13/04/17

Golgata



Golgata

Nas Bacaan: Markus 15:22 – 41

Ada sebuah lagu dalam bahasa Inggris syairnya sebagai berikut: Where you there when they crucify my Lord – dimanakah engkau tatkala mereka menyalibkan Tuhanku. Kita menjawab pertanyaan itu dengan hadir di Golgata pada waktu Yesus disalibkan. Kita hadir di sana secara imajinatif dan merenungkan seluruh peristiwa itu, lalu menarik pelajaran berharga bagi kita.

Setelah mereka menyaliban Yesus, para serdadu Romawi itu memberikan anggur bercampur mur untuk diminumkan kepada Yesus. Namun kita harus garis bawahi ialah: Yesus menolak anggur itu. Tujuan pemberian anggur itu ialah membius Yesus, supaya rasa sakitnya berkurang. Penolakan itu mengindikasikan bahwa Yesus tidak mau penderitaan-Nya untuk keselamatan manusia, tidak diinterfensi orang. Ia mereguk penderitaan itu, hingga tetes yang terakhir.

Keselamatan kita disediakan melalui penderitaan Yesus hingga sampai puncaknya. Keselamatan itu adalah sesuatu yang sangat mahal harganya. Jika kita menghargai penderitaan Tuhan demi keselamtan kita, maka bagi kita, anugerah keselamatan itu adalah sesuatu yang sangat mahal harganya. Bukan sesuatu yang murah.

Di samping itu, para serdadu itu membagi-bagi pakaian Yesus. Hal ini adalah sesuatu yang signifikan dan simbolik. Pakaian di dalam pemahaman Alkitab bermakna kebenaran. Hal itu disuarakan Yesaya dalam  Yes 61:10. Dengan pemahaman simbolik ini, kita dapat mengatakan bahwa kebenaran Yesus dibagi-bagikan kepada orang berdosa, karena kematiannya. Kristus benar dan tidak ada dosa di dalam diri-Nya. Surga mengatakan bahwa Bapa berkenan kepada Dia sampai dua kali dicatat Alkitab. Kebenaran-Nya itu sekarang dibagikan bagi saudara dan saya. Allah melihat saudara dan saya sebagai orang benar dan tidak berdosa, sama seperti Kristus Yesus. Sudahkah kebenaran Kristus dibagikan kepada saudara?

Bersama dengan Yesus, disalibkan juga dua orang penjahat. Yesus disejajarkan dengan penjahat, dan dihukum disalibkan. Satu hukuman yang sangat berat. Warga Romawi tidak boleh disalibkan. Hanya para  budak dan warga negara jajahan saja yang  boleh disalibkan. Yesus ada di antara orang berdosa. Menarik untuk disimak, satu diantara orang yang disalibkan bersama dengan Yesus itu diselamatkan, satu lagi tidak. Ini satu kebenaran yang perlu direnungkan. Yesus ada di antara orang berdosa, tetapi tidak semua orang berdosa itu selamat. Hanya mereka yang berpihak kepada Yesus saja yang diselamatkan. Kepada penjahat yang satu ini, kebenaran Yesus dibagikan, sementara yang lain tidak menerimanya.

Dari salib itu Yesus berseru; Eloi, Eloi, lama sabakhtani! Allahku, allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku. Pada waktu itu Yesus menjadi dosa, karena dosa seluruh umat manusia telah ditransfer kepada-Nya. Pada waktu itu Allah Bapa meninggalkan Dia, sebab Allah tidak dapat mentolerir dosa sekecil apa pun juga. Dosa senantiasa memisahkan Allah dengan manusia. Hanya jika saudara dan saya bersama Yesus, maka Allah dapat mendekat kepada saudara dan saya, karena kita dipenuhi kebenaran dari Kristus Yesus.

Di Golgata itu pun kita melihat kepala pasukan Romawi itu menemukan Kristus sebagai Anak Allah. Kita pun sedang berada di sana secara imajinatif. Apakah saudara melihat apa yang dilihat oleh kepala pasukan Romawi tersebut. Di Golgata itu pun ada para petinggi agama yang mengolok olok Yesus. Manusia mengolok olok orang benar dan yang mati untuk keberdosaan mereka. Hingga sekarang pun hal yang sama. Bahkan orang Kristen pun mengolok olok karya Yesus Kristus dengan ketidakpercayaan mereka atas keselamatan yang tersedia bagi mereka. Tragis bukan!

