01/06/12

Doa




TUHAN AJARLAH AKU BERDOA


Pendahuluan

Kita semua pernah berdoa. Tidak ada seorang pun dari antara kita yang susah diminta untuk berdoa di dalam satu pertemuan yang diselenggarakan oleh Gereja kita. Namun satu hal yang pasti ialah: tidak ada seorang pun di dunia ini yang dapat mengatakan bahwa ia pintar berdoa. Walaupun ia dapat mengatakan hal itu dari lubuk hatinya yang paling dalam, tetapi pandangan Alkitab bertentangan dengan apa yang dikatakannya. Paulus berkata dalam surat Roma, “Kita tidak tahu bagaimana seharusnya berdoa” Rom 8:26. Paulus memakai kata kita. Itu berarti ia pun turut serta dalam kelompok yang tidak tahu bagaimana seharusnya berdoa. Oleh karena itu, judul dari sesi ini sangat tepat. Tuhan ajarlah aku berdoa.

Rasul Yakobus mengatakan bahwa doa orang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya Yak 5:16. Sebagai seorang yang melayani Tuhan, sebagai seorang murid yang menggantungkan diri pada Tuhan dalam pelayanannya, maka kita sesungguhnya adalah seorang pendoa yang tangguh. Kita akan belajar tentang doa dalam sesi ini. Sebagai seorang yang beriman, dari Gereja Protestant, maka kita mengenal doa itu adalah sebuah bentuk komunikasi dengan Tuhan. Dalam dan melalui doa, kita mengutarakan isi hati kita kepada Tuhan. Tatkala kita mengutarakan isi hati kita itu dalam doa, maka orang mengatakan kita sedang engekspresikan diri kita kepada Allah melalui doa. Itulah bentuk doa yang kita kenal dan biasa dilakukan oleh orang Protestant. Bagi orang beragama lain, seperti Yahudi, Islam dan agama lainnya, termasuk Katolik, mereka mengenal sisi lain dari sebuah doa. Orang menyebutnya dengan doa empaty. Perbedaan antara doa ekspresi dan empati ialah: yang pertama, ada keinginan yang akan diutarakan kepada Allah. Itu berarti hati lebih dahulu, baru kata-kata mengikut di belakang. Sementara yang kedua bentuknya adalah sebaliknya, kata lebih dahulu, baru kemudian hati.

Ekspresi dan Empati

Tatkala seseorang menaikkan doa permohonan, ia mengungkapkan apa isi hatinya, pengharapannya kepada Allah yang dia puja dan dia sembah. Pengharapannya itu adalah sesuatu yang lebih besar dari apa yang dia alami tatkala ia berdoa. Dari sudut pandang filosofis, pengharapan yang lebih besar dari apa yang dialami sekarang ini disebut namanya transendensi manusia. Seorang teolog dan filosof Yahudi yang namanya Abraham J Heschel mengatakan demikian dalam bukunya Between God and Man. Allah adalah Dia yang transendent bagi manusia. Jadi tatkala seseorang berdoa, pada hakekatnya ia masuk ke dalam satu keadaan yang lebih besar dari dirinya sendiri. Tatkala kita berdoa, sebuah kesadaran bahwa kita memasuki aras yang transendent – keadaan yang melampaui diri sendiri – menjadi tempat berpijak bagi diri sendiri. Tatkala kita berdoa, kita berhadapan dengan Allah yang transendent.

Tatkala kita berdoa, yang berbicara kepada Allah bukanlah mulut kita yang mengucapkan kata-kata, tetapi hati kita yang berbicara kepada Allah. Itulah sebabnya Roh Kudus harus menolong kita di dalam berdoa, sebab jika hanya kata-kata saja yang keluar dari mulut kita, maka kata-kata itu tidak sampai ke aras transendent. John Bunyan seorang hamba Tuhan yang besar dari Inggris mengatakan: “lebih baik engkau datang kepada Allah tanpa kata-kata, tetapi dengan hati, ketimbang dengan kata-kata tetapi tanpa hati”. Hati yang berbicara kepada Allah tanpa kata-kata itulah sebuah doa empaty. Jalan mendapatkannya ialah: kata-kata yang direnungkan di dalam hati, lalu kita tertangkap dengan sebuah kata dalam doa itu. Abraham Heschel mengatakan: “sebuah pemikiran menjadi keinginan, keinginan jadi kerinduan, kerinduan jadi hasrat, hasrat jadi penantian, penantian jadi sebuah penglihatan. Langkah-langkah ini menjadi wujud dari sikap hati orang yang berdoa”. Ada orang yang mengatakan lebih baik berdoa sejenak, tetapi dengan doa yang bermakna, ketimbang doa panjang-panjang tetapi tanpa makna. Doa dengan hati. Orang Batak di zaman dahulu mengatakan tarikan nafas panjang bisa menjadi doa – hoi sada pe boi do gabe tangiang.

