07/05/17

Pengakuan Iman


Pengakuan Iman

Aku tidak akan mati, tetapi hidup, dan aku akan menceritakan perbuatan-perbuatan TUHAN.
Mazmur 118:17

Semua orang yang beriman kepada Allah dan memiliki relasi yang akrab dengan Dia, pada umumnya mempunyai pengakuan iman secara pribadi. Pengakuan iman itu ada di dalam bingkai pengakuan iman secara umum yang diucapkan jemaah di dalam ibadah. Orang Yahudi misalnya punya pengakuan iman yang mengatakan: “Dengarlah Israel, Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu esa, kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu…” namun di dalam Mazmur pasal 118 ini kita mendengar pengakuan iman orang Israel yang mengatakan: “Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setianya.” Pemazmur mengungkapkan hal itu sampai lima kali di dalam pasal tersebut.

Pengakuan iman pribadi itu muncul dari pengalaman secara pribadi dengan Tuhan. Pemazmur misalnya, ia dapat berkata: bahwa ia tidak akan mati, tetapi akan hidup dan akan menceriterakan perbuatan Tuhan pada generasinya, juga untuk generasi yang akan datang. Jika pemazmur dapat mengungkapkan sebuah pengakuan iman secara pribadi, maka kita pun pada hakekatnya dapat mengungkapkan hal itu. Bukan hanya dapat, tetapi pada hakekatnya harus mengungkapkan sebuah pengakuan iman secara pribadi.

Terlintas di dalam hati sebuah syair dari satu nyanyian rohani di dalam bahasa Inggris, saya memahaminya sebagai satu pengakuan iman pribadi, karena tidak ada nas seperti itu di dalam Alkitab. Syairnya adalah sebagai berikut: “Dear wonderful Jesus, saviour devine You are the branches we are the wine, You brought us salvation and make them sunshine, dear wonderful Jesus I’m gald You are mine.”  Di dalam syair itu, penggubahnya mengungkapkan siapa Yesus yang dikenalnya. Ia adalah sahabat yang luar biasa. Ia adalah carang dan penyair adalah anggurnya. Yesus membawa keselamatan dan membuatnya bercahaya. Wahai Yesus yang luar biasa, aku senang Engkau adalah milikku.

Si pemazmur dan si penyair telah mengungkapkan pengakuan iman mereka secara pribadi. Adakah saudara dan saya punya pengakuan iman pribadi juga. Tentulah saudara sudah memilikinya. Sebab jika tidak ada, maka saudara tentulah bukan milik Tuhan Yesus. Tidak ada seorang pun yang sudah menikmati status sebagai anak Allah yang tidak punya pengakuan iman secara pribadi. Saya punya pengakuan iman secara pribadi juga. Saya dapat dengan segenap hati saya, bahwa saya adalah anak Allah. Turut ambil bagian di dalam persekutuan orang-orang kudus, yang sudah mati bersama Kristus. Bukan hanya itu, saya juga sudah dikuburkan bersama dengan Kristus. Dibangkitkan bersama dengan Dia. Bahkan lebih luar biasa lagi, saya sudah diberi tempat duduk bersama dengan Kristus di surga. Semua pengakuan itu sesuai dengan apa yang diajarkan Alkitab.

Maukah saudara mengetiknya di satu kertas dan menempelkannya di dinding kamar tidur saudara, sebagai sebuah kesaksian bagi diri saudara dan juga yang mungkin saudara undang masuk ke dalam kamar tidur saudara. Saudara diingatkan pengakuan itu, siapakar saudara sebenarnya dari sudut pandang iman. selamat mengerjakan hal itu secara pribai.

06/05/17

Pembawa Kabar Baik




Pembawa Kabar Baik
Yesaya 40:9 – 11

Tatkala kita mendengar kata kabar baik, gambaran yang bagaimanakah yang terlintas di dalam ingatan kita? Dalam kitab ada satu peristiwa yang dapat memberikan satu gambaran kepada kita tentang kabar baik. Dalam Kitab 2 Raja 7:1-2 memberi ilustrasi kepada kita. Kota Samaria dikepung musuh. Makanan  jadi terhalang masuk ke dalam kota. Makanan jadi sesuatu yang sangat mahal pada waktu itu.  Nabi Elisa menyuarakan kabar baik bagi penduduk Samaria. Besok katanya: sesukat tepung terbaik harganya sesyikal dan dua sukat jelai harganya sesyikal pada esok hari.

