13/04/11

INMEMORIAM IV



Refleksi

Tuhan memberikan kepada saya kesempatan untuk melayani orang dengan berbagai macam cara. Di awal pelayanan, seperti yang sudah diceriterakan di atas, saya melayani ibu yang menjadi ibu kost. Bahkan sempat memandikan dia di masa akhir hidupnya. Pada masa belakangan ini, kesempatan yang sama juga diberikan Tuhan, dengan jalan melayani Tiur, bahkan memandikan dia. Pelayanan yang paling mendasar bagi saya diberikan Tuhan ialah: melayani Tiur.

Tuhan memberikan kepada saya satu kesempatan berkenalan dengan seorang wanita yang setia melayani suaminya yang berada di dalam keadaan lumpuh. Enam bulan setelah menikah, suaminya mengalami kecelakaan yang mengakibatkan dia lumpuh, mulai dari panggul hingga ke ujung kaki. Untung sang isteri telah hamil. Melihat keadaan itu, suami ingin bunuh diri. Tetapi sempat di tolong sang isteri. Suami dari sejak kecelakaan itu harus duduk di kursi roda. Sekarang mereka telah menjalani hidup sebagai suami isteri selama 15 tahun. Anak mereka satu-satunya telah duduk di bangku SMP. Orang menyarankan sang isteri ini agar meninggalkan suaminya dan menikah dengan orang lain. Tetapi sang isteri berkata: Tuhan telah mempersatukan saya dengan dia. Tidak ada yang dapat menceraikan kami, kecuali kematian. Ia merawat suaminya, memandikannya, sekaligus mencari nafkah bagi mereka bertiga.

Ceritera di atas sangat berkesan di hati saya. Ceritera itu sering dijadikan ilustrasi di dalam khotbah-khotbah. Satu pelajaran yang sangat berkesan di dalam hati saya ialah: orang ini menerapkan firman Tuhan yang dia ketahui. Saya lebih banyak tahu firman Tuhan dari pada dia. Maka saya belajar dari dia di dalam menerapkan firman Tuhan. Saya akan melayani Tiur dengan segenap hati, hingga kematian menceraikan kami kelak. Semoga saya dapat memuliakan Allah, juga disaat Tiur meninggalkan dunia yang fana ini, dan begabung dengan orang-orang kudus pada zaman dahulu kala.

Berakhir

Untuk segala sesuatu ada waktunya, demikian ucap Pengkhotbah. Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk mati. Tiur dilahirkan tanggal 25 Oktober 1946, di Desa Sarulla, Tapanuli Utara. Tuhan menjemput dia untuk dibawa pulang ke surga, tanggal 10 Desember 2007, di ruang Intensif Care Unit Rumah Sakit PGI Cikini, diiringi doa dan nyanyian kami semua yang mengasihi dia.

Titik awal keberangkatannya dimulai pada hari Jumat tanggal 7 Desember 2007. Ia kami bawa ke rumah sakit dengan tujuan untuk dirawat. Alasan ia harus masuk rawat inap ialah: Semino yang ada di tangannya mati. Dokter jaga di ruang Renal Unit RS PGI Cikini mengusulkan agar dipasang semino baru. Untuk itulah ia harus dirawat. Di minggu-minggu terakhir ini, tubuhnya sudah semakin lemah. Tatkala kami membawanya ke mobil, ia harus dibopong,  karena tubuhnya lemah. Di mobil, ia mulai sesak nafas dan batuk. Karena itu, kami membawa ia ke Instalasi Gawat Darurat, untuk diperiksa dokter.

Di ruang perawatan itu, dokter jaga memeriksa dia. Berdasarkan pengamatan dokter tersebut, ia harus dirawat di High Care Unit (HCU) yang ada dalam ruangan yang sama. Alasan dokter jaga pada waktu itu ialah: kondisinya harus dimonitor, karena pernafasan yang tidak baik. Namun sebelum ia dipindahkan ke ruang HCU itu, dokter kembali memanggil saya dan mengatakan bahwa ibu Tiur bisa menggalami gagal pernafasan. Oleh karena itu ia harus dimasukkan ke ruang rawat intensif, sebab jika ia tiba ke dalam tahap gagal pernafasan, maka alat yang dapat menolong ialah respirator. Alat itu hanya ada di ruang instalasi rawat intensif.

