkirkan masyarakat agamis itu.

Dengan makan bersama orang orang berdosa, Yesus menjungkirbalikkan pemahaman orang pada zaman-Nya tentang kehormatan. Sebab hanya orang yang dihormatilah yang diundang untuk makan bersama. Dalam masyarakat seperti zaman Tuhan Yesus hidup, tidak ada kehormatan bagi orang berdosa. Mereka dianggap bukan sebagai anggota masyarakat agamis. Berbanding terbalik dengan apa yang dianggap orang banyak, Yesus menerima orang berdosa sebagai satu pribadi yang terhormat. Yesus menerima mereka bukan karena perilaku mereka sendiri, tetapi karena mereka adalah manusia. Dosa tidak boleh membuat manusia itu tidak lagi manusia. Ia tetap manusia. Hal ini sangat membesarkan hati dari setiap orang yang turut ambil bagian satu meja dengan Tuhan Yesus.

Apa yang dilakukan Tuhan Yesus pada waktu itu, sungguh satu kabar baik bagi banyak orang berdosa di masyarakat. Berita itu tersiar ke seantero wilayah itu. Hal yang sama pada hakekatnya kita dapat lakukan di dunia ini. Bagi kita sekarang, makan bersama dengan Tuhan dinyatakan dalam Perjamuan Kudus. Anehnya, Gereja sekarang ini pun membatasi orang yang boleh makan bersama dengan  Tuhan Yesus. Kita juga sama seperti orang Farisi, kita menolak orang berdosa untuk makan bersama Tuhan. Kita juga menolak anak-anak datang makan bersama dengan Tuhan. Sungguh sangat bertentagan dengan apa yang dilakukan Tuhan ribuan tahun yang lalu. 

Kita yang menamakan diri sebagai pengikut Kristus, pada hakekatnya harus dapat mengundang orang berdosa untuk makan bersama kita di rumah Tuhan, juga di rumah kita masing masing. Tentunya seturut kemampuan kita. Penulis surat Ibrani menasihati jemaat untuk suka memberi tumpangan kepada orang asing. Ia menekankan di dalam suratnya itu, ada orang yang menjamu malaikat yang mengambil rupa sebagai orang asing yang diberi tumpangan oleh tuan rumah. Sebelum kita benar-benar melakukannya, maka diperlukan persiapan yang matang, agar kita dapat memiliki satu pemahaman yang sangat kental akan makna makan bersama di dalam kehidupan keluarga kita. Pengajaran yang terus menerus dan dipraktekkan membuat terciptanya pemahaman yang diharapkan itu.

Salahkah jika bermimpi satu hari kelak, ada beberapa orang Kristen yang mengatakan dalam doa: “berilah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya” mewujudkannya dengan memberi tempat kepada seorang anak yatim piatu untuk duduk di meja makan mereka. Itu berarti anak yatim itu akan menikmati hidup bersama dengan orang tua asuh mereka. Sekarang ini, anak asuh wujudnya memberi sejumlah uang kepada seorang anak untuk melanjutkan sekolahnya. Yang dibiayai bukanlah seluruh kehidupan anak tersebut, melainkan sebagian kecil dari kehidupannya. Itu pun pada hakekatnya harus disyukuri. Namun pemberian itu belumlah dalam artian makan bersama, sebagaimana telah kita utarakan makna rohaninya di atas.

Sayang, kehidupan modern yang kita jalani sekarang ini, telah membuat hidup kita sangat terkotak-kotak. Orang yang tinggal serumah pun sudah jarang makan bersama disebabkan kesibukan yang amat sangat. Ada orang bilang, orang Yahudi orthodoks hingga hari ini masih menyediakan satu piring kosong untuk Elia, tatkala mereka makan malam. Jika anak kecil keluarga dengan sembarangan duduk di kursi yang tersedia, orang tuanya akan mengingatkan anak tersebut. Nak, kursi itu disediakan untuk Elia, jangan-jangan ia datang dan belum makan. Meja makan dijadikan sebagai mezbah untuk beribadah kepada Allah. Waktu makan menjadi satu kesempatan untuk menanamkan pengajaran iman kepada generasi penerus. Alangkah indahnya.

