26/04/11

Holy Land


Cairo

Pesawat kami mendarat di bandara kota Cairo pada pagi hari. Kami dijemput pemandu wisata di kota Cairo. Setelah selesai menjalani pemeriksaan imigrasi, kami berangkat menuju hotel. Adapun nama hotel itu ialah: Zoher. Pemandu wisata kami bernama Bob, menjelaskan kepada kami bahwa nama hotel itu diambil dari salah satu nama raja yang memerintah di Mesir.

Perjalanan ini adalah sebuah perjalanan rohani bagi saya, oleh karena itu hati saya harus banyak belajar dari apa yang dilihat oleh mata. Pepatah orang Batak mengatakan: “Mata do guru, roha sisiean”, artinya, mata adalah guru, hati adalah murid. Hati menarik pelajaran dari apa yang dilihat oleh mata. Di latarbelakangi prinsip seperti itu, maka hati saya bertanya, apa arti dari fakta yang mengatakan bahwa kami menginap di hotel yang bernama Zoher? Pembimbing rohani kami mengatakan di dalam doa-doanya, agar fasilitas kerajaan Allah akan menyertai kami di perjalanan.

Tatkala merenungkan hal itu di perjalanan menuju hotel, hati saya mengatakan bahwa sang raja di Mesir menempatkan kami di rumah tempat namanya diabadikan. Kami menginap di rumah sang raja. Hati saya yang mengatakan demikian. Pada dasarnya hotel itu dibayar! Tetapi bagi saya maknanya lain. Ini catatan tersendiri di hati ini dalam perjalanan menuju tanah suci. Oleh karena itu, di depan, kami akan menikmati fasilitas yang baik, oleh karena kasih karunia Allah. Hal ini menjadi kenyataan di sepanjang perjalanan kami. Untuk itu hati ini menaikkan syukur kepada Allah yang menjamu anak-anak-Nya dalam perjalanan melihat jejak kaki Tuhan Yesus Sang Penebus.

Dari bandara menuju hotel, kami melalui daerah yang namanya Heliopolis. Bandara itu sendiri berada di Heliopolis. Sepanjang yang dapat saya pahami, kata itu adalah kosa kata Yunani. Alkitab berbicara tentang daerah ini. Orang Yahudi menyebut daerah ini dengan sebutan ‘on’, cf Kej. 41:45, 50 dan 46:20. Orang Mesir menyebutnya dengan ‘an’. Namun sekarang namanya tetap dalam bahasa Yunani. Kata ‘on’ dalam bahasa Ibrani artinya ialah: batu, atau pilar-pilar batu. Para budak orang Ibrani membangun pondasi kota ini dari batu, sebagaimana diuraikan dalam kitab Keluaran, yakni kota Pithom dan Rameses.

Untuk mendirikan tempat itu, tentulah sangat banyak orang yang mati dalam mewujudkannya. Daerah itu adalah tepi sungai Nil. Tidak ada batu-batu yang besar dan dapat dijadikan pilar. Mereka tentulah mengambil batu itu dari daerah yang jauh dari tempat tersebut. Hal ini tentunya membawa penderitaan bagi orang Yahudi yang sedang dianiaya itu. Barangkali, alasan Hosni Mubarak membangun istana presiden di daerah itu, dilatarbelakangi Firaun dari Mesir membangun istananya di daerah Pithon dan Rameses ini, sebagai wujud dari kerinduan penaklukan Mesir atas Israel. Siapa tahu.

Bob, pemandu wisata kami tidak berbicara tentang hal ini. Ia hanya mengatakan bahwa di daerah itu terdapat istana presiden yang dibangun oleh presiden yang sedang memerintah sekarang ini, yakni Hosni Mubarak. Aroma kematian juga terasa di daerah itu. Karena di sebelah kiri kami Bob menceriterakan di sana ada kota mati. Maksudnya adalah pekuburan orang muslim. Adapun kuburan yang terlihat, bentuknya besar dan bahkan ada rumah di kuburan itu. Bob memberikan penjelasan tentang makna dari rumah-rumah yang ada di kuburan tersebut.

Kebiasaan orang Mesir tatkala mereka ziarah ke kubur, mereka yang datang itu biasanya adalah satu keluarga besar. Di sana mereka menghabiskan waktu yang lama. Biasanya mereka di sana membaca Al Qur’an dan berdoa. Bahkan bisa seharian lamanya. Dalam rangka memenuhi kebutuhan untuk duduk dan berteduh, maka dibangunlah rumah di kuburan tersebut.