Marilah kita buat sebuah contoh. Siapakah orang yang paling pas mengutarakan deritanya dalam doa? Menurut para ahli, orang itu ialah orang yang sudah sampai pada level tidak lagi dapat mengatakan deritanya dengan kata-kata. Itulah orang yang kita katakan di atas marhoi sada. Menurut para ahli itu, orang tersebut baru di level satu. Orang yang berada di level dua ialah: orang yang tidak dapat mengatakan sama sekali deritanya di hadapan Allah. Namun ia datang tanpa kata-kata. Nabi Yesaya mengungkapkan hal ini; “Sebab beginilah firman Yang Mahatinggi dan Yang Mahamulia, yang bersemayam untuk selamanya dan Yang Maha Kudus nama-Nya: "Aku bersemayam di tempat tinggi dan di tempat kudus tetapi juga bersama-sama orang yang remuk dan rendah hati, untuk menghidupkan semangat orang-orang yang rendah hati dan untuk menghidupkan hati orang-orang yang remuk” Yes 57:15. Level yang tertinggi yakni di level tiga ialah orang yang mengubah derita yang dialaminya menjadi nyanyian atau tarian, sebagaimana diakui oleh pemazmur. “Aku yang meratap telah Kauubah menjadi orang yang menari-nari...” Mzm 30:12. Orang Batak mengatakan: ndada tartangishon, inang na lambok malilu, tumagonan ma tinortorhon o, among e”. Ungkapan seperti itu di hadirat Allah merupakan sebuah doa empati yang punya makna. Jika kita pakai apa yang dikatakan Abraham J Heschel di atas, itu berarti sudah sampai kepada ranah penglihatan.

Tatkala saudara melihat sesuatu yang ditunjukkan Allah, saudara menjadi bagian dari apa yang terlihat itu. Untuk dapat memahami maksud dari pernyataan ini, kita buat sebuah contoh. Ada seorang balerina dari Uni Soviet menarikan sebuah tarian ballet yang sungguh sangat mengagumkan penonton. Hadirin membuat standing applause untuk penampilannya. Setelah pertunjukan selesai, seorang wartawan mewawancarai sang balerina dan mengajukan pertanyaan: “apa arti dari tarian tadi”? Tanya sang wartawan. Balerina itu menjawab: “Apa artinya? Jika aku tahu artinya, aku tidak akan menarikannya”. Balerina itu tidak tahu apa arti dari tariannya, tetapi ia menarikannya. Sesuatu yang lebih besar dari dirinya telah ia tarikan. Ia menjadi bagian dari tari itu, tetapi ia tidak mampu menerangkan apa arti dari tari itu sendiri. Pola seperti itu dapat kita miliki melalui doa empati.

Tahu Siapa Dia

Ada satu syarat yang mutlak harus dipenuhi tatkala kita berdoa, yakni: kita harus tahu siapa yang kita hadapi. Kata tahu di sini maknanya kita mengerti! Tatkala kita berdoa, ada sebuah kesadaran di lubuk hati kita yang paling dalam, kita tahu siapa yang kita hadapi. Kita tahu bahwa kita berhadapan dengan Bapa bagi kita di dalam Yesus Kristus Tuhan kita. Masalah yang perlu dibenahi ialah: siapa itu Bapa bagi kita! Tahukah saudara bahwa ia adalah Bapa yang sesungguhnya bagi saudara? Tahukah saudara apa artinya jika kita memanggil Dia Bapa? Pemahaman ini bukanlah sesuatu yang dapat dipelajari dalam sebuah kelas khusus. Pemahaman ini didapatkan di dalam perjalanan hidup yang disertai Allah sebagai Bapa bagi kita. Roh Kudus yang membukakan kepada kita pemahaman ini. Jika kita tidak paham siapa yang kita hadapi tatkala kita berdoa, maka ketidakadaan pemahaman itu akan membuat kwalitas doa kita pun setara dengan  pemahaman kita. Jika saudara tahu bahwa Dia yang saudara hadapi di dalam doa adalah satu pribadi yang jauh lebih besar dari diri saudara sendiri, jauh melampaui apa yang dapat kita kenal dari pengalaman kita di dunia ini, jauh lebih dari segala pengalaman orang di sepanjang zaman. Ia yang kita hadapi itu mau menyapa kita sebagai anak, bukankah kwalitas doa kita pun jauh lebih besar dari apa yang kita harapkan dan pikirkan? Paulus mengenal Allah seperti itu, maka dia mengatakan: “Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita Ef 3:20.

