15/08/17

Keadilan


Keadilan

Tetapi biarlah keadilan bergulung-gulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir."
Amos 5:24

Sangat menarik untuk merenungkan nas bacaan kita pada pagi hari ini dengan ayat sebelumnya yang  mengatakan: “Sungguh, apabila kamu mempersembahkan kepada-Ku korban-korban bakaran dan korban-korban sajianmu, Aku tidak suka, dan korban keselamatanmu berupa ternak yang tambun, Aku tidak mau pandang. Jauhkanlah dari pada-Ku keramaian nyanyian-nyanyianmu, lagu gambusmu tidak mau Aku dengar.” Ayat 22-23. Sebab ketiga ayat ini merupakan satu kesatuan yang menuntut pertobatan yang benar terhadap Allah.

Sangat jelas di dalam nas kutipan di atas, Allah tidak senang dengan ibadah kurban orang Israel pada waktu itu. Sebab ibadah mereka tanpa keadilan dan ke benaran. Mereka berpikir, dengan ibadah kurban yang menghapus dosa kata hukum Taurat, mereka pun mempersembahkan kurban yang banyak, tetapi tanpa ada persekutuan yang benar sebagaimana diajarkan oleh ritus ibadah kurban itu sendiri.

Ada ibadah yang ramai di kalangan Israel, tetapi ibadah mereka itu hanyalah dalam wujud lahiriah, tanpa substansi di dalamnya. Di dalam ibadah yang benar, substansinya ialah keadilan dan kebenaran. Jika kita berbicara tentang keadilan, itu berarti memberikan kepada orang lain apa yang menjadi haknya. Apakah hak dari orang yang tidak punya pembela di dalam hidup? Ia berhak untuk mendapatkan pertolongan. Hal tersebut tidak dilakukan oleh bangsa Israel yang gemar beribadah kepada Allah, tetapi tanpa substansi. Sebab mereka dalam waktu yang sama pun beribadah kepada dewa dewa orang Kanaan.

Salah satu dari substansi dari ibadah kurban yang dilupakan bangsa Israel di zaman Amos ialah persektuan dengan Allah dan juga dengan sesama. Orang Israel telah meninggalkan orang-orang marjinal pada waktu itu. Itulah sebabnya Amos menyanyikan satu nyanyian ratapan tentang Israel di dalam pasal 5:1-6. Lalu firman Allah yang datang kepada Israel setelah itu ialah firman melawan perkosaan keadilan sebagaimana diungkapan dalam 5:7-13.

Nas bacaan kita pada hari ini juga satu firman yang berbicara atas keberadaan kita sekarang ini. Kita pun telah membuat ibadah kita dengan ibadah yang semarak. Ada Jemaat yang beribadah sebanyak tujuh kali di dalam satu hari Minggu. Tidakkah hal itu semarak adanya. Tetapi sebuah pertanyaan bagi kita ialah: apakah Tuhan senang dengan kebaktian kita? Jangan-jangan Allah tidak senang dengan ibadah kita, dengan lagu puji-pujian yang kita perdengarkan dengan merdu. Sebab ibadah kita dilaksanakan tanpa ada makna persekutuan yang sesungguhnya di dalam ibadah tersebut.

Jangan-jangan Allah berkata kepada kita: “Jauhkan dari Aku nyanyian-nyanyianmu…” ibdah yang dikehendaki Allah ialah ibadah yang menggemakan keadilan dan kebenaran atas semua anggota Jemaat yang ada di dalam persekutuan kita. Orang Israel pada waktu Nabi Amos, mereka berada di dalam kemakmuran ekonomi. Hal ini dibicarakan Amos di dalam pasal 4. Ada sejumlah orang yang hidup di dalam kemewahan, tetapi dalam waktu yang sama, ada orang yang terjual hanya karena kemiskinan.

Tidakkah hal yang sama kita temukan sekarang ini di dunia modern ini? Ibadah yang benar ialah ibadah dimana orang lain turut ambil bagian di dalam keberadaan yang saya alami. Itulah makna persekutuan. Orang lain ada di dalam diri saya. Semenara roh modernisme sekarang membuat tidak ada tempat orang lain di dalam diri saya. Itulah keberdosaan manusia modern sekarang ini di hadapan Allah. Adakah substansi keadilan dan kebenaran di dalam ibadah yang saudara laksanakan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Rumah Allah

  Rumah Allah Ibrani 3:6 Tetapi Kristus setia sebagai Anak yang mengepalai rumah-Nya; dan rumah-Nya ialah kita, jika kita sampai kepada akhi...