Orang muslim lebih dekat dengan dunia orang mati mereka, dibanding dengan orang Kristen. Apalagi Protestant. Saya percara, kita tidak lagi dapat berhubungan dengan orang mati. Tetapi Tuhan Yesus adalah Tuhan dari orang yang hidup dan orang mati. Di hadapan Tuhan, kita sama sama ada. Cuma, aras orang hidup dan orang mati berbeda. Menurut hemat saya, orang mati – Tiur – misalnya tetap ada di dalam hati saya, sekalipun ia sudah ada di alam baka. Tidak ada seorang pun yang dapat memisahkan saya dengan dia, selama saya hidup. Memang, saya tidak dapat lagi berkomunikasi dengan dia. Tetapi dalam doa-doa saya, aku mengatakan kepada Tuhan bahwa Tiur ada di dalam hati saya. Bahkan aku sering mengatakan kepada Tuhan agar apa yang ada di dalam pikiran saya, biarlah hal itu disampaikan Tuhan kepada Tiur.

Saya tidak pernah bicara kepada Tiur, sebab alamnya sudah beda. Tetapi Tuhan dapat menyampaikan apa yang ada di dalam hati saya kepadanya. Aku tidak perlu tahu, bagaimana cara Tuhan memberitahukannya. Itu adalah urusan Tuhan sendiri. Gereja Protestant di sepanjang zaman mengadakan satu minggu yang namanya: peringatan bagi orang yang sudah meninggal. Itu berarti, pada minggu itu, orang-orang yang sudah meninggal diingat kembali. Ada relasi yang baik antara orang mati dan orang hidup di dalam Tuhan.

Kepada Bob saya tanyakan tentang tradisi orang Kristen Koptic tentang ziarah ke kubur! Bob sendiri adalah seorang Kristen koptic. Ia berkata bahwa orang Kristen Koptic tidak mengadakan pola yang sama seperti yang diadakan orang muslim di Mesir. Mereka berziarah ke kubur sama seperti kita mengadakan ziarah ke kuburan orang yang kita cintai.

Akhirnya kami sampai di hotel. Waktu menujukkan pukul enam pagi hari. Kami tidak diperbolehkan cek ini. Tetapi diberi kesempatan untuk mandi atau cuci muka di dua kamar kosong. Setelah membersikan diri, kami menikmati sarapan pagi di hotel tersebut. Untuk pertama kalinya saya menikmati roti cane, roti khas orang Arab. Makanannya tidak enak, walaupun melimpah. Pada saat itu saya mengatakan kepada diri sendiri perkataan ini: “Hotman, sekarang yang perlu bukan lidahmu yang panjangnya hanya sejengkal, melainkan perutmu!
Jadi, sekalipun tidak enak di mulut, tetap harus dimakan, karena perjalanan masih sangat panjang. Lagi pula engkau tidak boleh sakit dan menjadi urusan banyak orang di sini. Bukankah engkau tidak membawa persediaan yang cukup untuk pengobatan?” Setelah itu, saya tidak lagi mempersoalkan rasa makanan.

Kapel St Cathrine



Acara kami di kota Cairo dimulai dengan mengunjungi kapel Santa Catherine dari Alexandria. Kami mengadakan ibadah di sana.  Pembimbing kami membacarakan firman Tuhan dari Kel 3:7-12. pagi di kapel Aku merenungkan firman Tuhan tersebut dengan latar belakang apa yang mengenai kota Pithom dan Rameses. kurenungkan tadi malam, tersebut. Allah berfirman kepada Musa, bahwa Ia telah memperhatikan penderitaan orang Israel. Kitab Kejadian menggambarkan tindakan Allah itu dengan tiga kata kerja, yakni memperhatikan, mendengar dan mengetahui. Saya membayangkan penderitaan mereka itu dalam ingatan.

Allah orang Kristen itu adalah Allah yang turut menderita dengan umat-Nya. Tatkala Ia melihat penderitaan umat-Nya itu, hati-Nya yang penuh belas kasihan mulai tergerak, lalu Ia bertindak. Tuhan Yesus memperkenalkan diri kepada Paulus di jalan menuju Damsyik itu, ialah Dia yang dianiaya Paulus. Apa yang orang perbuat kepada orang yang percaya kepada-Nya, Ia turut merasakannya. Hal yang sama diutarakan Matius dalam Injilnya, Matius 9:36 “Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka terlantar seperti domba yang tidak bergembala”.