Tidak cukup kita tahu bahwa Ia yang kita hadapai itu adalah Bapa. Kita juga harus tahu siapa Bapa yang kita hadapi itu. Tatkala kita berdoa, kita tidak berhadapan dengan suatu kuasa yang sangat besar, jauh lebih besar dari pada yang dapat kita bayangkan. Jika demikian adanya, maka Dia yang kita hadapi itu adalah sesuatu yang kita tidak kenal. Tatkala kita berdoa, kita harus sadar bahwa yang kita hadapi itu adalah pribadi yang ada sama seperti saya ada. Jika saya tidak dapat memahami bahwa Allah adalah pribadi yang ada sama seperti saya ada, maka pada hakekatnya saya tidak berdoa sebagaimana yang diajarkan Alkitab kepada kita. Orang-orang penyembah berhala berdoa kepada ilahnya dengan pola pemahaman ilah itu adalah satu kekuatan yang sangat besar. Dia dapat memberkati dan memberikan kepada saya sesuatu yang saya minta, dimana saya tidak dapat memenuhinya. Kita tidak berdoa seperti itu.

Kita di zaman modern ini memahami makna kata bapa sebagai sesuatu yang bersifat pribadi. Bapa adalah orang tua kandung kita. Jika kita sapa orang lain sebagai bapa, itu adalah sebuah sopan santun belaka. Orang-orang kudus di zaman Alkitab memiliki pemahaman berbeda dengan kita sekarang ini. Kata bapa dibut pertama-tama kepada pemimpin kelompok mereka. Sang bapa itu yang melindungi keberadaan kelompok di mana kita berada. Apa yang terjadi terhadap bapa terjadi juga kepada anak-anaknya. Jika bapa itu dihormati orang, maka seluruh kelompoknya menerima kehormatan tersebut. Demikian juga sebaliknya. Jika saya mengakui seseorang itu adalah bapa bagi saya, itu berarti saya menjadi bagian dari orang yang ada di bawah asuhannya. Saya adalah anaknya. Jika saya tidak mau mengakui bahwa ia adalah bapa bagi saya, itu berarti saya tidak berada di dalam pengaruh orang itu lagi. Relasi seperti itu lebih terasa dalam istilah bapa dalam konteks zaman purba.

Allah itu adalah Bapa bagi kita. Ia yang membuat kita ada di dalam kelompoknya. Jadi, tatkala kita menyerukan kata Bapa kepada Dia, itu berarti kita ada dalam sekumpulan orang yang ada di dalam kuasanya. Kita tidak pernah sendirian tatkala kita menyerukan Allah itu Bapa. Doa pribadi jadi bermakna jika doa itu dijadikan menjadi doa kolektif. Itulah sebabnya kita perlu berdoa bersama. Doa seperti itu sangat kurang dialami oleh orang Protestant. Orang Katolik dan orang Pentakosta menikmati makna doa seperti ini. Kita mengalami doa kolektif hanya dalam doa syafaat dalam kebaktian. Itu pun kita cepat bosan di dalam mengikutinya.

Kita berhadapan dengan satu pribadi yang ada sama seperti saya ada. Ia saya sebut dengan sebutan ‘abba, ya bapa’. Jika orang Yahudi menyebut abba, makna dari kata itu sendiri pada hakekatnya ialah ‘papa’. Kita hanya menyebut papa pada satu orang, yaitu dia yang oleh karenanya, kita menjadi ada. Dengan Dia kita sekarang berhadapan dalam doa. Jika kita menyebut Allah itu ‘papa’, itu berarti Dia yang menyediakan segala sesuatu yang perlu bagi kita. Sama seperti papa di dunia ini menyediakan segala sesuatu, demikianlah Allah yang kita sapa sebagai ‘papa’ menyediakan segala sesuatu. Tatkala kita sadar akan hal itu, bukankah pada hakekatnya tidak perlu lagi kata-kata di hadapan dia yang adalah abba bagi kita? Memahami Allah sebagai abba, menjadikan doa itu sebagai sesuatu yang bersifat empati.

