21/06/17

Jangan Lupa

Kamis 22 Juni 2017

Jangan Lupa

rumah-rumah, penuh berisi berbagai-bagai barang baik, yang tidak kauisi; sumur-sumur yang tidak kaugali; kebun-kebun anggur dan kebun-kebun zaitun, yang tidak kautanami -- dan apabila engkau sudah makan dan menjadi kenyang, maka berhati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan TUHAN, yang telah membawa kamu keluar dari tanah Mesir, dari rumah perbudakan.
Ulangan 6:11 – 12  

Tatkala orang Israel memasuki tanah Kanaan dan merebut tanah itu dari kepemilikan orang Kanaan, maka mereka mendapatkan rumah yang sudah ditinggali orang Kanaan. Demikian juga dengan sumur dan kebun kebun anggur. Mereka mendapatkannya secara gratis. Mereka mendapatkan tanah itu secara gratis diberikan Tuhan kepada mereka.

Musa mengingatkan bangsa itu, supaya mereka tidak  melupakan Tuhan oleh karena berkat yang mereka sudah terima. Orang dapat mengatakan bahwa kekuatan tangan merekalah yang membuat semuanya itu ada di tangan mereka. Mereka mengalahkan penduduk tanah Kanaan dan merampas hak mereka atas tanah dan kebun anggur serta sumur sumur yang tersedia.

Di Palestina hujan hanya turun dua kali dalam satu tahun. Oleh karena itu banyak sungai sungai kecil yang kering kerontang selama musim kering. Kecuali sungai Yordan. Oleh karena itu, sumur sangat pentinga bagi penduduk tanah Kanaan yang jauh dari sungai Yordan. Bangsa Israel mendapatkan segala sesuatu untuk  membuat mereka menjadi hidup mapan. Rumah ada, sumur ada, ladang ada, kebun anggur ada, demikian juga dengan kebun zaitun. Semuanya itu adalah hasil pertanian yang diandalkan di tanah Kanaan.

Jika berkat melimpah, sering orang lupa akan Tuhan yang memberikannya. Orang dapat berkata: semuanya itu ada di dalam hidupku, itu ada oleh karena karyaku sendiri. Tangankulah yang bekerja membuat semuanya hal itu menjadi ada. Jika kita refleksikan di kehidupan kita sekarang ini, tidaklah jarang orang yang mengatakan bahwa apa yang ada padanya bukanlah berkat Tuhan, tetapi hasil karya kita sendiri. Tidak ada penyertaan Tuhan di dalamnya.

Dengan cepat bangsa Israel berpaling dari Allah Yahweh kepada ilah sembahan orang Kanaan. Mengapa hal itu demikian? Kita tahu bersama, orang Israel itu adalah peternak di Mesir. Mereka tidak tahu cara bercocok tanam. Sekarang mereka memiliki ladang dan kebun. Karena mereka tidak tahu caranya bercocok tanam, maka mereka bertanya kepada bangsa Kanaan yang masih tinggal di antara mereka bagaimana caranya bercocok tanam. Orang Kanaan itu pun mengajari mereka dengan mengikut sertakan ritus agama Kanaan di dalam melaksanakan pemilihan benih, menanam, menyiangi dan sebagainya. Hal itu senantiasa dikaitkan dengan Baal sembahan orang Kanaan. Oleh karena mempraktekkan hal tersebut, Israel pun pada akhirnya berpaling dari Yahweh dan menyembah Baal.

Hal yang sama pun kita alami sekarang ini. Kemajuan teknologi sekarang ini membuat relasi antara orangtua dan anak pun mengalami perubahan. Orang tua bukan lagi pendidik utama di dalam hidup anak anak kita, melainkan gadget mereka. Gadget anak anak itu sudah jauh lebih dekat kepada anak anak dari orang tua. Ajaran tentang perilaku sudah bukan lagi diajarkan orang tua, tentang internet. Sering orang tua membiarkan anak-anaknya berada di dalam keadaan seperti itu.

Pada hal Musa mengatakan kepada bangsa Israel, bahwa orangtua harus membicarakan Taurat itu di rumah, di jalan, pada waktu duduk, waktu berbaring. Mengikatkannya pada tangan, dahi, juga menempelkannya di ambang pintu rumah dan gerbang. Adakah orangtua sekarang ini yang membicarakan firman Tuhan secara berulangulang kepada anak anaknya, sebagaimana dinasihatkan Musa kepada bangsa Israel?

Wahai para orangtua, adalah tugas saudara untuk memperkenalkan Allah kepada anak anak saudara. Lagi pula pada waktu anak itu dibaptis, saudara berjanji di hadapan Allah dan dihadapan anggota Jemaat, bahwa saudara bersedia membawa anak itu kepada pengajaran Kristen protestan, supaya ia mengakui imannya di hadapan orang banyak. Pada waktu itu bapa dan ibu mengatakan ya atas pertanyaan pendeta tersebut. Ingatlah bahwa janji saudara itu dicatat di surga, dan akan diperhadapkan kepada saudara pada hari penghakiman. Sudahkah anak saudara mengakui imannya di hadapan orang banyak, atau jangan jangan ia sudah menjadi mualaf. Semoga tidak ada orang seperti itu di Jemaat HKBP yang kita cintai ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Rumah Allah

  Rumah Allah Ibrani 3:6 Tetapi Kristus setia sebagai Anak yang mengepalai rumah-Nya; dan rumah-Nya ialah kita, jika kita sampai kepada akhi...