17/04/11

INMEMORIAM VIII




Penghiburan

Setelah beberapa hari, saya mendapat penghiburan dari orang-orang yang mengasihi dan perduli dengan pribadi yang sedang berduka ini. Satu pelajaran yang Tuhan ajarkan kepada saya dalam acara penghiburan ini adalah sebagai berikut: orang pertama yang datang memberikan penghiburan bagi saya bukan keluarga dekat, melainkan orang lain, ditinjau dari kekerabatan orang Batak. Keluarga ini datang pada hari Minggu tanggal 16 Desember 2007. Keluarga ini memberikan ikan mas kepada saya. Dalam konteks adat Batak, tindakan itu diberi nama ’mangupa’.  Tidak ada seorang pun yang mendisain seperti itu. Saya melihatnya dari sudut pandang iman.

Keluarga bagi saya yang paling dekat ialah keluarga iman, bukan keluarga yang bersifat daging. Saya memuji Tuhan, kami bersaudara, abang dan adik berada dalam satu keluarga iman, di samping keluarga secara darah. Hal itu sangat jelas dari ucapan abang kandung saya dalam acara adat di rumah duka! Ada satu perkataannya yang aku catat dalam hati sebagai pernyataan iman, bukan pernyataan kultural. Keluarga yang menghibur saya itu menjadi keluarga iman bagi saya secara pribadi.

Penghiburan dan derita datang bergantian. Disertai seorang keponakan, pada seminggu setelah Tiur dikebumikan, saya menghadiri sebuah pesta pernikahan. Tatkala kehadiran saya dilihat orang yang saya hormati, beliau mendatangi saya dan berujar: “Ya, syukur kepada Allah, engkau telah membiarkan diri keluar dari lingkungan dukacita! Memang begitulah seorang pekerja dalam Tuhan“. Hati ini pun senang mendengar komentar tersebut. Namun, terdengar juga komentar orang yang sangat menyakitkan hati.

Mereka mengatakan perkataan ini: “ Sang penatua kita sudah datang untuk lihat-lihat“. Ia mengucapkan perkataan itu dalam bahasa Batak. Aku mengerti maksud dari perkataan tersebut. Orang itu mengatakan: “sang duda telah keluar dari sarangnya untuk melihat wanita yang akan dijadikan pengganti sang isteri yang telah meninggalkannya. Sungguh sangat kejam orang itu. Ia tidak mengenal saya, ia tidak tahu, ucapannya itu telah membuat hati yang berduka ini semakin berduka. Tuhan kiranya mengampuni dia untuk perbuatannya itu.

Penghiburan lain yang sangat membesarkan hati, datang dari RS PGI Cikini. Melalui Dr. Tungggul Situmorang, bagian Renal Unit, dimana selama dua tahun Tiur menjalani hemodialisis di sana, meminta saya untuk menyampaikan firman Tuhan dalam Kebaktian Natal yang diadakan unit ini bersama pasien, keluarga pasien, dokter dan perawat dari unit tersebut. Tatkala kepada saya ditanyakan kesediaannya, langsung saya mengatakan: saya bersedia. Saya menyaksikan dalam kebaktian itu, apa yang Tuhan telah perbuat di dalam kehidupan kami, khususnya sikap hati kami di dalam menghadapi masalah gagal ginjal dan konsekwensinya. Hati ini sangat terhibur untuk kesempatan itu.

Sungguh, hidup ini terdiri dari suka dan duka yang datang secara bergantian. Gereja HKBP memiliki tradisi yang baik pada hari-hari menjelang perayaan Natal. Gereja memberikan kado natal bagi warganya yang sudah ditinggalkan pasangannya. Pada bulan Desember, saya memberikan bingkisan natal dari Gereja itu kepada anggota jemaat tertentu. Sebagai seorang yang telah melakukan tugas itu bertahun-tahun lamanya, aku pun melaksanakan tugas itu dengan setia. Tetapi, karena saya pun telah kehilangan Tiur, maka saya pun mendapatkan bingkisan tersebut. Biasanya, bingkisan itu diserahkan di rumah keluarga tersebut. Sejak dulu, aku membuat acara kecil dalam menyerahkan bingkisan itu kepada yang berhak menerimanya. Giliran saya pun akan tiba. Inilah untuk pertama kalinya saya menerimanya dari Gereja. Saya bertanya-tanya dalam hati, di mana bagian yang diperuntukkan bagi hati yang berduka ini. Sebab dalam bungkusan yang diperuntukkan bagi kami untuk diserahkan, nama saya tidak ada.