Jika kita berdoa, pada hakekatnya kita tidak pernah sendirian datang kepada Tuhan. Dari sudut pandang Tuhan, tatkala kita berdoa, pada moment yang sama, ada ribuan, mungkin jutaan orang yang datang kepada Allah dalam doa. Topik ini adalah sesuatu yang baru dalam pengalaman doa kita. Satu hal yang harus kita sadari ialah: kita adalah bagian dari satu persekutuan Kristen, yang berasal dari segala bangsa, suku, kaum dan bahasa. Pola pikir ini disebut orang dengan istilah pola  pikir yang holistik. Paulus menggambarkannya dengan istilah tubuh Kristus. Kita pada hakekatnya berjumpa dengan Allah dalam persekutuan orang-orang beriman yang datang kepada mereka di dalam Yesus Kristus. Nyanyian Buku Unde HKBP nomor 545 menyuarakannya: na saor do hita be dibaen Tuhantai. Ibana do tumobus au, rap dohot dongan i. Jika kita tidak pernah datang sendirian di  hadapan Allah yang adalah bapa bagi kita, maka kita pun datang bukan hanya dengan masalah kita semata-mata.

Dalam konteks melayani melalui doa, maka marilah kita belajar dari Imam Besar Perjanjian Lama. Dalam Kitab Keluaran pasal 28-29 Musa berbicara tentang pakaian Imam Besar. Kita tidak akan membahas seluruh pakaian imam besar itu. Salah satu dari pakaian yang dikenakan kepada imam besar ialah sepotong kain empat persegi. Di keempat ujungnya dibuatkan tali pengikat. Kain itu diikatkan dengan ketat ke dada imam besar. Kepada kain empat persegi itu diikatkan dua belas batu permata. Di tiap batu permata itu diukirkan nama suku Israel. Apa artinya itu bagi kita? Kain empat persegi itu berbicara tentang hati kita. Di hati itu ditanamkan nama dari orang yang kita layani. Nama itu sangat berharga di mata kita. Ingat, batu permata yang ditaruh di sana. Sebuah pertanyaan perlu diajukan kepada kita. Berhargakah nama dari orang yang saudara layani? Nama itu diukirkan di patu permata itu sehingga tidak akan dapat dihapus oleh siapa pun. Itulah tugas seorang imam besar. Itulah yang dilakukan Tuhan Yesus bagi kita.

Itu juga yang kita lakukan dalam skala kecil bagi orang yang kita layani. Ada satu lagi pakaian imam besar dalam bentuk yang mirip dengan tutup dada itu. Ada dua potong kain di taruh di kedua bahu imam besar itu. Sama seperti tutup dada, ditaruh sebuah batu permata di tiap bahu itu. Enam nama ditorehkan di batu yang satu, enam lagi di batu yang lain. Itu berarti setiap nama itu didukung imam besar di hadapan Allah. Itu juga yang dilakukan Yesus bagi kita, itu juga yang kita lakukan kepada orang yang kita layani. Ingatlah apa yang disuaraka Allah kepada bangsa Israel melalui nabi Yesaya, “Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu” Yes 46:4. Kita membawa nama itu di hadapan Allah dalam doa. Kain itu tidak pernah tanggal dari dada dan bahu imam besar. Tatkala kita berdoa, nama itu menyertai kita. Kita tidak hanya membawa orang itu dalam doa ekspresi, tetapi juga dalam doa empati kita.

Marilah kita belajar dari orang kudus dalam Alkitab, tentang bagaimana mereka berdoa di hadapan Allah. Kita mulai dari Nehemia. Diceriterakan dalam pasal 2 kitab Nehemia, ia berdoa. Ia menaikkan sebuah doa, pada waktu raja sedang mengajukan sebuah pertanyaan kepadanya. Raja bertanya, Nehemia harus memberi jawaban. Di antara waktu yang sangat sedikit itu, Nehemia berdoa kepada Allah semesta langit. Tidak ada kata-kata yang dia ucapkan, hanya hati yang naik ke hadirat Allah. Di waktu kesesakan datang, dimana tidak ada waktu untuk berdoa dengan kata-kata, kita dapat menaikkan doa sama seperti yang dinaikkan Nehemia. Untuk mengerti apa yang dinaikkan Nehemia dalam doa tanpa kata-kata itu, maka baiklah kita melihat doa yang diutarakannya dengan kata-kata dalam pasal satu. Doa dalam pasal satu itu menjadi doa yang senantiasa dinaikkannya siang dan malam. Doa ekspresi itu pada satu saat menjadi doa empati di hadapan Allah. Hasil dari doa diamnya Nehemia itu ialah: Raja memerintahkan Nehemia menjadi bupati di Yudea dan diberi tugas untuk membangun tembok Yerusalem. Itulah yang dipergumulkan Nehemia selama ini. Allah memberi kesempatan kepadanya untuk mewujudkannya.