Namun bukan hanya pengolok olok yang hadir di Gogata itu. Para murid Yesus dari kalangan perempuan pun hadir di sana. Mereka setia mengikut Yesus dari Galilea hingga Golgata. Mereka tidak dapat berbuat apa pun dalam peristiwa itu. Inilah representasi dari orang beriman. Di kalangan orang Israel, perempuan adalah warga yang tidak berarti. Tetapi mereka inilah yang setia mengikut Yesus dari sejak semula. Bagaimana dengan saudara dan saya. Di sisi mana saudara pada waktu Yesus di salibkan di Golgata? Where you there when they crucify my Lord.

12/04/17

Agnus Dei



 

Agnus Dei


Pada keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata: "Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia.

Yohanes 1:29

 

Agnus Dei adalah bahasa Latin yang artinya adalah Anak Domba Allah. Yohanes sebagai bentara – voor riyder – Kristus, menunjuk kepada Yesus sebagai Anak Domba Allah. Alkitab bahasa Inggris memakai kata mengangkut -  taketh away – bukan menghapus. Kedua terjemahan ini dapat kita terima. Sebab di dalam kitab Imamat pasal 16 ada dua ekor domba yang dipersembahkan sebagai kurban penghapus dosa. Satu disembelih dan darahnya dibawa ke ruang mahakudus. Darah itu menghapus dosa orang Israel. Domba satu lagi dilepas ke padang gurun. Domba itu mengangkut dosa umat manusia. Yesus sebagai Anak Domba Allah mengangkut dan menghapus dosa manusia di dalam diri-Nya sendiri.

Yohanes hadir di dunia ini untuk memperkenalkan Kristus kepada dunia, dalam hal ini, pertama-tama kepada bangsa Israel. Ia datang untuk mempersiapkan jalan bagi Israel, agar berjumpa dengan Mesias yang dijanjikan Allah. Ia berkhotbah agar bangsa Israel  bertobat dari kehidupan yang mereka jalani selama ini. Panggilan Yohanes tidak hanya ditujukan kepada orang berdosa, seperti pemungut cukai dan para pelacur. Panggilan itu berlaku untuk semua orang yang merasa dirinya adalah orang paling beragama, seperti orang Farisi dan para ahli Taurat.

Gereja pun punya tugas yang sama seperti Yohanes Pembaptis. Kita sebagai Gereja harus menunjuk kepada Yesus Kristus yang  mengangkut dan menghapus dosa umat manusia. Sama seperti Yohanes Pembaptis menjalani satu kehidupan yang tidak serupa dengan masyarakat pada umumnya di waktu itu, Gereja pun seharusnya tidak hidup seperti masyarakat pada umumnya di zaman ini. Paulus dengan tegas mengatakan: jangalah serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, supaya kamu mengetahui kehendak Allah dan yang sempurna. Jika kita tidak serupa dengan dunia ini, maka orang akan datang kepada kita, sama seperti orang datang kepada Yohanes Pembaptis, sekali pun ia tinggal di padang gurun.

Jika Gereja adalah bentara Kristus di dunia ini, maka kita sebagai anggota Gereja, juga adalah bentara Kristus. Tugas kita ialah menunjuk Yesus sebagai Anak Domba Allah yang mengangkut dan menghapus dosa dunia. Cara kita menunjuk kepada Kristus tidak senantiasa dalam wujud verbal. Sebab Injil juga diberitakan melalui perbuatan. Saya pernah bejumpa dengan seorang pedang mas, orang Tionghoa yang rindu menjadi Kristen. Ia meminta saya untuk mengajar dia tentang Kristus. Saya bertanya kepadanya alasan sehingga ia mau menjadi Kristen. Ia menjawab: anakku mendoakan saya setiap malam, agar saya menjadi Kristen. Saya juga melihat kehidupan saudara. Karena dua hal itu saya memutuskan untuk menjadi Kristen.