Ia masuk ke ruangan Instalasi Rawat Intensif (IRI) pada jam 20.00. Tepat pada jam 04.30 pagi, pada hari Sabtu, saya dibangunkan suster melalui pengeras suara, ia berkata: keluarga ibu Tiur diminta masuk ke dalam ruangan ICU. Lalu saya masuk dan melihat dia dikerumuni perawat dan dokter, mereka sedang mengambil tindakan darurat, karena mengalami gagal pernafasan. Saya melihat mesin yang menunjukkan detak jantungnya flat. Ia mengalami koma sejak saat itu hingga Tuhan memanggil dia.

Tatkala saya memandang dia dalam keadaan seperti itu, saya masih sempat bertanya kepada dokter jaga apakah ia sudah pergi atau tidak. Dokter itu berkata: kita berusaha! Lalu saya menyanyi dalam hati dengan nyanyian Kidung Jemaat nomor 388, “Slamat di tangan Yesus, aman pelukan-Nya, dalam teduh kasih-Nya aku bahagia“. Lagu itu saya nyanyikan berulang-ulang sambil air mata bercucuran dari mata ini. Pada waktu itu, saya merasakan ada di dalam lautan yang bergelombang, turun naik diombang-ambingkan gelombang itu. Pada waktu gelombang itu naik, saya memuji Tuhan. Tatkala gelombang itu turun, saya menyanyi dengan air mata. Dukacita amat dalam terasa.

Tidak berapa lama, ia kembali dapat bernafas, tetapi tetap tidak sadar. Karena nafasnya sudah normal, kami kembali ke luar ruangan. Pada jam delapan pagi, saya dipanggil suster untuk menanda tangani surat persetujuan untuk konsul ke doter jantung, dokter paru-paru dan dokter syaraf. Pada jam 11.30 saya dipanggil dokter Tunggul Situmorang dan disertai dokter ahli syaraf untuk membicarakan keadaan Tiur. Mereka mengatakan bahwa keadaan Tiur mengkhawatirkan. Fungsi otak menurun, paru-paru mengalami peradangan, dan jantung mengalami penyumbatan. Tiur mengalami masa kritis sekarang ini. Kita melihat dalam tiga hari ini. Jika ia kuat, ia akan menjalaninya dan bertahan. Saya mengatakan kepada mereka: “Ia milik Tuhan, biarlah Tuhan melakukan apa yang baik menurut Dia bagi Tiur“. Lalu kami saling bersalaman satu sama lain.

Pada hari Sabtu malam itu, teman-teman banyak memberi penghiburan kepada saya di rumah sakit. Tetapi paling banyak pada hari minggu malam. Pdt Mangapul Sagala datang ke rumah sakit setelah beliau melayani pemberitaan firman Tuhan di kebaktian minggu, jam 16.00 di HKBP Menteng. Beliau sempat berdoa bagi Tiur di ruang IRI. Teman-teman yang datang memberikan dukungan sangat banyak. Ada dari remaja, pemuda, dan pasangan suami isteri. Teman-teman dari Persekutuan Para Navigator pun banyak. Tuhan memberi penghiburan melalui kehadiran mereka.

Tiorisna, salah satu dari sekian banyak orang yang datang pada waktu itu. Kami berdoa bersama di ruang IRI itu bagi Tiur. Rupa-rupanya setelah ia pulang ke rumah, ia menuliskan surat elektronik di dalam mailing list Doakan HKBP tentang kunjungannya itu. Ia menulis dalam surat elektronik itu sebagai berikut:

Rekan-rekan terkasih dalam Kristus, Mohon didoakan Istri Abang St. Hotman Siahaan, Kak Tiur, sedang koma dirawat di ruang ICU RS.CIKINI, sejak jumat lalu.

Kata Bang Hotman, perasaannya sekarang seperti gelombang. Terkadang beliau sedih, tetapi juga bersyukur, kemudian kembali perasaanya begitu sedih namun dia tetap kembali bersyukur... naik turun bak gelombang....katanya. Namun sampai saat ini, dia berkata, belum pernah bertanya "Mengapa" kepada Tuhan.

