28/04/11

Holy Land 1

Sinai

Rombongan berfoto bersama di Morgenland. Penulis duduk di depan paling kanan.

Setelah sarapan pagi, kami berangkat menuju Sinai. Tidak ada kebaktian pada pagi hari ini. Pimpinan rombongan dari Jakarta memberi penjelasan singkat rencana perjalanan hari ini. Saya bertanya dalam hati, mengapa tidak ada renungan pagi. Karena itu saya membaca Alkitab dalam hati. Tatkala perenungan itu sedang saya lakukan, maka hati saya kembali merenungkan makna Mesir dalam perjalanan hidup iman. Kesan saya atas Mesir sebagai kota dunia, dimana penderitaan masih memenuhi hati, maka aku teringat akan kota Alexandria. Itu juga di Mesir. Lalu, kembali aku membuat perjalanan dalam kenangan terhadap negeri ini.

Saya mengingat akan Anthony of Egypt. Ia adalah ‘bapa biara’. Setelah kekaisaran Romawi menjadi Kristen karena pertobatan kaisar Constantine, maka rakyat berbondong-bondong masuk Kristen. Menjadi Kristen bukan lagi karena pertobatan. Orang Romawi membawa kebejatan moral mereka masuk ke dalam Gereja. Orang percaya tidak lagi menjadi ‘kawanan kecil’ sebagaimana dinyatakan Kristus Yesus, Sang Gembala Yang Baik! Gereja pun kehilangan keindahan dan kekudusan iman. Dalam rangka menghadang dekadensi iman yang tidak terbendung itu, Anthony memulai kehidupan biara. Ia memelopori satu kehidupan biara yang menitikberatkan penerapan iman di dalam kehidupan sehari-hari.

Ia adalah anak seorang tuan tanah yang kaya, tetapi pada satu hari ia mendengar panggilan Yesus untuk menjadi seorang yang sempurna dengan jalan menjual seluruh hartanya. Ia menyendiri di padang gurun, hidup sebagai seorang biara. Anthony sangat mempengaruhi Athanasius. Kita kenal dia. Orang yang mempertahankan keilahian Yesus Kristus. Athanasius berhadapan dengan Arius yang kharismatik dan dikagumi orang pada waktu itu. Berkat Athanasius, kita mewarisi pengakuan iman rasuli yang bertahan ribuan tahun lamanya. Bahkan mungkin jutaan tahun, jika dunia ini masih berputar, Yesus pun belum kembali untuk menjemput kita pulang ke surga.

Kami meninggalkan Cairo, juga meninggalkan kota Alexandria yang meninggalkan gema iman di lubuk hati orang beriman di sepanjang masa.

Padang Gurun

Pada awal pertobatan saya pada tahun 1974, buku-buku yang paling mempengaruhi saya ialah: buku-buku tulisan Nee To Sheng – Watchman Nee. Nee menggambarkan bahwa padang gurun itu adalah simbol dari dunia ini. Hal itu menjadi pandangan saya juga. Sekarang saya melihat dengan mata kepala sendiri padang gurun yang dilalui orang Israel ribuan tahun yang lalu.

Padang gurun menjadi medan dimana Allah bertindak. Orang Yehuda juga berjalan pulang ke Yerusalem melalui padang gurun. Di padang gurun itu, Allah membuat air memancar memenuhi kebutuhan orang Yehuda, bahkan binatang hutan sekalipun. Demikian kata Nabi Yesaya. Pikiran saya pun mengingat Yohanes Pembaptis yang berkhotbah di padang gurun.

 Kesan saya melihat padang gurun itu ialah: sesuatu yang perlu ditaklukkan. Dunia ini haruslah ditaklukkan demi kemuliaan Allah. Di sana sini, aku juga melihat tindakan orang Mesir, yang mengubah padang gurun itu menjadi sesuatu tempat yang layak ditinggali. Dalam hidup ini, begitu banyak yang harus ditaklukkan. Ada begitu banyak orang yang tinggal di padang gurun kehidupan yang gersang. Tatkala sendirian duduk di bangku bus yang membawa kami menuju tanah suci, hati saya menimba pelajaran yang sangat berharga.

