12/08/17

Elia



Elia
I Raja-raja 19:1 – 18

Bangsa Israel berpaling dari Allahnya dan menyembah berhala. Allah membangkitkan Nabi Elia untuk membawa bangsa itu kembali kepada Allah. Ia menantang para nabi Baal yang dibawa Izebel, permaisuri Raja Ahab. Ada 750 nabi yang ditantang Elia untuk mempersembahkan kurban bakaran tanpa api. Jika Allah Israel adalah Allah yang sesungguhnya, maka biarlah Ia membuktikannya dengan mengirim api dari langit untuk membakar kurban yang dipersembahkan. Jika Baal adalah Allah, maka biarlah ia juga mengirim api dari langit untuk membakar kurban yang dipersembahkan kepadanya.

Ternyata Baal tidak dapat membuktikan ia adalah Allah. Sementara Allah Israel mengirim api dari langit untuk membakar kurban yang dipersembahkan kepada-Nya. Oleh karena para n abi Baal itu tidak mampu meminta Baal untuk membuktikan diri sebagai Allah, maka Elia menyuruh orang banyak itu membunuh ke tujuh ratus lima puluh nabi Baal itu sebagaimana dituntut hukum Taurat. Mereka adalah nabi palsu yang harus dilenyapkan dari Israel.

Namun peristiwa itu tidak membuat raja Ahab bertobat. Ia melaporkan peristiwa itu kepada isterinya Izebel. Lalu Izebel bersumpah untuk membunuh Elia. Menarik untuk disimak, Elia justru takut atas ancaman dari Izebel. Elia melarikan diri ke padang gurun Yehuda. Di sana ia mengungkapkan isi hati kepada Allah. Ia ingin mati, karena ia tidak dapat membawa orang Israel berpaling kembali kepada Allahnya. Di sana Allah menghibur Nabi Elia yang sudah putus ada itu. Pertama tama, seorang malaikat memberi dia makan dan minum sampai dua kali.

Karena sudah diberi makanan dari surga sebanyak dua kali, maka Elia dapat berlari sampai ke gunung Horeb. Di sana ia bertemu dengan Allah Israel. Allah menyatakan diri pada manusia juga dengan perantaraan gejala dalam alam semesta. Berdasarkan pengalaman Nabi Elia yang bertempur dengan para nabi Baal dan juga dengan Izebel, Elia berharap Allah akan menyatakan diri di dalam angin besar dan kuat. Tetapi Allah tidak ada di dalam angin tersebut. Allah justru menyatakan diri di dalam angin sepoi sepoi. Tentu hal ini tidak sesuai dengan pengalaman Nabi Elia.

Untuk orang yang putus asa ini, Allah  memberi tugas untuk mengurapi para raja duduk di tahta kerajaannya. Raja orang Aram, raja Israel dan seorang nabi sebagai penggantinya. Ternyata Allah masih ada penugasan kepada orang yang sudah putus asa. Bukan hanya orang yang memiliki sikap berapi api dipakai Tuhan untuk melaksanakan tugas yang harus diemban.

Pengalaman Nabi Elia ini memberikan sebuah pelajaran berharga bagi kita. Ternyata Allah lebih maju beberapa langkah dari langkah yang kita lakukan. Ia memberi penghiburan kepada hamba-Nya yang putus asa seperti Elia. Ia bahkan memberi penugasan baru bagi orang yang sudah putus asa. Di sisi lain juga kita punya pelajaran bahwa Allah memiliki jumlah yang berbeda dengan jumlah yang kita perkirakan.

Elia berpikir hanya dia yang tinggal orang yang percaya kepada Allah, ternyata masih ada tujuh ribu orang yang percaya. Angka yang diajukan Allah bukanlah  nominal melainkan satuan jumlah yang diharapkan Allah. Satu hal yang perlu diajukan kepada diri sendiri ialah: apakah kita termasuk jumlah sisa yang juga ada di kalangan orang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Rumah Allah

  Rumah Allah Ibrani 3:6 Tetapi Kristus setia sebagai Anak yang mengepalai rumah-Nya; dan rumah-Nya ialah kita, jika kita sampai kepada akhi...