04/01/15

Pohon Terang





Pohon Terang

Natal sudah berlalu. Namun di Minggu pertama setelah tahun baru, pohon terang masih terpasang di altar Gereja. Akan tiba saatnya pohon terang itu diturunkan, dipreteli, lalu dimasukkan ke kardus tempat menyimpan. Pada gilirannya, di akhir tahun ini, akan dikeluarkan kembali. Ditegakkan dan dihias untuk menyemarakkan perayaan natal. Terlintas di dalam hati ini: seberapa besar pengaruh perayaan natal yang sudah berlalu itu di dalam kehidupan beriman dari anggota Jemaat yang merayakannya?

Jika anggota Jemaat mengalami perjumpaan iman dengan Kristus Yesus yang kelahiran-Nya dirayakan, maka setiap orang yang berjumpa dengan Yesus yang lahir itu, mereka mengalami satu sukacita yang luar biasa. Marilah kita mendengar kesaksian dari penginjil Matius tentang orang Majus yang menemui Yesus di kandang domba. Mereka sangat bersukacita tatkala melihat bayi  Yesus di dalam palungan. Mat 2:10. KJV menerjemahkan dengan kata: exeedingly great joy, sukacita yang melimpah. Para gembala yang mendapatkan berita kelahiran itu dari para malaikat pun pulang dengan memuliakan Allah, karena berita yang mereka dengar dan lihat adalah sebuah kenyataan. Ada sebuah realisasi dari berita natal yang diperdengarkan kepada mereka.

Adakah sukacita sama seperti yang dialami oleh para orang Majus dan para gembala itu, di hati mereka yang  merayakan natal beberapa hari yang lalu? Mungkin perayaan itu hanyalah sebuah seremoni belaka bagi kita. Kita sudah kehilangan substansi dari perayaan natal tersebut. Sama seperti pohon terang tadi. Sudah tiba waktunya pohon natal itu diturunkan dan dimasukkan ke dalam peti. Pada waktunya akan dikeluarkan kembali. Pohon terang itu hanya bermakna bagi kita di masa tertentu. Ia tidak punya makna di luar tradisi yang ada di dalam hidup kita. Pohon terang hanyalah sebuah ornamen di dalam rumah kita. Ornamen di masa tertentu.

Jangan jangan kekristenan kita pun hanyalah sebuah ornamen di dalam kehidupan ini. Negara ini menetapkan bahwa semua warga negara Republik Indonesia harus punya agama. Maka kita pun memilih sebuah agama yang cocok dengan diri kita. Lalu kita memilih agama Kristen bagi kita. Atau kita memiliki agama itu, oleh karena kita mewarisinya dari orang tua kita.

Namun satu hal yang pasti, Yesus berkata kepada Petrus: “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di surga”. Pengakuan bahwa Yesus adalah Tuhan yang sesungguhnya tidak pernah kita dapatkan dari tangan kedua. Dari orangtua atau para pekerja Tuhan. Pengakuan itu datangnya dari tangan pertama, yakni Allah Bapa sendirilah yang menaruhnya di dalam hati kita, melalui kesaksian dari Roh Kudus. Paulus mengatakan bahwa tidak ada seorang pun yang dapat mengaku Yesus adalah Tuhan, selain dari Roh Kudus.

Kembali kepada pertanyaan yang sudah diajukan di atas, apakah orang berjumpa dengan Yesus yang kelahiran-Nya dirayakan di hari natal? Apakah mereka pulang dari perayaan natal itu dalam sukacita sama seperti orang Majus? Apakah mereka memuliakan Allah sama seperti para gembala? Apakah yang harus menjadi tolok ukur dari sebuah perjumpaan tersebut? Apakah realisasi dari sebuah sukacita dan tindakan memuliakan Allah karena perjumpaan tersebut? Sebuah pertanyaan yang  perlu direnungkan dengan baik dan benar.

Setiap kali merayakan natal, saya sebagai warga HKBP yang sangat menikmati ibadah di Gereja, dalam perayaan natal senantiasa bergema lagu ini:

Nunga jumpang muse ari pesta i, hatutubu ni Tuhanta Jesus i, tuat do Ibana sian surgo i, mebat tu hita on. Hasangapon di Debata, dame dame ma di jolma, las ni roha ni Debata hajolmaon muse.

Beta, ale dongan tu Betlehem i Ita somba ma Dakdanak na disi Na tinongos ni parasiroha i Debata Ama i Hasangapon di Debata, dame,dame ma di jolma. Las ni roha ni Debata hajolmaon muse.

Sombanami ma di Ho na tubu on Ho siboan dame tu portibion Sai pasaorhon ma tu rohanami on dame-Mi o Jesus. Hasangapon di Debata, dame, dame ma di jolma. Las ni roha ni Debata hajolmaon muse.