Saya mengenang orang Israel yang berjalan di padang gurun di bawah pimpinan Musa. Berdasarkan data yang diutarakan dalam kitab Bilangan pasal dua, menurut perkiraan saya secara pribadi, jumlah orang Israel yang keluar dari Mesir itu ada sekitar dua juta lima ratus ribu orang. Mereka berjalan di padang gurun yang gersang ini, luar biasa beban yang di pundak tiap-tiap orang, apalagi di pundak Musa. Saya melihat dalam imajinasi, anak-anak berjalan dengan orang tuanya,mereka kepanasan, menangis minta minum. Dalam rombongan kami, ada seorang peserta anak kecil berusia satu setengah tahun. Ia mengilhami saya untuk melihat perjalanan Israel juga dengan anak-anak seumur dia, bahkan bayi yang baru lahir. Betapa susahnya perjalanan itu.

Kami mengunjungi tempat pertama di padang gurun itu dalam perjalanan kami, yakni Mara. Saya melihat sumur itu. Lalu hatiku melihat jumlah orang yang sangat besar itu berlarian ke arah sumur tersebut. Mereka sedang kehausan. Tetapi tatkala mereka merasakan bahwa air itu ternyata pahit rasanya, maka kemarahan pun menggeluti hati mereka. Lalu ada orang yang menjadi provokator. Ia mengajak orang untuk mulai melempari Musa dengan batu. Bukankah di sekitar mereka batu berserakan dengan jumlah yang sangat banyak?



Saya sangat memahami apa yang dialami orang Israel itu. Dulunya saya menuduh mereka sebagai orang yang keras kepala. Alkitab memang menyebut mereka demikian. Namun setelah melihat dengan mata kepala sendiri padang gurun ini, saya pun akan bertindak seperti mereka itu juga. Saya tidak akan lebih baik dari mereka itu. Di pandang gurun ini, saya memahami makna air bagi kehidupan. Sumur di Mara itu kecil. Model seperti itulah sumur di padang gurun. Pada hal manusia yang akan minum di sana jumlahnya dua juta lima ratus ribu orang. Sunggu tidak memadai.

Pembimbing rohani kami membacakan firman Tuhan di tepi sumur itu, dan memberi penjelasannya. Mara artinya pahit. Tetapi Tuhan merubah yang pahit itu menjadi manis melalui sepotong kayu yang dilemparkan Musa atas perintah Tuhan. Hati saya mengatakan bahwa air dunia ini memang pahit. Hanya jika salib Yesus dikenakan kepada kehidupan itu, barulah dia menjadi manis. Inilah kebaktian pagi bagi kami, sebab sebelumnya tidak diadakan. Alangkah indahnya jika seluruh tempat yang akan di kunjungi pada hari itu telah diberitakan dulu kepada kita sebelum berangkat. Hal ini menolong peserta memahami perjalanan rohani tersebut.

Secara kasat mata, tidak ada keindahan Mara. Kalau bukan karena sejarahnya, tempat itu tidak layak dikunjungi turis. Lagi pula pimpinan rombongan dari Jakarta mengingatkan kami akan sifat orang Beduin yang tinggal di tempat itu. Ia mengingatkan kami agar berhati-hati jika berkomunikasi dengan mereka.

Elim
   
Kami melanjutkan perjalanan. Di tengah jalan, persis di pinggir jalan, pemandu wisata .emberitahukan bahwa kami telah tiba di Elim. Kami tidak turun dari kendaraan, tetapi saya mengambil gambar. Bersasarkan Alkitab, di tempat ini ada dua belas sumur dan tujuh puluh pohon korma. Jika Mara masih di tanah datar, maka Elim, sudah di gunung yang berbatu batu. Keadaan semakin sulit. Hati saya bertanya apa itu memang Elim? Jika Mara masih di tanah yang rata, Elim sudah di tengah-tengah gunung batu yang gersang. Masalah yang dihadapi Musa semakin besar. Tidak banyak yang saya dapat renungkan di tempat ini, karena saya tidak melihat dengan mata sendiri sumur yang ada di sana. Namun hati saya semakin memahami makna air bagi mereka yang tinggal di padang gurun ini.

Rafidim
                                                                                                                      
Setelah Elim, kami melihat dari kendaraan gunung di Rafidim, dimana Musa berdoa, dan tangannya di topang Harun dan Hur. Di atas gunung itu ada semacam mezbah, dimana  menurut Bob, batu itu adalah tempat duduk Musa, tatkala ia berdoa. Sekarang saya mengerti keadaannya. Dulunya saya bertanya dalam hati, bagaimana Musa dapat melihat ke  bawah kepada Yosua yang sedang bertempur. Masalahnya, pikiran saya tentang  gunung, mengacu pada gunung di Indonesia.

