15/04/17

Kebangkitan




Kebangkitan

I Korintus 15:1 – 4

Ada seorang anak muda berjumpa dengan Tuhan Yesus, dalam satu kebaktian kebangunan rohani. Sepulangnya dari kebaktian itu ia punya kerinduan untuk memperkenalkan Tuhan Yesus kepada orang lain. Untuk itu ia pergi ke satu lembaga pekabaran Injil, lalu mengambil traktat dari kantor lembaga itu; ia pun pergi ke tempat ramai dan membagi-bagikan traktat tersebut. Seorang bapa bertanya kepadanya: siapa nak yang sedang kamu promosikan. Anak muda itu berkata: Yesus Kristus! Si bapa menjawab: Yesus Kristus kan sudah mati, koq kau promosikan orang yang sudah mati? Anak muda berkata: tidak, Ia masih hidup. Lalu si bapa bertanya lagi: dari mana kau tahu bahwa ia hidup?

Anak muda itu tidak dapat memberikan jawaban yang pasti. Ia pun pulang dengan sedih hati, karena ia tidak dapat menjawab pertanyaan si bapa tadi. Di rumah ia berdoa dan memohon pengajaran dari Tuhan. Roh Kudus memberikan kepadanya sebuah pencerahan. Lalu dari pengalamannya itu ia menggubah sebuah lagu dengan judul ‘He Lives’. Syairnya berkata: I serve a risen saviour He’s ini the world today, I know that He is living what ever man may say. He walks with me and talks with me along lives narrow way. He lives He lives salvation to impart. You ask me how I know He lives, He lives within my heart.

Terjemahan bebasnya: kumelayani Tuhan yang bangkit, Ia ada di dunia sekarang ini, ku tahu Dia hidup, apa pun kata orang. Ia berjalan bersamaku dan ngobrol bersamaku di sepanjang jalan yang sempit. Ia hidup, Ia hidup keselamatan pun dibagikan. Kau bertanya dari mana aku tahu Ia hidup, Ia hidup di dalam hatiku. Itulah perngalaman dari seorang yang telah berjumpa dengan Tuhan yang bangkit. Yesus yang ada di dalam lubuk hati karena iman. sudahkah saudara berjumpa dengan Yesus yang bangkit itu? Sudahkah saudara berjalan bersama dengan Dia di lorong kehidupan yang sempit itu? Jika belum pernah, itu berarti saudara dan saya bukanlah Kristen, sekali pun agama kita adalah Kristen.

Injil maknanya adalah kabar baik. Ada pun isi kabar baik itu adalah kematian Yesus untuk orang berdosa, kebangkitan-Nya dari antara orang mati, kenaikan-Nya ke surga dan kedatangan-Nya kelak untuk menjemput kita, supaya dimana Ia ada, di situ pun kita ada. Tanpa mengalami perjumpaan dengan Tuhan yang sudah bangkit, maka seluruh karya-Nya tidak dapat kita nikmati di dalam hidup ini. Kebangkitan-Nya membuat kematian-Nya menjadi  bermakna. Sebab jika Ia mati untuk orang berdosa dan tidak bangkit lagi, maka sia sialah iman kepada-Nya. Ia bangkit dari antara orang mati.

Namun ada orang yang tidak percaya bahwa Yesus telah bangkit dari antara orang mati. Sebab Ia tidak pernah menunjukkan diri kepada musuh-musuh-Nya, sebagai tanda bahwa Ia hidup. Satu hal yang sangat pasti ialah: Yesus tidak pernah lagi dapat dijumpai orang yang tidak percaya. Ia hanya dapat dijumpai orang yang percaya kepada-Nya. Jika ada orang yang mengatakan bahwa Yesus tidak benar bangkit dari antara orang mati, hal itu dikatakannya karena ia tidak pernah berjumpa dengan Yesus yang bangkit.

Jika saudara adalah orang percaya kepada Tuhan Yesus, seharusnya saudara telah berjumpa dengan Dia, sebab Ia sendiri  berkata: “Aku pergi tetapi Aku datang lagi kepadamu.” Yoh 14:28. Jadi pastikan saudara telah berjumpa dengan Dia yang sudah bangkit itu.

