17/08/17

Mata Air


Mata Air

Maka kamu akan menimba air dengan kegirangan dari mata air keselamatan.
Yesaya 12:3

Sejenak kita merenungkan mata air keselamatan, sebagaimana disuarakan nas kita pada pagi hari ini. Ada kalanya kita berpikir tentang keselamatan hanya dalam wujud kala kita datang kepada Tuhan Yesus di dalam iman dan menyelamatkan kita dari dosa dan penghukuman yang kekal. Sesuatu yang terjadi satu kali dan berlaku untuk selama-lamanya. Tetapi keselamatan bukanlah hanya sesuatu yang berlaku untuk masa lalu dan masa depan saja. Keselamatan itu adalah sesuatu yang sudah berlalu, juga hari ini kita diselamatkan, dan nanti pun kita akan diselamatkan.

Satu hal yang harus kita garis bawahi dari nas kita itu ialah: mata air yang disebut di dalam nas kita, dalam terjemahan bahasa Inggris adalah bentuk jamak. Jadi tidak hanya ada satu mata air, tetapi mata air yang banyak. Jika kita buat pengalaman bangsa Israel di padang gurun, mereka tidak hanya mendapatkan satu sumur saja. Sebab mereka berjalan di padang gurun itu. Jadi mereka memerlukan banyak mata air di sepanjang perjalanan mereka di sana.

Dalam ayat 2 pasal 12 ini, Nabi Yesaya mengatakan bahwa Allah itu adalah keselamatannya. Itu berarti mata air keselamatan adalah masa dimana saudara dan saya mendekat kepada Allah, melalui pengalaman pribadi, serta minum dari mata air pengalaman itu kebenaran dan kuasa dan kasih serta kemuliaan Allah. Ada banyak mata air yang kita nikmati di dalam perjalanan hidup mengikut Tuhan di dalam hidup ini.

Pengalaman bangsa Israel menjadi sebuah analogi bagi kita, kala berjalan bersama dengan Tuhan di dunia ini. Perjalanan kita berangkat dari dunia ini, sama seperti Israel keluar dari Mesir. Akhir dari perjalanan kita adalah di Tanah Kanaan kita, yakni langit yang baru dan bumi yang baru. Sekarang kita sedang berjalan di padang gurun dunia hari ini. Di padang gurun itu kita menemukan pengalaman-pengalaman rohani, yang menjadi mata air keselamatan bagi kita.

Mata air itu memberikan kepada kita air yang cukup untuk kebutuhan kita di dalam perjalanan. Yesaya tidak mengatakan gentong air, atau tangki air. Yang disebut ialah mata air. Sesuatu sumber air yang tidak pernah kering. Pengalaman rohani menjadi sesuatu yang kita butuhkan untuk menimba pengalaman yang bernas dengan Allah yang kita kenal di dalam Yesus Kristus.

Pengalaman rohani itu perlu kita bagikan kepada orang lain. Itulah sebabnya kita perlu membaca dan membagikan pengalaman rohani dari para hamba Tuhan, hal itu dapat menjadi mata air keselamatan bagi kita. Dituturkan orang ada seorang kaya yang tinggal di kota pelabuhan di Inggris, di kota Bristol. Dituturkan orang, orang kaya ini senantiasa membuka jendela kantornya untuk melihat menara Gereja dari George Muller. Ia yakin akan Allahnya Muller. Imannya muncul dari kegelapan kala ia mengingat akan Muller hamba Tuhan yang setia itu.

Seharusnya kita pun dapat mengalami pengalaman rohani dan dibagikan kepada orang lain. Sebab kita pun disebut Paulus adalah surat terbuka yang dapat dibaca oleh orang. Itu berarti kita pun dapat menjadi wujud dari mata air keselamatan bagi orang lain. Mereka pun bergembira dan bersukacita karena pertemuan mereka dengan kita. Sudahkah saudara dan saya menjadi surat  Kristus yang terbuka dan dibaca semua orang yang bersinggungan dengan kita? Semoga.

