14/03/17



Saat Teduh
Aku bangun mendahului waktu jaga malam untuk merenungkan janji-Mu.
Mazmur 119:148

Ada pepatah orang Batak yang mengatakan: orang yang menikmati sesuatu dari satu hal, senantiasa akan bertanya masih adakah? Tetapi jika ia jera atas sesuatu itu, maka  ia akan pantang mengulangnya kembali. Pepatah itu dapat kita terapkan dalam relasi kita dengan Allah. Tatkala kita menikmati sesuatu dari relasi dengan Allah, maka kita pun akan ketagihan dan ada kerinduan untuk mengulang pengalaman dengan Allah tersebut. Seperti itulah yang dialami pemazmur di dalam nas kita pada pagi hari ini.

Pagi hari adalah waktu yang terbaik untuk datang kepada Allah dan menikmati persekutuan dengan Dia. Kita tahu Yesus memberi teladan bagi kita. “Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.” Markus 1:35. Sama seperti pemazmur, Yesus mendahului waktu jaga malam untuk menikmati persekutuan dengan Bapa-Nya yang di surga. Pemazmur dan Tuhan Yesus menikmati hal tersebut, sehingga mereka mendahului waktu jaga malam tiba. Karena mereka menikmati sukacita di dalam persekutuan dengan Allah.

Syair lagi ini mengutarakan bagaimana saat teduh pada pagi hari membawa berkat bagi mereka yang merindukannya: Jam sembahyang  yang kudus bila engkau keluh,  pada Tuhan yang tahu kesusahanmu. Dengan hati beriman, biar dia pergi segra. Klak kau rasa sentosa, duduk disitulah. Bersembahyanglah  Pada Bapanya, dengan nama Yesus Turut kehendaknya.”

Bagi pemazmur, saat teduh pagi hari itu sangat berharga di matanya. Oleh karena itu jiwanya sangat merindukannya, sehingga ia mewajibkan dirinya untuk berlomba dengan waktu jaga malam, dalam rangka menemukan waktu teduh di pagi hari. Martin Luther sang Reformator pun melakukan hal itu. Ia menghabiskan waktu tiga jam berturut turut untuk berdoa pada pagi harinya. Dari pengalamannya itu, Luther mengucapkan sebuah perkataan yang tenar di kalangan orang percaya sampai pada hari ini: “Doa mengerjakan separuh dari usaha kita.”

George Muller pun dikenal sebagai orang yang berdoa. Lututnya sampai kapalan oleh karena ia berdoa sambil bersujud dan lututnya kena ke tanah. Ia menghembuskan nafasnya yang terakhir pada saat ia berdoa. Orang tahu bahwa ia sudah meninggal, oleh karena dilihat terus dalam posisi sujud, pada hal sudah dalam waktu  yang sangat lama. Ia meninggal di altar Gereja tempat ia melayani dalam keadaan sujud berdoa. Bagi mereka, saat itu adalah saat yang terbaik untuk mereka menikmati persekutuan dengan Allahnya.

Sebuah pertanyaan perlu diajukan pada kita masing-masing: bagaimana dengan saat teduh saudara dan saya. Apakah kita menikmati jam sembahyang yang kudus itu. Nas kita ini merupakan sebuah ajakan untuk menikmati waktu teduh yang kudus itu dengan sukacita. Di sebuah lemari es yang ditempatkan di ruang makan, di pintunya ada sebuah stiker dalam bahasa Inggris tertera sebagai berikut: no  Bible no breakfast – tidak ada sarapan pagi sebelum membaca firman Allah. bagaimana dengan saat teduh saudara sekarang ini? 