Perwira ajudan raja tidak percaya akan hal tersebut, sebab pada waktu itu harga bahan pokok sudah sangat tinggi pada waktu itu, sebab supply tidak ada lagi. Pada hal nabi berkata hal itu akan terjadi pada esok hari. Ia tidak percaya akan kabar baik yang disuarakan Nabi Elisa. Untuk ketidakpercayaan perwira tersebut, Elisa mengatakan: “Engkau akan melihatnya dengan matamu sendiri, tetapi tidak makan apa apa dari padanya.”

Kabar baik itu adalah sesuatu yang tidak masuk akal, sehingga orang tidak akan percaya. Namun satu hal yang pasti ialah: orang yang tidak percaya akan mendapat penghukuman. Mereka akan melihat produk dari kabar baik itu, tetapi mereka tidak turut ambil bagian dalam kabar baik tersebut. Itulah yang terlihat dalam kisah yang dituturkan dalam kisah Nabi Elisa di atas.

Kabar baik seperti itu pun diberitakan kepada orang Yahudi yang dibuang di Babel. Sejarah mengatakan tidak ada satu pun bangsa yang pernah dibuang dari negeri mereka, lalu dikembalikan ke tanah tumpah darahnya semula. Ada banyak bangsa bangsa yang dibuang pada waktu itu. Contohnya ialah: suku bangsa Israel Utara yang terdiri sepuluh suku dibuang ke Asyur, tidak ada berita bahwa mereka dikembalikan ke negeri leluhur. Sekarang kepada orang Yehuda diberitakan bahwa mereka akan dikembalikan ke Yerusalem.

Si pembawa berita disebut nabi Yesaya adalah kota Sion. Sion memberitakan akan datangnya satu rombongan di padang gurun. Rombongan itu adalah rombongan Allah Israel yang menuntun umat-Nya pulang ke Tanah Perjanjian. Sama seperti Israel dituntun di padang gurun selama empat puluh tahun, demikianlah Allah Israel menuntun umat-Nya berjalan bersama dengan Dia di sepanjang padang gurun yang harus dilalui. Yesaya mengatkan orang orang yang bersama dengan Dia itu ialah orang-orang yang menjadi upah-Nya. Itulah kabar baik bagi orang Yehuda pada waktu itu.

Ini sebuah pelajaran berharga bagi kita. Gereja sekarang betugas untuk memberitakan kabar baik bagi dunia ini. Suatu kabar baik yang tidak akan dipercaya orang jika ditimbang dengan akal sehatnya. Bagaimana mungkin orang berdosa dapat menjadi orang kudus di mata Allah. Bagaimana mungkin orang berdosa digendong Allah di tangan-Nya dan mereka semua adalah upah bagi Dia. Mereka adalah domba gembalaan-Nya yang sudah lunas dibayar melalui darah Tuhan Yesus. Jika saudara tidak percaya akan hal itu, maka mata kita akan melihat hal itu menjadi satu kenyataan kelak, namun saudara tidak turut ambil bagian di dalamnya. Percayalah kepada Tuhan Yesus dengan karya-Nya sekarang juga, maka saudara pun akan diikutsertakan di dalam kabar baik tersebut.

05/05/17

Kuatir




Kuatir

Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.
I Petrus 5:7

Kekhawatiran adalah bagian integral dari kehidupan umat manusia di muka bumi ini. Rasanya tidak ada satu pun manusia yang tidak pernah kuatir. Mengapa kita kuatir? Oleh karena kita takut sesuatu yang buruk akan terjadi di dalam hidup kita. Jika kita yakin yang ada di depan adalah sesuatu yang menyenangkan hati, maka tidaklah mungkin kita kuatir. Kekuatiran muncul oleh karena kita merasa tidak dapat menguasai masalah yang kita hadapi.

Rasul Petrus memahami semuanya itu, tetapi ia menemukan  jalan keluar. Kita tidak berjalan sendirian di dunia ini. Allah menyertai kita dalam perjalanan yang kita hadapi. Benarkah Allah me nyertai perjalanan kita? Tentulah benar, sebab Ia telah berjanji bahwa Ia akan menyertai kita hingga akhir zaman. Mat 28:20. Perjanjian Lama ditulis bagi kita, sebagai satu pelajaran berharga. Oleh karena itu, marilah kita sejenak memandang pada perjalanan bangsa Israel di padang gurun selama empat puluh tahun lamanya. Jika ada orang bertanya: apakah Allah menyertai mereka? Maka satu hal yang perlu dilakukannya ialah: keluar dari kemahnya dan memandang ke atas. Jika awan itu masih di atas perkemahan mereka, maka itulah tandanya Allah ada di tengah tengah mereka. Di padang gurun angin bertiup dengan kencang. Jika awan itu awan biasa, maka awan itu sudah pasti diterbangkan angin. Tetapi mengapa angin itu tetap di sana? Karena angin itu adalah simbol dari kehadiran Allah di antara mereka.

