19/03/17



Warisan
Tali pengukur jatuh bagiku di tempat-tempat yang permai; ya, milik pusakaku menyenangkan hatiku.
Mazmur 16:6

Sebelum nas kita, pemazmur mengatakan bahwa warisannya adalah Tuhan sendiri. Hal ini berhubungan dengan kisah yang lama, dimana orang Israel mendapat pembagian tanah Israel. Itu menjadi milik pusaka dan warisan mereka dari Allah. Satu hal yang pasti soal pembagian tanah itu, para imam tidak  mendapat bagian, sebab bagian mereka ialah Allah sendiri. Mereka hidup atas persembahan orang Israel kepada Allah.

Imam kerjanya adalah orang yang dikhususkan untuk melayani Tuhan di Bait Allah. Mereka diperkenankan mendekat kepada Allah, sementara orang Israel dilarang dan diancam akan binasa jika mendekat. Dalam kehidupan sehari hari, orang Israel dapat menjadi orang kaya oleh karena usaha mereka. Tetapi imam tidak punya kesempatan mengembangkan usaha, sebab mereka tidak diperkenankan mengerjakan apa pun selain dari melayani Tuhan di Bait  Allah.

Sekali pun keadaan seperti itu, pemazmur  berkata: “Tali pengukur jatuh bagiku di tempat-tempat yang permai; ya, milik pusakaku menyenangkan hatiku.” Ternyata pemazmur mendapatkan kelimpahan yang menyenangkan. Pengalaman orang percaya di sepanjang zaman membuktikan pengalaman rohani seperti pemazmur ini. Mazmur ini ditulis oleh Raja Daud. Ia seorang raja yang sukses dalam memimpin kerajaannya. Ia tidak bersandar pada harta benda yang ada padanya. Ia mengatakan bahwa warisannya adalah Tuhan sendiri. Karena ia membuat menjadi bagiannya, maka ia pun mendapat warisan yang permai dan menyenangkan.

Sebuah pertanyaan perlu diajukan pada diri kita masing-masing: apakah yang menjadi warisan dan milik pusaka bagi saudara dan saya. Apakah harta benda di dunia ini yang menjadi  harta warisan saudara yang paling berharga? Atau Tuhan sendiri yang menjadi harta warisan dan milik pusaka yang tidak akan pernah hilang dari kehidupan ini. Kita seharusnya kaya secara rohani, dan tidak harus secara jasmani. Dalam perumpamaan orang kaya yang bodoh, Tuhan Yesus mengatakan bahwa setiap orang harusnya kaya di hadapan Allah. Dalam Lukas 12:21 Tuhan Yesus mengatakan: “Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah."

Penulis sendiri bukanlah orang yang punya harta. Penulis dapat mengatakan bahwa diri ini adalah seorang yang berada di atas garis kemiskinan secara bendawi. Tetapi Allah yang Mahakasih memberikan tali pengukur di tempat yang permai secara rohani. Sama seperti Paulus yang berkata: ia adalah orang yang tidak punya, tetapi memperkaya banyak orang, penulis juga memperkaya orang secara rohani. Melalui pelayanan secara pribadi terhadap para pemuda dan pemudi, mereka diperkaya secara rohani, menjadi orang yang berhasil secara ilmu dan ekonomi, tetapi tetap orang yang hidup berdasarkan iman. bahkan melalui pelayanan terhadap para pemuda, beberapa di antara mereka sudah ada yang  me njadi pendeta di beberapa Gereja. Tali pengukur ditempat tempat yang permai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Rumah Allah

  Rumah Allah Ibrani 3:6 Tetapi Kristus setia sebagai Anak yang mengepalai rumah-Nya; dan rumah-Nya ialah kita, jika kita sampai kepada akhi...