16/08/17

Merdeka


Merdeka

Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.
Galatia 5:13

Hari ini kita merayakan hari kemerdekaan Republik ini. Namun ada satu hal yang perlu kita renungkan bersama, yakni: apakah kita benar-benar merdeka? Secara fisik kita tidak lagi dijajah negara asing, tetapi apakah penduduk negara ini sudah benar-benar merdeka di dalam segala hal? Jika kita tinjau kemerdekaan itu dari sudut pandang rohani, maka kita dapat mengatakan bahwa ada banyak orang yang sekarang ini masih berada di dalam penjajahan. Terutama penjajahan dari dosa. Kita diperhamba oleh dosa yang begitu menguasai hidup kita.

Semua orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa. Sementara dosa pada hakekatnya artinya adalah menyimpang. Kita telah menyimpang dari jalan yang ditetapkan Allah dari sejak semula untuk kita jalani. Kita dirancang untuk hidup bagi kemuliaan nama Allah. Sekarang kita  hidup bukan lagi untuk Allah, tetapi untuk diri kita sendiri. Betapa baik pun hidup kita secara manusia, tetapi jika hal itu dilakukan bukan untuk kemuliaan nama Allah, maka segala sesuatu yang kita lakukan itu adalah perilaku yang menyimpang di hadapan Allah. Karena menyimpang maka hal itu adalah dosa.

Syukur kepada Allah, Ia memberikan kepada kita jalan keluar dari penjajahan dosa dan benar-benar berada di dalam kemerdekaan. Kemerdekaan yang diberikan kepada kita adalah kemerdekaan di lubuk hati yang paling dalam. Kemerdekaan membuat kita  bebas dari keinginan daging. Contoh manusia yang paling merdeka di muka bumi ini ialah Yesus Kristus sendiri. Dari Dia kita belajar apa artinya merdeka. Merdeka diuraikan dalam hidup Yesus ialah: kebebasan untuk memilih apa pun jalan hidup yang harus ditempuh. Ia dengan rela karena kebebasannya untuk memilih jalan itu, serta tetap di jalan tersebut.

Kita lihat Yesus memutuskan untuk tidak mempertahankan kesetaraan-Nya dengan Allah sebagai milik yang harus dipertahankan. Malah Ia mengosongkan diri-Nya dan belajar taat bahkan taat sampai mati. Tentang hal ini diuraikan Paulus di dalam suratnya kepada Jemaat di Filipi. Cf Flp 2:5-11. Itulah kemerdekaan sejati. Atas dasar kehendak sendiri, tanpa mendapatkan tekanan dari siapa pun, mengambil keputusan untuk menjalani satu kehidupan.

Seorang yang sudah mengalami kemerdekaan di dalam roh, oleh karena karya Kristus adalah orang yang telah memutuskan di dalam dirinya untuk hidup untuk kemuliaan Allah, sebagaimana Kristus pun hidup untuk diri-Nya sendiri, tetapi untuk kemuliaan Bapa-Nya di surga.

Untuk menjalani kehidupan dlm kemerdekaan itu orang memutuskan akan melayani orang lain di dalam kasih. Dietirch Boenhoffer seorang hamba Tuhan yang mati martir di zaman Hitler mengatakan: Yesus Kristus adalah manusia yang memperuntukkan diri bagi orang lain. Tentunya Boenhoffer mendasarkan perkataannya itu pada ucapan Tuhan Yesus yang mengatakan: “Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya untuk banyak orang.” Markus 10:45.

Orang Kristen yang merdeka akan meniru Tuhan Yesus, atas kesadaran sendiri, melayani orang lain di dalam kasih. Oleh karena itu sebuah pertanyaan perlu diajukan kepada kita: untuk siapakah saudara dan saya hidup? Jika kita hidup untuk diri sendiri, pada hakekatnya kita adalah hamba manusia. Orang merdeka memperhambakan diri kepada Allah Bapa surgawi itu.

15/08/17

Keadilan


Keadilan

Tetapi biarlah keadilan bergulung-gulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir."
Amos 5:24

Sangat menarik untuk merenungkan nas bacaan kita pada pagi hari ini dengan ayat sebelumnya yang  mengatakan: “Sungguh, apabila kamu mempersembahkan kepada-Ku korban-korban bakaran dan korban-korban sajianmu, Aku tidak suka, dan korban keselamatanmu berupa ternak yang tambun, Aku tidak mau pandang. Jauhkanlah dari pada-Ku keramaian nyanyian-nyanyianmu, lagu gambusmu tidak mau Aku dengar.” Ayat 22-23. Sebab ketiga ayat ini merupakan satu kesatuan yang menuntut pertobatan yang benar terhadap Allah.