10/03/17

Ranah Roh

Sebab Tuhan adalah Roh; dan di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan.
II Korintus 3:17

Manusia pada hakekatnya di disain menjadi manusia rohani. Paulus menyebut anak bimbingnya sebagai seorang manusia Allah. Cf I Tim 6:11. Dalam surat kepada Jemaat di Korintus pun Paulus mengatakan bahwa manusia punya tubuh jasmani dan tubuh surgawi. I Kor 15: 40. Tubuh surgawi itu dapat kita lihat di dalam tubuh Yesus yang bangkit dari antara orang mati. Ia punya tubuh yang dapat disentuh, tetapi hakekatnya tidak sama dengan tubuh para rasul pada waktu itu. Buktinya tubuh itu tidak lagi dibatasi ruang dan waktu, sebagaimana tubuh jasmani.

Nas kita dilatarbelakangi percakapan Paulus yang memberi penjelasan tentang Musa yang menutupi wajahnya, tatkala turun dari Gunung Sinai, wajahnya pada mulanya bersinar. Tetapi lama lama sinar itu pudar, maka Musa menutup wajahnya agar tidak terlihat sinarnya sudah mulai pudar. Selubung itu pun ditafsirkan Paulus sebagai wujud dari tertutupnya pemahaman orang Israel atas tertutup sehingga tidak melihat kebenaran di dalam Injil Yesus Kristus.

Dengan perkataan lain, Paulus mau mengingatkan kita, bahwa Yahudi masih berada di ranah hukum Taurat, sementara orang percaya kepada Tuhan Yesus, sekarang sudah berada di ranah ‘Roh’. Jika orang berada di ranah hukum, maka orang itu tidak lagi merdeka. Sebab hukum senantiasa mengacam dengan menjatuhkan sanksi. Sementara orang yang berada di ranah hukum, Paulus katakan, mereka tidak lagi di dalam penghukuman. Rom 8:1.

Tuhan ada bersama dengan bangsa Israel di Gunung Sinai, tetapi Ia datang untuk memberikan hukum bagi orang Israel. Jika mereka menaati hukum itu, maka mereka akan diberkati. Namun jika mereka tidak menaatinya, mereka akan dihukum. Sekarang di dalam Kristus, dimana kita sudah berada di ranah ‘Roh’, kemerdekaan adalah aura yang ada di dalamnya. Sekarang kita disertai Allah melalui Roh Kudus. Ia datang bukan dalam rangka penghukuman, tetapi hendak membawa kemerdekaan.

Hal itu disuarakan Paulus dalam nas yang mengikuti nas bacaan kita pada pagi hari ini. Paulus mengatakan: “Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya dalam kemuliaan yang semakin besar.” III Kor3:18.

Jika wajah Musa yang bersinar semakin lama semakin pudar, lain dengan diri kita karena Yesus Kristus. Wajah kita akan semakin memancarkan terang ilahi yang membuat kita serupa dengan Kristus di dalam kemuliaan yang semakin besar. Itulah produk dari ranah ‘Roh.” Sebuah pertanyaan yang perlu diajukan kepada kita masing masing ialah: saudara dan saya berada di ranah mana? Di ranah hukum sama seperti orang Yahudi, juga orang muslim pun berada di ranah seperti itu dengan syariatnya. Ataukah saudara dan saya berada di ranah ‘Roh’ yang membuat saudara dan saya menjadi orang merdeka dan dalam kemuliaan.

21/01/17



Hidup kita senantiasa dipengaruhi hari esok, hari kemarin dan hari ini.
Namun kita tidak pernah hidup pada hari kemarin dan esok hari.
Kita hanya dapat hidup pada hari ini
Kemarin itu kita jalani tatkala ia ada pada hari ini
Demikian juga dengan esok hari.

Menarik untuk disimak, Allah pun hidup pada hari ini
Bagi Dia tidak ada kemarin dan esok hari
Semuanya berada di hari ini.

Yesus mengajar kita untuk hidup pada hari ini
Dia ajarkan kepada kita doa ini:
Berikanlah kami hari ini makanan kami yang secukupnya.
Kesusahan sehari untuk sehari, kesusahan esok untuk esok hari.