Aku mencoba melihat makna dari perayaan natal, dari sudut pandang syair lagu yang sangat populer ini. Bait pertama berbicara bahwa natal adalah sebuah pesta. Jika kita mengadakan pesta, itu berarti kita sedang membagikan rasa sukacita kita kepada sesama. Tidak ada orang yang mengadakan pesta dan tidak mengundang orang untuk bersukacita bersama dengan dia. Orang Majus itu tidak sendirian menyembah bayi Yesus. Para gembala pun tidak sendirian menerima kabar baik itu. Jika kita merayakan natal dalam konteks pesta, tidak ada makna ornamen yang kita buat, jika tidak ada tamu yang kita undang untuk bersukacita bersama dengan kita.

Jika kita berpesta dengan sukacita, dan kita mengundang orang untuk turut ambil bagian dalam sukacita yang kita alami. Maka akan terdapat di dalam pesta itu kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang  bekenan kepada-Nya. Siapakah sesama kita yang turut menikmati suasana pesta yang kita rayakan dalam natal yang barusan kita ikuti. Orang itu kita ajak untuk turut pergi ke Betlehem untuk menyembah Dia yang dibaringkan di dalam kerendahan. Karena hanya berbaring di palungan kambing domba. Hal ini diutarakan di dalam ayat dua dalam syair yang di atas. Kita berpesta dengan sesama di dalam kerendahan hati dan dalam kesederhanaan. Sangat kontras dengan suasana natal yang sekarang kita saksikan. Komersialisasi dengan keuntungan bisnis yang diharapkan para pedagang menghilangkan suasana kesederhanaan yang disuarakan natal yang sesungguhnya.

Di Betlehem itu orang majus mempersembahkan emas kemenyaan dan mur kepada bayi Yesus. Syair lagu pujian kita pun di dalam ayat tiga menyuarakannya. Ada sesuatu yang harus dipersembahkan kepada Yesus sang bayi natal itu. Setiap orang yang berjumpa dengan sesuatu yang sangat amat besar di dalam hidup ini, maka kita tidak boleh tidak akan mempersembahkan sesuatu. Persembahan apa yang paling layak kita persembahkan kepada Dia yang hari kelahiran-Nya kita pestakan?

Syair dari lagu nyanyian Gereja HKBP memberikan saran kepada kita. BE nomor 49: 7 “Ántong roha nami ma pelean-Mi, o Jesus hasian sai jalo ma i, ias jala sonang ma baen angka i, tongtong gabe domu ma tu rohami”. (Oleh karena itu hati kamilah yang menjadi persembahan kami. Oh Yesus yang kekasih terimalah, bersih dan buat sejahteralah hatiku, senantiasa bersatu dengan hati-Mu.) Tidak ada persembahan yang paling pas untuk dipersembahkan kepada Yesus yang telah datang ke dalam kehidupan kita, selain dari hati kita. Allah sangat menginginkan hal tersebut.

Syair pertama yang kita kutip di atas dalam bahasa Inggris bunyinya sebagai berikut:

Mine eyes have seen the glory
of the coming of the Lord;
he is trampling out the vintage
where the grapes of wrath are stored;
he hath loosed the fateful lightning
of his terrible swift sword;
his truth is marching on.

Refrain:

Glory, glory, hallelujah!
Glory, glory, hallelujah!
Glory, glory, hallelujah!
His truth is marching on.

Syair itu mengingatkan kita bahwa mata hati iman kita telah melihat kemuliaan dari Tuhan yang sedang datang mengunjungi kita. Ia menginjak injak buah dari murka Allah... Kebenaran-Nya sedang berarak. Oleh karena itu jiwanya memuji kemuliaan Allah dan menyanyikan haleluyah. Kita suka menyanyikannya. Tetapi pertanyaan yang perlu harus direnungkan ialah: sudahkah kita melihat kemuliaan Allah berarak berjalan mendatangi kehidupan kita? Jika ya memang demikian, tidak boleh tidak, kita akan menuturkan hal itu kepada sesama kita.

Sayang seribu kali sayang, kita sudah terperangkap di dalam rutinitas perayaan. Sama seperti pohon terang yang diturunkan dan dibungkus. Perayaan natal pun berlalu dari hidup kita. Gone with the wind. Berlalu dibawa angin! Tanpa bekas! Ada orang bertanya: ”Apa yang harus kita jadikan sebagai sebuah tolok ukur dari suksesnya sebuah perayaan natal?” Saya menjawab: “Lihatlah jumlah anggota Jemaat yang hadir di dalam ibadah setelah ibadah natal berlalu”. Jika orang menikmati sukacita pesta yang dirasakannya pada hari natal, maka orang itu akan semakin giat di dalam menikmati perjumpaan dengan Allah dan sesama, di dalam ibadah yang dilaksanakan persekutuan.