Pendeta kami mengatakan: amang akan mendapatkannya juga, tetapi akan diberikan kepada amang secara surprise. Memang bingkisan itu diberikan secara surprise. Teman penatua yang ditugaskan untuk menyerahkan bingkisan itu memberikannya di Gereja. Saya sedang duduk bersama sesama sintua sedang ngobrol. Lalu teman yang bertugas untuk menyerahkan bingkisan itu mendatangi kami. Ia menyalam saya, lalu menyerahkan bingkisan itu. Lalu ia meninggalkan kami. Pengalaman pahit. Sesuatu yang bermakna,  menjadi tidak ada maknanya. Nalarku tahu, apa itu bingkisan. Tetapi hatiku tidak tahu apa itu bingkisan.

Karena sering kali di dalam hidup ini aku menerima bingkisan. Tetapi orang memberitahukan apa itu yang diberikan. Tadinya saya kira orang itu akan datang ke rumah dan memberikan bingkisan itu di rumah. Ia akan mendoakan saya di rumah. Hal itu tidak saya dapatkan. Aku sangat sedih. Untuk sesuatu yang menandakan bahwa saya sudah sendiri, diberikan tanpa kata-kata, tanpa doa. Pada hal itulah saat pertama kalinya aku menerimanya. Hidup memang penuh dengan romantika dan dinamika. Saya tidak sakit hati. Saya melihat itu dari sudut pandang iman. Itulah bagian dari hidup yang harus dijalani. Kidung Jemaat Nomor 332:1 menyuarakan: “...suka dan derita bergantian memperkuat imanku“.

Tuhan menghibur saya melalui para pemuda Gereja HKBP Menteng. Mereka mengadakan penghiburan bagi saya. Jumlah mereka yang hadir cukup banyak. Mereka menyanyikan kidung pujian kepada Allah. Nyanyian mereka sangat membesarkan hati saya. Lagi pula, para pemuda yang datang itu tidak banyak lagi yang saya kenal. Tetapi mereka peduli. Itu menghibur hati yang sedang di dera dukacita yang dalam ini.

Penghiburan lain yang saya dapatkan di dalam kebaktian yang diadakan para pemuda itu ialah: khotbah yang disampaikan oleh seorang teman, sahabat dan orang yang menyebut dirinya juga termasuk anak dari St. Hotman Siahaan. Dalam khotbahnya itu ia menekankan, ketekunan akan menghasilkan tahan uji dan tahan uji akan menghasilkan pengharapan. Sementara pengharapan menghasilkan kemuliaan. Kemuliaan menghasilkan mahkota. Ia menekankan, Tiur telah dipermuliakan oleh Tuhan. Ia akan menerima mahkota.

Tatkala ia mengatakan hal itu, saya sadar, Tiur sekarang berada di dalam kemuliaan. Ia berada di dalam keadaan yang jauh lebih baik dari keberadaan saya. Perkataan itu sangat menghibur hati saya. Hal itu juga mengingatkan saya tentang apa yang dituliskan Pdt. Dr. Stephen Tong: “Ada rumusan tentang orang yang agung, salah atunya diukur dari berapa banyak orang yang mengantar jenazahnya pada waktu ia mati“[1]. Tiur memang dimuliakan Allah, melalui kehadiran orang yang begitu banyak, pada waktu ia disemayamkan di rumah duka. Satu hal yang pasti ialah: saya tidak akan pernah tahu, apakah St. Hotman Siahaan akan mendapatkan penghormatan seperti itu atau tidak. Sebab, jika Tuhan memanggil hamba-Nya ini, tentulah hal itu tidak lagi saya ketahui.