Dengan demikian, Yesus mengajak kita untuk hidup seperti Allah
Hidup pada hari ini.
Tidakkah itu sesuatu yang luar biasa?
Kita hidup seperti Allah
Karena kita adalah anak-anak-Nya.

Dapatkah kita katakan: orang yang khawatir akan hari esok
Adalah orang yang tidak mengenal Allah?
Yesus mengajarkan bahwa hal hal yang perlu pada esok
Adalah orang yang tidak mengenal Allah.

Kenalkah saudara dengan Allah yang hidup hanya pada hari ini?

14/01/17

Dekat dan Jauh



DEKAT DAN JAUH

Masakan Aku ini hanya Allah yang dari dekat, demikianlah firman TUHAN, dan bukan Allah yang dari jauh juga? Sekiranya ada seseorang menyembunyikan diri dalam tempat persembunyian, masakan Aku tidak melihat dia? demikianlah firman TUHAN. Tidakkah Aku memenuhi langit dan bumi? demikianlah firman Tuhan”.
Yeremia 23:23-24

Natal sudah berlalu. Pada perayaan Natal, kita mendengar berita sukacita: Allah bersama kita. Kita mengenal dan melihat Allah yang begitu dekat dengan kita, bahkan tinggal bersama kita. Kedekatan Allah yang begitu rupa dapat ditafsirkan orang dengan berbagai macam cara. Ada orang yang merasa begitu dekat dengan Tuhan, sehingga ia kehilangan dimensi Allah yang juga jauh dari kehidupan kita.

Allah yang datang ke dalam kehidupan kita itu adalah Allah yang dekat dan sekaligus jauh. Salah satu dari sisi ini tidak boleh dihilangkan dari pengalaman hidup kita. Saya sering mendengar Allah disapa dengan selamat malam, siang dan pagi. Mereka menganggap Allah itu begitu dekat dengan mereka. Dalam pemahaman yang begitu dekatnya, maka Allah yang mereka kenal tidak lagi ada di dalam kejauhan. Kita memerlukan Allah yang juga menempati sisi yang jauh. Mengapa?

Dengan Allah berada di sisi yang jauh, itu berarti kita memahami ada jarak yang begitu jauh antara kita dengan Allah. Ia berada jauh dari apa yang kita pikirkan. Nabi Yesaya mengatakan: “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu” Yes 55:8-9. Hal ini jelas memberikan kepada kita bahwa ada jarak yang sangat jauh antara kita dengan Allah. Rancangan kita tidak dapat dibandingkan dengan rancangan Allah.

Tatkala Allah menempatkan diri ‘jauh’ dari kita, itu berarti Ia berada di dalam posisi yang dapat mengatasi segala permasalahan yang ada di dalam diri kita. Ia dapat melihat jauh ke depan kita, karena Jauh dari kita. Ia dapat melihat detil dari setiap masalah yang ada di dalam hidup ini. Ia dapat membuat antisipasi yang pas di dalam setiap masalah kita. Kita sangat membutuhkan Allah yang jauh, sebagaimana kita membutuhkan Dia sebagai Allah yang dekat dengan kita. Kedua sisi ini harus dipertahankan sedemikian rupa, agar kita menikmati proteksi yang tiada bandingnya dari Allah yang kita kenal di dalam Yesus Kristus Tuhan kita.

Tatkala orang Yehuda memahami bahwa Allah itu dekat dengan mereka, karena tinggal di Bati Allah yang ada di Yerusalem, maka mereka memahami sesuatu yang aneh bagi kita sekarang ini. Allah tinggal di Bait-Nya yang kudus. Oleh karena itu, Ia tidak akan melihat apa saja yang dikerjakan oleh orang Israel di dalam keseharian mereka. Karena itulah, maka Allah menyuarakan firman-Nya melalui Nabi Yeremia, Ia juga adalah Allah yang jauh.