Sangat jelas di dalam nas kutipan di atas, Allah tidak senang dengan ibadah kurban orang Israel pada waktu itu. Sebab ibadah mereka tanpa keadilan dan ke benaran. Mereka berpikir, dengan ibadah kurban yang menghapus dosa kata hukum Taurat, mereka pun mempersembahkan kurban yang banyak, tetapi tanpa ada persekutuan yang benar sebagaimana diajarkan oleh ritus ibadah kurban itu sendiri.

Ada ibadah yang ramai di kalangan Israel, tetapi ibadah mereka itu hanyalah dalam wujud lahiriah, tanpa substansi di dalamnya. Di dalam ibadah yang benar, substansinya ialah keadilan dan kebenaran. Jika kita berbicara tentang keadilan, itu berarti memberikan kepada orang lain apa yang menjadi haknya. Apakah hak dari orang yang tidak punya pembela di dalam hidup? Ia berhak untuk mendapatkan pertolongan. Hal tersebut tidak dilakukan oleh bangsa Israel yang gemar beribadah kepada Allah, tetapi tanpa substansi. Sebab mereka dalam waktu yang sama pun beribadah kepada dewa dewa orang Kanaan.

Salah satu dari substansi dari ibadah kurban yang dilupakan bangsa Israel di zaman Amos ialah persektuan dengan Allah dan juga dengan sesama. Orang Israel telah meninggalkan orang-orang marjinal pada waktu itu. Itulah sebabnya Amos menyanyikan satu nyanyian ratapan tentang Israel di dalam pasal 5:1-6. Lalu firman Allah yang datang kepada Israel setelah itu ialah firman melawan perkosaan keadilan sebagaimana diungkapan dalam 5:7-13.

Nas bacaan kita pada hari ini juga satu firman yang berbicara atas keberadaan kita sekarang ini. Kita pun telah membuat ibadah kita dengan ibadah yang semarak. Ada Jemaat yang beribadah sebanyak tujuh kali di dalam satu hari Minggu. Tidakkah hal itu semarak adanya. Tetapi sebuah pertanyaan bagi kita ialah: apakah Tuhan senang dengan kebaktian kita? Jangan-jangan Allah tidak senang dengan ibadah kita, dengan lagu puji-pujian yang kita perdengarkan dengan merdu. Sebab ibadah kita dilaksanakan tanpa ada makna persekutuan yang sesungguhnya di dalam ibadah tersebut.

Jangan-jangan Allah berkata kepada kita: “Jauhkan dari Aku nyanyian-nyanyianmu…” ibdah yang dikehendaki Allah ialah ibadah yang menggemakan keadilan dan kebenaran atas semua anggota Jemaat yang ada di dalam persekutuan kita. Orang Israel pada waktu Nabi Amos, mereka berada di dalam kemakmuran ekonomi. Hal ini dibicarakan Amos di dalam pasal 4. Ada sejumlah orang yang hidup di dalam kemewahan, tetapi dalam waktu yang sama, ada orang yang terjual hanya karena kemiskinan.

Tidakkah hal yang sama kita temukan sekarang ini di dunia modern ini? Ibadah yang benar ialah ibadah dimana orang lain turut ambil bagian di dalam keberadaan yang saya alami. Itulah makna persekutuan. Orang lain ada di dalam diri saya. Semenara roh modernisme sekarang membuat tidak ada tempat orang lain di dalam diri saya. Itulah keberdosaan manusia modern sekarang ini di hadapan Allah. Adakah substansi keadilan dan kebenaran di dalam ibadah yang saudara laksanakan?