Hal yang sama pun terjadi di antara kita. Jika kita ragu akan kehadiran Allah di dalam hidup kita, maka yang harus kita lakukan ialah: memandang ke sekeliling kita. Adakah orang yang beriman di antara persekutuan kita? Kehadiran orang beriman adalah wujud dari kehadiran Allah di antara kita. Gereja adalah tubuh Kristus. Dimana ada Gereja di situ ada Kristus. Jika orang lain tidak dapat mewujudkan kehadiran Kristus di dalam kehidupannya, maka adalah tugas kita untuk menghadirkan Kristus di dalam kehidupan ini. Kehadiran kita membuat orang merasa Allah hadir di dalam lingkungannya. Ia tentulah hadir juga di dalam hidupnya. Hal ini akan menghilangkan kekuatirannya.

Lagi pula kita adalah surat Kristus yang terbuka, yang dapat dibaca semua orang orang yang ada di sekitar kita. Kehadiran kita dapat membuat orang yakin akan kehadiran Allah di dunia ini. Gereja purba punya sebuah pengakuan di antara mereka yakni: jika engkau hendak berjumpa dengan Kristus, maka satu hal yang harus kau lakukan ialah : menemui orang Kristen. Orang Kristen itu adalah vicar Kristus di dunia ini.

Selama Musa ada di antara bangsa itu, mereka tidak pernah kuatir akan kehadiran Allah di antara mereka. Tetapi setelah Musa berpuasa empat puluh hari empat puluh malam di hadapan Tuhan di atas Gunung Sinai, mereka menjadi kuatir dan akhirnya menjadi liar dan membuat patung lembu emas. Di antara kita Gereja hadir untuk menampakkan bahwa Allah hadir di dunia ini. Gereja kita tahu bukanlah gedung dan bukan juga organisasi. Ia adalah tubuh Kristus yang menghadirkan Kristus di dunia ini. Adalah tugas saudara dan saya untuk menghadirkan Kristus di dalam hidup ini, sehingga orang lain pun tidak kuatir atas kehidupannya di dunia ini. Sudahkah Kristus menampakkan diri dari dalam kehidupan saudara dan saya? Masihkah ada kekuatiran di dalam hidup ini.

Hotman Siahaan

hotman.siahaan@gmail.com

04/05/17

Murah Hati




Murah Hati

janganlah engkau menegarkan hati ataupun menggenggam tangan terhadap saudaramu yang miskin itu,
Ulangan 15:7b

  Allah Israel adalah Allah yang murah hati. Hal itu dibuktikan dengan mendengar jeritan bangsa itu yang berada dalam perbudakan. Allah Israel mengutus hamba-Nya Musa untuk memimpin bangsa itu keluar dari Mesir dan dituntun ke Tanah Kanaan. Musa berkata bahwa bangsa itu dipelihara Tuhan selama empat puluh tahun di padang gurun. Pada masa itu, pakaian yang dipakai orang Israel tidak menjadi buruk, kaki mereka tidak menjadi bengkak selama empat puluh tahun, mereka makan manna yang tidak dikenal nenek moyang mereka. Hal ini dituturkan Musa dalam Ulangan 8:1-10.

Selama empat puluh tahun orang Israel mengalami kemurahan Tuhan, mereka tidak melakukan apa pun untuk mencari nafkah. Semua kebutuhan mereka disediakan Allah. Musa berharap agar orang Israel memahami hal itu dengan benar. Itu pun dijadikan sebagai dasar untuk bertindak hal yang sama kepada sesama mereka. Nas kita mengajak untuk tidak mengeraskan hati terhadap sesama yang miskin. Musa mengatakan agar mereka tidak menegarkan hati, sehingga tidak membukakan tangan untuk menolong sesama yang berada di dalam kemiskinan. Mereka sudah mengalami kemurahan hati, maka sangat wajar mereka pun memberikan kemurahan hati kepada sesama yang mengalami kemiskinan.