Ternyata gunung di padang gurun itu identik dengan bukit di Indonesia. Sangat jelas Musa dapat melihat pertempuran itu dari puncak gunung tersebut. Saya semakin memahami makna pertempuran rohani ini. Amalek adalah salah satu suku bangsa yang harus dilenyapkan dari muka bumi ini menurut Alkitab. Sekalipun Yosua mengalahkan mereka di padang gurun, tetapi bangsa ini tetap ada di tanah kanaan. Raja Saul diperintahkan untuk melenyapkan mereka, namun Saul tidak menaati firman Tuhan. Kami tidak turun dari kendaraan. Sehingga pandangan atas gunung itu hanya dapat dilakukan di atas bus. Perjalanan pun dilanjutkan.

Sementara kendaraan berjalan, hati saya mulai merenungkan perjalanan bangsa Israel. Tiap pagi mereka mengambil manna yang turun dari surga. Tetapi dari mana mereka dapat air? Masalah utama di padang gurun itu adalah air. Musa diperintahkan Tuhan untuk memukul gunung batu, sehingga air memancar dari batu itu untuk memenuhi kebutuhan dua setengah juta mulut. Tetapi perjalanan berlanjut. Dari mana mereka mendapatkan air?

Saya langsung mengingat perkataan Paulus dalam I Korintus 10: 4 “Dan mereka semua minum minuman rohani yang sama, sebab mereka minum dari batu karang rohani yang mengikuti mereka, dan batu karang itu ialah Kristus”. Garis bawah dari saya. Tradisi Yahudi yang dikutip Paulus mengatakan bahwa orang Israel diikuti batu karang itu. Martin Luther mengikuti Paulus dengan mengatakan bahwa air baptisan kita mengikut dari belakang, tatkala kita berjalan dengan Tuhan di dunia ini. Saya bertanya dalam hati, betapa melimpahnya air dari batu karang itu, karena harus memenuhi kebutuhan dari dua juta lima ratus ribu jiwa. Pertanyaan berlanjut, bagaimana cara batu karang itu mengikuti perjalanan Israel?

Saya senantiasa menyediakan persediaan air di sisi saya, karena sekalipun kendaraan ber AC, tetapi rasa haus tetap terasa. Bagaimana cara air mengalir untuk memenuhi kebutuhan orang yang begit banyak? Alkitab tidak menceriterakannya. Tatkala merenungkan hal itu, nas ini muncul di dalam hati saya: Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi TUHAN, Allah kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita dan bagi anak-anak kita sampai selama-lamanya, supaya kita melakukan segala perkataan hukum Taurat ini" (Ul. 29:29). Saya tidak perlu tahu akan hal itu, sebab hal itu adalah bagiannya Allah. Demikian juga halnya dalam perjalanan hidup ini. Saya tidak perlu tahu bagaimana caranya Allah akan memenuhi kebutuhan saya. Hal yang paling penting ialah: kebutuhan saya tercukupi. Sebuah pelajaran menarik dari perjalanan rohani ke tanah suci. Saya semakin diteguhkan dalam berjalan bersama Tuhan di dunia ini. Hari masih siang, kami tiba di kaki gunung Sinai dan menginap di hotel bernama: Morgenland Hotel.

Gunung Sinai

Pada mulanya saya berencana akan mendaki gunung Sinai hingga puncaknya. Saya mengajukan pertanyaan kepada pimpinan rombongan: apa yang akan kita lihat di gunung tersebut? Dia menjawab: matahari terbenam. Hati saya memberi komentar: jauh amat datang ke gunung Sinai hanya untuk melihat matahari terbenam dari puncak gunung! Bukankah hal itu dapat dilihat dari gunung Bromo? Tatkala merenungkan pertanyaan itu, hati saya terbawa kepada kitab Keluaran pasal 19. Saya lalu membaca ayat itu dalam kendaraan.
 
“Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Pergilah kepada bangsa itu; suruhlah mereka menguduskan diri pada hari ini dan besok, dan mereka harus mencuci pakaiannya. Menjelang hari ketiga mereka harus bersiap, sebab pada hari ketiga TUHAN akan turun di depan mata seluruh bangsa itu di gunung Sinai. Sebab itu haruslah engkau memasang batas bagi bangsa itu berkeliling sambil berkata: Jagalah baik-baik, jangan kamu mendaki gunung itu atau kena kepada kakinya, sebab siapa pun yang kena kepada gunung itu, pastilah ia dihukum mati.

Tangan seorang pun tidak boleh merabanya, sebab pastilah ia dilempari dengan batu atau dipanahi sampai mati; baik binatang baik manusia, ia tidak akan dibiarkan hidup. Hanya apabila sangkakala berbunyi panjang, barulah mereka boleh mendaki gunung itu”.