14/08/17

Jamahan



Jamahan

"Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku." Maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata kepadanya: "Aku mau, jadilah engkau tahir." Seketika itu juga lenyaplah penyakit kusta orang itu, dan ia menjadi tahir.
Markus 1:40b – 42

Menderita penyakit kusta di zaman Tuhan Yesus sungguh sangat menyedihkan. Mereka diasingkan dari masyarakat, sebab kusta dianggap sesuatu yang najis. Jika seorang yang najis berjalan di jalan raya, maka ia harus menyerukan najis-najis, sehingga orang bisa menyingkir. Hal itu harus dilakukan disebabkan jika orang yang tahir bersentuhan dengan yang najis, maka orang yang tahir – orang yang bersih – itu akan turut menjadi najis. Tentunya orang kusta yang datang ke Tuhan Yesus itu telah melakukan hal tersebut sebelum ia tiba di hadapan Tuhan Yesus.

Tentunya ia sudah mendengar berita tentang Tuhan Yesus. Ia tahu dengan pasti, bahwa ia dapat disembuhkan Tuhan Yesus. Hanya persoalan bagi dia ialah: apakah Yesus mau menyembuhkan dirinya. Itulah sebabnya ia berkata: “Jika Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku.” Atas keberadaan orang tersebut, hati Yesus tergerak oleh belas kasihan. Yesus pun menjamah orang tersebut dan ia pun sembuh.

Menarik untuk disimak, Yesus menjamah orang yang sakit kusta itu. Kita sudah kita katakan di atas, jika orang tahir bersentuhan dengan orang yang najis, maka orang yang tahir itu menjadi najis. Ternyata Yesus tidak menjadi najis karena menjamah orang kusta itu. Pribadi Yesus lebih besar dari kenajisan orang kusta itu, sehingga kuasa yang ada di dalam dirinya justru menghalau kenajisan dari orang kusta tersebut. Jamahan Yesus membuat kenajisan orang kusta itu menjadi tahir, atau bersih.

Satu hal yang perlu digarisbawahi: sebelum Yesus menjamah orang itu, nas kita berkata: “Maka tergeraklah hati-Nya oleh  belas kasihan.” Hati Yesus yang penuh belas kasihan, senantiasa tergerak, sehingga Ia bertindak untuk memberikan apa yang dibutuhkan orang. Belum pernah diberitakan ada orang yang membutuhkan pertolongan, namun dibiarakan Yesus lewat dari hadapan-Nya, tanpa hati tergerak dan tidak berbuat sesuatu pun.

Pada dasarnya semua kita adalah orang yang menderita kusta rohani, yakni dosa. Penyakit kusta mematikan syaraf kita, sehingga kita mengalami ketidakpekaan terhadap benda-benda tertentu. Baal dalam bahasa sehari-hari. Demikian juga dosa. Ia mematikan sensifitas kerohanian kita, sehingga kita dapat melakukan dosa, tanpa hal itu mengganggu hati  nurani kita. Dosa menjadi sesuatu yang tidak membawa masalah lagi di dalam hidup kita. Pada hal kenajisan kita di mata Allah adalah sesuatu yang najis.

Kabar baik bagi kita ialah: Yesus mau menjamah kita dan Ia tidak menjadi najis. Malah sebaliknya kita menjadi tahir oleh karena jamahan Tuhan tersebut. Kekudusan Yesus Kristus jauh lebih besar dari kenajisan kita karena keberdosaan kita. Jamahan Tuhan itu didorong oleh karena belas kasihan Tuhan. Yesus adalah Juruselamat yang penuh dengan belas kasihan. Oleh karena itu Ia tidak pernah menolak orang yang datang kepada-Nya.

Kisah anak yang bungsu dapat menjadi sebuah contoh bagaimana belas kasihan bapa tersebut menghapus keberdosaan dari anaknya yang sudah menghabiskan hartanya untuk sesuatu yang tidak berguna. Dalam kisah tersebut, kita tahu bersama, tidak ada satu pun kata bapa itu tentang keberdosaannya. Bapa itu hanya berkata: Adikmu dahulu sudah mati, tetapi sekarang ia hidup kembali. Itulah reaksi orang yang penuh belas kasihan dan yang datang untuk ditahirkan kembali. Datanglah pada Tuhan Yesus, saudara tidak akan ditolak-Nya apa pun yang menjadi masalah kenajisan saudara. 