Jika Tuhan dapat memakai anak kecil yang setia berdoa tiap malam, agar bapanya menjadi Kristen, tidakkah kita pun dapat dipakai Allah untuk menunjuk kepada Kristus sebagai Anak Domba Allah? Sebuah pertanyaan perlu diajukan kepada kita sebagaimana disuarakan Buku Ende HKBP: sulingkit rohami, manang na piga naung niarahon mi tu Debata. – selidiki hatimu, sudah berapakah orang yang kau arahkan kepada Allah? Ada banyak orang yang perlu kita arahkan pandangannya bukan kepada dunia ini, tetapi kepada Kristus. Anak-anak kita, saudara kita, orangtua kita dan paman dan bibi serta kerabat lainnya.

Jangan jangan mereka akan protes nanti kepada Tuhan, karena kita tidak mengarahkan mereka kepada Anak Domba Allah – Agnus Dei.  Apa jawaban saudara nanti atas keluhan saudara kita itu di hadapan Allah?

05/04/17

Tuduhan



Tuduhan

Mereka tidak berkata dalam hatinya: Baiklah kita takut akan TUHAN, Allah kita, yang memberi hujan pada waktunya, hujan pada awal musim maupun hujan pada akhir musim, dan yang menjamin bagi kita minggu-minggu yang tetap untuk panen.
Yeremia 5:24

Sesuatu yang sangat sentral di dalam membangun relasi kita yang akrab dengan Allah, ialah perenungan. Melalui perenungan, kita dapat melihat wujud dari realita yang diperhadapkan kepada kita. Kitab Taurat banyak berisikan hal hal yang jasmani. Tetapi pada hakekatnya bukan hal jasmani itu yang diinginkan Allah, melainkan hakekat dari ritus jasmani yang kita laksanakan. Realita itu akan tersingkap melalui perenungan.

Orang Israel di zaman Nabi Yeremia rupanya kurang mengadakan perenungan. Alhasil mereka tidak dapat melihat realita dari kehidupan yang mereka jalani. Itulah sebabnya Allah menuduh mereka sebagai bangsa yang tolol, dan yang tidak punya pikiran. Punya mata tetapi tidak melihat, punya telinga tidak mendengar. Oleh karena itu tidak ada rasa takut kepada Tuhan di antara mereka. Mereka tidak mampu melihat kebaikan Tuhan yang menurunkan hujan awal dan hujan akhir di tanah mereka, sehingga hasil panen mereka berhasil. Mereka tak mampu melihat realita itu sebagai sebuah kebaikan Tuhan atas kehidupan mereka.

Hal yang sama pun banyak dialami oleh orang Kristen dewasa ini. Ada banyak orang menyukai ibadah ribut yang sangat menekankan perasaan yang diangkat tinggi tinggi, tanpa perenungan makna. Ada seorang mahasiswa teologia membuat penelitian di kalangan orang Kristen perkotaan. Hal yang diteliti ialah tingkat pengaruh dari peribadahan yang diikuti dalam kehidupan sehari hari. Kesimpulannya adalah sebagai berikut: orang yang religiositasnya agak tinggi, mencari hiburan dalam persekutuan persekutuan. Orang yang religiositasnya agak rendah, mencari hiburan di kafe kafe. Tetapi yang mengherankan, tidak ada beda kedua kelompok ini dalam kehidupan sehari hari. Sungguh sangat mengejutkan.

Oleh karena kurang perenungan atas makna dari ibadah yang kita lakukan, maka kita pun tidak dapat melihat, walau pun kita punya mata, tidak mendengar walau pun punya telinga, tidak mampu berbicara walau pun kita punya mulut. Seorang tokoh besar dari Amerika bernama Helen Keller yang buta tuli dan bisu pernah berkata kepada seorang wartawan: orang yang paling malang di dunia ini ialah: orang yang punya mata, tetapi tidak dapat melihat, punya telinga tetapi tidak dapat mendengar, punya mulut tetapi tidak dapat berbicara. Kita adalah orang tersebut. Kita tidak mampu melihat, mengucap dan mendengar sesuatu tentang Allah kepada dunia di sekitar kita.