Penghiburan lain yang hati yang sedang berduka ini ialah: tawaran untuk turut ambil bagian mengikuti perjalanan wisata ke tanah suci. Pada mulanya, tawaran ini mendukakan hati saya. Hal itu disebabkan kepergian ke sana, tidak lagi disertai Tiur. Ia sangat ingin pergi ke sana. Kami sepakat dulunya akan pergi setelah saya pensiun dari kantor di mana saya bekerja. Akhir dari masa bekerja adalah tahun 2006. jadi kami merencakan akan berangkat pada tahun 2007. Rencana itu diadakan pada tahun 2004. Pada tahun 2006, pada bulan April, seorang teman menjanjikan kepada Tiur akan mengajak kami tahun 2007, pada bulan April akan berangkat dengan rombongan mereka ke Yerusalem. Tatkala tahun 2007 tiba, pada bulan April, Tiur justru masuk rumah sakit untuk dirawat inap. Bahkan ia harus dirawat di ruang IRI selama empat hari. Oleh karena keadaan tubuhnya yang semakin tidak kuat, keluarga itu tidak membicarakannya lagi.

Penghiburan yang kualami dalam beberapa hari setelah kepergian Tiur, memberikan kepadaku kesempatan untuk memberikan penghiburan bagi orang lain. Aku melihat duplikasi dari pengalaman Rasul Paulus di dalam pengalamanku. Paulus mengatakan dalam surat kepada Jemaat Korintus: “Jika kami menderita, hal itu menjadi penghiburan dan keselamatan kamu; jika kami dihibur, maka hal itu adalah untuk penghiburan kamu, sehingga kamu beroleh kekuatan untuk dengan sabar menderita kesengsaraan yang sama seperti yang kami derita juga“ (II Kor. 1:6).

Seorang menelepon saya beberapa hari setelah Tiur pergi. Ia pertama-tama menanyakan keberadaan saya. Jawaban yang diberikan kepada dia ialah: „Masih berduka“. Ia sedih. Lalu ia berceritera sambil menangis. Ia melaporkan kepada saya bahwa pasangannya telah berselingkuh. Pasangan ini adalah murid saya. Lalu mendengar itu, saya sangat bersedih. Aku menangis tersedu-sedu mengetahui peristiwa yang dialami anak bimbing saya ini. Karena kesedihan yang bergitu dalam, aku berkata kepada dia: „Aku tidak dapat bicara apa-apa, nanti aku menghubungi engkau“. Hal itu kukatakan demikian, sebab, aku tidak ingin mengungkapkan kata-kata kosong tak bermakna. Pada hal ia sangat berduka karena peristiwa yang dialaminya.

 Setelah beberapa hari, aku kembali menghubungi mereka. Lalu, aku mendapatkan keajaiban. Orang itu berkata: „Tatkala abang menangis waktu aku berceritera tentang dukacitaku, maka aku merasakan beban yang ada di dalam hatiku terangkat. Aku merasa seolah-olah aku memindahkan beban yang ada di dalam hati itu ke pundak abang. Lalu aku mengalami kelegaan.

Peristiwa itu memberikan dimensi baru bagi tentang pelayanan. Aku dapat melayani orang dengan jalan duduk bersama dengan dia dalam dukanya. Ia membutuhkan orang yang turut merasakan apa yang dirasakannya. Kata-kata tidak perlu. Hati yang dibutuhkan. Hati yang turut merasakan apa yang diderita orang, lalu mengambil sebagian dari derita itu. Tatkala derita itu dipindahkan ke dalam hati kita. Orang itu mengalami penghiburan. Itulah yang dibutuhkan orang di segala zaman menurut hemat saya. Saya berdoa, agar Allah membawa  saya kepada keluarga-keluarga muda khususnya.  Keluarga ini akan mengalami jamahan Tuhan melalui persekutuan kami. Bukankah sekarang ini banyak masalah dialami keluarga-keluarga muda seperti teman saya di atas?