13/08/17

Kesetiaan


Kesetiaan

Hanya, lakukanlah dengan sangat setia perintah dan hukum, yang diperintahkan kepadamu oleh Musa, hamba TUHAN itu, yakni mengasihi TUHAN, Allahmu, hidup menurut segala jalan yang ditunjukkan-Nya, tetap mengikuti perintah-Nya, berpaut pada-Nya dan berbakti kepada-Nya dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu."
Yosua 22:5

Setelah seluruh tanah Kanaan ditaklukkan oleh Yosua dan orang  Israel, serta tanah itu dibagikan sebagai tanah pusaka bagi bangsa itu, ada dua setengah suku Israel yang tinggal di tepi Timur sungai Yordan pun pulang ke tanah yang diundikan kepada mereka oleh Musa. Sebagai kata perpisahan, Yosua menasihati mereka dengan nas bacaan kita pada pagi hari ini. Dua setengah suku itu adalah suku Ruben, Gad dan setengah suku Manasye. Yosua menekankan agar suku bangsa itu melakukan dengan sangat setia firman dan hukum yang diperintahkan kepada mereka oleh Musa.

Melakukan dengan setia perintah dan hukum Tuhan adalah sebuah tanda kesetiaan kita kepada Tuhan yang tidak kita lihat. Sebab tidaklah mungkin kita setia kepada Tuhan yang tidak terlihat wujudnya, sementara kita tidak setia kepada hukum dan perintah-Nya kepada kita. Kita  juga tidak mungkin mengasihi Tuhan yang kita tidak lihat, sementara kita tidak mengasihi perinta-Nya.

Jalan yang harus ditempuh untuk tiba kepada kesetiaan yang diharapkan ialah mengulang berulang kali firman itu, sehingga menjadi bagian yang tak terpisahkan di dalam hidup kita. Musa menasihati bangsa itu di Padang Gurun, agar mengajarkan firman itu  berulang-ulang. Ada pepatah orang yang mengatakan: “Berulang-ulang seperti membersihkan lengan.” Hanya dengan mengajarkan firman itu secara berulang-ulang barulah tercipta kesetiaan.

Berbicara tentang kesetiaan, di Jepang ada sebuah patung seekor anjing yang ditempatkan di sebuah stasiun kereta api. Patung anjing itu ditempatkan di sana, untuk mengenang kesetiaan seekor anjing, me nunggu tuannya yang buta. Ia tidak tahu bahwa tuannya tidak datang karena tertabrak kereta api. Anjing itu setia menunggu tuannya yang tidak pernah akan datang lagi, karena sudah meninggal.

Bukan hanya binatang yang setia. Ada seorang ibu yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga dari seorang suami yang kasar dan bengis. Ibu itu sering dipukuli dan disiksa. Orang menganjurkan agar sang ibu itu meninggalkan suaminya yang jahat. Sang ibu itu berkata: “Aku tidak dapat meninggalkannya, sebab saya sudah berjanji kepada Tuhan, bahwa aku tidak akan menceraikan dia, kecuali diceraikan kematian.” Ibu itu setia kepada janjinya kepada Tuhan, untuk tidak bercerai. Ia mengulang-lang janjinya itu jika ada keinginan untuk meninggalkan suami yang kasar dan bengis. Tuhan tidak  membiarkan ibu itu terus di dalam penderitaan. Sang suami bertobat dan menjadi suami yang lembut menurut sang isteri di dalam kesaksiannya dalam satu persekutuan.

Marilah kita mengulang tiap hari firman Allah di dalam lubuk hati kita yang paling dalam, sehingga firman itu  menjadi bagian yang tak terpisahkan di dalam  hidup kita. Sebab firman Allah kata Alkitab memang bermanfaat untuk mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan dan mendidik orang di dalam kebenaran. Itu kata Paulus kepada muridnya Timoteus II Timoteus 3:16.