Oleh karena ketidakmampuan itulah maka di dalam diri kita pun tidak ada rasa takut kepada Allah. Itulah sebabnya kita hidup di dalam kehendak kita, pada hal kita di dalam ibadah Minggu dan ibadah lainnya mengatakan: Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga. Jika Allah menuduh orang Israel di zaman purba, maka pada hari ini juga Allah bisa saja menuduh kita melalui renungan pagi hari ini. Terasakah di dalam diri saudara tuduhan Allah? Jika tidak terasa tentulah karena kita buta, tuli dan bisu secara rohani.

Hotman Siahaan

hotman.siahaan@gmail.com

04/04/17

Bersama sama




Bersama sama

Kamulah yang tetap tinggal bersama-sama dengan Aku dalam segala pencobaan yang Aku alami.
Lukas 22:28

Nas kita disampaikan Tuhan Yesus kepada para murid, tatkala Ia mengadakan perjamuan kudus bersama dengan para murid. Perjamuan itu dilaksanakan dalam rangka paskah. Paskah dirayakan orang Israel di dalam rangka mengenang keluarnya mereka dari perbudakan di Mesir. Paskah adalah perayaan keluarga. Yesus dengan para murid itu merayakan paskah itu, tidak bersama pemilik rumah tempat mereka mengadakan perjamuan. Yesus makan bersama dengan para murid, itu berarti mereka adalah satu keluarga, sama sama anak anak Allah.

Makan bersama di kalangan orang Yahudi, adalah sesuatu yang sangat bermakna. Hanya mereka yang memiliki kwalitas hidup yang sama, itulah yang dapat makan bersama. Dalam perjamuan paskah itu, Yesus makan bersama dengan para murid. Bahkan lebih lagi dari itu. Para murid itu makan daging dan darah Yesus Kristus. Itu berarti Kristus dan para murid itu menjadi satu tubuh di dalam iman kepada guru dan Tuhan mereka.

Dalam kata perpisahan Tuhan Yesus dengan para murid itu, Yesus mengingatkan para murid, bahwa mereka tetap bersama dengan Yesus dalam segala pencobaan yang dihadapai Yesus. Para murid itu tidak hanya bersama dengan Yesus dalam pencobaan, mereka pun akhirnya akan bersama Yesus memerintah di akhir zaman. Yesus mengatakan bahwa para murid itu akan duduk bersama dengan Yesus untuk menghakimi keduabelas suku Israel. Para murid itu bersama dengan Yesus dalam penderitaan, maka mereka pun akan bersama dengan mereka di dalam kemuliaan.

Tatkala kita menikmati perjamuan kudus, Yesus hadir di dalam acara tersebut. Di sana kita mendengar Ia berkata kepada kita: “Inilah tubuh-Ku dan inilah darah-Ku yang ditumpahkan sebagai perjanjian baru…” Dengan demikian kita bersama dengan Yesus. Sama seperti roti dan anggur itu menjadi bagian yang tak terpisahkan dari tubuh kita, demikian jugalah tubuh dan darah Kristus tak terpisahkan dari diri kita. Kita bersama dengan Dia senantiasa.

Sama seperti para murid itu akan duduk di atas duabelas tahta singgasana, untuk memerintah dan menghakimi bersama dengan Tuhan  Yesus, maka kita pun akan duduk di tahta singgasana, karena Yesus. Kita akan menghakimi para pesuruh – malaikat – Allah. Semuanya itu mungkin karena kita telah bersama dengan Yesus di dunia ini. Kita berjalan bersama Dia. Jika kita makan, kita makan demi Dia, jika kita minum kita minum demi Dia, jika kita berbuat apa saja pun kita melakukannya demi Dia. Cf I Kor 10:31. Dalam surat kepada Jemaat Kolose pun Paulus mengatakan: “Apa yang kau katakan dan lakukan, lakukanlah dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur kepada Allah.” Kol 3:17. Kedua argumen itu mengindikasikan bahwa apa pun yang kita lakukan, kita lakukan bersama dengan Tuhan Yesus. Kita bersama dengan Dia di dunia ini, kita pun akan bersama dengan Dia di surga kelak. Tidakkah hal itu sesuatu yang sangat luar biasa disediakan bagi kita? Bagaimana pendapat saudara?