Pemahaman beribadah yang seperti itu, rasa-rasanya juga berlangsung hingga dewasa ini. Kita merasa telah menyenangkan hati Allah dengan ritus ibadah yang kita lakukan setiap minggu. Kita telah menikmati sukacita bersekutu dengan Allah di dalam ibadah kita. Kedekatan dengan Allah sangat kita rasakan di dalam ibadah yang kita lakukan dengan begitu antusias. Oleh karena itu, kita merasa bagian dari Allah di dalam hidup kita telah diserahkan kepada-Nya. Sekarang kita dapat melakukan bagian kita di dalam hidup itu sendiri. Untuk yang satu ini, kita yang menentukan apa yang dapat kita lakukan. Allah tidak perlu turut ambil bagian di dalamnya. Bukankah Allah telah dipuaskan di dalam ibadah yang kita lakukan di Gereja, atau di tempat-tempat tertentu?

Dikhotomi pemahaman yang kudus dan yang profan membuat kita memilah-milah kehidupan ini. Tatkala kita melakukan hal yang kudus menurut kita, maka apa yang dikehendaki Allah, itulah yang harus terlaksana di sana. Tetapi bagian hidup yang profan bukanlah urusan Allah, melainkan urusan kita sendiri. Pola seperti ini masih juga terasa di dalam kehidupan orang Kristen hingga dewasa ini. Ada seorang teman yang sangat aktif di dalam pelayanan menyuarakan kegalauan hatinya melihat perilaku dari teman-temannya sesama pelayan di dalam satu ibadah.

Tatkala ibadah sedang berjalan, maka teman-temannya itu begitu rohani. Rasa-rasanya mereka itu sudah dipenuhi oleh Roh Kudus, dengan bahasa roh yang begitu semarak. Namun, tatkala ibadah sudah selesai, tidak ada perbedaan mereka dengan mereka yang tidak turut ambil bagian di dalam ibadah tadi. Mereka serupa dengan orang dunia yang tidak perduli dengan Allah. Dalam ibadah, teman-temannya itu begitu dekat dengan Allah. Tetapi di luar ibadah, Allah seolah-olah tidak ada di dalam hidup mereka.




11/01/17

Musik Liturgi HKBP


Makalah yang disajikan penyaji di retreat Parhalado HKBP Menteng Jakarta

MUSIK LITURGI HKBP
Harta Karun Yang Terancam Punah?
                                                                       

Ada banyak segi dari musik liturgi, tetapi dalam tulisan ini akan dipilih unsur penting dalam musik Liturgi HKBP yaitu Buku Ende (Nomor 1-373). Buku Ende tergolong musik liturgi Gereja Barat (termasuk Protestant). Sekilas, perkembangan saat ini menunjukkan musik liturgi HKBP akan segera ‘punah’ dalam arti luas. Dia diserang dari luar dan dari dalam. Buku Ende, organ (poti marende – peti bernyanyi) dinilai sudah tidak sesuai lagi dengan jaman. Selera kaum muda terutama mempunyai kebutuhan lain sesuai dengan selera musik jaman ini. Karena itu, dalam rangka “memenuhi kebutuhan jaman” maka terjadi penyesuaian, yang muncul dari luar dan juga dari dalam.
Dari luar dimasukkanlah nyanyian-nyanyian yang musik bercorak pop dan dekat dengan musik industri yang berasal dari mass culture dengan ciri hedonisme (mengutamakan kesenangan dan kepuasan). Isinya pendek-pendek dan umumnya mempunyai corak yang sama, yaitu berkaitan dengan keberadaan orang yang menyanyikan (sukacitanya, dukanya, indahnya, dan lainnya). Kebaktian dijalankan dengan istilah ‘liturgi alternatif’ atau ‘liturgi kontemporer’. Penampilannya pun disesuaikan, dimana ada song leaders dan MC (Master of Ceremony) yang selalu menafsirkan nyanyian itu dan menghangatkan suasana. Perlengkapan band pun dimasukkan mengiringi nyanyian, kalau tidak keyboard akan dimainkan sedemikian rupa sehingga memunculkan suasana khusus.
Dalam bagian lain, bagi mereka yang tidak menyanyikan nyanyian rohani pop, tetapi mempertahankan Buku Ende, terjadi perubahan dalam cara menyanyikan. Tempo dari setiap nyanyian dibuat hampir sama, sehingga semuanya terlihat mempunyai kecepatan yang sama. Bahkan ditambah lagi dengan nyanyian lain, yang bukan nyanyian pop, tetapi pada dasarnya bertentangan dengan makna teologis Buku Ende itu sendiri.
Terlihat semuanya seolah-olah tidak membawa persoalan, tetapi pada dasarnya, baik masukkan maupun perubahan di dalam, semuanyan itu mempengaruhi musik liturgi HKBP. Dengan demikian, makna dari musik liturgi yang sangat luas seginya, akan dibahas hanya sebagian kecil darinya untuk menunjukkan ‘ancaman’ tadi. Sekali lagi hendaknya disadari, corak musik yang disebutkan dalam tulisan ini adalah corak musik Barat untuk liturgi Gereja Barat (Protestant) seperti HKBP dan lainnya.