Adikku yang berduka karena pasangan hidupnya selingkuh, dapat mengampuni pasangannya, karena ia telah menikmati penghiburan dari Roh Kudus. Penghiburan dari Allah membuat orang dapat mengampuni dan memperbaharui orang lain. Ada damai sejahtera yang melampaui segala akal dan pikiran yang memeliharanya. Karena itu, ia dapat mengampuni, walaupun ia masih sering berduka.

Sekarang, undangan untuk menjalani wisata rohani ke Yerusalem datang! Pada mulanya saya menolak undangan itu, tatkala diinformasikan kepada keluarga. Namun mereka mendesak saya untuk turut ambil bagian dalam perjalanan tersebut. Mereka memberikan beberapa argumen, mengapa saya harus pergi. Aku pergi demi Tiur. Aku akan melihat tanah perjanjian itu untuk dia yang tidak sempat melihatnya dengan mata kepalanya sendiri. Tetapi sekarang ia telah melihat tanah perjanjian sorgawi. Sebab ia telah dikumpulkan bersama dengan Tuhan. Demikianlah dikatakan Rasul Paulus dalam suratnya kepada Jemaat Tesalonika.

Hiburan yang paling indah, bagi jiwa yang didera dukacita ini datang dari dia yang menyebut saya sebagai ompung. Mereka datang dari Manila, karena ayahnya bekerja di sana. Datang ke Jakarta dalam rangka liburan akhir tahun. Tatkala kedua anak itu, Joel dan Nila datang ke rumah, aku menangis tersedu-sedu. Di dalam hati saya ada seruan yang mengatakan: “Tiur, cucu kita datang! Saya memeluk mereka berdua dengan erat. Indahnya, mereka membiarkan diri dipeluk oleh ompungnya, sekalipun dengan uraian air mata kesedihan dan kegirangan. Mereka memberi bingkisan kepada ompungnya.

Oleh karena satu dan lain hal, kami tidak dapat menikmati waktu yang cukup pajang untuk ngobrol, maka saya berjanji untuk mendatangi keluarga ini di rumah ompung Joel dan Nila. Besoknya saya kembali menikmati persekutuan dengan keluarga ini, khususnya dengan Joel dan Nila. Kedua anak ini telah fasih berbahasa Inggris dengan logat barat pula. Saya ngobrol dengan mereka berdua dalam bahasa Inggris.

Tatkala mau berpisah, Nila dan Joel saya peluk erat-erat. Nila membisikkan sebuah perkataan yang sangat berharga bagi saya, yakni: “When I go back to Manila tomorrow, I will miss you“. Ucapan ini dibisikkan seorang anak perempuan kecil yang duduk di sekolah Kinderganten di Manila. Joel, pun mengucapkan sebuah perkataan yang juga sangat menghiburkan hati. Ia berkata: “Joel tidak akan lupa pada ompung seumur hidup“. Bukankah itu sangat indah! Terpujilah Tuhan yang telah menghibur hati yang terluka ini dengan hiburan yang sangat berarti.

Kunjungan ke rumah itu kami tutup dengan berdoa. Saya secara khusus mendoakan kedua anak itu agar menjadi orang besar di mata Tuhan dan di mata manusia. Semoga mereka bertumbuh dalam segala aspek kehidupan manusia dan di mata Tuhan. Terima kasih Joel dan Nila, terima kasih untuk Johnny dan Lasma yang mengajar anak mereka meyebut saya ompung. Mereka mengingatkan kedua anak ini akan ompungnya yang ketiga, yakni ompung Hotman. Terpujilah Tuhan.




[1] Mengetahui Kehendak Allah, hal 65. Momentum, 1999

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Rumah Allah

  Rumah Allah Ibrani 3:6 Tetapi Kristus setia sebagai Anak yang mengepalai rumah-Nya; dan rumah-Nya ialah kita, jika kita sampai kepada akhi...