11/01/17

Musik Liturgi HKBP


Makalah yang disajikan penyaji di retreat Parhalado HKBP Menteng Jakarta

MUSIK LITURGI HKBP
Harta Karun Yang Terancam Punah?
                                                                       

Ada banyak segi dari musik liturgi, tetapi dalam tulisan ini akan dipilih unsur penting dalam musik Liturgi HKBP yaitu Buku Ende (Nomor 1-373). Buku Ende tergolong musik liturgi Gereja Barat (termasuk Protestant). Sekilas, perkembangan saat ini menunjukkan musik liturgi HKBP akan segera ‘punah’ dalam arti luas. Dia diserang dari luar dan dari dalam. Buku Ende, organ (poti marende – peti bernyanyi) dinilai sudah tidak sesuai lagi dengan jaman. Selera kaum muda terutama mempunyai kebutuhan lain sesuai dengan selera musik jaman ini. Karena itu, dalam rangka “memenuhi kebutuhan jaman” maka terjadi penyesuaian, yang muncul dari luar dan juga dari dalam.
Dari luar dimasukkanlah nyanyian-nyanyian yang musik bercorak pop dan dekat dengan musik industri yang berasal dari mass culture dengan ciri hedonisme (mengutamakan kesenangan dan kepuasan). Isinya pendek-pendek dan umumnya mempunyai corak yang sama, yaitu berkaitan dengan keberadaan orang yang menyanyikan (sukacitanya, dukanya, indahnya, dan lainnya). Kebaktian dijalankan dengan istilah ‘liturgi alternatif’ atau ‘liturgi kontemporer’. Penampilannya pun disesuaikan, dimana ada song leaders dan MC (Master of Ceremony) yang selalu menafsirkan nyanyian itu dan menghangatkan suasana. Perlengkapan band pun dimasukkan mengiringi nyanyian, kalau tidak keyboard akan dimainkan sedemikian rupa sehingga memunculkan suasana khusus.
Dalam bagian lain, bagi mereka yang tidak menyanyikan nyanyian rohani pop, tetapi mempertahankan Buku Ende, terjadi perubahan dalam cara menyanyikan. Tempo dari setiap nyanyian dibuat hampir sama, sehingga semuanya terlihat mempunyai kecepatan yang sama. Bahkan ditambah lagi dengan nyanyian lain, yang bukan nyanyian pop, tetapi pada dasarnya bertentangan dengan makna teologis Buku Ende itu sendiri.
Terlihat semuanya seolah-olah tidak membawa persoalan, tetapi pada dasarnya, baik masukkan maupun perubahan di dalam, semuanyan itu mempengaruhi musik liturgi HKBP. Dengan demikian, makna dari musik liturgi yang sangat luas seginya, akan dibahas hanya sebagian kecil darinya untuk menunjukkan ‘ancaman’ tadi. Sekali lagi hendaknya disadari, corak musik yang disebutkan dalam tulisan ini adalah corak musik Barat untuk liturgi Gereja Barat (Protestant) seperti HKBP dan lainnya.

Buku Ende  Dan Pemberitaan Firman

Buku Ende memenuhi prinsip teologis akan musik liturgi, yaitu nyanyian choral dalam rangka memberitakan Firman Allah, sehingga pemberitaan keselamatan juga diberitakan melalui musik dan nyanyian. Ketika Martin Luther mengerjakan pengadaan chorale, dia menuliskan: “hal ini sebaiknya dikerjakan sehingga Injil Yesus Kristus, yang melalui rahmat Allah saat ini sedang diberitakan, dapat disebarkan di antara manusia.” Dalam suratnya pada Spalatinus, sekretaris Frederick Yang Bijaksana, Luther menulis: “Rencana kita adalah mengikuti teladan para nabi dan bapa-bapa gereja, dan mencipta mazmur bagi umat dalam bentuk yang sederhana, yaitu nyanyian-nyanyian rohani, sehingga Firman Allah tinggal di antara umat juga dalam bentuk musik.”
Kalimat singkat itu menunjukkan makna teologis dari musik liturgi itu, khususnya nyanyian dalam rangka kebaktian, yaitu hubungan antara nyanyian dan pemberitaan Firman. Untuk itulah teks dari nyanyian itu menjadi unsur yang sangat penting. Hal yang prinsip dalam pemberitaan Firman Allah melalui teks chorale terlihat dalam tiga hal: pertama, isi teks itu terutama merupakan garis vertikal yang dari atas ke bawah. Umat membutuhkan Firman yang memberi hidup itu, dan itu datang dari pihak Allah. Kedua, serentak dengan itu, teks nyanyian itu juga merupakan garis vertikal dari bawah ke atas, yaitu jawaban ucapan syukur serta pujian umat pada Allah. Ketiga, jemaat melayani sesamanya manusia melalui nyanyian itu. Seluruh  penjelasan ini dipenuhi dalam Buku Ende. Sebagai contoh, marilah kita ikuti alur dari teks nyanyian berikut, mulai dari ayat satu sampai empat, sambil memperhatikan, siapa yang berbicara pada siapa:

puji hamu Jahowa tutu
pardenggan basa
parasiroha salelengna i
pardenggan basa i. parasi roha i.

ingot tongtong, ale tondingkon
sude na denggan
na dipasonggop Debata tu ho
denggan basaNa do
na pangoluhon ho

nda tung adong pargogo tongon
na martudosan
tu Tuhan Debata di surgo i
sun hinagogo i sun hinagogo i

songkal tongtong Jahowa tongon
na marmulia
di sasude na tinompaNa i
hamuliaon ma di Tuhan Debata

Isi nyanyian di atas benar-benar merupakan pemberitaan Firman, merupakan khotbah. Setiap ayat menunjukkan garis vertikal dari atas ke bawah, yaitu apa yang diperbuat Allah pada manusia. Lalu kemudian ayat satu merupakan garis vertikal dari bawah ke atas, yaitu pujian, dari ayat dua sampai ayat empat, dari bawah ke atas dalam bentuk pengakuan (credo) dan isinya kalau diperhatikan adalah merupakan rumusan dogma (ajaran untuk dipercayai) yang dinyanyikan. Itulah sebabnya setiap credo dan dogma menjadi doxologi (pujian) di dalam liturgi!
Selain itu terlihat garis horisontal, yaitu dalam ayat satu, dimana penyanyi menunjukkan pada sesamanya manusia. Pada ayat dua, penyanyi berbicara pada dirinya sendiri, ayat tiga sampai empat merupaka kesaksian bagi seluruh yang ada diluar diri penyanyi itu. Akhir dari ayat empat itu “Hamuliaon ma di Tuhan Debata” (kemuliaan bagi Allah) mengingatkan nyanyian malaikat. Demikianlah setiap doxologi, adalah nyanyian bersama dengan malaikat. Melalui contoh ini, yang juga ditemukan dalam nyanyian lain di dalam Buku Ende, terlihatlah bahwa menyanyikan nyanyian kebaktian itu adalah berkotbah, artinya datangnya Firmah Tuhan pada umat.
Selanjutnya kotbah itu menjadi sapaan pada semua anggota jemaat, sehingga mereka mengikuti apa yang Rasul pesankan “ berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani”(Efesus 5:19), sehingga “perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya”(Kolose 5:19) di antara jemaat. Ke- 373 nyanyian dalam Buku Ende, boleh dianalisis dengan sudut pandang uraian diatas, dan kita akan semakin heran melihat harta karun yang secara rohani menjadi milik kita yang tidak ternilai. Gejala yang terlihat untuk ‘memunahkannya’ adalah pertanda makna teologis musik liturgi tidak lagi dipertimbangkan. Nyanyian dilihat dalam rangka memenuhi kebutuhan. Nyanyian sebagai kotbah, bukanlah untuk memenuhi kebutuhan, tetapi garis vertikal dari atas ke bawah menunjukkan nyanyian itu memberitakan bagaimana Allah turun dan membentuk manusia itu. Jadi musik liturgi membentuk kebutuhan, bukan sebaliknya kebutuhan membentuk musik liturgi.  