Poin yang kedua menjadi renungan saya atas nas tersebut ialah: “Sekarang seruan orang Israel telah sampai kepada-Ku”. Hati ini bertanya, bagaimana cara orang Israel pada waktu itu berseru kepada Tuhan! Bukankah Musa sendiri tidak mengenal siapa Tuhan itu? Jika Musa yang telah dididik dengan segala ilmu di Mesir (Kis 7:22 “ Dan Musa dididik dalam segala hikmat orang Mesir, dan ia berkuasa dalam perkataan dan perbuatannya.”) tidak mengenal Allah Israel, bagaimana mungkin orang Israel yang buta huruf dan tidak terpelajar itu mengenal Allah mereka! Jika mereka tidak mengenal Allah, bagaimana caranya orang Israel itu berseru kepada Dia? Itulah kasih karunia Allah. Sekalipun kita tidak tahu bagaimana caranya memanggil Allah, Ia dapat menafsirkan isi hati kita.

Poin yang ketiga dari nas itu bagi saya ialah: “Aku turun untuk melepaskan mereka dari tangan orang Mesir dan menuntun mereka keluar dari negeri itu ke suatu negeri yang baik dan luas, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya.” Allah di dalam anugerah-Nya berperan aktif untuk membebaskan kita dari penderitaan yang kita hadapi. Tidak hanya berhenti di situ saja. Ia juga membawa kita ke negeri yang berlimpah susu dan madu. Bagi orang Israel, negeri itu ialah Tanah Kanaan. Tetapi bagi kita orang Kristen, negeri yang berlimpah susu dan madu itu ialah: surga.

Poin ke empat ialah: Allah mengutus Musa untuk membebaskan orang Israel keluar dari Mesir, serta memimpin mereka ke Kanaan. Kita memahami bahwa Tuhan Yesus memimpin orang percaya keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib.

Poin kelima ialah: “Inilah tanda bagimu, bahwa Aku yang mengutus engkau: apabila engkau telah membawa bangsa itu keluar dari Mesir, maka kamu akan beribadah kepada Allah di gunung ini.” Tandanya seseorang telah dilepaskan dari perbudakan dosa ialah: ia akan beribadah kepada Allah, sebagaimana ditetapkan oleh Allah sendiri untuk dilaksanakan. Aku bersyukur kepada-Mu ya Allahku karena Engkau telah membebaskan aku dari dosa dan maut, serta Engkau telah menanamkan ibadah itu di dalam hatiku. Sebuah ibadah yang tidak didasarkan atas hal-hal lahiriah, tetapi beribadah di dalam roh. Ibadah di dalam roh tidak seperti yang sering disuarakan orang! Ibadah sebagaimana Engkau ajarkan kepadaku untuk dilakukan.

Piramida




Setelah ibadah selesai, maka kami melanjutkan perjalanan menuju salah satu keajaiban dunia, yakni Piramida. Bob, pemandu wisata kami menceriterakan kepada kami bagaimana piramida itu didirikan. Adapun tinggi dari pimamida itu adalah 168 meter. Tetapi ia telah mengalami erosi, sehingga tingginya sekarang ini tinggal 146 meter. Pemerintah Mesir membuat sebuah tiang besi untuk menandakan bahwa tinggi aslinya adalah 168 meter. Piramida ini dibangun seorang raja yang bernama: ...........

Tiap-tiap batu menurut Bob, beratnya lima ton. Itu berari tiap batu besar itu beratnya lima juta kilogram. Piramida itu mengambil lokasi di sisi sungai Nil. Batu-batu itu diambil dari lembah Aswan, sekitar seribu kilo meter dari tempat piramida didirikan, dibawa melalui sungai Nil. Adapun  jumlah dari batu yang ditumpuk tumpuk itu dan menjadi piramida, jumlahnya sebanyak dua juta lima ratus ribu batu. Suatu jumlah yang sangat besar. Dengan memikirkan bahwa pada zaman itu alat transportasi sangat sederhana, maka saya membayangkan berapa jumlah orang yang dibutuhkan untuk mengangkut batu-batu itu dengan jarak yang akan ditempuh sepanjang pulau Jawa.