Hotman Siahaan

hotman.siahaan@gmail.com

03/04/17

Kegelapan



Kegelapan

Jika aku berkata: "Biarlah kegelapan saja melingkupi aku, dan terang sekelilingku menjadi malam," maka kegelapan pun tidak menggelapkan bagi-Mu, dan malam menjadi terang seperti siang; kegelapan sama seperti terang.
Mazmur 139:11 – 12

Ada orang yang beriman masuk ke dalam situasi yang gelap, dalam relasinya dengan Allahnya. Kisah seperti ini juga dituturkan kepada kita, dialami oleh tokoh terkenal, yakni Ibu Teresa dari Calculta. Suasana terang yang ada di lingkungannya, dirasakan sebagai kegelapan yang pekat, sebagaimana diungkapkan oleh pemazmur di dalam nas kita. Bukankah pengalaman kita juga mengungkapkan hal yang sama? Kita mengalami jalan buntu, tidak ada harapan kelihatannya.

Ternyata sudut pandang kita, sungguh berbeda dengan sudut pandang Allah. Kita merasakan dan melihat kegelapan di sekeliling kita, karena persoalan yang kita hadapi. Namun bagi Allah, tidak ada kegelapan sama sekali. Allah adalah terang, dan kegelapan adalah wujud dari ketidakadaan terang. Allah hadir di mana oun, sebab Ia adalah Allah yang Mahahadir. Tidak ada satu tempat pun dimana hadirat Allah tidak ada di sana. Pun di dalam pengalaman dan pergumulan hidup yang kita jalani.

Ada seorang ibu ditinggal suami, karena meninggal dunia, pada usia yang masih muda. Bapa itu tutup usia pada umur 45 tahun. Ia meninggalkan sembilan anak yang masih kecil. Anak terbesar baru kelas tiga SMU. Sang ibu berteriak kepada Allah: bagaimana saya akan membesarkan sembilan orang anak ini sendirian, hanya punya kemampuan sebagai ibu rumah tangga. Dunia baginya sangat gelap pekat. Ia merasa Allah tidak adil, karena membiarkan dia menjadi janda, pada usia muda, serta dibebani dengan sembilan orang anak.

Bagi Allah sama sekali tidak ada kegelapan, Ia adalah terang itu sendiri. Tatkala Ia hadir, maka terang akan bersinar dan kegelapan pun menjauh. Sang ibu yang kita bicarakan itu, pada akhir hidupnya, tutup usia 79 tahun. Ia sempat melihat anak anaknya menikah dan hidup dengan baik di kota besar. Bahkan ia sempat melihat anaknya enam orang menjadi pelayan Tuhan di Gereja-Nya. Ternyata Tuhan hadir di dalam hidupnya, dan membawa ia melihat terang Tuhan yang sangat ajaib. Ia menutup mata dengan tenang di rumahnya tanpa harus mengalami perawatan dari dokter. Terang bersinar di sekitar dirinya yang merasa berada di dalam gelap.

Setiap orang rasanya harus berhadapan dengan keberadaan seperti di atas. Dengan demikian dapat percaya kepada Tuhan, sekali pun perasaannya mengatgakan bahwa Allah tidak hadir di dalam pergumulannya. Daud dalam mazmurnya mengatakan: “Sekali pun aku berjalan di jalan kegelapan, aku tidak takut bahaya, sebab gadaMu dan tongkatMu itulah yang menghiburku” Mzm 23:4.

Sekarang kita dapat dengan penuh keyakinan dapat berkata bahwa Bapa di surga senantiasa hadir di dalam hidup kita, sekali pun kita tidak merasakan kehadiran-Nya. Terang tidak dapat mengalahkan kegelapan. Pergumulan hidup seberat apa pun tidak akan dapat menarik kita ke dalam kegelapan, sebab Allah hadir di dalam hidup kita.