Inilah perjalanan pertama bagi saya ke gunung Sinai. Aku datang bukan sebagai turis wisata, melainkan retreat. Karena itu, aku memutuskan untuk tidak naik ke puncak gunung tersebut. Sebab Firman yang diterima orang Israel yang baru datang ke gunung ini ialah: “sebab siapa pun yang kena kepada gunung itu, pastilah ia dihukum mati”. Saya tidak mengatakan bahwa orang yang naik ke gunung itu akan mati. Tidak! Ini hanyalah renungan pribadi.
Saya belum sampai pada level Musa, untuk berhadapan dengan Allah, menerima hukum yang berlaku untuk umat Allah. Aku berkata kepada pimpinan rombongan, jika Tuhan berkenan memberikan saya kesempatan yang kedua datang ke gunung ini, maka akau akan mendaki hingga puncak gunung. Sekarang belum tiba saatnya.

Teman-teman mendaki ke puncak gunung dengan memakai kendaraan unta. Pengalaman yang sangat menarik tentunya. Gunungnya terdiri dari batu-batu, serta di sana tidak tumbuh tumbuh-tumbuhan. Jalan setapak dijalani orang. Ada juga orang yang naik ke gunung itu dengan jalan kaki. Adapun tinggi gunung itu kata orang setinggi dua ribu meter lebih di atas permukaan laut.




Saya membayangkan orang Israel berkemah di sekitar gunung itu. Mereka harus menantikan Musa yang naik ke gunung itu dan menghabiskan waktu selama empat puluh hari lamanya. Menurut orang Israel, Musa tidak mungkin lagi kembali dari gunung itu. Tidak ada makanan, tidak ada air di sana. Maka mereka mulai kehilangan pegangan. Bagi mereka, Musa adalah representasi dari kehadiran Allah.

Karena Allah yang membawa mereka keluar dari Mesir telah meninggalkan mereka, karena Musa tidak lagi hadir di perkemahan, maka mereka membutuhkan kehadiran Allah itu dalam perkemahan. Kehadiran Allah menjadi jaminan tersedianya manna dan air di sepanjang perjalanan itu. Saya sekarang semakin mengerti, mengapa mereka membuat patung lembu emas.

Harun tidak dapat memuaskan kebutuhan orang Israel akan kehadiran Allah di perkemahan itu. Lalu mereka meminta agar Harun membuat mereka sebuah patung emas sebagai simbol dari kehadiran Allah itu sendiri. Tragis, seorang hamba Tuhan tidak dapat menyediakan kebutuhan rohani dari orang yang dipercayakan kepadanya. Pada mulanya orang Israel mengatakan bahwa patung lembu emas itu adalah simbol dari kehadiran Allah. Tetapi produk
dari pembuatan patung itu ialah: pesta pora.

Memang dimaklumkan Harun kepada bangsa itu, bahwa hari itu adalah hari raya bagi Tuhan. Tetapi hari raya yang mereka rayakan itu bukanlah hari raya yang diperintahkan Tuhan kepada mereka. Oleh perayaan itu, Allah berniat meleyapkan mereka dari muka bumi ini. Itu adalah kegagalan Harun sebagai pemimpin. Dalam hati saya terlintas pikiran seperti berikut: “Apakah orang yang naik ke gunung Sinai ini menikmati sukacita duniawi atau sukacita surgawi tatkala mereka menjalani jalan yang sempit itu, juga melihat jurang yang dalam, sebagaimana terlihat di gambar yang di atas.

Harun gagal,karena itu rakyat pun sesat. Bukankah hal ini sebuah pelajaran yang berharga bagi saya? Jika saya gagal menghadirkan Allah dalam pelayanan, maka orang pun akan sesat. Kembali saya teringat dengan apa yang disuarakan Paulus dalam Surat Korintus, ia membawa keharuman pengenalan akan Allah. Harun gagal, maka terjadilah malapetaka. Apakah aku gagal dalam menghadirkan Allah dalam pelayanan ini?

Ada banyak orang yang berceritera tentang rasa takut dan rasa sakit yang dialami orang yang naik onta ke atas gungung itu,khususnya kaum pria. Seorang ibu-ibu dari rombongan kami memberi tip kepada  teman-teman pria untuk menghindari rasa sakit akibat naik onta tersebut. Tatkala saya merenungkan kembali nas di atas di kamar hotel, alangkah baiknya jika
rombongan mengadakan kebaktian di hotel itu untuk merenungkan kembali pengalaman orang Israel di gunung Sinai ini. Tetapi hal itu tidak ada. Maka saya sendirlah yang beribadah dikamar. Aku tidak maumembicarakan hal itu dengan pembimbing rohani, atau pimpinan rombongan, karena aku tidak mau menggangu program mereka.