Piramida itu adalah salah satu bangunan yang paling besar yang dibangun oleh manusia. Ada orang yang mengatakan bangunan itu didirikan membutuhkan waktu dua puluh tujuh tahun untuk menyelesaikannya. Bagi orang Mesir pada zaman itu piramida adalah sebuah tempat yang mereka sebut dengan istilah: mer, secara harfiah artinya ialah: ‘tempat untuk kenaikan’. Piramida itu sendiri adalah sebuah kuburan bagi raja. Ia berharap, dengan dibangunnya piramida itu, ia akan punya tempat untuk naik ke surga. Oh alangkah sukarnya orang masuk surga dengan kemampuannya sendiri.

Untuk mendirikan tempat naik ke surga dibutuhkan begitu banyak usaha. Pada hal, raja itu tentunya tidak sampai ke surga, sebab jalan menuju ke sana bukan dengan perbuatan manusia. Jalan itu telah ditentukan Allah ialah: Yesus Kristus sendiri. Petrus mengatakan bahwa: “Di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan."
Kesan lain yang tertanam di dalam hati ini mengenai piramida itu ialah: jiwa yang melayang untuk mendirikannya. Hasil jerih payah mereka dapat dinikmati orang pada ribuan tahun sesudah mereka berlalu. Orang tentunya akan mengenang nama dari raja yang mendirikannya. Tetapi bagi saya, kenangan terindah atas piramida itu ialah: mereka yang tidak disebut-sebut namanya, tetapi Allah yang maha tahu mengenal nama mereka satu persatu. Hasil karya mereka dapat saya nikmati sekarang. Penderitaan mereka menjadi berkat bagi banyak orang dewasa ini. Bukankah hal yang sama dilakukan Yesus Kristus. Penderitaan-Nya menjadi berkat bagi seluruh umat manusia di sepanjang zaman.

Karya penebusan Kristus menjadi berbanding terbalik dengan karya orang Mesir kuno itu. Ribuan nyawa melayang untuk sedikit orang yang menikmati keindahan piramida. Di sisi lain, Tuhan Yesus sendirian menahan derita yang amat sangat untuk seluruh umat manusia. Untuk itu bersyukur kepada-Nya. Kita tidak perlu membangun sebuah piramida sebagai jalan masuk ke surga. Sebab Allah sendiri telah menyediakan jalan itu bagi kita. Segala kemuliaan hanya bagi Allah di tempat yang maha tinggi. Amin.

Abu Sarga Church

Setelah mengunjungi piramida dan menikmati pemandangan di sana, serta diabadikan bersama dengan rombongan, kami diajak mengunjungi sebuah Gereja yang namanya disebut dalam bahasa Indonesia oleh pemandu wisata kami, yakni Bob, Gereja Keluarga Kudus. Namanya disebut seperti itu, karena Gereja itu didirikan untuk mengenang peristiwa dimana Maria dan Yusuf serta bayi Yesus tinggal di sana selama tiga bulan. Itu diberitahukan kepada kami oleh Bob. Di Gereja itu, kita tidak memotret. Sehingga kita tidak dapat mengabadikannya. Gereja itu adalah Gereja Koptik. Setelah kembali ke Jakarta, saya membaca lagi artikel mengenai Gereja ini. Oleh karena itu, aku menuliskannya di sini, sebagai satu pelengkap untuk memahami keberadaan  Gereja Koptik di Mesir.

Tatkala kami masuk ke dalam Gereja, langsung terasa aroma klasik. Lukisan bertebaran di dinding. Bob memberi penjelasan tentang Gereja tersebut. Dengan jelas Bob berceritera tentang Gereja Koptik, karena ia sendiri adalah anggota dari Gereja tersebut. Ada pun ciri khas dari Gereja ini ialah: altarnya. Di Gereja itu ada altar tempat hosti diletakkan, sebanyak empat buah. Hanya Gereja Koptik yang memiliki altar seperti itu.

Ciri yang kedua ialah: salib. Adapun salib yang mereka pergunakan adalah seperti terlihat di gambar yang dirdapat di sisi kiri tulisan ini. Panjang dari tiap cabang salib itu sama, di ujungnya punya tiga sisi. Menurut Bob, ketiga sisi itu berbicara tentang Bapa Anak dan Roh Kudus. Ciri yang ketiga ialah: mimbar, tempat firman Tuhan diberitakan. Mimbar itu dibuat dari pualam, tempatnya menjorok ke arah tempat duduk anggota jemaat. Mimbar itu ditopang oleh tiang, terdiri dari lima belas tiang.

