03/05/17

Hikmat




Hikmat

Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik. Dan buah yang terdiri dari kebenaran ditaburkan dalam damai untuk mereka yang mengadakan damai.
Yakobus 3:17 – 18

Rasul Yakobus mengungkapkan kepada kita tentang adanya dua sumber hikmat yang ada di dalam hidup manusia di muka bumi ini. Hikmat yang pertama dari dunia. Ada pun ciri dari hikmat dunia ini ialah: iri hati, mementingkan diri sendiri, kekacauan dan segala macam perbuatan jahat. Sementara hikmat yang kedua ialah berasal dari surga. Ada pun ciri dari hikmat dari surga itu ialah:, murni, pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik.

Dari ciri yang sudah diungkapkan di atas, dengan jelas kita dapat memahami roh apa yang menggerakkan seseorang melakukan sebuah aktifitas. Sebagai seorang warga surgawi oleh karena iman kepada Yesus Kristus, kita tentunya mendemonstrasikan hikmat surgawi di dalam aktifitas kita sehari-hari. Marilah kita melihat contoh dari hikmat dunia menyatakan diri. Dituturkan ada sebuah pertemuan resmi di satu universitas. Rektor sedang berbicara. Lalu seorang malaikat datang kepadanya dan berkata: Tuhan telah melihat keberadaanmu yang tidak mementingkan diri sendiri. Tuhan akan memberikan kepadamu yang engkau minta. Lalu sang rektor berkata: berikan aku hikmat yang luar biasa! Kata malaikat: sudah terlaksana. Lalu ia naik ke langit lewat petir yang membahana. Semua orang melihat rektor, lalu mereka berkata: “Ucaplah sesuatu!” lalu rektor itu mengatakan: “Coba saya minta uang yang banyak saja!”

Pada hakekatnya ia tidak berharap akan kecerdasan yang luar biasa. Ia pada hakekatnya menginginkan uang. Itulah esensi dari dirinya sendiri. Hikmat yang ada di dalam dirinya adalah hikmat dunia. Lain dengan Raja Salomo. Kepadanya diberikan kesempatan untuk meminta apa saja. Ia tidak minta harta dan kuasa. Ia minta hikmat untuk dapat memerintah bangsanya atas nama Allah dengan baik dan benar. Melaksanakan kehendak Allah adalah kerinduannya yang paling dalam. Itulah beda yang sangat nyata antara hikmat dunia dan hikmat surgawi.

Salomo adalah seorang yang disebut sebagai Raja Damai. Di masa pemerintahannya kerajaan itu berada dalam damai sejahtera. Tidak ada lagi peperangan seperti zaman ayahnya Daud. Jika seseorang memerintah dengan hikmat surgawi, memang ada damai sejahtera di tengah masyarakat. Demikian juga dengan diri kita yang menerapkan hikmat surgawi di dalam hidup kita. Maka akan ada damai di sekeliling kita. Sebab kita tidak menerapkan kepentingan diri sendiri. Kita mendahulukan orang lain dari pada diri sendiri. Kita bersikap adil, memberikan kepada orang apa yang menjadi haknya.

Terlintas sebuah pengalaman pribadi, tentang mau menahan upah dari seseorang yang telah diminta pertolongan. Saya bermaksud untuk menahan upah itu sampai pada pagi hari, oleh karena sudah malam. Namun Tuhan mengingatkan bahwa mereka sedang menunggu upah itu, sebab mereka belum makan malam. Upah pun diberikan. Ternyata benar mereka belum makan. Dengan upah itu mereka membeli makanan. Bukankah mereka akan kelaparan sepanjang malam, jika malam itu upah itu ditunda. Itulah hikmat surgawi yang beroperasi di dalam diri kita. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Rumah Allah

  Rumah Allah Ibrani 3:6 Tetapi Kristus setia sebagai Anak yang mengepalai rumah-Nya; dan rumah-Nya ialah kita, jika kita sampai kepada akhi...