Buku Ende  Dan Pemberitaan Firman

Buku Ende memenuhi prinsip teologis akan musik liturgi, yaitu nyanyian choral dalam rangka memberitakan Firman Allah, sehingga pemberitaan keselamatan juga diberitakan melalui musik dan nyanyian. Ketika Martin Luther mengerjakan pengadaan chorale, dia menuliskan: “hal ini sebaiknya dikerjakan sehingga Injil Yesus Kristus, yang melalui rahmat Allah saat ini sedang diberitakan, dapat disebarkan di antara manusia.” Dalam suratnya pada Spalatinus, sekretaris Frederick Yang Bijaksana, Luther menulis: “Rencana kita adalah mengikuti teladan para nabi dan bapa-bapa gereja, dan mencipta mazmur bagi umat dalam bentuk yang sederhana, yaitu nyanyian-nyanyian rohani, sehingga Firman Allah tinggal di antara umat juga dalam bentuk musik.”
Kalimat singkat itu menunjukkan makna teologis dari musik liturgi itu, khususnya nyanyian dalam rangka kebaktian, yaitu hubungan antara nyanyian dan pemberitaan Firman. Untuk itulah teks dari nyanyian itu menjadi unsur yang sangat penting. Hal yang prinsip dalam pemberitaan Firman Allah melalui teks chorale terlihat dalam tiga hal: pertama, isi teks itu terutama merupakan garis vertikal yang dari atas ke bawah. Umat membutuhkan Firman yang memberi hidup itu, dan itu datang dari pihak Allah. Kedua, serentak dengan itu, teks nyanyian itu juga merupakan garis vertikal dari bawah ke atas, yaitu jawaban ucapan syukur serta pujian umat pada Allah. Ketiga, jemaat melayani sesamanya manusia melalui nyanyian itu. Seluruh  penjelasan ini dipenuhi dalam Buku Ende. Sebagai contoh, marilah kita ikuti alur dari teks nyanyian berikut, mulai dari ayat satu sampai empat, sambil memperhatikan, siapa yang berbicara pada siapa:

puji hamu Jahowa tutu
pardenggan basa
parasiroha salelengna i
pardenggan basa i. parasi roha i.

ingot tongtong, ale tondingkon
sude na denggan
na dipasonggop Debata tu ho
denggan basaNa do
na pangoluhon ho

nda tung adong pargogo tongon
na martudosan
tu Tuhan Debata di surgo i
sun hinagogo i sun hinagogo i

songkal tongtong Jahowa tongon
na marmulia
di sasude na tinompaNa i
hamuliaon ma di Tuhan Debata