14/04/17

Kekerabatan




Kekerabatan

Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: "Ibu, inilah, anakmu!"
Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Inilah ibumu!" Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.
Yohanes 19:26 – 27

Di kayu salib itu Yesus mendirikan satu kekerabatan yang baru. Secara jasmani, Yesus adalah anak kandung dari Maria. Tetapi karena salib mendirikan satu relasi baru antara Allah dan manusia. Manusia terpisah dari Allah karena keberdosaannya. Karena salib itu relasi itu pun dirubah, melalui salib, Allah sekarang menjadi Bapa bagi orang beriman. Hal tersebut juga akan mempengaruhi relasi antara manusia dengan sesamanya. Jika relasi manusia ditentukan oleh hubungan darah, sekarang relasi manusia didasarkan bukan lagi darah manusia, tetapi dengan darah Tuhan Yesus.

Semua manusia dirubah relasinya dengan sesamanya, karena darah Yesus. Relasi Yesus dengan Maria tidak lagi didasarkan pada darah manusia, tetapi darah Kristus. Oleh karena itu relasi yang lama pun akan kehilangan kemutlakannya. Karya Kristus yang menjadi mutlak untuk seterusnya. Hal yang sama pun terjadi di dalam kehidupan kita sehari hari. Setiap orang akan hidup di dalam ruang lingkup tradisi dari sukunya. Tradisi itu kehilangan kemutlakannya. Kita masih hidup di dalam tradisi tersebut. Tetapi tidak lagi mutlak. Sesuatu yang mutlak hanyalah pengajaran firman Allah.

Di salib itu pun Yesus tidak lupa akan tugasnya sebagai anak sulung bagi Maria. Rupa-rupanya Yusuf suami Maria sudah meninggal dunia. Adalah tugas dari anak sulung untuk memelihara ibunda yang sudah menjanda. Pada waktu itu, seorang janda adalah obyek pemerasan. Dari salib itu memberikan tugas kepada murid yang dikasihi-Nya untuk memelihara ibunda Maria di masa tuanya. Sekali pun dalam keadaan menderita, apa yang harus dilakukan Yesus sebagai manusia tetap dilakukan-Nya. Memang tidak ada ditemukan kesalahan apa pun di dalam diri-Nya. Ia benar di hadapan Allah dan juga di hadapan manusia.

Saya mengajak teman teman untuk hadir secara imajinatif di Golgata itu dan berdiri bersama dengan murid Tuhan Yesus di sana. Jika murid itu menerima penugasan, Maria juga menerima penugasan, bagaimana mungkin kita tidak me nerima penugasan dari Tuhan Yesus dari kayu salib-Nya itu? Ia pasti memberikan sebuah penugasan kepada saudara dan saya. Sama seperti murid itu dan juga Maria, mereka melakukan penugasan itu dengan sebaik-baiknya. Apakah penugasan yang saudara terima dari Tuhan Yesus di perjumpaan imajinatif dengan Dia di bukit Tengkorak itu?

Hal itu sejajar dengan apa yang dikatakan Paulus di dalam suratnya kepada Jemaat di Efesus di sana Paulus berkata; "Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.” Ef 2:10. Pekerjaan baik apa yang disediakan Allah untuk saudara dan saya kerjakan? Jika saudara dan saya adalah murid Yesus yang dikasihi-Nya, maka saudara dan saya pun akan melakukan hal itu sebagaimana disuarakan oleh nas kita.

13/04/17

Golgata



Golgata

Nas Bacaan: Markus 15:22 – 41

Ada sebuah lagu dalam bahasa Inggris syairnya sebagai berikut: Where you there when they crucify my Lord – dimanakah engkau tatkala mereka menyalibkan Tuhanku. Kita menjawab pertanyaan itu dengan hadir di Golgata pada waktu Yesus disalibkan. Kita hadir di sana secara imajinatif dan merenungkan seluruh peristiwa itu, lalu menarik pelajaran berharga bagi kita.

