23/06/17

Bungkam


Sabtu 24 Juni 2017

Bungkam

Mazmur Asaf: suatu nyanyian. Ya Allah, janganlah Engkau bungkam, janganlah berdiam diri dan janganlah berpangku tangan, ya Allah!
Mazmur 83:1 – 2

Pemazmur mengalami Allah Israel dalam keadaan diam, pada hal bangsa itu berada di dalam ancaman. Oleh karena itu, mereka berseru kepada Tuhan, supaya tindak. Jika kita teliti di dalam Alkitab, ada tiga kali dituturkan kepada kita, Allah berdiam diri. Peristiwa pertama kita temukan di dalam Injil. Matius menuturkan dalam Mat 8:24, Yesus tidur pada waktu badai menerpa perahu para murid. Badai sedang mengamuk, para murid mencoba menyelamatkan perahu mereka. Namun mereka menegur Yesus yang tidak peduli dengan keadaan mereka. Lalu Yesus bangkit dan menegur badai, sehingga badai pun reda. Yesus menegur ketidakadaan iman para murid pada waktu itu. Badai itu dipakai Tuhan untuk membawa para murid itu lebih dekat dengan Yesus, sehingga mereka dapat melihat kuasa Tuhan bekerja.

Tuhan juga diberitakan menutup diri dan tidak mendengar seruan bangsa Israel, tatkala mereka berada dalam pergumulan yang begitu mendera. Yesaya mengatakan hal itu di dalam Yesaya 59:1-2. Kita tahu selanjutnya, apa pun tujuan Allah membiarkan bangsa itu tidak mendapatkan pertolongan ialah: untuk mencari adakah orang yang menjadi juru syafaat dari bangsa itu untuk memohonkan pertolongan. Hal yang sama pun metode itu masih dilaksanakan Allah dalam berhadapan anak anak-Nya di dunia ini.

Ada juga alasan ketiga, dimana Allah bertindak diam dalam pergumulan umat-Nya. Pada hal umat-Nya sudah hampir tenggelam oleh permasalahan yang mereka hadapi. Tetapi hal itu dibiarakan Allah dengan maksud dan tujuan yang sangat jelas. Tuhan membiarkan umat-Nya tanpa pertolongan. Tetapi maksud Allah ialah untuk mengumpulkan orang jahat yang berusaha untuk menenggelamkan orang percaya. Setelah berkumpul, mereka pun dibinasakan Allah. Hal ini terlihat dalam kisah Abraham yang berperang dengan raja raja yang dihimpun Raja Kedorlaomer.

Dari ketiga kasus di atas kita tahu dengan pasti, Allah tidak pernah meninggalkan umat-Nya secara sengaja, dan lalu membiarkan mereka dalam bahaya. Itulah sebabnya Rasul Paulus mengatakan: “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Rom 8:28.

Pengalaman hidup kita pun banyak mengungkapkan pengalaman pemazmur ini. Kita bergumul, namun Tuhan tidak memberi respon terhadap pergumulan yang kita hadapi. Orang besar di dalam iman pun disebut orang, mengalami pergumulan seperti itu. Dituturkan orang Ibu Theresa dari Calculta hal yang sama. Ia mengalami masa gelap dalam perjalanan imannya. Ia mengalami ketidakhadiran Allah di dalam hidupnya. Juga orang besar di dalam iman mengalami pergumulan seperti itu. Namun satu hal yang pasti ialah: mereka keluar sebagai seorang pemenang.

Seorang teman pernah bercerita kepada saya tentang imannya yang kembali ditemukannya. Ia bersaksi, ia dihadang satu pergumulan yang membuat dia mempertanyakan eksistensi Allah. Ia berseru kepada Allah di dalam pergumulan tersebut. Namun ia tidak mendapatkan jawaban apa pun juga. Oleh karena tidak menemukan jalan keluar dari persoalan yang dihadapinya, maka ia pun mengambil keputusan, pada hakekatnya Allah itu tidak ada. Atau ia tidak layak dijadikan tempat memohon pertolongan, karena buktinya ia tidak mendapatkan pertolongan di dalam masalahnya.

Ia tidak pernah lagi mau datang ke Gereja dan melakukan ibadah sebagaimana dilakukannya dulu. Hingga satu hari kepadanya diberikan sebuah buku tentang perjalanan hidup yang saya jalani. Aku yang menulis buku tersebut. Ia mau membaca buku itu hanya karena ia mengenal saya, dan coba mengetahui bagaimana perjalanan hidup orang ini. Ia membacanya hingga selesai. Menurut kesaksian dia, ia membaca buku itu berulang-ulang hingga beberapa kali. Ia heras, setelah menyelesaikan membaca buku itu beberapa kali, ia sadar imannya kembali menyelinap di lubuk hatinya yang paling dalam. Ia sadar bahwa Allah dapat dipercaya. Diamnya Allah di dalam hidupnya di  moment tertentu, tujuannya supaya ia sampai pada iman yang sesungguhnya.

Jadi jika Allah diam dalam pengalaman saudara, hal itu dilakukan Allah, agar saudara dan saya menemukan iman yang sejati yang tidak goyah oleh karena pergumulan hidup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Rumah Allah

  Rumah Allah Ibrani 3:6 Tetapi Kristus setia sebagai Anak yang mengepalai rumah-Nya; dan rumah-Nya ialah kita, jika kita sampai kepada akhi...