Ada satu pemahaman yang kental di kalangan orang Yahudi, yakni: bapa tinggal di dalam anak dan anak tinggal di dalam bapa. Pengalaman orang Israel di padang gurun dipercaya, orang Yahudi di generasi setelah padang gurun hingga di zaman sekarang dan yang akan datang, turut ambil bagian di dalam pengalaman nenek moyang mereka di padang gurun. Oleh karena itu, mereka pun mengakui bahwa mereka sudah mengalami kemurahan hati.

Itu menjadi pelajaran berharga bagi kita. Kita turut ambil bagian di dalam pengalaman orang percaya di masa dahulu kala. Orang percaya mengalami pencurahan Roh Kudus di Yerusalem ribuan tahun yang lalu. Karena kita memiliki iman yang sama kepada Tuhan Yesus, maka kita pun turut ambil bagian di dalam pencurahan Roh Kudus itu. Kita juga mengalami kemurahan Tuhan, dengan pengampunan dosa. Injil pun menuntut kita untuk murah hati.

Injil mengajarkan kepada kita, bahwa kita orang percaya adalah sesama anggota dari tubuh Kristus. Oleh karena itu, kita harus melihat orang lain sebagai bagian diri kita sendiri. Orang lain itu adalah diri kita dalam wujud yang lain. Oleh karena itu adalah sangat tidak wajar jika kita melihat diri kita yang lain berada di dalam kemiskinan, tetapi kita menutup tangan dan tidak menolong dia.

Musa berkata kepada orang Israel agar memperlakukan orang asing yang miskin di antara mereka. Alasannya ialah: engkau adalah orang asing dulunya di Mesir. Allah telah bertindak memberikan kepadmu kemurahan, maka bermurah hatilah kepada orang asing. Allah telah bermurah hati kepada kita, oleh karena itu haruslah kita menunjukkan kemurahan hati kepada orang lain. Itulah tanda dari orang beriman kepada Kristus Yesus.

03/05/17

Hikmat




Hikmat

Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik. Dan buah yang terdiri dari kebenaran ditaburkan dalam damai untuk mereka yang mengadakan damai.
Yakobus 3:17 – 18

Rasul Yakobus mengungkapkan kepada kita tentang adanya dua sumber hikmat yang ada di dalam hidup manusia di muka bumi ini. Hikmat yang pertama dari dunia. Ada pun ciri dari hikmat dunia ini ialah: iri hati, mementingkan diri sendiri, kekacauan dan segala macam perbuatan jahat. Sementara hikmat yang kedua ialah berasal dari surga. Ada pun ciri dari hikmat dari surga itu ialah:, murni, pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik.

Dari ciri yang sudah diungkapkan di atas, dengan jelas kita dapat memahami roh apa yang menggerakkan seseorang melakukan sebuah aktifitas. Sebagai seorang warga surgawi oleh karena iman kepada Yesus Kristus, kita tentunya mendemonstrasikan hikmat surgawi di dalam aktifitas kita sehari-hari. Marilah kita melihat contoh dari hikmat dunia menyatakan diri. Dituturkan ada sebuah pertemuan resmi di satu universitas. Rektor sedang berbicara. Lalu seorang malaikat datang kepadanya dan berkata: Tuhan telah melihat keberadaanmu yang tidak mementingkan diri sendiri. Tuhan akan memberikan kepadamu yang engkau minta. Lalu sang rektor berkata: berikan aku hikmat yang luar biasa! Kata malaikat: sudah terlaksana. Lalu ia naik ke langit lewat petir yang membahana. Semua orang melihat rektor, lalu mereka berkata: “Ucaplah sesuatu!” lalu rektor itu mengatakan: “Coba saya minta uang yang banyak saja!”

Pada hakekatnya ia tidak berharap akan kecerdasan yang luar biasa. Ia pada hakekatnya menginginkan uang. Itulah esensi dari dirinya sendiri. Hikmat yang ada di dalam dirinya adalah hikmat dunia. Lain dengan Raja Salomo. Kepadanya diberikan kesempatan untuk meminta apa saja. Ia tidak minta harta dan kuasa. Ia minta hikmat untuk dapat memerintah bangsanya atas nama Allah dengan baik dan benar. Melaksanakan kehendak Allah adalah kerinduannya yang paling dalam. Itulah beda yang sangat nyata antara hikmat dunia dan hikmat surgawi.