Setelah mereka menyaliban Yesus, para serdadu Romawi itu memberikan anggur bercampur mur untuk diminumkan kepada Yesus. Namun kita harus garis bawahi ialah: Yesus menolak anggur itu. Tujuan pemberian anggur itu ialah membius Yesus, supaya rasa sakitnya berkurang. Penolakan itu mengindikasikan bahwa Yesus tidak mau penderitaan-Nya untuk keselamatan manusia, tidak diinterfensi orang. Ia mereguk penderitaan itu, hingga tetes yang terakhir.

Keselamatan kita disediakan melalui penderitaan Yesus hingga sampai puncaknya. Keselamatan itu adalah sesuatu yang sangat mahal harganya. Jika kita menghargai penderitaan Tuhan demi keselamtan kita, maka bagi kita, anugerah keselamatan itu adalah sesuatu yang sangat mahal harganya. Bukan sesuatu yang murah.

Di samping itu, para serdadu itu membagi-bagi pakaian Yesus. Hal ini adalah sesuatu yang signifikan dan simbolik. Pakaian di dalam pemahaman Alkitab bermakna kebenaran. Hal itu disuarakan Yesaya dalam  Yes 61:10. Dengan pemahaman simbolik ini, kita dapat mengatakan bahwa kebenaran Yesus dibagi-bagikan kepada orang berdosa, karena kematiannya. Kristus benar dan tidak ada dosa di dalam diri-Nya. Surga mengatakan bahwa Bapa berkenan kepada Dia sampai dua kali dicatat Alkitab. Kebenaran-Nya itu sekarang dibagikan bagi saudara dan saya. Allah melihat saudara dan saya sebagai orang benar dan tidak berdosa, sama seperti Kristus Yesus. Sudahkah kebenaran Kristus dibagikan kepada saudara?

Bersama dengan Yesus, disalibkan juga dua orang penjahat. Yesus disejajarkan dengan penjahat, dan dihukum disalibkan. Satu hukuman yang sangat berat. Warga Romawi tidak boleh disalibkan. Hanya para  budak dan warga negara jajahan saja yang  boleh disalibkan. Yesus ada di antara orang berdosa. Menarik untuk disimak, satu diantara orang yang disalibkan bersama dengan Yesus itu diselamatkan, satu lagi tidak. Ini satu kebenaran yang perlu direnungkan. Yesus ada di antara orang berdosa, tetapi tidak semua orang berdosa itu selamat. Hanya mereka yang berpihak kepada Yesus saja yang diselamatkan. Kepada penjahat yang satu ini, kebenaran Yesus dibagikan, sementara yang lain tidak menerimanya.

Dari salib itu Yesus berseru; Eloi, Eloi, lama sabakhtani! Allahku, allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku. Pada waktu itu Yesus menjadi dosa, karena dosa seluruh umat manusia telah ditransfer kepada-Nya. Pada waktu itu Allah Bapa meninggalkan Dia, sebab Allah tidak dapat mentolerir dosa sekecil apa pun juga. Dosa senantiasa memisahkan Allah dengan manusia. Hanya jika saudara dan saya bersama Yesus, maka Allah dapat mendekat kepada saudara dan saya, karena kita dipenuhi kebenaran dari Kristus Yesus.

Di Golgata itu pun kita melihat kepala pasukan Romawi itu menemukan Kristus sebagai Anak Allah. Kita pun sedang berada di sana secara imajinatif. Apakah saudara melihat apa yang dilihat oleh kepala pasukan Romawi tersebut. Di Golgata itu pun ada para petinggi agama yang mengolok olok Yesus. Manusia mengolok olok orang benar dan yang mati untuk keberdosaan mereka. Hingga sekarang pun hal yang sama. Bahkan orang Kristen pun mengolok olok karya Yesus Kristus dengan ketidakpercayaan mereka atas keselamatan yang tersedia bagi mereka. Tragis bukan!