Jika kita melihat jumlah orang yang hadir di dalam ibadah Minggu setelah ibadah natal dan tahun baru, maka kita menemukan jumlah orang yang sangat berkurang. Mereka lebih menyukai tinggal di rumah, atau menikmati liburan keluarga. Mereka tidak menemukan kesegaran baru tatkala mereka hadir di dalam ibadah Minggu. Lain dengan Tuhan Yesus. Ia sedang lapar dan haus. Mereka sedang berada di sumur Yakub, tetapi mereka tidak punya timba. Makanan pun tidak ada pada mereka. Lalu para murid pergi meninggalkan Yesus di sumur tersebut untuk mencari makanan.

Tatkala para murid pergi, maka datanglah seorang perempuan yang kurang baik perilakunya. Ia bercakap-cakap dengan Tuhan Yesus. Melalui percakapan tersebut, ia menemukan bahwa Dia yang sedang berbicara kepadanya adalah Mesias yang dinantikan orang Samaria. Karena perjumpaan tersebut, perempuan itu meninggalkan Yesus sendirian. Ia ingin penduduk sekampungnya juga berjumpa dengan Mesias. Ia bersukacita.

Pada waktu itu para murid datang membawa makanan. Lalu menawarkan makanan itu kepada Yesus. Yesus berkata: “Pada-Ku ada makanan yang tidak kamu kenal”. Para murid itu bertanya: “Siapa yang memberikan kepada-Nya?” Yesus menjawab: “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Bapa-Ku yang mengutus Aku”. Tatkala Yesus melakukan kehendak Allah, untuk membukakan mata orang yang buta, seperti perempuan Samaria itu, rasa lapar-Nya menjadi hilang. Makanan senantiasa membuat  kita kenyang dan kuat. Itulah yang dialami Yesus di tepi sumur Yakub tersebut.

Jika kita membuat itu sebagai pelajaran berharga bagi kita, maka setiap kali kita melakukan kehendak Allah, maka kita menerima kekuatan dari Allah yang melihat pekerjaan iman yang kita lakukan. Oleh karena itu, jika kita benar-benar berjumpa dengan Yesus di natal yang kita rayakan, kita akan memberikan persembahan. Hati kita adalah persembahan yang paling disukai Allah. Hati itu pun dikembalikan kepada kita, dengan sukacita dan kegemberiaan dan kekuatan yang baru. Dengan sesuatu yang baru itu, kita akan dimampukan untuk melakukan segala kehendak Allah. Oleh karena itu dalam setiap ibadah yang diselenggarakan persekutuan kita, dengan sukacita akan mengikutinya. Sebab di setiap persekutuan itu, kita dikenyangkan oleh kasih karunia Allah yang tiada habis-habisnya.

Sebaliknya, bagi mereka yang melihat perayaan natal hanyalah sebuah seremoni musiman, maka setelah acara selesai, maka terkuras juga energi yang ada di dalam diri mereka. Stamina mereka menurun, oleh karena dikonsumsi oleh nafsu manusiawi yang punya batas kemampuan. Sungguh sangat berbeda dimensi stamina dari mereka yang hidup secara manusiawi, dengan mereka yang hidup secara rohani. Orang rohani mendapatkan kekuatan baru di dalam melakukan kehendak Allah. Sementara orang dunia kehabisan tenaga di dalam melakukan kehendaknya. Itulah sebabnya mereka  harus beristirahat dari segala pekerjaan yang mereka kerjakan.

Ornamen rohani dari orang percaya tidak harus dibungkus, seperti pohon terang yang sudah kita bicarakan. Ormanen rohani adalah manusia batiniah yang indah, yang terpancar dari kehidupan kita. Dilihat orang lain, lalu mereka pun memuji Allah karena karya-Nya di dalam diri kita. Kesederhanaan dan kerendahan hati, adalah salah satu dari ornamen yang senantiasa dipakai oleh orang-orang pilihan Allah. Orang-orang yang dikenyangkan Allah dengan roti kehidupan dari surga, mereka memamerkan ornamen rohani ini. Bukankah orang akan tertarik melihat kesederhanaan dan kerendahan hati? Yesus telah mendemonstrasikannya. Orang pada datang kepada-Nya karena Ia menerima orang sebagaimana adanya. Apakah dampak dari hati natal yang sudah berlalu itu bagi saudara pada hari ini?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Rumah Allah

  Rumah Allah Ibrani 3:6 Tetapi Kristus setia sebagai Anak yang mengepalai rumah-Nya; dan rumah-Nya ialah kita, jika kita sampai kepada akhi...