Tiang-tiang itu disusun dua baris masing-masing tujuh tiang di satu sisi. Lalu, yang paling ujung satu tiang. Bob memberi penjelasan, tiang yang satu di depan itu merepresentikan Tuhan Yesus. Dua di belakangnya berwarna berbeda dengan tiang lainnya merepresentasikan Yohanes Pembabtis dan Maria. Lalu dua belas tiang lainnya merepresentasikan dua belas Rasul. Menarik untuk disimak, ada dua tiang berwarna lain dari jajaran dua belas tiang itu. Bob mengatakan kedua tiang yang berbeda warnanya itu berbicara tentang Petrus dan Yudas.

Ciri yang keempat ialah: atap Gereja tersebut. Atapnya menggambarkan perahu Nuh. Memang, tatkala kita melihat ke atas maka langsung terasa yang kita lihat itu adalah bagian dalam dari perahu. Ciri yang terakhir ialah: dinding dari Gereja itu dipenuhi dengan ‘ikon’ dari orang-orang kudus. Mulai dari para Rasul, hingga bapa-bapa Gereja mereka. Tatkala merenungkan makna dari semua yang dijelaskan Bob, maka terlintas di dalam pikiranku, orang-orang yang datang ke Gereja itu untuk beribadah ribuan tahun yang lalu. Pada waktu itu, tidak ada Alkitab seperti yang kita miliki sekarang ini. Tidak ada pengkhotbah yang trampil seperti sekarang ini. Karena tidak ada sekolah seperti sekarang ini. Bagaimana cara orang Kristen di zaman dahulu belajar tentang imannya. Bukankah mereka itu semua adalah buta huruf dan tidak terpelajar?

Orang Batak mengatakan: “Mata adalah guru, sementara hati adalah murid”. Maksud dari peribahasa itu ialah: orang dapat belajar dari apa yang dilihat! Perumpamaan ini memberi kontribusi bagi saya dalam memahami cara orang belajar pada waktu itu. Tatkala anggota jemaat memandang ke depan, mereka melihat misa dipersembahkan. Karena tiap minggu hal itu dilakukan, maka lama-lama mereka memahami pengorbanan Kristus demi menjelamatkan dunia.

Tatkala mereka memandang ke kiri dan ke kanan, mereka melihat ‘ikon’. Berbicara tentang karya orang kudus mereka dalam mewujudkan iman. Tatkala mereka memandang ke atas, tergambar keselamatan yang dikaruniakan Allah kepada manusia, sebagaimana dilambangkan oleh Bahtera Nuh. Mereka memandang ke tengah-tengah ruangan, terlihat firman yang diberitakan dan ditopang oleh para Rasul. Gereja Koptik dan Gereja Katolik Roma dan Ortodox memungkinkan perenungan seperti itu, karena liturgi mereka memang menekankan perenungan. Bukan seperti liturgi kharismatik sekarang ini, dimana sering disebut liturgi ribut. Saya lebih menyukai liturgi hening, ketimbang liturgi ribut.

Setelah menjelaskan makna dari tata letak interior Gereja tersebut, Bob membawa kami ke bagian bawah dari Gereja itu, dimana dipercayai, di sanalah di dalam satu gua, keluarga kudus pernah tinggal selama tiga bulan. Mereka tinggal di situ, karena malaikat Tuhan mengatakan bahwa Yusuf harus membawa bayi Yesus menyingkir dari angkara murkanya Raja Herodes. Kami melihat ke arah yang ditunjukkan Bob. Sebuah tempat yang kecil. Menurut hemat saya, tempat itu tidak layak huni. Tetapi pendapat itu dilatarbelakangi pemahaman modern. Tentunya sangat berbeda pandangan orang di zaman itu dengan zaman sekarang.

Bob menunjukkan kepada kami keadaan tempat itu tatkala banjir memenuhi daerah tersebut. Banjir itu hampir menutup sebagian besar ruangan itu. Pemerintah Mesir menyedot air itu dengan pompa. Tetapi tidak memperbaiki kerusakan yang diakibatkan banjir. Itulah sebabnya kami tidak diperbolehkan turun ke bawah, karena dikhawatirkan akan semakin merusak situs tersebut. Pemerinah Mesir rupa-rupanya tidak terlalu perduli dengan peninggalan sejarah yang agung ini, karena situs itu adalah situs Kristen. Setelah melihat situs tersebut, kami diminta untuk memberi sumbangan terhadap pelestarian Gereja tersebut. Ada beberapa teman dari rombongan kami yang memberi donasinya.