Namun bukan hanya pengolok olok yang hadir di Gogata itu. Para murid Yesus dari kalangan perempuan pun hadir di sana. Mereka setia mengikut Yesus dari Galilea hingga Golgata. Mereka tidak dapat berbuat apa pun dalam peristiwa itu. Inilah representasi dari orang beriman. Di kalangan orang Israel, perempuan adalah warga yang tidak berarti. Tetapi mereka inilah yang setia mengikut Yesus dari sejak semula. Bagaimana dengan saudara dan saya. Di sisi mana saudara pada waktu Yesus di salibkan di Golgata? Where you there when they crucify my Lord.

12/04/17

Agnus Dei



 

Agnus Dei


Pada keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata: "Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia.

Yohanes 1:29

 

Agnus Dei adalah bahasa Latin yang artinya adalah Anak Domba Allah. Yohanes sebagai bentara – voor riyder – Kristus, menunjuk kepada Yesus sebagai Anak Domba Allah. Alkitab bahasa Inggris memakai kata mengangkut -  taketh away – bukan menghapus. Kedua terjemahan ini dapat kita terima. Sebab di dalam kitab Imamat pasal 16 ada dua ekor domba yang dipersembahkan sebagai kurban penghapus dosa. Satu disembelih dan darahnya dibawa ke ruang mahakudus. Darah itu menghapus dosa orang Israel. Domba satu lagi dilepas ke padang gurun. Domba itu mengangkut dosa umat manusia. Yesus sebagai Anak Domba Allah mengangkut dan menghapus dosa manusia di dalam diri-Nya sendiri.

Yohanes hadir di dunia ini untuk memperkenalkan Kristus kepada dunia, dalam hal ini, pertama-tama kepada bangsa Israel. Ia datang untuk mempersiapkan jalan bagi Israel, agar berjumpa dengan Mesias yang dijanjikan Allah. Ia berkhotbah agar bangsa Israel  bertobat dari kehidupan yang mereka jalani selama ini. Panggilan Yohanes tidak hanya ditujukan kepada orang berdosa, seperti pemungut cukai dan para pelacur. Panggilan itu berlaku untuk semua orang yang merasa dirinya adalah orang paling beragama, seperti orang Farisi dan para ahli Taurat.

Gereja pun punya tugas yang sama seperti Yohanes Pembaptis. Kita sebagai Gereja harus menunjuk kepada Yesus Kristus yang  mengangkut dan menghapus dosa umat manusia. Sama seperti Yohanes Pembaptis menjalani satu kehidupan yang tidak serupa dengan masyarakat pada umumnya di waktu itu, Gereja pun seharusnya tidak hidup seperti masyarakat pada umumnya di zaman ini. Paulus dengan tegas mengatakan: jangalah serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, supaya kamu mengetahui kehendak Allah dan yang sempurna. Jika kita tidak serupa dengan dunia ini, maka orang akan datang kepada kita, sama seperti orang datang kepada Yohanes Pembaptis, sekali pun ia tinggal di padang gurun.

Jika Gereja adalah bentara Kristus di dunia ini, maka kita sebagai anggota Gereja, juga adalah bentara Kristus. Tugas kita ialah menunjuk Yesus sebagai Anak Domba Allah yang mengangkut dan menghapus dosa dunia. Cara kita menunjuk kepada Kristus tidak senantiasa dalam wujud verbal. Sebab Injil juga diberitakan melalui perbuatan. Saya pernah bejumpa dengan seorang pedang mas, orang Tionghoa yang rindu menjadi Kristen. Ia meminta saya untuk mengajar dia tentang Kristus. Saya bertanya kepadanya alasan sehingga ia mau menjadi Kristen. Ia menjawab: anakku mendoakan saya setiap malam, agar saya menjadi Kristen. Saya juga melihat kehidupan saudara. Karena dua hal itu saya memutuskan untuk menjadi Kristen.