12/08/17

Elia



Elia
I Raja-raja 19:1 – 18

Bangsa Israel berpaling dari Allahnya dan menyembah berhala. Allah membangkitkan Nabi Elia untuk membawa bangsa itu kembali kepada Allah. Ia menantang para nabi Baal yang dibawa Izebel, permaisuri Raja Ahab. Ada 750 nabi yang ditantang Elia untuk mempersembahkan kurban bakaran tanpa api. Jika Allah Israel adalah Allah yang sesungguhnya, maka biarlah Ia membuktikannya dengan mengirim api dari langit untuk membakar kurban yang dipersembahkan. Jika Baal adalah Allah, maka biarlah ia juga mengirim api dari langit untuk membakar kurban yang dipersembahkan kepadanya.

Ternyata Baal tidak dapat membuktikan ia adalah Allah. Sementara Allah Israel mengirim api dari langit untuk membakar kurban yang dipersembahkan kepada-Nya. Oleh karena para n abi Baal itu tidak mampu meminta Baal untuk membuktikan diri sebagai Allah, maka Elia menyuruh orang banyak itu membunuh ke tujuh ratus lima puluh nabi Baal itu sebagaimana dituntut hukum Taurat. Mereka adalah nabi palsu yang harus dilenyapkan dari Israel.

Namun peristiwa itu tidak membuat raja Ahab bertobat. Ia melaporkan peristiwa itu kepada isterinya Izebel. Lalu Izebel bersumpah untuk membunuh Elia. Menarik untuk disimak, Elia justru takut atas ancaman dari Izebel. Elia melarikan diri ke padang gurun Yehuda. Di sana ia mengungkapkan isi hati kepada Allah. Ia ingin mati, karena ia tidak dapat membawa orang Israel berpaling kembali kepada Allahnya. Di sana Allah menghibur Nabi Elia yang sudah putus ada itu. Pertama tama, seorang malaikat memberi dia makan dan minum sampai dua kali.

Karena sudah diberi makanan dari surga sebanyak dua kali, maka Elia dapat berlari sampai ke gunung Horeb. Di sana ia bertemu dengan Allah Israel. Allah menyatakan diri pada manusia juga dengan perantaraan gejala dalam alam semesta. Berdasarkan pengalaman Nabi Elia yang bertempur dengan para nabi Baal dan juga dengan Izebel, Elia berharap Allah akan menyatakan diri di dalam angin besar dan kuat. Tetapi Allah tidak ada di dalam angin tersebut. Allah justru menyatakan diri di dalam angin sepoi sepoi. Tentu hal ini tidak sesuai dengan pengalaman Nabi Elia.

Untuk orang yang putus asa ini, Allah  memberi tugas untuk mengurapi para raja duduk di tahta kerajaannya. Raja orang Aram, raja Israel dan seorang nabi sebagai penggantinya. Ternyata Allah masih ada penugasan kepada orang yang sudah putus asa. Bukan hanya orang yang memiliki sikap berapi api dipakai Tuhan untuk melaksanakan tugas yang harus diemban.

Pengalaman Nabi Elia ini memberikan sebuah pelajaran berharga bagi kita. Ternyata Allah lebih maju beberapa langkah dari langkah yang kita lakukan. Ia memberi penghiburan kepada hamba-Nya yang putus asa seperti Elia. Ia bahkan memberi penugasan baru bagi orang yang sudah putus asa. Di sisi lain juga kita punya pelajaran bahwa Allah memiliki jumlah yang berbeda dengan jumlah yang kita perkirakan.

Elia berpikir hanya dia yang tinggal orang yang percaya kepada Allah, ternyata masih ada tujuh ribu orang yang percaya. Angka yang diajukan Allah bukanlah  nominal melainkan satuan jumlah yang diharapkan Allah. Satu hal yang perlu diajukan kepada diri sendiri ialah: apakah kita termasuk jumlah sisa yang juga ada di kalangan orang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus?

10/08/17

Perjanjian Allah


Perjanjian Allah
Kejadian 9:9 – 10

"Sesungguhnya Aku mengadakan perjanjian-Ku dengan kamu dan dengan keturunanmu, dan dengan segala makhluk hidup yang bersama-sama dengan kamu: burung-burung, ternak dan binatang-binatang liar di bumi yang bersama-sama dengan kamu, segala yang keluar dari bahtera itu, segala binatang di bumi.