Buku Ende Sebagai Not Yang Membuat Teks Menjadi Hidup

Martin Luther menyebutkan, musik adalah anugerah Allah. Melalui tafsirannya akan Kitab Mazmur dia membuktikan hal ini. Mazmur sebagai Buku Doa, semuanya muncul dalam bentuk nyanyian. Mengapa doa ini harus dinyanyikan, menyingkapkan makna dari anugerah Allah itu. Setiap suasana sorgawi tersingkap, nyanyian terdengar dari sorga, di padang efrata, dalam wahyu yang disingkapkan bagi Yohanes, nyanyian-nyanyian sorgawi dari para malaikat terdengar. Itulah sebabnya, bila orang percaya bernyanyi, maka dia menyatukan suaranya dengan para malaikat. Hal inilah yang terdengar dalam Nyanyian ‘Te Deum’ yang sudah sangat tua itu, yang sebagian darinya diterjemahkan dalam Kidung Jemaat nomor lima dan Buku Ende nomor 21. Di sana disebut baik malaikat, maupun mereka yang sudah menang serta jemaat yang masih hidup sekarang bersama-sama memuji Tuhan: “kerubim dan serafim, memuliakan yang Trisuci; para rasul dan nabi, martir yang berjubah putih, G’reja yang kudus, Esa, kepada-Mu menyembah”.
Bila dihubungkan dengan dasar teologi, nyanyian seperti disebutkan di atas, maka terlihatlah bahwa nyanyian dan musik itu muncul dalam satu kesatuan dengan teologi. Itulah sebabnya seseorang yang mempelajari teologi menyentuh juga seni musik itu, walaupun dia mungkin tidak mampu memainkannya atau memahaminya. Melalui musik liturgi dinyatakanlah bahwa musik dan teologi sama-sama berakar dalam firman, keduanya datang dari Allah, dan keduanya berkaitan dengan pendengaran. Itulah sebabnya kembali kita dapat memahami Martin Luther yang menyebut musik adalah anugerah Allah dan menempatkannya sebagai yang tertinggi sesudah teologi. Kesatuannya semakin nyata didalam nyanyian itu: kata-kata itu menjadi hidup. Karena itulah dalam nyanyian liturgis, kata-kata itu mempunyai kehidupannya yang tidak terpisahkan dari melodi.
Tetapi dalam penyusunannya, melodi itu tunduk pada kata-kata. Melodi itu menjadi pelayan dari kata-kata, dari syair nyanyian itu. bila kita kembali pada penjelasan di atas, maka urutan pemahamannya adalah sebagai berikut: Firman Allah menjadi firman yang hidup kalau dia diberitakan dan dengan demikian dia membangkitkan iman. Karena musik (termasuk melodi dan not itu) ‘membuat syair menjadi hidup’, maka injil diberitakan juga melalui musik. Sehingga musik dan teologi menjadi pembawa dan penafsir Firman Allah, menjadi suara yang hidup dari injil itu sendiri. Seluruh penjelasan ini terpenuhi dalam Buku Ende. Bila kita ikuti misalnya hubungan antara melodi dari nyanyian berikut dengan syairnya, maka akan terlihat kesatuan musik dan teologi atau pemberitaan firman itu:

Buku Ende No. 183:1-4 “Na jumpang au na asi roha” (BL No. 105)

Na jumpang au na asi roha
Di au naung mago i hian
Tuhan Jesus parasiroha
Di au na lilu nahinan
Nuaeng hutanda Tuhanki
Parasi roha bolon i
Parasi roha bolon i

Dibahen godang ni dosangku
Tung hona uhum au tama
Hape ro Jesus dipadomu
Au muse dohot Debata
Mudarna na badia i
Pajongjong pardomuan i
Pajongjong pardomuan i

On pe holan asi ni roha
Sipangasahononhoni
Sipujionku do Jahowa
Dung ro na pamanathon i
Unduk huhut las rohangki
Mamuji asi roha i
Mamuji asi roha i

Ianggo i ndang taragohon
Bahenon ni manang aha pe
Sai asiMi hupangasahon
Di tangiangku sasude
Mate pe au pos rohangki
Marningot asi-asiMi
Marningot asi-asiMi