Salomo adalah seorang yang disebut sebagai Raja Damai. Di masa pemerintahannya kerajaan itu berada dalam damai sejahtera. Tidak ada lagi peperangan seperti zaman ayahnya Daud. Jika seseorang memerintah dengan hikmat surgawi, memang ada damai sejahtera di tengah masyarakat. Demikian juga dengan diri kita yang menerapkan hikmat surgawi di dalam hidup kita. Maka akan ada damai di sekeliling kita. Sebab kita tidak menerapkan kepentingan diri sendiri. Kita mendahulukan orang lain dari pada diri sendiri. Kita bersikap adil, memberikan kepada orang apa yang menjadi haknya.

Terlintas sebuah pengalaman pribadi, tentang mau menahan upah dari seseorang yang telah diminta pertolongan. Saya bermaksud untuk menahan upah itu sampai pada pagi hari, oleh karena sudah malam. Namun Tuhan mengingatkan bahwa mereka sedang menunggu upah itu, sebab mereka belum makan malam. Upah pun diberikan. Ternyata benar mereka belum makan. Dengan upah itu mereka membeli makanan. Bukankah mereka akan kelaparan sepanjang malam, jika malam itu upah itu ditunda. Itulah hikmat surgawi yang beroperasi di dalam diri kita. 

02/05/17

Keputusan




Keputusan

Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan TUHANlah yang terlaksana.
Amsal 19:21

Di zaman purba, sekolah seperti yang kita kenal sekarang ini tidak ada. Orang belajar dari para guru hikmat yang ada di tengah tengah masyarakat. Para guru hikmat mengajar ilmu bukan seperti ilmu yang kita sekarang kenal. Ilmu mereka ialah: bagaimana menjalani  hidup dengan baik dan benar. Cara mereka mengajar ialah: memberikan nasihat dalam bentuk Amsal seperti yang kita miliki sekarang ini. Dengan merenungkan nasihat itu, diharapkan seseorang dapat menarik pelajaran berharga bagi dirinya sendiri, sehingga ia menjadi orang  bijak, yang menjalani kehidupan dengan  baik dan berhasil.

Guru hikmat mengingatkan kita melalui Amsal ini, bahwa ada banyak rencana di dalam hati manusia. Namun satu hal yang pasti ialah: tidak semua rencana itu berhasil dengan baik. Sebab hidup seseorang tidaklah ditentukan rancangan orang tersebut. Allah berdaulat di dalam hidup umat manusia. Oleh karena itu, Sang Guru Hikmat itu mengajarkan kepada kita, untuk mencari keputusan Tuhan dalam hidup kita, sebab hal itu akan terlaksana. Tidak ada yang dapat membatalkan rencana Allah bagi kita sekalian.

Orang bijak adalah orang yang mampu melihat rancangan Allah bagi dirinya sendiri. Tiap kita mendapatkan satu penugasan yang akan kita lakukan bersama dengan Allah, selama kita hidup di dunia ini. Paulus mengatakan hal itu di dalam surat kepada Jemaat Efesus 2:10 :”Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.” Jika demikian adanya, maka orang bijak adalah orang yang mencari pekerjaan baik apa yang disediakan Allah bagi saya untuk dikerjakan.  Lalu semua itu dibawa di hadapan Allah untuk dilaksanakan. Orang akan sukses di dalam hidupnya, sebab ia telah melakukan rancangan Allah dan bukan rancangannya sendiri.

Contoh Agung bagi kita adalah Tuhan Yesus sendiri. Ia hadir di dunia ini, sebagai manusia tentulah Ia punya rancangan sendiri bagi diri-Nya sendiri. Tetapi Ia mengatakan: Ia tidak dapat berbuat apa apa diri-Nya sendiri, sebab Ia tidak memberlakukan ke hendak-Nya melainkan ke hendak dari Dia yang mengutus-Nya. Tatkala kita mematikan diri sendiri, dan menyalakan kehendak Allah di dalam diri kita, maka sebuah revolusi terjadi di dalam diri kita. Bukan kita lagi yang hidup di dalam diri kita, melainkan Kristus yang hidup di dalam diri kita.

Kita akan memutuskan hidup kita adalah dalam rangka memberlakukan kehendak Allah di dalam diri kita. Jika demikian adanya, maka kita sudah berada di level kehidupan yang sama seperti Kristus. Jadi teringat akan syair dari lagu persekutuan ini: “… kumau sperti-Mu Yesus, disempurnakan slalu, dalam segnap jalanku memuliakan nama-Mu.”  Allah telah melihat diri kita sama seperti Kristus Yesus. Itulah keputusan Allah atas kehidupan kita masing masing.