Isi nyanyian di atas benar-benar merupakan pemberitaan Firman, merupakan khotbah. Setiap ayat menunjukkan garis vertikal dari atas ke bawah, yaitu apa yang diperbuat Allah pada manusia. Lalu kemudian ayat satu merupakan garis vertikal dari bawah ke atas, yaitu pujian, dari ayat dua sampai ayat empat, dari bawah ke atas dalam bentuk pengakuan (credo) dan isinya kalau diperhatikan adalah merupakan rumusan dogma (ajaran untuk dipercayai) yang dinyanyikan. Itulah sebabnya setiap credo dan dogma menjadi doxologi (pujian) di dalam liturgi!
Selain itu terlihat garis horisontal, yaitu dalam ayat satu, dimana penyanyi menunjukkan pada sesamanya manusia. Pada ayat dua, penyanyi berbicara pada dirinya sendiri, ayat tiga sampai empat merupaka kesaksian bagi seluruh yang ada diluar diri penyanyi itu. Akhir dari ayat empat itu “Hamuliaon ma di Tuhan Debata” (kemuliaan bagi Allah) mengingatkan nyanyian malaikat. Demikianlah setiap doxologi, adalah nyanyian bersama dengan malaikat. Melalui contoh ini, yang juga ditemukan dalam nyanyian lain di dalam Buku Ende, terlihatlah bahwa menyanyikan nyanyian kebaktian itu adalah berkotbah, artinya datangnya Firmah Tuhan pada umat.
Selanjutnya kotbah itu menjadi sapaan pada semua anggota jemaat, sehingga mereka mengikuti apa yang Rasul pesankan “ berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani”(Efesus 5:19), sehingga “perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya”(Kolose 5:19) di antara jemaat. Ke- 373 nyanyian dalam Buku Ende, boleh dianalisis dengan sudut pandang uraian diatas, dan kita akan semakin heran melihat harta karun yang secara rohani menjadi milik kita yang tidak ternilai. Gejala yang terlihat untuk ‘memunahkannya’ adalah pertanda makna teologis musik liturgi tidak lagi dipertimbangkan. Nyanyian dilihat dalam rangka memenuhi kebutuhan. Nyanyian sebagai kotbah, bukanlah untuk memenuhi kebutuhan, tetapi garis vertikal dari atas ke bawah menunjukkan nyanyian itu memberitakan bagaimana Allah turun dan membentuk manusia itu. Jadi musik liturgi membentuk kebutuhan, bukan sebaliknya kebutuhan membentuk musik liturgi.  