Jika Tuhan dapat memakai anak kecil yang setia berdoa tiap malam, agar bapanya menjadi Kristen, tidakkah kita pun dapat dipakai Allah untuk menunjuk kepada Kristus sebagai Anak Domba Allah? Sebuah pertanyaan perlu diajukan kepada kita sebagaimana disuarakan Buku Ende HKBP: sulingkit rohami, manang na piga naung niarahon mi tu Debata. – selidiki hatimu, sudah berapakah orang yang kau arahkan kepada Allah? Ada banyak orang yang perlu kita arahkan pandangannya bukan kepada dunia ini, tetapi kepada Kristus. Anak-anak kita, saudara kita, orangtua kita dan paman dan bibi serta kerabat lainnya.

Jangan jangan mereka akan protes nanti kepada Tuhan, karena kita tidak mengarahkan mereka kepada Anak Domba Allah – Agnus Dei.  Apa jawaban saudara nanti atas keluhan saudara kita itu di hadapan Allah?

05/04/17

Tuduhan



Tuduhan

Mereka tidak berkata dalam hatinya: Baiklah kita takut akan TUHAN, Allah kita, yang memberi hujan pada waktunya, hujan pada awal musim maupun hujan pada akhir musim, dan yang menjamin bagi kita minggu-minggu yang tetap untuk panen.
Yeremia 5:24

Sesuatu yang sangat sentral di dalam membangun relasi kita yang akrab dengan Allah, ialah perenungan. Melalui perenungan, kita dapat melihat wujud dari realita yang diperhadapkan kepada kita. Kitab Taurat banyak berisikan hal hal yang jasmani. Tetapi pada hakekatnya bukan hal jasmani itu yang diinginkan Allah, melainkan hakekat dari ritus jasmani yang kita laksanakan. Realita itu akan tersingkap melalui perenungan.

Orang Israel di zaman Nabi Yeremia rupanya kurang mengadakan perenungan. Alhasil mereka tidak dapat melihat realita dari kehidupan yang mereka jalani. Itulah sebabnya Allah menuduh mereka sebagai bangsa yang tolol, dan yang tidak punya pikiran. Punya mata tetapi tidak melihat, punya telinga tidak mendengar. Oleh karena itu tidak ada rasa takut kepada Tuhan di antara mereka. Mereka tidak mampu melihat kebaikan Tuhan yang menurunkan hujan awal dan hujan akhir di tanah mereka, sehingga hasil panen mereka berhasil. Mereka tak mampu melihat realita itu sebagai sebuah kebaikan Tuhan atas kehidupan mereka.

Hal yang sama pun banyak dialami oleh orang Kristen dewasa ini. Ada banyak orang menyukai ibadah ribut yang sangat menekankan perasaan yang diangkat tinggi tinggi, tanpa perenungan makna. Ada seorang mahasiswa teologia membuat penelitian di kalangan orang Kristen perkotaan. Hal yang diteliti ialah tingkat pengaruh dari peribadahan yang diikuti dalam kehidupan sehari hari. Kesimpulannya adalah sebagai berikut: orang yang religiositasnya agak tinggi, mencari hiburan dalam persekutuan persekutuan. Orang yang religiositasnya agak rendah, mencari hiburan di kafe kafe. Tetapi yang mengherankan, tidak ada beda kedua kelompok ini dalam kehidupan sehari hari. Sungguh sangat mengejutkan.

Oleh karena kurang perenungan atas makna dari ibadah yang kita lakukan, maka kita pun tidak dapat melihat, walau pun kita punya mata, tidak mendengar walau pun punya telinga, tidak mampu berbicara walau pun kita punya mulut. Seorang tokoh besar dari Amerika bernama Helen Keller yang buta tuli dan bisu pernah berkata kepada seorang wartawan: orang yang paling malang di dunia ini ialah: orang yang punya mata, tetapi tidak dapat melihat, punya telinga tetapi tidak dapat mendengar, punya mulut tetapi tidak dapat berbicara. Kita adalah orang tersebut. Kita tidak mampu melihat, mengucap dan mendengar sesuatu tentang Allah kepada dunia di sekitar kita.