Gereja Coptic



Dari informasi yang saya dapat, kata ‘Copt’ yang menjadi kata dasar untuk Coptic, sejajar maknanya dengan kata ‘aigyyptos’ dalam bahasa Yunani. Sementara kata itu sendiri berasal dari kata Mesir kuno, yakni “Ha-ka-Ptah”. Artinya: bait roh Ptah. Nama itu adalah nama dari dewa tertinggi dalam mitologi Mesir. Gereja Koptik sekarang ini menjadi simbol dari orang Kristen Mesir, untuk membedakan warga negara Mesir yang adalah keturunan Arab dan Muslim.

Warga Gereja Koptik dewasa ini disebut orang sebagai penerus Mesir kuno, keturunan dari Firaun. Gereja ini memainkan peran penting dalam dunia kekristenan, khususnya pada abad pertama hingga abad kelima AD. Herodotus menyebut orang Mesir kuno adalah orang yang sangat religius. Kehausan mereka terhadap hal rohani dipuaskan oleh iman Kristen yang tidak memiliki batas dalam pertumbuhan iman. Iman yang bertumbuh dapat membawa orang percaya ke hadirat Allah Bapa dan memungkinkan mereka menikmati keserupaan dengan Allah, menikmati persekutuan dengan Dia, juga menikmati rahasia ilahi. Hal-hal inilah yang memuaskan hati orang Mesir di abad pertama.

Orang Mesir kuno menempatkan sains dalam konteks iman, sebagaimana diwujudkan di dalam pembangunan piramida, membuat Gereja Koptik menempatkan sains bukan menjadi musuh iman. Itulah sebabnya di Alexandria sebagai pusat dari Gereja Koptik memberi tempat yang sangat luas bagi ilmuwan dan para filsuf, sebab mereka percaya sain dan filsafat dapat melayani kehidupan rohani.

Orang Mesir terobsesi dengan kehidupan yang akan datang. Hal ini berbeda dengan kehidupan modern sekarang ini yang bersifat hedonis. Tatkala mereka bertobat dan menjadi Kristen, mereka sangat tekun menantikan Parousia kedatangan Kristus yang kedua kalinya. Sikap ini mewarnai dogma dan liturgi mereka yang dilayankan melalui nyanyian yang panjang, puasa yang keras serta menghadapi penderitaan dengan sukacita.

Sinagoa Ben Ezra

Setelah mengunjungi Gereja keluarga kudus kami diajak mengunjungi sebuah sinagoga orang Yahudi. Pada mulanya, saya bertanya dalam hati, mengapa harus melihat sinagoga ini. Tetapi Bob menceriterakan kepada kami, pada mulanya  Sinagoga ini adalah milik Gereja Koptik. Tetapi pada tahun 882 AD dijual orang Kristen kepada orang Yahudi. Hal ini disebabkan pajak yang tinggi dibebankan oleh pemerintah yang nota bene adalah orang muslim.

Gereja tidak dapat membayar pajak yang tinggi itu. Pada waktu itulah muncul seorang Yahudi menawarkan pertolongan kepada orang Kristen melalui Patriarch mereka untuk menanggulangi tunggakan pajak yang besar itu. Tetapi sebagai imbangannya Gereja Koptik harus menyerahkan sebuah Gereja mereka. Itulah sebabnya Gereja itu berubah fungsi menjadi sinagoga. Alasan orang Yahudi menginginkan Gereja itu menurut Bob ialah: Musa dan orang Israel mengadakan ibadah lebih dahulu di tempat itu, sebelum mereka berangkat ke tanah perjanjian. Hal itu dapat saya terima, karena memang di daerah itulah orang Israel tinggal. Bukankah mereka sedang mendirikan kota Pithom dan Rameses, sekarang namanya menjadi Heliopolis. Saya sudah membicarakannya di atas.

Lagi pula, Bob menjelaskan bahwa tiang penopang yang ada di dalam sinagoga itu persis jumlahnya seperti tiang penopang di Gereja Koptik. Itu menjadi ciri Gereja Koptik juga. Lagi pula di dinding sinagoga itu masih tertera bentuk salib yang menjadi ciri dari Gereja Koptik. Sinagoga itu tidak lagi dipakai sebagai tempat ibadah, melainkan sebuah memorial untuk mengenang peristiwa yang lalu.