Perjanjian di masa Perjanjian Lama disajikan dengan semuah ritus yang berat. Dua rog yang berjanji itu akan memotong seekor binatang dan membelah dua binatang itu dari kepala sampai ke ekor. Lalu ditempatkan kedua belah potongan kurban itu sejajar satu dengan yang lain. Setelah itu kedua orang yang b erjanji itu akan mengutuki diri sendiri jika salah satu dari mereka mengingkari perjanjian tersebut. Hal ini dapat kita lihat di dalam kisah Abraham mengikat perjanjian dengan Allah. Ditulis di dalam Kitab kejadian 15:17-20.

Jika Allah mengikat perjanjian dengan Nuh di dalam nas kita, itu berarti Allah pun telah  lewat dari potongan kurban itu dan bersumpah untuk taat dan setia terhadap perjanjian tersebut. Di sepanjang sejarah keselamatan, Allah tetap stia, sekalipun kita tidak setia.cf II Timoteus 2:13 “ Jika kita tidak setia, Dia tetap setia karena Ia tidak dapat menyangkal diri-Nya sendiri.

Biasanya sebuah perjanjian dibuat di antara manusia yang setara hak dan kewajibannya. Namun prakarsa dari perjanjian Allah dan manusia, tidak didasarkan pada persamaan hak antara Allah dan manusia. Allah sendirilah yang mengambil prakarsa itu dan mengikatkan diri di dalam satu perjanjian, dimana Ia lewat dari tengah tengah binatang kurban tersebut. Bukan hanya itu saja yang perlu digarisbawahi di dalam perjanjian Allah dengan Nuh. Nas kita mengatakan bahwa Allah juga melibatkan burung-burung, teernak dan binatang-bianatang liar di bumi yang bersama dengan Nuh ada di bahatera tersebut. Tidakkah hal ini sesuatu yang menghenakan kita?

Kita tahu bersama, ada pun tanda dari perjanjian itu ialah: Allah akan menggantungkan busurnya di langit. Kita menggarisbawahi kata menggantungkan. Seorang atlit  sering disebut orang yang menggatungkan sarung tinjunya, raketnya, sepatu bolanya dan lain sebagainya. Hal itu sebagai satu tanda bahwa ia tidak lagi akan memakai senjatanya itu untuk bertanding di dalam pertandingan olah raga. Sekarang kita lihat Allah menggantungkan busurnya di langit, itu tandanya Allah tidak lagi akan memakai busurnya untuk memerangi manusia oleh karena keberdosaannya.

Tidak ada lagi penghukuman bagi umat manusia oleh karena keberdosaannya. Hal ini digenapi di dalam diri Kristus Yesus Tuhan kita. Paulus di dalam suratnya kepada Jemaat di Roma mengatakan: “Tdk ada lagi penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus.” Roma 8:1. Allah setia atas perjanjian-Nya dengan umat manusia. Hanya mereka yang tidak ada di dalam Kristuslah yang akan menerima penghakiman di akhir zaman itu kelak.

Jadi bukan hanya manusia yang mengapatkan keselamatan oleh karena ketaatan dari satu orang, yakni Nuh di dalam nas bacaan kita. Hal yang sama pun dunia dengan segala kutuk yang diterimanya oleh karena keberdosaan manusia, pun mendapatkan rehabilitasi karena pembenaran manusia di hadapan Allah. Sebab dengan sangat rindu seluruh mahluk menantikan saat anak-anak Allah dinyatakan. Karena seluruh makhluk telah ditaklukkan kepada kesia-siaan, bukan oleh kehendaknya sendiri, tetapi oleh kehendak Dia, yang telah menaklukkannya, tetapi dalam pengharapan, karena makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah.” Roma 8:19-21.

Bersukacitlah umat manusia yang ada di dalam Kristus Yesus, sebab tidak ada lagi penghukuman bagi mereka, malah mereka akan masuk ke dalam kemuliaan anak-anak Allah. Turutkah saudara dan saya di dalamnya?

Rumah Allah

  Rumah Allah Ibrani 3:6 Tetapi Kristus setia sebagai Anak yang mengepalai rumah-Nya; dan rumah-Nya ialah kita, jika kita sampai kepada akhi...