14/03/17



Saat Teduh
Aku bangun mendahului waktu jaga malam untuk merenungkan janji-Mu.
Mazmur 119:148

Ada pepatah orang Batak yang mengatakan: orang yang menikmati sesuatu dari satu hal, senantiasa akan bertanya masih adakah? Tetapi jika ia jera atas sesuatu itu, maka  ia akan pantang mengulangnya kembali. Pepatah itu dapat kita terapkan dalam relasi kita dengan Allah. Tatkala kita menikmati sesuatu dari relasi dengan Allah, maka kita pun akan ketagihan dan ada kerinduan untuk mengulang pengalaman dengan Allah tersebut. Seperti itulah yang dialami pemazmur di dalam nas kita pada pagi hari ini.

Pagi hari adalah waktu yang terbaik untuk datang kepada Allah dan menikmati persekutuan dengan Dia. Kita tahu Yesus memberi teladan bagi kita. “Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.” Markus 1:35. Sama seperti pemazmur, Yesus mendahului waktu jaga malam untuk menikmati persekutuan dengan Bapa-Nya yang di surga. Pemazmur dan Tuhan Yesus menikmati hal tersebut, sehingga mereka mendahului waktu jaga malam tiba. Karena mereka menikmati sukacita di dalam persekutuan dengan Allah.

Syair lagi ini mengutarakan bagaimana saat teduh pada pagi hari membawa berkat bagi mereka yang merindukannya: Jam sembahyang  yang kudus bila engkau keluh,  pada Tuhan yang tahu kesusahanmu. Dengan hati beriman, biar dia pergi segra. Klak kau rasa sentosa, duduk disitulah. Bersembahyanglah  Pada Bapanya, dengan nama Yesus Turut kehendaknya.”

Bagi pemazmur, saat teduh pagi hari itu sangat berharga di matanya. Oleh karena itu jiwanya sangat merindukannya, sehingga ia mewajibkan dirinya untuk berlomba dengan waktu jaga malam, dalam rangka menemukan waktu teduh di pagi hari. Martin Luther sang Reformator pun melakukan hal itu. Ia menghabiskan waktu tiga jam berturut turut untuk berdoa pada pagi harinya. Dari pengalamannya itu, Luther mengucapkan sebuah perkataan yang tenar di kalangan orang percaya sampai pada hari ini: “Doa mengerjakan separuh dari usaha kita.”

George Muller pun dikenal sebagai orang yang berdoa. Lututnya sampai kapalan oleh karena ia berdoa sambil bersujud dan lututnya kena ke tanah. Ia menghembuskan nafasnya yang terakhir pada saat ia berdoa. Orang tahu bahwa ia sudah meninggal, oleh karena dilihat terus dalam posisi sujud, pada hal sudah dalam waktu  yang sangat lama. Ia meninggal di altar Gereja tempat ia melayani dalam keadaan sujud berdoa. Bagi mereka, saat itu adalah saat yang terbaik untuk mereka menikmati persekutuan dengan Allahnya.

Sebuah pertanyaan perlu diajukan pada kita masing-masing: bagaimana dengan saat teduh saudara dan saya. Apakah kita menikmati jam sembahyang yang kudus itu. Nas kita ini merupakan sebuah ajakan untuk menikmati waktu teduh yang kudus itu dengan sukacita. Di sebuah lemari es yang ditempatkan di ruang makan, di pintunya ada sebuah stiker dalam bahasa Inggris tertera sebagai berikut: no  Bible no breakfast – tidak ada sarapan pagi sebelum membaca firman Allah. bagaimana dengan saat teduh saudara sekarang ini? 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Rumah Allah

  Rumah Allah Ibrani 3:6 Tetapi Kristus setia sebagai Anak yang mengepalai rumah-Nya; dan rumah-Nya ialah kita, jika kita sampai kepada akhi...