Saya mengenang peristiwa Musa memulai perjalanan memimpin bangsanya maju menduduki tanah perjanjian. Mereka memulainya dengan sebuah ibadah. Tempat itu mejadi saksi bisu untuk peristiwa yang terjadi ribuan tahu yang lalu. Mereka pun berceritera melalui monumen tersebut. 
Gereja Gantung
Setelah mengunjungi sinagoga, kami dihantar untuk mengunjungi sebuah Gereja yang diberi nama Gereja Gantung. Bob memandu kami mengunjungi Gereja ini dan berceritera mengenai Gereja tersebut. Gereja ini diperkirakan adalah Gereja tertua di kota Cairo. Gereja ini disebut Gereja gantung, karena ia didirikan di atas reruntuhan dua benteng Romawi.

Sebagaimana kita tahu bersama, setiap benteng memiliki ruang yang bentuknya seperti huruf ‘u’. Tiap-tiap huruf ‘u’ tersebut dapat dihubungkan dengan huruf ‘u’ di sisi lain. Orang Kristen dahulu mendirikan Gereja di sisa benteng Romawi tersebut dengan menaruh tiang di huruf ‘u’ tersebut. Gereja ini dipercaya sebagai Gereja yang dibangun di atas puing-puing kuil orang Roma yang akhirnya bertobat menjadi Kristen. Hal ini dibuktikan melalui penemuan arkeolog di sisi kanan Gereja tersebut sebuah pemandangan yang berisikan gambar dewa dewa sembahan  orang  Roma.

Gereja ini menjadi pusat dari Gereja Koptik di Mesir, sebab di Gereja inilah Patriarchs berkedudukan pada mulanya. Saya melihat bentuk mimbar yang sama seperti terlihat di Gereja keluarga kudus, sebagaimana terlihat di dalam gambar di bawah ini. Karena tidak diperbolehkan mengambil gambar di dalam Gereja, maka gambar ini diambil dari majalah internasional.

Berdasarkan penglihatan saya, di Gereja ini banyak ikon. Menurut data, ada 110 jumlahnya. Ikon tertua berasal dari abad kedelapan. Tetapi yang paling banyak berasal dari abad ke delapan belas. Seorang rahib dari Prancis pada tahun 1671 menyebutkan bahwa ia melihat di Gereja ini sebuah inskripsi yang ditulis seorang panglima perang muslim yakni Amr Ibn El-As, yang meminta agar orang muslim agar menghormati Gereja tersebut.

Berbeda dengan Gereja keluarga kudus, di Gereja ini altarnya ada tujuh buah. Altar itu ditempatkan di sebelah timur tiga buah. Sisanya ditempatkan di sisi utara. Menurut keterangan yang saya dapat, altar yang ada di di sisi timur, bagian tengah adalah altar yang paling penting bagi mereka.  Altar itu dipersembahkan bagi Maria ibunya  Yesus. Di atas altar itu di bagian atas gedung ada kubah yang terbuat dari marmer dan ditopang oleh empat kolom  dari marmer  dan didekor dengan diaroma rohani. Ada gambar Tuhan Yesus duduk di tahta dan dikelilingi oleh para murid dan para malaikat.

Setelah keluar dari Gereja itu, kami berjalan menuju tempat dimana kami akan menikmati makan siang. Di hati saya terdapat kesan yang sangat mendalam atas dedikasi dari orang Kristen purba kepada Tuhannya. Visi mereka terhadap kemuliaan Tuhan tentunya sangat berbeda dengan visi orang di zaman ini. Tetapi mereka telah melakukan sesuatu yang berharga. Bukan hanya bagi manusia di zaman in imelalui parawisata, tetapi teristimewa untuk orang di zamannya. Melalui bangunan yang megah itu, orang belajar sesuatu tentang imannya. Sedangkan saya dapat belajar dari mereka setelah ribuan tahun berlalu. Apalagi mereka yang hidup di zaman itu. Segala kemuliaan bagi Allah di tempat yang maha tinggi.

Parfum

Sebelum makan siang, rombingan kami dibawa mengunjungi sebuah toko yang memproduksi parfum. Berdasarkan penjelasan dari pemilik toko, hasil produk mereka yang berbentuk essence dari parfum itu sendiri, menjadi bahan bagi segala produk parfum yang dijual di dunia internasional. Di sana saya mengerti akan wangi dari kemenyaan. Berdasarkan pemahaman saya sebelumnya, kemenyaan itu baunya seperti yang biasa kita kenal, beraroma kubur jika dibakar. Tetapi di sana wanginya kemenyaan itu sangat berbeda.