Zaman memang sudah berubah. Jika kita mengenang masa kecil, semua anggota keluarga telah duduk bersama di sekeliling meja makan, barulah makan bersama dilakukan. Ibu yang membagikan makanan ke masing-masing piring yang ada di hadapan kita. Setelah semua terhidang, maka ucapan syukur dinaikkan kepada Allah untuk makanan yang telah tersedia. Aku pernah melihat keluarga Kristen di Amerika saling berpegangan tangan di dalam menaikkan doa syukur tersebut. Kepala keluarga yang menaikkan syukurnya kepada Allah untuk makanan dan minuman yang tersedia. Suasana makan bersama seperti yang diuraikan di atas menjadi gambaran yang dipakai Alkitab untuk menggambarkan akan apa yang terjadi di masa kekekalan kelak, tatkala Tuhan telah datang untuk menghakimi semua umat manusia seturut Injil-Nya.

Nas kita membicarakan adanya perjamuan makan di akhir zaman. Orang yang akan turut ambil bagian di dalam perjamuan makan itu berasal dari segala penjuru mata angin. Itu berarti dari segala tempat yang ada di dunia ini. Kitab Wahyu menyuarakan dari segala etnis, suku kaum dan bahasa. Itu tidak ada satu pun suku yang ada di dunia ini yang tidak turut ambil bagian di dalam makan bersama tersebut.

Pada waktu itu, seluruh umat manusia berada dalam satu keluarga, yakni keluarga Allah. Semua makan bersama dengan Allah. Hal makan bersama ini telah disuarakan Tuhan Yesus di dalam kitab Wahyu. “Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku” Why 3:20. Jika Tuhan di dunia ini telah mengundang kita makan bersama dengan Dia dalam Perjamuan Kudus, bagaimana mungkin Ia tidak mengundang kita untuk makan bersama dengan Dia dalam kerajaan-Nya yang kekal? Di sini kita telah jadi anak-Nya, menurut Paulus, tidak ada yang dapat memisahkan kita dari kasih Allah yang ada di dalam Kristus (Rom 8:38-39).

Makan bersama bisa menjadi jalan bagi kita untuk membagikan Injil kepada sesama kita. Tidak semua kita dapat memberitakan Injil dengan perkataan. Tetapi kita semua dapat memberitakan Injil dengan perbuatan. Tatkala menuliskan renungan ini, di relung hari ini terbersit syair dari satu puisi yang sangat aku kagumi. Sebagian dari lrik syair yang tidak tahu siapa pengarangnya berbunyi:

The eye’s a better pupil and more willing than the ear;
Fine counseling is confusing, but example’s always clear.
The best of all the preachers are the men who live their creed;
For to see the good in action is what everybody needs.
I can soon learn how to do it if you let me see it done.
I can watch your hands in action, but your tongue too qiuck may run

Mengundang orang makan bersama dengan kita di dalam rumah, dapat menjadi kabar baik bagi sesama yang belum mengenal Injil Yesus Kristus.

Selamat mecoba!



Gunung



G U N U N G

Adakalanya simbol lebih baik mengungkapkan sesuatu dari pada kata-kata. Orang yang jatuh cinta mengungkapkan isi hatinya pada sang pujaan dengan simbol tertentu. Orang Barat mengatakan: “say it with flower”  Tatkala kembang diberikan, maka melalui kembang tersebut, dicurahkan juga berjuta-juta kata yang punya makna. Lirik lagu pop Indonesia pada tahun 80- an mengutarakannya: :”Jatuh cinta berjuta rasanya”.

Hari ini aku merenungkan makna gunung sebagai simbol. Tentunya, kosa kata ini pun memiliki makna rohani yang dalam. Alkitab banyak berbicara tentang gunung. Pemazmur mengatakan bahwa Tuhan adalah gunung batu bagi dia. Dari literatur yang aku baca, di padang gurun sering terjadi badai gurun. Jika hal ini terjadi, maka sebuah gunung pasir, dapat pindah oleh badai gurun tersebut. Tatkala badai gurun itu datang, orang yang ada di padang gurun itu bisa selamat, jika ia berlindung di sebuah gunung batu. Pengalaman kongkrit seperti itu membuat pemazmur mengatakan bahwa Allah itu adalah gunung batu bagi dia.

Hal yang sama diutarakan oleh Vernon J. Charlesworth dalam syair nyanyian KJ Nomor 440:
Di  badai topan dunia, Tuhanlah perlindungamu,
kendati goncang semesta, Tuhanlah perlindunganmu.
Ya Yesus Gunung batu di dunia, di dunia, di dunia,
 ya Yesus Gunung Batu di dunia
tempat berlindung yang teguh.