Alur syair itu benar-benar penguraian dari teologi reformasi berkaitan dengan ‘dibenarkan oleh iman’ (justification), khususnya aspek sola gratia (diselamatkan oleh karena anugerah). Anugerah itu dirangkai sedemikian indah dalam syair, sehingga ayat satu dikembangkan dalam ayat dua, demikian selanjutnya semakin memuncak pada ayat keempat, sampai pada kepastian keselamatan pada kalimat terakhir dari ayat yang keempat. Kalau kita masuk kedalam not nyanyian itu, maka kalimat pertama dan kedua, mempunyai melodi yang sama dengan kalimat kedua dan keempat. Terlihat dari rangkaian melodi itu, bahwa dia merupakan persiapan untuk not dari kalimat ketiga, empat dan lima. Not itu secara perlahan semakin meninggi dan diakhiri dengan not-not yang lebih tinggi di dalam “Parasi roha bolon I” (ayat 1), “pajongjong pardomuan” (ayat 2), mamujoi Asi roha i (ayat 3) dan “marningot asiasiMi” (ayat 4). Dari syair terlihat makna meningkat dari setiap bagian terakhir, juga fungsinya dalam menonjolkan dogma tentang sola gratia, dan akhirnya not-not itupun disusun untuk melayani pentingnya pemberitaan ini. Dogma itu menjadi doxologi !
Ke-373 Nyanyian dalam Buku Ende, boleh dianalisis dengan sudut pandang uraian diatas, dan kita akan semakin heran melihat harta karun yang secara rohani menjadi milik kita yang tidak ternilai. Gejala yang terlihat untuk ‘memunahkannya’, adalah pertanda makna teologis musik liturgi tidak lagi dipertimbangkan. Nyanyian dalam rangka memenuhi selera jaman akan musik. Seluruh nyanyian rohani dalam lagu pop, lebih menonjolkan melodinya. Seolah-olah melodi itu mengarahkan perhatian umat pada dirinya sendiri. Peletakan kata tidak sesuai lagi dengan tinggi rendahnya not. Dia menjadi ratu dari nyanyian itu, dan semua itu demi membuat manusia lebih gembira, lebih bersemangat dan memenuhi kebutuhan emosionalnya. Oleh karena itu, tidak pernah nyanyian rohani dalam bentuk lagu pop sebagai bagian dari musik liturgi. Mungkin bisa saja orang mengatakan: “musik pop seperti itu untuk nyanyian rohani membawa saya pada perasaan khusuk dalam beribadah. Oleh karena itu jangan tentukan mana yang cocok bagi saya dalam beribadah!”
Pernyataan seperti itu menunjukkan perhatian lebih diutamakan pada diri sendiri daripada Allah dan pemberitaan itu. Masalahnya tidak terletak, apakah nyanyian itu menyenangkan telinga kita atau ‘telinga’ Allah. Tidak lebih memperhatikan perasaan kita, tetapi bahwa Allah dipuji. Dan melodi dengan corak seperti diterangkan di atas, yang menunjukkan not melayani syair sesuai dengan hal tersebut, dimana Allah yang menjadi pusat perhatian.
Perbedaan yang berkaitan dengan pendengaran Allah dan pendengaran kita ini dimunculkan oleh perbedaan pemahaman nyanyian menurut para reformator sebagai nyanyian sakramental, berbeda dengan pemahaman kaum pietis/ evangelikal/ kharismatik dimana nyanyian adalah persembahan saja. Nyanyian sakramental mengakibatkan jemaat bernyanyi, mengajar dan memberitakan Injil pada sesamanya, sementara nyanyian sebagai korban persembahan, membuat jemaat membangkitkan dirinya sendiri sehingga hati dan perasaannya dipengaruhi sehingga mereka mampu untuk memuji. Usaha menggantikan Buku Ende dengan nyanyian pop, secara teologis merusak makna musik liturgi, mengabaikan pemberitaan Injil melalui musik. Nyanyian sebagai khotbah, bukanlah untuk memenuhi kebutuhan, tetapi garis vertikal dari atas ke bawah menunjukkan nyanyian itu memberitakan bagaimana Allah turun dan membentuk manusia itu. Jadi musik liturgi membentuk kebutuhan dan dengan demikian membentuk budaya. Membentuk zaman! Bukan sebaliknya, seolah-olah kita membiarkan zaman ini membentuk musik liturgi.

Pdt. Bonar Lumbantobing, Mth
Dosen STT HKBP Pematangsiantar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Rumah Allah

  Rumah Allah Ibrani 3:6 Tetapi Kristus setia sebagai Anak yang mengepalai rumah-Nya; dan rumah-Nya ialah kita, jika kita sampai kepada akhi...