Contoh Doa Dalam Alkitab

Contoh yang kedua tentang sebuah permohonan di hadapan Allah. Kita membuat perempuan Kanaan yang meminta agar Tuhan Yesus menyembuhkan anak perempuannya yang sedang sakit/ kisahnya dituturkan dalam Injil Mat 15:21-28. Dalam dialog antara Yesus dengan perempuan Kanaan ini ada sesuatu yang sangat penting bagi kita, tatkala kita berdoa di hadapan Allah. Perempuan itu tidak menyalahkan Yesus, tatkala ia dikategorikan dengan anjing. Memang orang Yahudi mempersamakan orang bukan Yahudi sebagai orang yang tidak bersih, atau dengan perkataan lain najis. Binatang naajis yang suka berkeliaran pada waktu itu adalah anjing, sehingga orang Yahudi suka mempersamakan orang non Yahudi dengan anjing. Maksudnya sangat jelas, orang itu bukan bagian dari persekutuan umat Allah. Tatkala Yesus mengatakan bahwa tidak baik mengambil roti dari seorang anak dan memberikannya kepada anjing, perempuan itu membenarkan apa yang dikatakan Tuhan Yesus. Tetapi setelah itu ia memenuhi mulutnya dengan sebuah argumentasi. Ia mengatakan bahwa sekalipun anjing itu tidak kebagian roti yang diperuntukkan bagi anak, tetapi bukan berarti anjing itu tidak dapat sama sekali dari roti tersebut. Setiap roti yang dimakan anak-anak akan ada remah-remahnya. Kesadaran inilah yang mendorong perempuan tersebut meminta kepada Tuhan Yesus. Aku tidak minta rotinya, seolah-olah ia mengatakan demikian. Aku memang tidak berhak untuk itu. Tetapi setiap roti ada remah-remahnya. Itu untuk aku. Pemikiran seperti itu yang ada di dalam benak perempuan Kanaan tadi . Yesus memuji perempuan itu sebagai orang yang punya iman yang besar. Latihlah berdoa seperti itu di hadapan Allah.

Contoh yang ketiga dari pemazmur Daud. Dalam Mzm 70:6 ia berkata: “Tetapi aku ini sengsara dan miskin ya Allah, segeralah datang! Engkaulah yang menolong aku dan meluputkan aku; ya TUHAN, janganlah lambat datang”! Daud mengatakan perkataan seperti itu, tatkala ia sedang mempersembahkan persembahan kepada Tuhan. Doa ini dipakai oleh orang Yahudi sebagai doa untuk minta pertolongan kepada Allah. Tatkala mereka mengetahui bahwa Daud yang menaikkan doa ini, mereka ingin mengadakan empati dengan Daud yang berdoa seperti ini. Tatkala mereka mengalami pengalaman dipersatukan dengan orang-orang yang mengalami kesesakan seperti Daud, maka mereka berharap akan menerima pelepasan sama seperti Daud dilepaskan Allah dari segala pergumulan hidupnya.

Saluran Kuasa Ilahi

Jika kita bicara tentang pelayanan, maka pada umumnya kita akan membicarakan metode, atau cara baru di dalam peningkatan pelayanan kita. Kita akan membicarakan bagaimana caranya supaya ibadah yang kita laksanakan itu disukai orang. Kita akan meniru apa yang dikerjakan orang lain. Dengan sebuah asumsi, itulah yang dikehendaki orang. Dengan disukainya acara itu, kita berharap orang akan mengalami perubahan melalui acara tersebut. Di sisi lain, Allah tidak tertarik dengan acara, melainkan Ia tertarik dengan orang! Tuhan menyatakan kepada Nabi Yehezkiel: “Aku mencari di tengah-tengah mereka seorang yang hendak mendirikan tembok atau yang mempertahankan negeri itu di hadapan-Ku, supaya jangan Kumusnahkan, tetapi Aku tidak menemuinya” Yeh 22:30. Tuhan tidak mencari cara-cara baru, melainakn orang yang mempertahankan kelompok itu di hadapan Allah! Itu berarti mempertahankan kelompok itu melalui doa. Demikian juga firman Allah dalam I Taw 16:9 “Karena mata TUHAN menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan kekuatan-Nya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia. Dalam hal ini engkau telah berlaku bodoh, oleh sebab itu mulai sekarang ini engkau akan mengalami peperangan." Allah mencari satu orang yang bersungguh hati memperjuangkan kelompok itu di dalam doa.