02/04/17

Permohonan





Permohonan

Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya
Lukas 11:3

Doa Bapa kami adalah sesuatu yang familiar bagi kita sekalian. Nas kita adalah bagian dari Doa Bapa kami. Ada baiknya kita menyoroti sejenak doa tersebut. Yesus mengajar kita untuk menyapa Allah itu Bapa. Apa makna dari kata Bapa di sana. Di zaman purba sebuatan bapa tidak hanya disebut kepada orangtua secara jasmani. Kepala suku pun disebut dengan sebutan bapa. Orang Arab menyebutnya dengan Abu, Yahudi menyebutnya dengan Abi. Seorang bapa dilihat sebagai sumber kehidupan – resources – karena ia maka kita ada. Bukan hanya itu, ia juga adalah juga sebagai pelindung – protektor. Ia juga adalah provider, penyedia dari segala kebutuhan hidup kita. Itulah Allah Bapa yang kita kenal di dalam Kristus Yesus Tuhan kita.

Sebuah pertanyaan perlu diajukan kepada kita masing-masing: kenalkah kita Allah Bapa itu sebagai resources, provider dan protektor bagi kita secara pribadi. Jika ada seperti yang digambarkan di atas untuk diri kita sendiri, bukankah hidup kita ini berada dalam keadaan yang sangat aman? Paulus dengan bangga hari berkata: siapakah yang melawan kita? Kita adalah lebih dari pemenang karena Yesus Kristus Tuhan kita.

Karena Allah Bapa itu adalah resources, provider dan protektor bagi kita, maka hanya kepadanya kita bersandar dalam hidup ini. Yesus pun mengajar kita untuk memohonkan kebutuhan sehari hari, hanya cukup pada hari ini saja. Sebab sumber daya kita sangat amat melimpah, tersedia bagi kita dan pelindung kita dalam segala aspek kehidupan, adalah Allah semesta alam, yang menciptakan langit dan bumi. Yesus mengajarkan kita untuk hidup sama seperti Allah. Allah hanya hidup pada hari ini. Bagi Dia tidak ada kemarin atau besok, sebab Ia berada di dalam kekekalan. Sebagai anak-Nya yang kekasih, kita pun diajar untuk hidup sama seperti Dia yang hidup pada hari ini. Itulah sebabnya Yesus mengajarkan kepada kita untuk meminta kebutuhan hari ini. Yesus mengajarkan kepada kita, kesusahan sehari cukuplah untuk sehari, kesusahan besok untuk besok.

Sisi lain yang kita soroti di dalam doa Bapa Kami ini ialah: permohonan yang kita ajukan kepada Allah, juga sapaan kepada Allah, senantiasa dalam wujud jamak. Ia adalah Bapa kami, tidak hanya Bapa saya. Makanan yang kita pohonkan pun diperuntukkan untuk kami, bukan untuk keluarga inti semata-mata. Kita adalah satu keluarga di mata Allah. Oleh karena itu apa yang kita cari dan pohonkan tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi untuk kami.

Dituturkan di Jerman ada perkumpulan wanita yang menabung ke celengan, tatkala mereka makan dan berdoa: berilah kami makanan kami yang secukupnya. Sebagai bukti bahwa mereka berdoa agar bukan hanya makanan untuk mereka sendiri, itulah makna dari celengan tersebut. Setelah tiga bulan diserahkan kepada Gereja untuk dikirimkan ke negeri yang  miskin. Salah satunya ialah daerah Samosir di Kabupaten Samosir di Sumatera Utara.

Sebuah pertanyaan lagi diajukan kepada kita: apakah kita saja yang datang kepada Allah di dalam doa, atau kita datang dengan rombongan? Apa yang kita cari itu hanya untuk kitakah atau juga untuk orang lain? Adakah bagian dari orang lain di dalam harta yang ada di dalam hidup ini?