Para peziarah pun menyuarakan tentang gunung, sebagaimana diutarakan pemazmur dalam Mzm 121:1 “Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung; dari manakah akan datang pertolonganku”? Gunung digambarkan sebagai tempat kediaman para dewa. Orang Yunani kuno percaya para dewa mereka tinggal di gunung Olimpus. Dari atas gunung itu para dewa melihat ke bawah ke permukiman manusia. Itu sebabnya para dewa itu juga mereka sebut sebagai penilik umat manusia. Pemazmur memiliki keyakinan yang sangat berbeda dengan orang lain. Ia tidak menaruh harapan kepada dewa-dewa yang tinggal di gunung tersebut. Ia hanya berharap kepada Tuhan yang ada di atas segala gunung yang ada di dunia ini. Di sini gunung dilihat sebagai sesuatu yang tidak membawa apa-apa di dalam hidup.

Orang Israel pun memahami gunung adalah tempat kediaman Allah, sebab Bait-Nya yang kudus didirikan di atas Bukit Moria. Allah sendiri yang memilih tempat itu sebagai tempat mempersembahkan korban bagi Dia. Untuk pertama kalinya Abraham mempersembahkan korban bakaran bagi Allah di gunung tersebut. Pengalaman Abraham ini membuat adanya ungkapan yang dihayati orang Israel: ”Di atas gunung TUHAN akan disediakan”. Kita memahami makna dari ungkapan tersebut. Tuhan sendirilah yang menyediakan korban bakaran bagi Dia atas gunung, dimana korban seharusnya dipersembahkan kepada-Nya. Korban bakaran maknanya ialah: penyerahan diri secara total kepada Allah. Hal itu diwujudkan dengan terbakarnya seluruh korban itu di altar yang telah disediakan untuk itu.

Gambaran yang diungkapkan kepada kita ialah: Allah sendirilah yang menyediakan apa yang kita perlukan untuk menyenangkan hati-Nya di dalam hidup ini. Itulah yang menjadi renungan bagi kita, jika kita memikirkan tentang gunung Tuhan. Ia yang menyediakan apa yang perlu bagi kita di dalam rangka menyenangkan hati-Nya. Allah melakukannya di dalam diri kita dengan jalan Roh Kudus tinggal di dalam kita, serta menuntun kita berjalan di dalam roh, sebagaimana diajarkan Paulus kepada kita.

Kita juga mengenal gunung lain di dalam kitab Keluaran, yakni gunung Horeb, atau gunung Sinai. Di gunung ini Tuhan mengikat perjanjian dengan umat Israel. Di sana hukum diberikan kepada bangsa itu, wujud dari perjanjian tersebut ialah: Israel umat Allah, Yahweh jadi Allah mereka. Orang Yahudi memahami peristiwa di gunung Sinai ini adalah ritus pengangkatan mereka sebagai anak Allah. Di gunung itu mereka menerima janji Allah. Di sisi lain, Paulus mengatakan: kita adalah keturunan Abraham oleh karena Yesus Kristus! Itu berarti karena iman kepada Yesus Kristus, aku pun turut serta dalam perjanjian Allah dengan umat pilihan. 

Gunung Nebo membawa kisahnya sendiri di dalam perjalanan iman. Di sana Musa memandang seluruh tanah perjanjian yang dijanjikan Allah kepada Abraham untuk diwarisi. Di sana pula terjadi serah terima kepemimpinan antara Musa dan Yosua. Tatkala kita memandang kepada gunung-gunung yang ada di dunia ini, Nebo berbicara tentang pandangan terhadap apa yang dijanjikan Allah bagi umat Allah. Janji itu pun harus diteruskan ke generasi penerus, sehingga mereka menduduki apa yang dijanjikan Allah bagi umat-Nya.

Gunung Sion menyuarakan persekutuan umat dengan Allahnya. Di sana terdapat Bait Allah Yang Kudus. Yesus mengatakan bahwa akan tiba masanya orang tidak lagi beribadah di gunung itu, sebab Allah adalah roh. Namun, gunung itu tetap menyuarakan persekutuan Allah dengan umat-Nya. Di Bait Allah yang ada di gunung Sion, orang menikmati persekutuan dengan Allah. Persekutuan itu sangat indah digambarkan dengan jalan makan bersama dengan Allah di pelatarannya. Sebab begitulah diajarkan Musa kepada orang Israel dalam kitabnya. Itulah sebabnya orang beriman dalam melakukan ibadahnya seharusnya sama seperti yang dilakukan Gereja Purba, beribadah kepada Allah dalam Perjamuan Kudus, makan bersama dengan Tuhan.