Paulus dan Silas adalah orang yang tahu persis apa artinya sebuah doa. Hal itu dibuktikan dalam peristiwa yang mereka alami di penjara kota Filipi. Dengan punggung masih berdarah karena dicambuk serdadu Roma, mereka berdoa Kis 16:23-25. Paulus dan Silas, tatkala datang ke kota Tesalonika, orang Yahudi di  kota itu mengatakan: "Orang-orang yang mengacaukan seluruh dunia telah datang juga ke mari” Kis 17:6. Kata mengacaukan dalam bahasa Inggris disebut dengan kata: “Turn upside down”. Kata itu dapat diterjemahkan dengan: menjungkirbalikkan dunia. Orang-orang yang memahami makna doa, merekalah yang dptmenjungkirbalikkan dunia yang ada di hadapan mereka.

Orang Besar Dalam Doa

Martin Luther adalah orang yang besar dalam doa. Ia pernah berkata: “Jikalau saya gagal mengasingkan waktu selama dua jam di dalam doa setiap pagi, maka iblis mendapat kemenangan sepanjang hari. sekali pun saya mempunyai banyak sekali pekerjaan, namun saya tidak memulainya tanpa lebih dulu mengasingkan waktu tiga jam setiap hari di dalam doa.” Dari Martin Luther kita warisi ungkapan ini “dihorhon tangiang do satonga ni ulaon”.

George Muller diberitakan orang pernah berlayar dengan kapal uap di sungai Missisippi. Kapal tidak dapat berjalan karena kabut yang sangat tebal. Ia mendatangi ruangan kapten kapal untuk bertanya, mengapa kapal itu tidak berjalan. Kepadanya diberitahukan alasannya ialah: kabut tebal yang menghalangi pemandangan. Sang kapten menambahkan bahwa keadaan seperti ini bisa berlangsung beberapa hari. karena itu kita harus bersiap untuk menghadapi keadaan tersebut. Muller berkata kepada kapten kapal itu: “Besok aku harus berkhotbah di kota anu. Aku belum pernah terlambat melakukan tugasku selama ini. Oleh karena itu, marilah kita berdoa agar Tuhan turut campur tangan. Lalu mereka pun berdoa.

Setelah Muller selesai berdoa, kapten kapal itu ingin juga berdoa. Lalu Muller berkata: tak usah! Kapten kapal itu mengatakan mengapa ia tidak harus berdoa. Pertama: kau tidak percaya bahwa Allah dapat membuat kabut itu sirna dalam sekejab. Kedua, hal itu tidak perlu, sebab kabut itu sudah sirna. Jika engkau tidak percaya. Buka jendelamu dan lihatlah keluar. Kapten itu melakukan apa yang diminta Muller. Ia melihat kabut itu sudah sirna. Sejak itu kapten kapal itu bertobat. Dari dia kita mengetahui kisah tersebut.

John Welch, seorang pendeta Skotlandia yang saleh dan ternama, merasa hatinya sudah berlalu dengan sia-sia jika ia dk mengasingkan waktunya delapan atau sepuluh jam untuk berdoa. Mulailah nikmati waktu doa. Sebab doa mengubah hati kita, juga hari orang yang kita doakan. Jangan pernah bersandar kepada cara atau metode, doa yang mengubah dunia. Renungkanlah syair dari nyanyian ini: “Di doa ibuku, namaku disebut...”

Seringlah ini kukenang di masa yang berat,
di kala hidup mendesak dan nyaris ku sesat;
melintas gambar ibuku, sewaktu bertelut,
kembali sayup ku dengar, namaku disebut.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Rumah Allah

  Rumah Allah Ibrani 3:6 Tetapi Kristus setia sebagai Anak yang mengepalai rumah-Nya; dan rumah-Nya ialah kita, jika kita sampai kepada akhi...