Hotman Siahaan

hotman.siahaan@gmail.com

01/04/17

Roh Allah Diam di Dalam Aku


Minggu 2 April 2017
Nas Bacaan: Roma 8:6 – 11                      


Roh Allah Diam di Dalam Aku

Paulus berbicara tentang manusia dalam konteks daging. Kata ini menunjuk kepada keberadaan manusia dengan akar keberadaannya secara jasmani, tanpa keterlibatan Allah di dalamnya. Seluruh manusia berada di dalam posisi daging di mata Allah, karena keberdosaannya. Menarik untuk disimak, Paulus mengatakan bahwa orang yang hidup secara daging, adalah perseteruan dengan Allah. Mengapa demikian, karena mereka tidak takluk kepada hukum Allah. Sekali pun mereka adalah orang yang beragama sekali pun. Orang Yahudi adalah orang beragama, namun tetap dikategorikan Paulus sebagai orang yang hidup tanpa hukum Allah, sekali pun mereka memiliki hukum Taurat.

Bertentangan dengan kehidupan berdasarkan daging, Paulus pun berbicara tentang kehidupanbersadarkan roh. Pada dasarnya jika Paulus berbicara tentang roh, ia menunjuk kepada Roh Kudus. Ada pun aktifitas Roh Kudus bekerja bersama dengan roh manusia. Manusia dalam roh dimampukan untuk menikmati persekutuan dengan Tuhan Allah, dalam doa. Pertobatan yang sesungguhnya dialami di dalam roh. Hidup kekal didepositkan di dalam diri kita lewat roh. Roh digambarkan merupakan bagian terdalam dari di manusia.

Paulus menggambarkan manusia dalam daging keinginannya senantiasa bertentangan dengan keinginan roh. Daging keinginannya ialah maut. Itulah akhir dari kehidupan daging, sementara roh keinginannya ialah; hidup. Hal itu terlihat jelas di dalam diri Yesus Kristus. Kristus akhir kehidupan-Nya tidak di dalam liang kubur. Ia bangkit dari kubur, bahkan Ia naik ke surga. Manusia Yesus itulah hidup di dalam roh, dan akhir hidup mereka yang hidup di dalam roh, akan sama seperti yang dialami Yesus Kristus.

Sekarang yang menjadi pertanyaan bagi kita ialah: bagaimana caranya agar kita hidup secara roh, sebab pada dasarnya kita hidup secara daging. Injil adalah jalan satu satunya kita dapat mengalami perubahan hidup. Pada saat kita percaya kepada Tuhan Yesus, maka kita menerima Roh Kudus. Hal itu dikatakan Paulus dalam II Kor 1:22 “memeteraikan tanda milik-Nya atas kita dan yang memberikan Roh Kudus di dalam hati kita sebagai jaminan dari semua yang telah disediakan untuk kita.”

Dengan hadirnya Roh Kudus di dalam diri kita, dengan segenap hati kita dapat mengatakan bahwa kita ini adalah milik Allah. Roh Kudus itu adalah meterai Allah di dalam diri kita. Cf Ef 1:14. Jika Roh Kudus tinggal di dalam diri kita, maka Allah akan melihat diri kita sebagai orang  yang hidup di dalam kebenaran. Oleh karena itu nanti di hari penghakiman kita akan divonnis sebagai orang yang benar, bukan orang berdosa.

Sekali pun sekarang kita sudah hidup di dalam roh, bukan berarti kita tidak akan mati lagi. Sebab Yesus pun mati secara jasmani. Tetapi sama seperti Yesus dibangkitkan Allah dari antara orang mati, demikian juga Roh Kudus akan membangkitkan kita dari antara orang mati dan membawa kita masuk ke dalam kemuliaan sama seperti Kristus Yesus.

Jadi teringat tata ibadah penguburan orang mati yang dilaksanakan Gereja HKBP. “…Allah Bapa yang menciptakan engkau, Tuhan Yesus yang menyelamatkan engkau dan Roh Kudus yang memanggil engkau ke dalam keselamatan, itulah yang memelihara debu jasadmu, sampai tiba hari kebangkitan.” Allah Tritunggal akan memelihara debu jasad kita supaya tidak hilang. Ia akan bangkit kelak pada hari kebangkitan. Roh Kudus telah diam di dalam diri kita. Oleh karena itu dengan bangga kita dapat berkata: kita adalah anak Allah yang kudus.

Rumah Allah

  Rumah Allah Ibrani 3:6 Tetapi Kristus setia sebagai Anak yang mengepalai rumah-Nya; dan rumah-Nya ialah kita, jika kita sampai kepada akhi...