Dulu orang berkata kepada saya, bahwa kemenyaan yang dibawa orang Majus untuk Tuhan Yesus, itu berasal dari Barus di Tapanuli, sebab hanya di Tapanuli kemenyaan tumbuh. Pada mulanya saya percaya akan hal itu. Tetapi setelah mencium bau kemenyaan itu dalam wujud inti sarinya, maka pemahaman itu saya tinggalkan. Ada banyak jenis wangi-wangian yang ditawarkan. Tetapi salah satu yang paling menarik dari semuanya itu ialah: kita sebut dia minyak parfum, tetapi tatkala dicampur dengan air, esence itu larut dalam air. Itu berarti ia tidak dalam wujud minyak. Terlihat memang berkilau seperti minyak, tetapi bukan minyak.

Tatkala meninggalkan tempat itu, di hati saya terbayang dunia yang dipenuhi aroma dari Mesir, melalui essence mereka itu. Dunia pun dipenuhi aroma Mesir dengan sejarahnya yang sangat panjang. Dalam Alkitab, Mesir menggambarkan dunia. Memang di dalam dunia ini aroma itu sangat kental. Tetapi Paulus berbicara juga tentang aroma surga. Apakah Mesir mengenal aroma seperti itu? Orang Kristen Koptik mengenalnya. Tetapi ada pula aroma lain yang disebarkan oleh Mesir melalui universitasnya, yaitu: Al Asyhar!

Diperjalanan menuju hotel, Bob masih berceritera tentang Gereja Koptik. Ia berceritera tentang perayaan natal yang dirayakan Gereja Koptik pada tanggal 25 Januari. Berbeda dengan perayaan natal yang dilaksanakan Gereja barat. Bob mengatakan hal itu terjadi karena mereka mengikuti penanggalan yang dibuat oleh Gereja Timur, dimulai pada tahun delapan ratusan. Pada tahun itu ada seorang penguasa dunia yang sangat membenci Kristen. Ia mengejar orang percaya dimanapun mereka berada dan membunuh mereka.

Pada satu saat, raja itu pernah mengatakan bahwa ia akan berhenti membunuh orang Kristen, jika lutut kudanya kena darah orang Kristen. Di satu hari, tatkala ia sedang berjalan dengan kudanya, sejumlah orang Kristen menghadang dia. Kudanya berlari menuju orang Kristen itu, lalu jatuh korban yang sangat banyak. Karena saking banyaknya, maka kuda itu pun jatuh. Lututnya menyentuh darah orang Kristen yang martir itu. Ketika itu, kepada raja diperhadapkan perkataannya, bahwa ia akan berhenti membunuh orang Kristen, jika lutut kudanya menyentuh darah orang Kristen. Raja tersebut menepati janjinya. Ia memerintahkan agar dihentikan pembunuhan bagi orang Kristen. Gereja mereka menetapkan bahwa itulah permulaan tahun bagi mereka. Perbedaan waktu membuat kita berbeda di dalam merayakan hari natal. Saya semakin mendapat kesan, Mesir menggambarkan penderitaan.

Istirahat

Setelah selesai makan siang, pimpinan rombongan dari Jakarta masih ingin mengundang kami untuk melihat sebuah pabrik tempat pembuatan papirus. Tetapi teman-teman sudah merasa capek, sebab tidur tidak nyenyak, karena dihabiskan malam di pesawat terbang. Kami memutuskan untuk pulang ke hotel dan istirahat. Ada orang berceritera kepada saya di Jakarta sebelum berangkat, bahwa ada acara di Mesir pada malam hari naik perahu di sungai Nil. Namun kami tidak menjalaninya. Aku tidak bertanya kepada pimpinan rombongan tentang hal itu. Karena kata orang, di kapal itu diadakan tarian perut, tarian tradisional orang Mesir. Aku menaikkan syukur kepada Tuhan untuk pelajaran berharga pada hari ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Rumah Allah

  Rumah Allah Ibrani 3:6 Tetapi Kristus setia sebagai Anak yang mengepalai rumah-Nya; dan rumah-Nya ialah kita, jika kita sampai kepada akhi...