Bang Hotman bilang, dia membaca satu tulisan tentang ungkapan "Manuk ni pealangge hotek-hotek laho marpira, sirang marale-ale, lobian matean ina". Bahwa ale-ale yg dimaksud adalah suami istri. Karena katanya suami istri kalau memanggil satu sama lain itu dengan kata "Ale..."

Dan memang menurut Bang Hotman, ketika beliau menghadapi kematian ibunya, beliau tidak menangis seperti saat ini ketika Kak Tiur Koma. Saya tak kuasa turut menangis ketika bang Hotman menangis... tetapi saya juga begitu kagum dengan pasangan ini. Begitu kuat mereka bergantung kepada Tuhan, begitu setia sampai saat-saat seperti itu.

Ketika melihat Kak Tiur terbaring dengan bantuan pernapasan (karena paru-parunya tdk bekerja), saya melihat seorang anak Tuhan yang begitu kuat. Kak Tiur ini masih memimpin PA di rumahnya dalam kondisi Ginjal harus cuci darah setiap dua hari, harus duduk di kursi roda, minum dibatasi, mata sudah dioperasi, tubuh begitu lemah...namun begitu, kalau ditelpon, suaranya tetap penuh energi, semangat dan tak ada tanda penyesalan, tetapi dia sekarang benar-benar tak bisa bergerak, tak bisa bicara, tak bisa memimpin PA lagi. Namun dia masih bisa menangis ketika mendengar suara Bang Hotman yang terus berkata "I love you, I love you ". Dia masih bisa menitikkan airmata ketika aku dan keponakannya menyanyikan lagu pujian di telinganya. Saya berbisik ditelinga kak Tiur, supaya beliau tetap semangat. Beliau adalah teladan bagi saya tentang bagaimana seharusnya saya hidup.

Rekan-rekan terkasih, mohon doakan supaya Bang Hotman dan Kak Tiur boleh terus dikuatkan, boleh terus menjadi berkat melalui kesaksian hidup mereka yg dapat dilihat secara nyata. Kalau mau mengenal lebih lanjut atau ingin menghubunginya, silahkan datang bertemu Bang Hotman di RS. Cikini, atau di HP 08128950641 atau Bang Hotman punya buku tentang hidupnya, yang baru saja direlease, berjudul" St. Hotman Siahaan, Melangkah bersama Tuhan".(Tiorisna Sihotang)


Pdt Mangapul Sagala masih berdoa untuk saya secara pribadi di ruang tunggu IRI RS PGI Cikini itu sebelum beliau pulang. Orang lain yang datang berkunjung pada malam hari Minggu ialah saudara Antony Sihombing, isteri dan anak mereka Keren. Kami berbicang-bincang cukup  lama pada malam hari itu. Antony meminta buku yang saya tulis ini kepada saya pada waktu itu sebanyak 20 buah. Ia berjanji akan mengambilnya pada keesokan harinya. Ia datang mengambil buku  itu. Ia datang, tetapi Tiur sudah tidak bersama kita lagi.

Tepat pada pukul 20.00 malam pada hari Senin tanggal 10 Desember 2007, saya kembali dipanggil dokter untuk masuk ke dalam ruangan IRI. Kembali Tiur mengalami susah bernafas. Karena itu dokter jaga mengatakan agar keluarga dipanggil dan diadakan doa dan nyanyian untuk mengantar kepergian Tiur. Saya memanggil pendeta kami dan seluruh keluarga untuk datang. Dua orang pendeta kami  berdoa dan yang terakhir adalah pendeta resort. Tatkala ia selesai berdoa, tak lama kemudian Tiur menghembuskan nafas yang terakhirnya. Ia tidak meninggalkan pesan apa pun kepada kami. Sadi Nainggolan. saudara kandung Tiur yang pria menaikkan doa terakhir. Lalu tak berapa lama kemudian, ia dibawa ke kamar mayat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Rumah Allah

  Rumah Allah Ibrani 3:6 Tetapi Kristus setia sebagai Anak yang mengepalai rumah-Nya; dan rumah-Nya ialah kita, jika kita sampai kepada akhi...