Gunung Kemuliaan juga mengajarkan sesuatu di lubuk hati ini. Di sana Tuhan Yesus dipermuliakan. Kepada para murid dipertunjukkan kemuliaan Kristus Tuhan, tatkala Ia masih di dunia ini. Kemuliaan pelayanan-Nya menjadi sorotan orang beriman. Bukankah pelayanan-Nya ialah: mati bagi orang berdosa? Dari sana aku menarik kesimpulan bahwa penderitaan adalah kemuliaan bagi orang yang jadi hamba, sama seperti Tuhan itu sendiri disebut sebagai hamba. Gereja Purba menyanyikan hal itu di dalam ibadah mereka Cf Flp 2:5-11. 

Bukit Zaitun berbicara tentang pengutusan. Tuhan Yesus sebelum naik ke surga, Ia mengutus murid-murid itu untuk memberitakan Injil ke seluruh dunia. Bukit Zaitun pun berbicara tentang kuasa. Sebab di sana Kristus mengatakan: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi”. Pengutusan itu di back up oleh kuasa dari surga dan di bumi. Itu berarti kita diperlengkapi dengan segala sesuatu yang kita butuhkan dalam rangka melakukan tugas yang diembankan di atas pundak.

Adalagi satu gunung yang berbicara tentang kemuliaan Allah di dalam persekutuan. Pemazmur berbicara tentang gunung Hermon. Pemazmur melihat embun gunung Hermon yang mengalir ke Bukit Soin. Pada mulanya aku tidak melihat kaitan dari embun itu ke Bukit Sion, karena jaraknya yang cukup jauh. Sampai tiba saatnya aku sendiri mengunjungi gunung Hermon. Mata ini melihat embun itu turun dari puncak gunung! Seorang yang berziarah ke satu tempat demi menemukan pencerahan akan melihat embun yang turun itu seperti embun kemuliaan Allah. Orang Israel menyebutnya dengan Syekinah. Embun itu turun dan hinggap di tubuh si pemazmur. Ia merenungkan hal itu. Mata hatinya melihat seolah-olah kemuliaan Allah turun ke atas dirinya. Ia pun akan pulang ke Sion. Ia akan membawa kemuliaan Allah itu ke dalam persekutuan mereka yang ada di Sion. Itulah sebabnya pemazmur itu mengatakan embun gunung Hermon mengalir ke Bukit Sion. Hal yang sama menjadi renungan pribadiku di kaki gunung Hemon tersebut.

Kemuliaan Allah tidak hanya dinikmati oleh pribadi. Kemuliaan itu diberikan kepada pribadi dalam rangka dibagikan ke dalam persekutuan. Itulah kemuliaan Allah yang diberikan-Nya kepada tiap-tiap pribadi yang telah berjumpa dengan Dia secara pribadi. Banyaklah gunung yang dapat dilihat dan dapat ditimba pelajaran yang berharga dari tiap-tiap gunung tersebut. Kita juga mendengar berita tentang gunung Gerizim dan gunung Ebal. Dimana berkat dan kutuk disuarakan oleh suku-suku Israel atas suruhan Musa hamba Allah yang setia itu.

Aku melihatnya sebagai satu tonggak sejarah bagi umat manusia. Allah memperhadapkan manusia itu ke dalam berkat dan kutuk. Manusia harus menentukan sikapnya terhadap apa yang telah diperbuat Allah. Ia menolak atau menerima karya itu di dalam kehidupannya sehari-hari. Manakah yang aku pilih? Berkat yang disuarakan dari gunung Gerizim ataukah kutuk dari gunung Ebal. Gunung manakah yang sudah daki dalam perjalanan hidup ini. Johnson Oatman Jr menorehkan syair yang digubah menjadi lagu Kidung Jemaat nomor 400:1

Kudaki  jalan mulia tetap doaku inilah,
ke tempat tinggi dan teguh
Tuhan mantapkan langkahku.
Ya Tuhan angkat diriku,
lebih dekat kepada-Mu
di tempat tinggi dan teguh,
Tuhan mantapkan langkahku!


Rumah Allah

  Rumah Allah Ibrani 3:6 Tetapi Kristus setia sebagai Anak yang mengepalai rumah-Nya; dan rumah-Nya ialah kita, jika kita sampai kepada akhi...