Buku Ende Sebagai Not Yang Membuat Teks Menjadi Hidup

Martin Luther menyebutkan, musik adalah anugerah Allah. Melalui tafsirannya akan Kitab Mazmur dia membuktikan hal ini. Mazmur sebagai Buku Doa, semuanya muncul dalam bentuk nyanyian. Mengapa doa ini harus dinyanyikan, menyingkapkan makna dari anugerah Allah itu. Setiap suasana sorgawi tersingkap, nyanyian terdengar dari sorga, di padang efrata, dalam wahyu yang disingkapkan bagi Yohanes, nyanyian-nyanyian sorgawi dari para malaikat terdengar. Itulah sebabnya, bila orang percaya bernyanyi, maka dia menyatukan suaranya dengan para malaikat. Hal inilah yang terdengar dalam Nyanyian ‘Te Deum’ yang sudah sangat tua itu, yang sebagian darinya diterjemahkan dalam Kidung Jemaat nomor lima dan Buku Ende nomor 21. Di sana disebut baik malaikat, maupun mereka yang sudah menang serta jemaat yang masih hidup sekarang bersama-sama memuji Tuhan: “kerubim dan serafim, memuliakan yang Trisuci; para rasul dan nabi, martir yang berjubah putih, G’reja yang kudus, Esa, kepada-Mu menyembah”.
Bila dihubungkan dengan dasar teologi, nyanyian seperti disebutkan di atas, maka terlihatlah bahwa nyanyian dan musik itu muncul dalam satu kesatuan dengan teologi. Itulah sebabnya seseorang yang mempelajari teologi menyentuh juga seni musik itu, walaupun dia mungkin tidak mampu memainkannya atau memahaminya. Melalui musik liturgi dinyatakanlah bahwa musik dan teologi sama-sama berakar dalam firman, keduanya datang dari Allah, dan keduanya berkaitan dengan pendengaran. Itulah sebabnya kembali kita dapat memahami Martin Luther yang menyebut musik adalah anugerah Allah dan menempatkannya sebagai yang tertinggi sesudah teologi. Kesatuannya semakin nyata didalam nyanyian itu: kata-kata itu menjadi hidup. Karena itulah dalam nyanyian liturgis, kata-kata itu mempunyai kehidupannya yang tidak terpisahkan dari melodi.
Tetapi dalam penyusunannya, melodi itu tunduk pada kata-kata. Melodi itu menjadi pelayan dari kata-kata, dari syair nyanyian itu. bila kita kembali pada penjelasan di atas, maka urutan pemahamannya adalah sebagai berikut: Firman Allah menjadi firman yang hidup kalau dia diberitakan dan dengan demikian dia membangkitkan iman. Karena musik (termasuk melodi dan not itu) ‘membuat syair menjadi hidup’, maka injil diberitakan juga melalui musik. Sehingga musik dan teologi menjadi pembawa dan penafsir Firman Allah, menjadi suara yang hidup dari injil itu sendiri. Seluruh penjelasan ini terpenuhi dalam Buku Ende. Bila kita ikuti misalnya hubungan antara melodi dari nyanyian berikut dengan syairnya, maka akan terlihat kesatuan musik dan teologi atau pemberitaan firman itu:

Buku Ende No. 183:1-4 “Na jumpang au na asi roha” (BL No. 105)

Na jumpang au na asi roha
Di au naung mago i hian
Tuhan Jesus parasiroha
Di au na lilu nahinan
Nuaeng hutanda Tuhanki
Parasi roha bolon i
Parasi roha bolon i

Dibahen godang ni dosangku
Tung hona uhum au tama
Hape ro Jesus dipadomu
Au muse dohot Debata
Mudarna na badia i
Pajongjong pardomuan i
Pajongjong pardomuan i

On pe holan asi ni roha
Sipangasahononhoni
Sipujionku do Jahowa
Dung ro na pamanathon i
Unduk huhut las rohangki
Mamuji asi roha i
Mamuji asi roha i

Ianggo i ndang taragohon
Bahenon ni manang aha pe
Sai asiMi hupangasahon
Di tangiangku sasude
Mate pe au pos rohangki
Marningot asi-asiMi
Marningot asi-asiMi