Oleh karena ketidakmampuan itulah maka di dalam diri kita pun tidak ada rasa takut kepada Allah. Itulah sebabnya kita hidup di dalam kehendak kita, pada hal kita di dalam ibadah Minggu dan ibadah lainnya mengatakan: Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga. Jika Allah menuduh orang Israel di zaman purba, maka pada hari ini juga Allah bisa saja menuduh kita melalui renungan pagi hari ini. Terasakah di dalam diri saudara tuduhan Allah? Jika tidak terasa tentulah karena kita buta, tuli dan bisu secara rohani.

Hotman Siahaan

hotman.siahaan@gmail.com

04/04/17

Bersama sama




Bersama sama

Kamulah yang tetap tinggal bersama-sama dengan Aku dalam segala pencobaan yang Aku alami.
Lukas 22:28

Nas kita disampaikan Tuhan Yesus kepada para murid, tatkala Ia mengadakan perjamuan kudus bersama dengan para murid. Perjamuan itu dilaksanakan dalam rangka paskah. Paskah dirayakan orang Israel di dalam rangka mengenang keluarnya mereka dari perbudakan di Mesir. Paskah adalah perayaan keluarga. Yesus dengan para murid itu merayakan paskah itu, tidak bersama pemilik rumah tempat mereka mengadakan perjamuan. Yesus makan bersama dengan para murid, itu berarti mereka adalah satu keluarga, sama sama anak anak Allah.

Makan bersama di kalangan orang Yahudi, adalah sesuatu yang sangat bermakna. Hanya mereka yang memiliki kwalitas hidup yang sama, itulah yang dapat makan bersama. Dalam perjamuan paskah itu, Yesus makan bersama dengan para murid. Bahkan lebih lagi dari itu. Para murid itu makan daging dan darah Yesus Kristus. Itu berarti Kristus dan para murid itu menjadi satu tubuh di dalam iman kepada guru dan Tuhan mereka.

Dalam kata perpisahan Tuhan Yesus dengan para murid itu, Yesus mengingatkan para murid, bahwa mereka tetap bersama dengan Yesus dalam segala pencobaan yang dihadapai Yesus. Para murid itu tidak hanya bersama dengan Yesus dalam pencobaan, mereka pun akhirnya akan bersama Yesus memerintah di akhir zaman. Yesus mengatakan bahwa para murid itu akan duduk bersama dengan Yesus untuk menghakimi keduabelas suku Israel. Para murid itu bersama dengan Yesus dalam penderitaan, maka mereka pun akan bersama dengan mereka di dalam kemuliaan.

Tatkala kita menikmati perjamuan kudus, Yesus hadir di dalam acara tersebut. Di sana kita mendengar Ia berkata kepada kita: “Inilah tubuh-Ku dan inilah darah-Ku yang ditumpahkan sebagai perjanjian baru…” Dengan demikian kita bersama dengan Yesus. Sama seperti roti dan anggur itu menjadi bagian yang tak terpisahkan dari tubuh kita, demikian jugalah tubuh dan darah Kristus tak terpisahkan dari diri kita. Kita bersama dengan Dia senantiasa.

Sama seperti para murid itu akan duduk di atas duabelas tahta singgasana, untuk memerintah dan menghakimi bersama dengan Tuhan  Yesus, maka kita pun akan duduk di tahta singgasana, karena Yesus. Kita akan menghakimi para pesuruh – malaikat – Allah. Semuanya itu mungkin karena kita telah bersama dengan Yesus di dunia ini. Kita berjalan bersama Dia. Jika kita makan, kita makan demi Dia, jika kita minum kita minum demi Dia, jika kita berbuat apa saja pun kita melakukannya demi Dia. Cf I Kor 10:31. Dalam surat kepada Jemaat Kolose pun Paulus mengatakan: “Apa yang kau katakan dan lakukan, lakukanlah dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur kepada Allah.” Kol 3:17. Kedua argumen itu mengindikasikan bahwa apa pun yang kita lakukan, kita lakukan bersama dengan Tuhan Yesus. Kita bersama dengan Dia di dunia ini, kita pun akan bersama dengan Dia di surga kelak. Tidakkah hal itu sesuatu yang sangat luar biasa disediakan bagi kita? Bagaimana pendapat saudara?