01/05/17

Tinggal dan Berakar



Tinggal dan Berakar

Itulah sebabnya aku sujud kepada Bapa, sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih.
Efesus 3:14, 17

Nas kita adalah bagian dari doa rasul Paulus bagi Jemaat yang dilayaninya sebagai seorang rasul. Paulus memulai doanya dengan ungkapan: itulah sebabnya. Maksudnya ialah: rencana Allah yang sudah diuraikan Paulus dalam pasal 1 dan 2. Paulus mendasarkan doanya atas rencana Allah bagi kita. Ini sebuah pelajaran berharga bagi kita yang berdoa kepada Allah. Naikanlah doa dengan berdasarkan rencana Allah bagi kehidupan saudara yang diungkapkan Roh Kudus bagi saudara dan saya.

Pada hakekatnya ada ayat yang mengantarai ayat 14 dengan ayat 17, dimana Paulus berbicara tentang kekayaan kemuliaan Allah. Paulus senantiasa mendasarkan apa yang dipohonkan atas apa yang disediakan Allah bagi kita. Oleh karena kekayaan kemuliaan Allah, Kristus diam; tinggal di dalam hati kita. Bukan saja tinggal di dalam hati kita, tetapi Kristus juga berakar di dalam kita. Jika kita berbicara tentang berakar, itu berarti relasi yang semakin dalam dengan Tuhan. Bukan saja hanya berakar, tetapi juga berdasar dalam kasih. Paulus memakai banyak ungkapan jika ia berbicara tentang apa yang disediakan Allah bagi kita.

Jika Kristus diam di dalam kita, serta kita berakar di dalam Dia, maka kasih Allah yang menjadi sumber dari segala aktifitas kita, akan mengalir dari dalam diri kita keluar mengairi masyarakat yang ada di sekitar kita. Jika kita baca lanjutan dari doa Paulus ini sampai ayat 21, kita dapat melihat bahwa apa yang tersedia bagi kita adalah sesuatu yang sangat luar biasa. Paulus mengatakan bahwa kita akan mendapatkan sesuatu dari Allah, jauh lebih besar dari apa yang kita doakan dan pikirkan.

Jadi teringat kisah tentang Ratu Syeba yang datang ke Yerusalem, oleh karena keingintahuannya tentang hikmat Salomo. Setelah berjumpa dengan Salomo dan melihat bagaimana para pelayannya melayani raja, Alkitab bahasa Inggris mengatakan: She was breathless and have no spirit within her.  Ratu Syeba terpana dengan apa yang dilihatnya. Di sisi lain Yesus mengatakan: “Di sini ada yang lebih besar dari Salomo. Jika Ratu Syeba terpana dan terkesima melihat hikmat Salomo, maka saudara dan saya yang datang kepada Yesus Kristus yang lebih besar dari Salomo. Tentulah mulut kita akan ternganga saking kagumnya melihat hikmat yang tersedia bagi kita.

Sisi lain yang menjadi bahan renungan bagi kita ialah: semakin dalam akar pohon tertanam di dalam tanah, maka dahan dan ranting serta daun pun semakin banyak bertumbuh di atas permukaan tanah. Jika relasi kita dengan Kristus tidak terlihat, sama seperti akar tanaman tidak terlihat karena tertanam di dalam tanah. Hal yang sama pun terjadi dengan kita. Jika relasi kita semakin dalam dengan Tuhan, hal ini tidak terlihat dalam hidup, tetapi ada sesuatu yang terlihat dengan jelas. Aktifitas kita semakin terlihat dengan jelas menampakkan Kristus di dalam diri kita.

Oleh karena itu kita dapat mengatakan jika pemampakan Tuhan di dalam diri kita sangat minim, maka hal itu adalah tanda dari kedekatan kita kepada Kristus tidak terlalu intim. Oleh karena itu kita dapat mengajukan sebuah pertanyaan bagi kita: sejauh manakah keintiman saudara dengan Tuhan Yesus? Jadi terlintas syair dari Buku Ende ini: Huhalupahon ma diringku, mamingkir holong ni rohaMu – Aku melupakan diriku mengenang kasihMu. Sudahkah saudara dan saya melupakan diri sendiri karena cinta kasih Tuhan yang sungguh mengherankan itu?

Rumah Allah

  Rumah Allah Ibrani 3:6 Tetapi Kristus setia sebagai Anak yang mengepalai rumah-Nya; dan rumah-Nya ialah kita, jika kita sampai kepada akhi...