Alur syair itu benar-benar penguraian dari teologi reformasi berkaitan dengan ‘dibenarkan oleh iman’ (justification), khususnya aspek sola gratia (diselamatkan oleh karena anugerah). Anugerah itu dirangkai sedemikian indah dalam syair, sehingga ayat satu dikembangkan dalam ayat dua, demikian selanjutnya semakin memuncak pada ayat keempat, sampai pada kepastian keselamatan pada kalimat terakhir dari ayat yang keempat. Kalau kita masuk kedalam not nyanyian itu, maka kalimat pertama dan kedua, mempunyai melodi yang sama dengan kalimat kedua dan keempat. Terlihat dari rangkaian melodi itu, bahwa dia merupakan persiapan untuk not dari kalimat ketiga, empat dan lima. Not itu secara perlahan semakin meninggi dan diakhiri dengan not-not yang lebih tinggi di dalam “Parasi roha bolon I” (ayat 1), “pajongjong pardomuan” (ayat 2), mamujoi Asi roha i (ayat 3) dan “marningot asiasiMi” (ayat 4). Dari syair terlihat makna meningkat dari setiap bagian terakhir, juga fungsinya dalam menonjolkan dogma tentang sola gratia, dan akhirnya not-not itupun disusun untuk melayani pentingnya pemberitaan ini. Dogma itu menjadi doxologi !
Ke-373 Nyanyian dalam Buku Ende, boleh dianalisis dengan sudut pandang uraian diatas, dan kita akan semakin heran melihat harta karun yang secara rohani menjadi milik kita yang tidak ternilai. Gejala yang terlihat untuk ‘memunahkannya’, adalah pertanda makna teologis musik liturgi tidak lagi dipertimbangkan. Nyanyian dalam rangka memenuhi selera jaman akan musik. Seluruh nyanyian rohani dalam lagu pop, lebih menonjolkan melodinya. Seolah-olah melodi itu mengarahkan perhatian umat pada dirinya sendiri. Peletakan kata tidak sesuai lagi dengan tinggi rendahnya not. Dia menjadi ratu dari nyanyian itu, dan semua itu demi membuat manusia lebih gembira, lebih bersemangat dan memenuhi kebutuhan emosionalnya. Oleh karena itu, tidak pernah nyanyian rohani dalam bentuk lagu pop sebagai bagian dari musik liturgi. Mungkin bisa saja orang mengatakan: “musik pop seperti itu untuk nyanyian rohani membawa saya pada perasaan khusuk dalam beribadah. Oleh karena itu jangan tentukan mana yang cocok bagi saya dalam beribadah!”
Pernyataan seperti itu menunjukkan perhatian lebih diutamakan pada diri sendiri daripada Allah dan pemberitaan itu. Masalahnya tidak terletak, apakah nyanyian itu menyenangkan telinga kita atau ‘telinga’ Allah. Tidak lebih memperhatikan perasaan kita, tetapi bahwa Allah dipuji. Dan melodi dengan corak seperti diterangkan di atas, yang menunjukkan not melayani syair sesuai dengan hal tersebut, dimana Allah yang menjadi pusat perhatian.
Perbedaan yang berkaitan dengan pendengaran Allah dan pendengaran kita ini dimunculkan oleh perbedaan pemahaman nyanyian menurut para reformator sebagai nyanyian sakramental, berbeda dengan pemahaman kaum pietis/ evangelikal/ kharismatik dimana nyanyian adalah persembahan saja. Nyanyian sakramental mengakibatkan jemaat bernyanyi, mengajar dan memberitakan Injil pada sesamanya, sementara nyanyian sebagai korban persembahan, membuat jemaat membangkitkan dirinya sendiri sehingga hati dan perasaannya dipengaruhi sehingga mereka mampu untuk memuji. Usaha menggantikan Buku Ende dengan nyanyian pop, secara teologis merusak makna musik liturgi, mengabaikan pemberitaan Injil melalui musik. Nyanyian sebagai khotbah, bukanlah untuk memenuhi kebutuhan, tetapi garis vertikal dari atas ke bawah menunjukkan nyanyian itu memberitakan bagaimana Allah turun dan membentuk manusia itu. Jadi musik liturgi membentuk kebutuhan dan dengan demikian membentuk budaya. Membentuk zaman! Bukan sebaliknya, seolah-olah kita membiarkan zaman ini membentuk musik liturgi.

Pdt. Bonar Lumbantobing, Mth
Dosen STT HKBP Pematangsiantar

07/01/17


A Prayer[1]

Oh Lord, remember not only the men and women
Of good will, but also those of ill  will.
But do not remember all the suffering they inflicted on us;
Remember the fist fruits we have bought, thanks to
This suffering – our comradeship,
Our loyalty, our humility, our courage,
Our generosity, the greatness of heart
Wich has grown out of all this, when
They come to judgment let all the fruits
which  we have borne be their forgiveness.

Notes: This prayer came from unkwon author, who left beside the body of a dead child at the Ravensbruck death camp.



[1] Quoted from Lynn C. Baum, ed., A Book of Prayer

A Prayer

Rumah Allah

  Rumah Allah Ibrani 3:6 Tetapi Kristus setia sebagai Anak yang mengepalai rumah-Nya; dan rumah-Nya ialah kita, jika kita sampai kepada akhi...