Hotman Siahaan

hotman.siahaan@gmail.com

03/04/17

Kegelapan



Kegelapan

Jika aku berkata: "Biarlah kegelapan saja melingkupi aku, dan terang sekelilingku menjadi malam," maka kegelapan pun tidak menggelapkan bagi-Mu, dan malam menjadi terang seperti siang; kegelapan sama seperti terang.
Mazmur 139:11 – 12

Ada orang yang beriman masuk ke dalam situasi yang gelap, dalam relasinya dengan Allahnya. Kisah seperti ini juga dituturkan kepada kita, dialami oleh tokoh terkenal, yakni Ibu Teresa dari Calculta. Suasana terang yang ada di lingkungannya, dirasakan sebagai kegelapan yang pekat, sebagaimana diungkapkan oleh pemazmur di dalam nas kita. Bukankah pengalaman kita juga mengungkapkan hal yang sama? Kita mengalami jalan buntu, tidak ada harapan kelihatannya.

Ternyata sudut pandang kita, sungguh berbeda dengan sudut pandang Allah. Kita merasakan dan melihat kegelapan di sekeliling kita, karena persoalan yang kita hadapi. Namun bagi Allah, tidak ada kegelapan sama sekali. Allah adalah terang, dan kegelapan adalah wujud dari ketidakadaan terang. Allah hadir di mana oun, sebab Ia adalah Allah yang Mahahadir. Tidak ada satu tempat pun dimana hadirat Allah tidak ada di sana. Pun di dalam pengalaman dan pergumulan hidup yang kita jalani.

Ada seorang ibu ditinggal suami, karena meninggal dunia, pada usia yang masih muda. Bapa itu tutup usia pada umur 45 tahun. Ia meninggalkan sembilan anak yang masih kecil. Anak terbesar baru kelas tiga SMU. Sang ibu berteriak kepada Allah: bagaimana saya akan membesarkan sembilan orang anak ini sendirian, hanya punya kemampuan sebagai ibu rumah tangga. Dunia baginya sangat gelap pekat. Ia merasa Allah tidak adil, karena membiarkan dia menjadi janda, pada usia muda, serta dibebani dengan sembilan orang anak.

Bagi Allah sama sekali tidak ada kegelapan, Ia adalah terang itu sendiri. Tatkala Ia hadir, maka terang akan bersinar dan kegelapan pun menjauh. Sang ibu yang kita bicarakan itu, pada akhir hidupnya, tutup usia 79 tahun. Ia sempat melihat anak anaknya menikah dan hidup dengan baik di kota besar. Bahkan ia sempat melihat anaknya enam orang menjadi pelayan Tuhan di Gereja-Nya. Ternyata Tuhan hadir di dalam hidupnya, dan membawa ia melihat terang Tuhan yang sangat ajaib. Ia menutup mata dengan tenang di rumahnya tanpa harus mengalami perawatan dari dokter. Terang bersinar di sekitar dirinya yang merasa berada di dalam gelap.

Setiap orang rasanya harus berhadapan dengan keberadaan seperti di atas. Dengan demikian dapat percaya kepada Tuhan, sekali pun perasaannya mengatgakan bahwa Allah tidak hadir di dalam pergumulannya. Daud dalam mazmurnya mengatakan: “Sekali pun aku berjalan di jalan kegelapan, aku tidak takut bahaya, sebab gadaMu dan tongkatMu itulah yang menghiburku” Mzm 23:4.

Sekarang kita dapat dengan penuh keyakinan dapat berkata bahwa Bapa di surga senantiasa hadir di dalam hidup kita, sekali pun kita tidak merasakan kehadiran-Nya. Terang tidak dapat mengalahkan kegelapan. Pergumulan hidup seberat apa pun tidak akan dapat menarik kita ke dalam kegelapan, sebab Allah hadir di dalam hidup kita.

Rumah Allah

  Rumah Allah Ibrani 3:6 Tetapi Kristus setia sebagai Anak yang mengepalai rumah-Nya; dan rumah-Nya ialah kita, jika kita sampai kepada akhi...