Di tempat ini kami berjumpa dengan rombongan dari satu Gereja yang berasal dari Indonesia. Tujuan mereka pun sama seperti kami. Rombongan ini dipimpin oleh pimpinan tertinggi dari Gereja tersebut. Aku punya catatan tersendiri mengenai orang-orang ini. Aku akan ceriterakan itu dalam bab khusus mengenai orang dalam tulisan ini. Hari sudah jauh malam. Tiba saatnya untuk membaringkan tubuh yang lelah ini di pembaringan yang nyaman. Untuk pertama kalinya aku tidur dengan alat pemanas dalam ruangan.

Biara St Cathrine



Saya tertarik dengan sejarah. Bob berceritera banyak tentang St Cathrine. yang berasal dari kota Alexandria. Ia adalah anak seorang bangsawan yang ternama di kota itu. Namanya sebelum menjadi Kristen ialah: Dorothea. Kalau saya tidak salah, arti nama itu ialah: karunia dewa. Orang tuanya membiarkan dia sekolah di rumah seorang Kristen di Alexandria tatkala ia berusia delapan tahun. Ia seorang gadis yang terpelajar. Akhirnya ia dibabtis dan diberi nama baru Catherine. Orang tuanya sangat marah karena ia murtad dari iman kafirnya. Orang tua itu berusaha agar anak gadisnya itu mau kembali ke iman yang lama.

Pertobatannya itu menarik perhatian kaisar Romawi pada waktu itu, yakni Kaisar Maxentius. Hal itu terjadi, karena orang tua Dorothea dekat dengan kaisar. Kaisar mengurus lima puluh orang duta besar untuk membujuk Dorothea kembali ke iman yang lama. Tatkala duta besar itu berjumpa dengan Dorothea, mereka diinjili. Lalu kelima puluh dutabesar itu bertobat dan terima Tuhan Yesus. Hal ini membuat Kaisar Maxentius murka. Karena kaisar merasa gagal membujuk Dorothea, Maxentius memerintahkan agar Dorothea dihukum mati dengan jalan kepalanya dipancung. Legenda mengatakan bahwa malaikat membawa mayatnya ke gunung Sinai.

Pada satu malam seorang biarawan bermimpi didatangi malaikat dan mengatakan bahwa mayat Catherine ada di gunung Sinai. Lalu ia mengajak seorang temannya menelusuri petunjuk dari malaikat tersebut. Mereka menemukan mayat Catherine dan membawa mayat itu turun gunung dan dimakamkan di kaki gunung Sinai. Kaisar Justinian mendirikan biara di kaki gunung itu dan menamainya dengan biara St Catherine. Menurut Bob, di dalam biara itu ada tumbuhan yang dipelihara agar tetap tumbuh. Tumbuhan itu adalah sejenis tumbuhan semak belukar yang terbakar tetapi tidak hangus yang dilihat Musa di gunung ini. Kami tidak dapat masuk ke dalam biara, karena biara itu tutup tiap hari Jumat. Mereka tutup bukan karena alasan muslim, tetapi memang biara menutup biara kepada pengunjung setiap hari Jumat.

Hal ini mengakibatkan kami tidak dapat masuk dan melihat tumbuhan tersebut. Lagi pula menurut Bob, di biara itu ada juga sumur yang masih mengalirkan air. Sumur itu dipercaya sebagai sumur dimana Musa untuk pertama kalinya bertemu dengan Zipora. Karena itu, orang menamakannya dengan nama Zipora. Karena biara tutup, maka hati ini tidak dapat dipuaskan
untuk melihat sumur dan semak duri itu. Namun di  internet,  saya melihat gambar tersebut. Di lapangan terbang Abu Dhabi ada internet cafe, free untuk orang banyak.

Aku menikmatinya, karena waktu menunggu pesawat terbang yang akan membawa kami pulang ke Jakarta menghabiskan waktu empat jam. Untuk membunuh waktu, maka saya menyempatkandiri searching di internet itu.mk aku pun mendapatkan gambar yang di sebelah kiri ini. Sayang, tidak ada gambar yang memuat sumur Zipora.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Rumah Allah

  Rumah Allah Ibrani 3:6 Tetapi Kristus setia sebagai Anak yang mengepalai rumah-Nya; dan rumah-Nya ialah kita, jika kita sampai kepada akhi...